Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Nasihat Ibu


__ADS_3

Pagi yang cerah, ketika matahari telah samar-samar menunjukan wujudnya di cakrawala. Sinarnya yang hangat mampu untuk menumbuhkan semangat baru bagi penghuni bumi. Pagi ini, seperti biasanya, Bu Marni sedang memasak. Kali ini ia memasak ikan mujair bakar sesuai dengan permintaan Risma kemarin malam. Bau harus khas bakaran mulai tercium mengisi dapur. Tari, turut serta membantu ibunya memasak, ia sedang membuat sambal untuk lalapan ikan bakar ini. Kebetulan pagi ini hari minggu. Tari memutuskan untuk menutup tokonya memberikan ruang pada karyawannya untuk bisa beristirahat.


Ia duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu, memakai daster sederhana


layaknya ibu-ibu pada umumnya. Rambutnya di ikat satu di bagian belakang. Membuat aura kesederhanaan wanita itu terpancar sempurna. Namun sekalipun hanya memakai daster sederhana, pesona Tari memang luar biasah. Ia masih terlihat sangat cantik, bahkan terkesan elegan walau hanya berbalut daster.


“Sampai kapan mau seperti ini?” suara ibu yang tiba-tiba terucap memecah keheningan di antara mereka berdua.


Tari masih diam saja tak menjawab, ia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang mengusik hatinya. Jemarinya masih sibuk mengupas timun dan memilah daun kemangi.


Ibu Marni menghela nafas yang panjang. Ia menghentikan sejenak aktivitas memanggangnya. Mematikan kompor dan berjalan pelan, lantas turut duduk di kursi


bambu sebelah anaknya. Tangannya menepuk pelan bahu Tari.


“Tar, mau sampai kapan begini?” sontak perlakuan ibu yang begitu tiba-tiba membuatnya


gelagapan dan bingung sendiri.


“Ada apa Bu? Apa yang terjadi?”


Bu Marni menggelengkan kepalanya dengan pelan, ketika mendapati tingkah anaknya


yang demikian.


“Kamu melamun ya?”


“Ibu tanya, sampai kapan kamu akan seperti ini? Sampai kapan kamu akan menggantung Rama dan Randi dalam ketidak pastian? Sampai kapan mereka harus saling beradu untuk memperebutkan hatimu nak?”


Bu Marni, berkata dengan pelan. Ia menatap mata anaknya dengan lembut berusaha


untuk mencari sebuah jawaban dan kejujuran di sana.


“Bu..”


Tari menjeda ucapannya, ia memilih untuk memutus kotak mata dengan sang Ibu.


“Katakanlah”


“Bu, aku tak tahu harus bagaimana?”


“Ikuti kata hatimu yang terdalam. Tentukan siapa yang paling layak untuk menjadi pendampingmu dan juga ayah bagi Risma anakku. Pilihlah lelaki yang mempu untuk menjagamu, laki-laki yang bisa menjaga hati dan perasaanmu seutuhnya”


“Bu”


“Ibu tidak bisa memaksa untukmu menentukan salah satu di anatar mereka, kamu pernah hidup bersama Randi sebelumnya. Tentu kamu tahu seluk beluk dari kehidupan Randi bagaimana”


“Kamu juga mengenal Rama beberapa tahun terakhir ini, tentu perkenalan kalian cukup


untuk menjadi pertimbangan untukmu mengambil sebuah keputusan”


“Jika Ibu menjadi aku apa yang akan ibu lakukan?”

__ADS_1


Bu Marni membenarkan duduknya, ia mengubah pandangannya untuk lurus ke depan. Melihat


deretan panci dan teflon yang saling bergantungan menghiasi dinding dapur. Ia


berbicara dengan pelan bahkan sangat pelan. Agar apa yang ingin di sampaikan dapat masuk ke dalam hati anaknya.


“Ibu tidak akan mengulang kesalahan yang sama dengan memilih pria yang salah. Segala


yang terjadi cukup unTuk di jadikan sebuah pembelajaran agar lebih mawas diri, namun tidak untuk di ulang kembali. Suatu yang pernah pecah, tidak akan pernah bisa utuh lagi. Kamu akan hidup dalam bayang-bayang rasa takut dan cemas”


“Ibu tidak ridho kalau kamu tersakiti kembali”


Mata Bu Marni kembali nanar, ketika mengingat segala sesuatu yang telah lama terjadi pada anaknya.


Diam.


Tari berikut Bu Marni diam untuk sesaat. Tari sibuk untuk menata hatinya dan Bu Marni yang sibuk menerka isi hati anaknya.


“Tapi semua keputusan ada di tanganmu nak, siapa pun yang akan kamu pilih, Ibu akan berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Karena kamu yang menjalani nantinya”


“Ibu, ini bahan untuk sambalnya sudah siap. Ibu atau aku saja yang membuat sambalnya?”


“Jangan coba-coba untuk mengalihkan perbincangan ini, ibu sedang berbicara hal penting denganmu. Jangan mengantungkan dan memberikan harapan yang lebih, jika kamu


tidak bisa untuk memberikan kepastian”


Bu Marni memilih untuk beranjak meninggalkan dapur, ia menuju kamar Risma untuk melihat cucunya yang masih tertidur.


Selepas kepergian sang Ibu, Tari kembali menghela nafas yang panjang. Sebenarnya dalam hatinya sudah menentukan pilihan yang pasti. Namun terkadang bayang-banyang


Ya Allah, haruskan aku berumah tangga kembali?


Haruskan aku memilih salah satu di antara mereka?


****


“Assalamualaikum”


Hari, masih pagi, namun Rama sudah berkunjung ke rumah Tari bahkan pria itu sudah bersiap dengan bajunya yang sederhana namun terkesan rapi. Ia memakai kaos warna biru muda dengan celana panjang. Seperti biasah Rama, akan duduk di teras rumah menunggu penghuni di dalam sana untuk mempersilahkan masuk.


“Waalaikumsalam” jawab Ibu yang setengah berlari membukakan pintu untuk tamunya.


“Nak Rama, mari silahkan masuk. Ibu bari saja membuat ikan Mujair bakar dan lalapannya. Kita sarapan bersama ya”


“Waduh Bu, jadi merepotkan”


“Tidak, sama sekali tidak repot. Tari yang masak. Ibu panggilkan anakmu dulu ya. Dia baru saja bangun tidur tapi sepertinya tidur lagi”


“Biar saya saja Bu yang membangunkan Risma, apakah boleh?”


“Tentu saja boleh nak, nak Rama berhak atas Risma seutuhnya” ibu Marni tersenyum dang

__ADS_1


mengantarkan tamunya menuju kamar Risma.


“Sayang, ayo bangun ini sudah siang. Ayah ingin mengajakmu untuk ke rumah nenek. Ayah ingin


memperkenalkan kamu pada keluarga besar kita nak”


“Sayang ayo bangun dulu”


Rama memeluk anaknya dengan lembut, berbisik dengan pelan di telinga Risma dan menepuk-nepuk pundak anaknya.


“Ayah”


Semakin hari kedekatan keduanya semakin tanpa jarak. Rama benar-benar seutuhnya menyalurkan kasih sayangnya pada Risma. Ia berusaha untuk menebus waktu dan moment yang telah terbuang dulu.


“Kau lihat bukan? Mereka adalah seorang ayah dan anak kandungan. Ikatan batin di anatar mereka sangat kuat. Berbaik hatilah dengan Rama yang rela terpisah dari anaknya demi untuk menjaga hatimu agar tak kembali remuk. Walau sebenarnya dia memiliki hak penuh atas anaknya” bisik Bu Marni ketika melewati Tari yang


sedang memperhatikan interaksi antara anak dan Ayah.


Apa yang dikatakan Ibu memang benar semuanya.


Setengah jam berlalu, Rama sedang sibuk untuk membantu Risma berhias, memilihkan baju


dan menata rambut gadis kecil tersebut. Tak berselang lama keduanya mulai terlihat keluar dari kamar dan turut bergabung bersama di meja makan.


Tari mulai mengambil nasi dan ikan yang sudah di masaknya tadi. Ia juga membuatkan segelas kopi untuk Rama. Kini keduanya duduk melingkar di satu meja makan yang sama untuk sarapan.


“Mas Rama pasti belum sarapan kan? Mari kita sarapan bersama dulu. Makanlah” ucap Tari dengan lembut dan ramah, wanita itu sudah hafal kebiasaan Rama yang tidak pernah sarapan di rumah. Mengingat ia hanya tinggal sendiri tak ada yang memasakan untuknya. Pria itu biasanya akan membeli makanan di jalan lantas di


makan ketika sudah berada di rumah sakit.


“Terimakasih Bundanya Risma. Aku memang lapar”


Deg...


Lagi-lagi hati Tari, harus di buat bergetar hebat ketika Rama memanggilnya dengan panggilan tersebut. Baginya itu sangat istimewa dan tak ada duanya.


Rama begitu telaten menyuapi Risma. Keduanya makan dengan begitu lahapnya. Bahkan tanpa


sadar mereka menghabiskan seluruh isi piring yang ada di depannya tanpa sisa. Tulang-tulang


ikan yang ada pun turut habis termakan pagi itu.


“Wah ini kalian doyan apa suka?” goda ibu pada Rama dan Risma.


“Ikan mujair bakar ini, salah satu makanan kesukaan saya Bu”


“Wah kalian memang sehati, ikatan batinnya kuat sekali. Ikan mujair bakar ini juga makanan kesukaan Risma lo. Nantilah minta Bunda untuk memasakan lagi” Bu Marni melirik sekilas wajah anaknya yang bersemu merah.


Rama mencuci tangannya dengan segera, mengelap dengan tisu sudut bibirnya yang


terkena bumbu dan sambal.

__ADS_1


“Kedatangan saya kemari pagi ini, ingin  mengajak Risma berikut Bundanya untuk ke rumah Ibu. Mereka ingin melihat Risma dan


berkenalan dengan Bundanya. Apakah ibu mengizinkan saya membawa keduanya?”


__ADS_2