Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

“Apa ada yang ingin kamu sampaikan Tar?”


“Aku rasa tidak ada Mas”


“Baik kalau begitu biar aku yang menyampaikan. Ada satu pesan dari Ibu tadi pagi. Beliau meminta kita untuk memilih baju akad. Bagaimana kalau hari ini kita selesaikan semuanya?”


Deg...


Baju akad.


Tari lekas menoleh ke arah calon suaminya. Ia memegangi dadanya yang bergemuruh. Ia tak


menyangka akan sampai pada titik ini. Meskipun menikah dua kali bukan menjadi bagian dari cita-citanya. Tapi setidaknya hubungan ini jauh lebih membawa kebahagian untuk hidupnya di masa mendatang.


“Baik Mas”


“Kalau begitu kita jemput Ibu dulu ya”


Mobil lekas kembali melaju dengan pelan. Berbalik arah menuju rumah orang tua Rama. Ia


juga sekalian ingin melihat persiapan pernikahan yang sudah tinggal menghitung hari saja. Pria itu memasrahkan segalanya pada orang tuanya. Biarlah ini menjadi kejutan untuk keduanya nanti.


“Kita ke butik langganan Ibu ya nak, nanti kalian berdua bisa pilih-pilih baju yang sesuai dengan selera kalian”


“Baju baru? Aku juga mau nek. Boleh ya?” Risma mendongak neneknya yang sudah duduk di sebelahnya.


“Tentu saja. Princes nanti akan di buatkan baju yang istimewa”


Karena acara persiapan pernikahan di lakukan dalam waktu yang cepat dan singkat seperti permintaan dari keluarga Rama. Maka tidak ada pilihan lain selain memilih baju yang telah jadi.


Rama dan Tari mulai memilih koleksi-koleksi baju pengantin untuk akad yang ada di sana. Ia mencari baju dengan ukuran yang cocok dengan postur tubuhnya. Sementara Bu Rahma menemani Risma untuk memilih gaun yang dia sukai. Pilihan Tari, jatuh pada kebaya modern warna putih dengan bagian bawah yang menjuntai ke bawah serta ada beberapa taburan payet di bagian sisinya.


Tari yang di bantu karyawan butik lekas melakukan fitting di ruang ganti. Ia mencoba


kebaya yang telah di pilihnya. Selain memakai kebayanya, karyawan tersebut juga membantu untuk memakaikan hijabnya. Tak dapat di pungkiri sepanjang proses ini Tari begitu gemetaran, ini bahkan jauh lebih mendebarkan dari pada pernikahan sebelumnya. Mungkin karena ia turut andil dalam mempersiapkan semuanya.


“Bagaimana Mas?”


Rama terdiam ketika melihat Tari yang baru saja keluar dari rung Fitting. Matanya menatap lekat calon istri yang ada di hadapannya. Ia bahkan tak berkedip sama sekali. Bibirnya melongo melihat penampakan yang ada.


“Kok Ayah diam saja di tanya Bunda?”


Satu kalimat yang keluar dari bibir Risma membuat Rama lekas menggelengkan kepalanya


dengan pelan. Ia bahkan baru menyadari jika dia telah tersihir dengan pesona yang ada pada Tari.


“Itu di tanya sama Bunda. Bunda cantik gak?”


Risma memilih bergelayutan dengan memegang kebaya Tari yang menjuntai di lantai.


“Cantik. Cantik sekali malahan”


“Aku rasa malaikat sedang mendapat tugas baru saat ini dari sang kuasa”

__ADS_1


“Hah?Apa mas?”


“Mencari satu bidadarinya yang turun ke bumi untuk menikah dengan ku”


Sontak ucapan Rama mengundang gelak tawa karyawan butik dan juga Ibunya.


“Mas”


Tari tak kuasa untuk menahan malunya. Ia bahkan memilih untuk menutup wajahnya


dengan tangan.


“Jadi bagaimana mau pakai yang putih atau yang hijau?”


“Yang putih saja, aku rasa lebih cocok untuk akad terlihat sakral dan kamu sangat cantik”


“Aku cantik tidak Yah? Lihat bajuku juga baru warnanya juga sama kayak punya Bunda”


“Kamu juga cantik, sangat cantik kalian berdua cantik”


“Lantas Ibu bagaimana?”


“Ibu juga cantik. Ketiga wanita yang ada di hadapanku ini cantik semua”


Rama menghela nafas panjang. Ia hampir saja melupa jika ada tiga wanita penting dalam hidupnya. Yang harus di perlakukan dengan adil satu sama lain. Adil dalam artian tidak harus sama melainkan harus sesuai porsinya baik itu kasih sayang maupun yang lainnya.


“Setelah ini kalian tidak boleh bertemu dulu ya. Urusan Risma biar Ibu yang mengatur. Untuk


Tari dan Randi menganggukkan kepalanya dengan patuh. Meski rasanya berat bagi Rama


untuk tidak berjumpa dengan Tari. Beberapa bulan ini ia sudah terbiasa berjumpa dengan calon istrinya itu.


“Untuk sekolah Risma, nanti Ibu akan mengirim sopir”


*****


Surabaya.


Hari sudah malam, bahkan gemerlap sang bintang mulai tampak menyinari langit yang


membentang luas di angkasa. Seorang laki-laki berjalan kaki tak tentu arah menyusuri gelapnya malam.


Randi.


Benar dia adalah Randi. Pria itu menggunakan kaos warna hitam yang terlihat lusuh seperti beberapa hari tak menggantinya. Ia berjalan menyusuri jalanan tanpa memiliki tujuan yang jelas.


Berkelana.


Mungkin seperti itulah kata yang cocok untuk menggambarkan harinya kini. Ia menyusuri jalanan, menendang setiap barang atau apapun itu yang menghalangi jalannya. Jemarinya


memegang rokok dan mulut yang tek henti-hentinya menyesap kepulan asap


tersebut. Tak terhitung sudah berapa banyak batang rokok yang di habiskan malam itu. Dalam benaknya ia sama sekali tak menemukan kedamaian. Hatinya terkoyak tiada terkira sakitnya.

__ADS_1


Terkadang jika jalanan terlihat lenggang dan tak ada orang, ia akan berteriak. Berteriak memanggil


nama mantan istrinya. Berharap Tuhan akan mengembalikan wanita itu dalam hidupnya. Ia melampiaskan segala kekesalan yang mendera tubuhnya dengan menendang-nendang benda yang ada.


Malam semakin larut, tapi kenangan dalam kepalanya semakin hidup. Menari-nari dengan


sejuta pesonanya tanpa permisi.


“Arhhhh”


Randi memegang kepalanya yang terasa berat. Andai ia mampu, ia ingin mengeluarkan


memory card dalam otaknya lantas merefresh hingga semua kenangan lama dapat terformat semuanya. Namun sayangnya otaknya tak bisa seperti itu. Ia harus tersiksa dalam kenangan yang mendalam.


Ia berhenti di salah satu kedai minuman yang di laluinya. Membeli sekaleng minuman bersoda dan menegaknya dengan pelan. membunuh kehausan dalam dahaganya yang telah mendera.


Ia lantas kembali berjalan menyusuri gelapnya malam menyesap kepulan rokok dan menenggak minuman bersoda tersebut secara bergantian. Randi mamang pria baik, sekalipun dia dalam masalah seperti ini, ia masih berusaha untuk tidak menyentuh minuman beralkohol.


“Hah, kenapa sudah habis!”


Desisnya dengan lirih. lantas menggoyang-goyangkan keleng tersebut dengan pelan. matanya dengan susah meneliti isi di dalam sana.


“Hah,! Sudah habis. Kenapa kau cepat sekali habisnya. Kau tak ubahnya Tari yang hanya


bisa menemanimu sebentar saja lantas habis tak bersisa”


Ia bermonolog dengan dirinya sendiri. Rasa sakit hati yang menderanya kerap kali menghubungkan segala sesuatu dengan mantan istrinya.


Kelontang...


Ia membuang begitu saja minuman dalam tangannya ke segala arah tanpa memperhatikan


sekelilingnya. Lantas Randi memilih untuk duduk di sebuah jembatan yang menghubungkan dua sungai besar di jalanan itu.


“Aduh....” teriak seorang wanita yang mendapati kaleng bekas minuman mengenai punggungnya


ketika mencari sisa-sisa makanan.


“Siapa yang melempar ku keleng bekas malam-malam seperti ini? Aku harus membuat


perhitungan dengannya! Enak saja membuang sampah sembarangan seperti ini, mana'i mengenai punggungku pula. Dia harus membayar mahal akan hal ini”


Wanita itu lekas berbalik badan meninggalkan sisa makanan yang baru saja di temukan. Matanya melirik sekitar area yang ada.


“Heh, kamu yang melempar kaleng ini?” teriaknya pada sosok laki-laki yang sedang duduk di jembatan.


“Kalau iya kenapa? Apa peduli mu” teriak Randi dengan lantang. Ia masih sibuk menyesap rokoknya dengan menunduk tanpa berniat untuk meladeni wanita yang ada di depannya.


Wanita itu mendekat dan sedang merencanakan sesuatu, dalam hati berharap ini akan membawa kebaikan dalam hidupnya setelah ini.


“Kamu?”


Ucap keduanya dengan kompak.

__ADS_1


__ADS_2