
“Mohn maaf Pak, kami belum bisa memastikan kondisi pasien. Dokter Spog-nya belum datang, tapi untuk saat ini keadaan pasien dalam kondisi sangat lemah sekali”. Tuturnya dengan kembali masuk dalam ruang IGD.
Tiga puluh menit kemudian, ruang IGD semakin penuh dengan datangnya para pasien baru yang keracunan dari PT Nusantara, dengan sangat terpaksa Mawa, di pindahkan di ruang bersalin agar lebih nyaman dan tetap mendapat ranjang pasien sembari menunggu kedatangan dokter. Sementara Randi, ia tidak di perkenankan untuk menjenguk saat ini.
Mawar di tempatkan di ranjang yang bersebelahan dengan meja perawat, mengingat kondisinya yang sangat lemah, agar memudahkan perawat mengontrol keadaanya. Dengan cukup pelan dan lemah ia kembali bersuara memanggil perawat yang ada di sebelahnya.
“Sus dokternya kapan datang?”.
“Tunggu ya Bu, dokter sudah di koridor depan rumah sakit sebentar lagi beliau akan sampai”. Jawabnya dengan sopan, sejenak Mawar menghela nafas lega, ia akan lekas di tangani.
Ceklek...
Suara pintu ruang bersalin, seorang dokter paruh baya dengan hijab warna pink memasuki rungan. Ia mulai menyapa para perawat yang datang.
“Dok ada pasien yang hendak melahirkan, pembukaannya sudah lengkap", lapor perawat dengan nafas yang terengah-engah setelah berlari. Menyadari hal itu Dokter, dengan sigap berlari menuju ruang yang di tunjuk perawat. Lagi-lagi Mawar, harus menunggu untuk di tangani sementara saat ini tubuhnya sudah sangat lemas tak berdaya. Bahkan bayang-banyang kematian sudah hinggap di depan mata.
Satu jam kemudian Dokter telah selesai membantu proses persalinan, kini ia lekas berlari menuju ruang Mawar, megingat dokter mengatakan jika pasien dalam kondisi sangat lemah dan pucat.
Tak butuh waktu yang lama Dokter lekas melakukan USG, untuk melihat kondisi janin yang ada di dalam perut Mawar.
“Masuk ruang OK sekarang, janin dalam kandungan dalam kondisi kritis”. Perintahnya pada perawat yang ada di sebelahnya.
Satu perawat lekas berlari menuju ruang OK menyiapkan segala kebutuhan di sana, sedang satu lagi mengabari keluarga pasien.
“Suster bagaiman dengan kondisi Mawar?”. Wajah Randi terlihat sangat cemas, beberapa kali ia meraup wajahnya dengan kasar.
“Pasien dalam kondisi kritis, ia mengalami pendarahan dan pecah ketuban dini. Sepertinya Bu Mawar terkena benturan yang sangat kuat dan kasar mengenai perut atau punggungnya. Dokter akan mengambil tindakan operasi sesar untuk menyelamatkan bayi dan anaknya”. Jelasnya dengan raut wajah yang gelisah.
“Sus, tapi kehamilan Mawar masih dalam usia 32 minggu”.
“Bapak banyak berdoa saja semoga semuanya selamat, sekarang tolong silahkan bapak urus semua persyaratannya. Kami akan lekas melakukan tindakan”.
__ADS_1
“Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka sus!”. Kini Randi, beralih menuju ruang administrasi kembali, untuk mengurus semua keperluan yang di perlukan.
.
.
.
Calling...
Mama...
“Ma, Mawar sedang di rawat di rumah sakit”. ucap Randi, menghubungi Bu Srining, setelah sekian kali baru terhubung.
“Apa? Di ruma sakit mana? Mama akan segera menyusul!”. Nada panik tergambar sempurna dari cara berbicara Bu Srining. Saat itu Bu Srining dan Pak Nario sedang berada di salah satu rumah saudara untuk menjenguk keponakan yang baru saja melahirkan.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan penuh, sepanjang perjalanan Bu Srining tak henti-hentinya melafalkan doa-doa yang ia bisa, demi keselamatan menantu dan cucu yang begitu ia idam-idamkan.
Sesampainya di halaman Rumah Sakit, ia berlari dengan cukup kencang meninggalkan Pak Nario yang masih sibuk mencari tempat parkir, kebetulan keadaan Ruma Sakit malam itu begitu penuh dengan hadirnya keluarga pasien keracunan.
“Ran, apa yang terjadi pada Mawar?”. Bu Srining mengguncang bahu Randi dengan panik.
“Mawar pendarahan, gula darahnya juga tinggi sekali. Saat ini Dokter sedang melakukan operasi untuk menyelamatkan ibu dan bayinya”. Tuturnya dengan lemas.
“Kenapa Mawar, bisa pendarahan? Apa yang terjadi? Apa di jatuh?”. Bu Srining, menggebu menginterogasi anaknya.
Randi tertunduk, ia mulai menjelaskan semua kejadian yang terjadi padanya dan Mawar, beberapa waktu yang lalu.
PLAK...
Sebuah tamparan kembali mendarat di salah satu pipi Randi. “Dasar laki-laki bodoh, bukankah itu semua hak Mawar, sebagai istri dan kewajiban kamu sebagai seorang lelaki. Memberinya nafkah lair dan batin”.
__ADS_1
“Mama tidak akan memaafkanmu jika sesuatu hal buruk terjadi pada cucuku!”. Ucap Bu Srining, dengan begitu geram menahan amarah. Kini ia berjalan menuju ruang OK, melihat dari balik kaca jendela menantu dan cucunya yang sedang berjuang di dalam sana.
****
Desa Suka Maju.
Beberapa hari setelah kejadian Tari tenggelam, berangsur keadaanya sudah semakin membaik. Ia sudah mulai menjalankan aktivitasnya seperti biasah membuat kue dan menitipkannya di beberapa toko di sekitar Desa tempat tinggalnya.
Malam itu, di Desa Suka Maju ada acara hajatan ulang tahun Desa. Acara di meriahkan dengan adanya pasar malam. Terdapat banyak orang penjual dan mainan anak di sana.
“Tar, kita mau kemana...”. Tanya Bu Srining, dengan menggandeng Risma di tangan kanannya.
“Kita jalan-jalan malam yuk Bu, sambil cuci mata dan cuci mulut”. Ucap Tari, dengan nyengir kuda memandang Ibu dan anaknya.
Di balai Desa Suka Maju, setiap tahun tepatnya waktu memasuki bulan Suro, akan di gelar acara ulang tahun Desa. Rasanya tidak afdol jika sudah tinggal di sana tak turut memeriahkan acara, walau hanya sekedar jalan-jalan dan cari makan.
Sepanjang jalan mata Tari, sibuk melihat aneka jajanan yang terpampang mulai dari es, gorengan, aneka makanan berat dan juga jagung bakar. “Bu, makan nasi pecel sepertinya enak deh”. Tunjuk Tari, pada salah satu penjual pecel yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Kamu lapar?”.
Tari menganggukkan kepala layaknya anak kecil.
“Ya sudah ayo kita ke sana”. Mereka bertiga berjalanan menuju warung pecel lesehan. Tari mulai berdiri dan memesan dua porsi di sana, Risma tak mau karena nasi pecel pedas, ia lebih menikmati peyek yang ada di depannya.
Ibu memilih tempat yang sangat strategis, berada di bagian ujung dengan pemandangan lampu kelap-kelip yang berasal dari obor yang dinyalakan. Kini mereka bertiga sedang menunggu pesanan nasi pecel, sembari menunggu mereka menikmati beberapa gorengan yang telah Tari beli sebelumnya.
“Nenek, aku mau lihat itu”. Rengek Risma, dengan menunjuk salah satu gerombolan orang yang sedang melihat pertunjukan topeng monyet.
“Tunggu sementara ya nak, kita makan dulu”. Pinta Tari, dengan lembut pada sang anak.
“Gak mau, nanti keburu selesai pertunjukannya”. Risma merengek, raut wajahnya sudah hampir menangis saja. Ibu dan Tari, berusaha membujuk Risma. Semakin di bujuk Risma semakin menangis.
__ADS_1
Ibu di buat gelagapan.
“Nak Rama”. Panggil Ibu, kala melihat Rama yang sedang berdiri sendiri mencari tempat duduk.