Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Kepergian Mbah


__ADS_3

“Paklek, pakde semuanya yang ada di sini, sepertinya kondisi mbah semakin memburuk, apakah sebaiknya tidak saling memaafkan untuk mempermudah jalan mbah”.


“Memaafkan bagaimana maksud kamu”. pakde mendengus kesal dengan usulanku.


“Mari saling memaafkan segala kesalahan yang telah mbah perbuatan pada masa lampau, mari saling mengiklankan yang sudah terjadi pada waktu lalu”. Tari mengatakan dengan nada yang cukup pelan sekali.


“Bagaimana bisa kami dengan muda memaafkan segala kesalahannya, sedang dulu di waktu mudanya kami sama sekali tak pernah di perhatikan, kami di terlantarkan begitu saja”.


“Benar apa yang di katakan mas Dar, kamu tidak mengerti penderitaan kami dulu, kami hidup dalam kekurangan yang sangat teramat kurang, sedang mbah hidup dengan bergelimpangan harta dan berbuat seenaknya pada kami”.


“Kami tidak pernah merasakan kasih sayangnya, kami juga tidak pernah mendapatkan nafkah darinya padahal kami anaknya. Sedang mbah malah bersenang-senang dengan banyak wania di luar sana”.


“Sekarang apa salah jika kami teramat sangat membencinya?”.


Hening.


Beberapa saat kemudian.


“Lalu apa yang pakde dan paklek harapkan dari mbah sekarang?”.


“Mbah sudah tak bisa melakukan apa-apa, bahkan membuka matanya saja sudah tak sanggup, kalian mau menuntut apa darinya?”.


“Kami menuntut hak kami”.


“Hak seperti apa yang kalian inginkan? Lihatlah sekarang bagaimana kondisi mbah”. Tari menatap iba pada sosok renta yang berbaring tak berdaya.


Mbah masih memejamkan matanya tak mampu untuk membuka mata, tubuhnya terdiam tak dapat di gerakan sama sekali dengan tubuh yang teramat sangat kurus, mbah memang tak dapat membuka matanya tapi hati dan pikirannya masih mampu mendengar percakapan kami. Sesekali di tengah perdebatan tersebut tampak air mata di sudut mata mbah.


“Kasian sekali kamu mbah”. ucap Tari dalam hati dengan memandang wajah sang mbah.


“Benar mas, dek apa yang dikatakan Tari, mari kita maafkan segala kesalahan bapak waktu lalu, biarkan mbah beristirahat dengan tenang tanpa bayang-bayang kesalahan yang lampau”.


“Kamu gampang Mar, bisa mengatakan hal itu karena kamu mendapat bagian harta dari mbah, sedang kami apa? Kami tidak mendapatkan apa-apa?”.


“Kita semua sama, tak ada yang mendapatkan harta mbah, bagaimana bisa kalian berfikir aku mendapatkan bagian yang lebih dari kalian”.


“Sudah-sudah jangan berdebat’. Ucap bude memutus percakapan mereka.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian semua masih berkumpul di sana menemani mbah. Tak ada lagi yang saling berbicara, semua sibuk dengan pikiran dan hati masing-masing.


Ibu kembali mengusap sudut air mata mbah yang berair, wajahnya penuh dengan pengharapan pengampunan dosa akan kesalahannya waktu lalu.


Tiga puluh menit berlalu, paklek Wanto mulai terusik hatinya, tangannya meraih tangan mbah.


“Istirahatlah dengan tenang pak, aku memaafkan kesalahan bapak”. ucap paklek Wanto dengan lirih di ikuti tangisan.


Sementara pakde masih acuh tak mempedulikan.


Ibu dan paklek Wanto memegang tangan mbah secara bersaman, sejurus kemudian tangan tersebut mulai tergerakkan dengan pelan.


Perlahan matanya mulai terbuka, memandang satu persatu orang dalam kamar tersebut.


Seolah sebagai isyarat untuk berpamitan.


Dan benar saja beberapa menit kemudian mbah lekas menghembuskan nafasnya yang terakhir.


“Inalilahi Wa Inalilahi rojiun”.


Ucap serempak orang dalam ruangan tersebut.


“Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa mbah”. ucap Tari dengan lirih mengusap sedikit air mata yang menyapa wajahnya.


Beberapa saat kemudian semua keluarga baik yang jauh dan dekat, beserta tetangga sekitar yang ada mulai berdatangan untuk membantu proses persiapan pemakaman mbah.


Sebagian rekan kerja Tari juga turut datang untuk mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Tari, tak ketinggalan pula Randi Yulidar yang turut serta datang ke sana untuk menguatkan Tari beserta keluarga.


“Kamu yang sabar ya, untuk sementara waktu tidak usah masuk dulu kerjanya”. ucap Randi yang sedang duduk di sebelah Tari.


“Baik pak terimakasih atas kebijaksanaannya”.


Tiga jam kemudian, segala keperluan untuk pemakaman mbah sudah selesai dilakukan, semua tetangga, sanak saudara saudara bersiap untuk mengantarkan mbah ke peristirahatan terakhirnya. Turut serta pakde dan paklek dalam rombongan tersebut. Tak ada isak tangis yang mengiringi kepergian mbah.


***


Keesokan harinya Tari belum kembali ke Surabaya, Tari masih mengambil cuti dan ingin menemani sang ibu untuk mempersiapkan segala kebutuhan acara tahlil di malam harinya. Seperti dugaan Tari, semua anak-anak mbah tidak ada yang peduli dengan hal ini, semua keperluan untuk acara tahlil pengajian mbah di di tanggung oleh Tari.

__ADS_1


Paklek Wanto hanya bermalam satu hari saja sejak kepergian mbah, keesokan harinya paklek Wanto lekas kembali ke rumahnya dengan alasan banyak pekerjaan yang harus di lakukan, usahanya tidak ada yang mampu handle selain dia. Anaknya juga sekolah jadi tidak bisa meninggalkan sekolah dalam waktu yang lama.


Pakde dan bude yang rumahnya bersebelahan dengan ibu juga tidak membantu persiapan acara tahlil setiap malam harinya. Ibu meminta bantuan pada tetangga sekitar untuk mempersiapkan acara tahlilan, memasak dan membuat berbagai macam makanan sebagai hidangan.


Pakde dan bude hanya akan datang saat acara tahlil dimulai dan akan lekas pulang begitu acara selesai di lakukan, beberapa hari sejak kepergian mbah, keluarga pakde tak meminta sarapan pada ibu, mungkin malu karena di rumah ibu banyak tetangga yang membantu mempersiapkan acara tahlil bersama.


***


Satu minggu berlalu sejak kepergian mbah, kini ibu sendiri di rumah, aku sudah mulai kembali ke Surabaya untuk bekerja karena memang jatah cutiku sudah habis. Tak ada lagi tetangga yang membantu di rumah.


Pagi itu pakde dan bude kembali datang ke rumah dengan harapan akan ada sarapan seperti biasanya, sayangnya harapan mereka tak sesuai, ibu tak lagi masak dalam jumlah besar. Ibu mengira pakde dan bude sudah tidak makan lagi di rumah kami.


“Mar kenapa masaknya sedikit sekali?”.


“Maaf mas, aku kira mas Dar dan mbak Murni sudah tidak makan di sini lagi”. Jawab ibu dengan pelan dan menundukkan sedikit kepalanya.


“Kenapa? Tidak boleh aku makan di sini?”. Tanya bude dengan begitu sinisnya.


“Tidak mbak, tidak seperti itu”.


“Pul....”.


“Ipul”. Teriak bude memanggil Ipul.


“Dalem bude ada apa?”. Ipul berlari ke dapur untuk menemui bude.


“Belikan aku makanan, nasi padang di gang depan”.


Reflek Ipul menadahkan tangannya pada bude untuk meminta uangnya.


“Pakai uang amalan takziah orang-orang kemarin saja”. Jawab bude dengan melipat kedua tangannya di dada.


Uang amalan dari pelayat yang datang masih utuh belum di buka sama sekali oleh ibu Tari, uang tersebut masih tersimpan rapi di kotak amal.


“Sini biar aku yang hitung”. Tangan bude meraih kotak amal tersebut, dengan cekatan menghitung jumlah uang yang ada.


“Nih belikan nasi padang”. bude menyerahkan uang dua puluh ribu pada Ipul, sisa uang yang ada dibawa bude pulang.

__ADS_1


“Aku juga berhak atas uang ini, ini juga bagian dari peninggalan mbah, kalau sudah datang nasi padangnya bawa ke rumahku, aku ingin makan di rumah saja”. Bude dan pakde berlalu dengan membawa uang amal takziah tersebut.


__ADS_2