Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Hilang Arah Tanpanya 1


__ADS_3

“Karena aku adalah istrimu, ibu dari anak yang kandungmu yang sekarang ada di dalam perutku, jadi aku berhak atas perhatian dan sikap lembut mu”. Jawab Mawar, tak gentar dengan apa yang di ucapkan suaminya.


Randi hanya tersenyum kecut mendengar penuturan istri mudanya, sejenak ia menghentikan langkah kakinya, sejurus kemudian ia membanting dengan sangat keras pintu ruang tamu rumahnya. Sontak membuat Mawar gelagapan kaget.


“Untuk saat ini, kamu boleh mengacuhkan aku seperti ini mas, tapi setelah ini, lihat saja apa kamu masi tetap bersikap seperti ini jika sesuatu hal terjadi pada anakmu!”. Ucapnya dalam hati dengan mengumpat kesal pada orang yang bertahta di hatinya.


Randi benar-benar pergi meninggalkan Mawar, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, rasa dongkol di hatinya kerap kali membuatnya tak fokus dalam berkendara. Beberapa kali ia mendapat teguran dari pengguna jalan lainnya karena keteledoran yang membahayakannya dan juga pengendara lainnya.


Tiga puluh menit sudah, Randi berkendara membelah padatnya jalanan Surabaya. Ada perasaan kehilangan yang luar biasa kala melewati jalan-jalan dan juga tempat-tempat yang memilki kenangan dengan istri pertamanya.


Seperti waktu mobilnya melintasi Masjid Agung Al-Akbar Surabaya, ia teringat akan Bethari. Tari biasanya paling juga jika berkunjung ke masjid ini, ia akan berlama-lama duduk di dalam masjid, merenung cukup lama di sana. Begitu juga dengan Randi, keduanya akan memanjatkan do'a yang sama dalam bilik berbeda.


Tari juga senang sekali ketika berada di pelantaran Masjid saat sore hari, ia duduk di pelantaran taman masjid yang luas, terdapat banyak anak kecil yang sedang bermain bersama. Biasanya Tari akan membawa beberapa kue dari tokonya dan membaginya dengan anak-anak di sana. Tari paling suka ketika ia dikerubuti anak kecil-kecil untuk berebut kue darinya, ia merasakan menjadi Ibu saat itu.


Mata Randi menatap nanar, pada bangku yang biasanya ia duduki bersama Tari, saat menunggu waktu sholat tiba.


Kini Randi memilih bertemu Fitri dan suaminya, ia berharap dengan pertemuannya bersama Fitri membawa setitik pencerahan mengenai keberadaan istrinya. Mereka memilih salah satu cafe yang ada di Surabaya Barat.


“Mas Randi, sudah lama?, maaf membuatmu menunggu”. Sapa Fitri yang datang bersama dengan anak dan suaminya, ia menggendong Arsa sedang suaminya menggendong Arsy.


Randi menatap kedatangan keluarga Fitri dengan sendu, ia kembali teringat akan Tari dan Risma anak angkatnya.


“Harusnya aku bisa seperti mereka saat ini, bukankah sudah ada Risma dalam hidup kami sebagai cahaya dalam kegelapan”. Desisnya dalam hati, ia meraup kesal wajahnya sendiri.


“Mas, maaf ya sudah membuatmu menunggu lama”. Ucap Fitri kembali, memperjelas pertanyaannya, kala Randi tak menjawab sapaannya yang pertama. Ia mengguncangkan bahu Randi dengan pelan.


“Oh maaf”.


“Aku tidak lama baru saja sampai sini, maaf merepotkan kamu dengan mengajak ke sini”.


“Ah tidak juga”. Jawab suami Fitri.

__ADS_1


“Ah iya tentu saja itu sangat merepotkan. Aku harus mempersiapkan dua anakku terlebih dahulu, mendandani mereka, mengganti baju mereka, membawa perlengkapan kebutuhannya, huf itu luar bisa merepotkan padahal perginya cuma sebentar. Lihat ini aku harus menata ulang isi tas ini!”. jawabnya panjang lebar, ia terhenti berbicara saat kaki suaminya menyenggol lembut sebagai isyarat untuk menghentikan celotehannya.


“Maaf”.


“Jadi ada apa? Mas Randi memanggilku ke sini?”, ketus Fitri yang masih kesal dengan ulah saudaranya.


“Ayolah Fit, aku sedang butuh bantuan kamu saat ini”. Wajah Randi memelas, mengharap belas kasih dari saudaranya.


“Aku rasanya sudah malas Mas, mendengar kata-katamu, apa lagi Tari”. jawabnya dengan begitu saja.


Ketiga orang dewasa tersebut terdiam untuk beberapa saat, sekilas hanya terdengar celotehan Asya dan Arsy saja. Randi masih takut untuk memulai berbicara pada sepupu juga sabahat istrinya.


“Baiknya kalian bicara dulu, aku akan membawa Arsya dan Arsy ke taman depan sebentar, biar tidak menggangu kalian”. Pamit Andra, suami Fitri.


“Jadi Mas Randi, mau apa?”.


“Aku dan Tari Fit, aku mau istriku kembali”.


“Aku minta maaf Fit”.


“Minta maaf? Maaf untuk apa?”. Fitri mengerutkan dahinya, lagi-lagi ia bersikap bodoh.


“Karena aku menyakiti Bethari”, ucapnya dengan lirih.


“Siapa Mas, yang kamu sakiti?”.


“Tari Fit”.


“Lalu?”.


Fitri sengaja mempermainkan sepupunya.

__ADS_1


“Ole sebab itu, aku ingin meminta maaf”.


“Yang kamu sakiti siapa Mas?”.


“Tari Fit”.


“Yang aku tanya kan kamu menyakiti Tari istrimu, kenap minta maaf ke aku?”. Jawab Fitri dengan mengarahkan matanya ke atas.


“Yang di sakiti istri kamu, yang sakit juga istri kamu. Kenapa harus minta maaf ke aku?, aku tidak marah denganmu Mas, hanya saja aku begitu kecewa dengan keluarga kalian. Lalu yang tersakiti juga masih sama, Tari sahabatku”. Fitri menyeruput jus alpukat yang ada di depannya, mencoba untuk mendinginkan kepala sekaligus hatinya.


“Kamu boleh berbakti pada orang tua, bahkan itu memang wajib tapi kamu juga tidak boleh bodoh menentukan masa depan mas”.


“Kamu tidak menjadi aku Fit, mana tahu rasanya kamu ketika di minta orang tua berkali-kali, dan slalu mengatakan ini adalah permintaan terakhir wujud baktiku padanya”. Terang Randi memelas, solah iya orang yang paling tersakiti dalam hal ini.


“Ya sukurnya aku terlahir dari Ibu yang baik hati dan bijak Mas”. Desis Fitri, yang merasa kesal dengan perlakuan Budenya.


“Jadi apa kamu tahu keberadaan Tari Fit? Aku ingin menemuinya berusaha untuk yang terakhir kalinya, sebelum sidang putusan kedua di tetapkan. Aku benar-benar tidak tahu keberadaanya dimana. Ponselnya tidak pernah lagi aktif semenjak ia pergi meninggalkan rumah. Tolong aku Fit”. Ucap Randi di titik Nadirnya.


“Lah kamu suaminya saja tidak tahu keberadaanya, bagaimana dengan aku yang hanya orang luar dalam keluarga kalian!”. Tukas Tari dengan ketus.


“Aku memang salah Fit, aku memang sudah menikah lagi tanpa sepengatahuan Tari, aku juga sudah melakukan hubungan suami istri dengan Mawar, tapi aku berani bersumpah aku tak mencintainya sama sekali”.


Rasanya Fitri ingin menampar Randi, saat itu juga kala mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut sepupunya. Ia yang hanya sebagai sepupu dan teman Tari, saja sudah sangat sakit mendengarnya, apalagi dengan Tari istrinya.


“Cukup!”.


“Kata-katamu sangat menjijikan Mas, aku tak habis pikir dengan jalan pikiran kamu saat ini. Bagiamana bisa kamu menyakiti dua wanita sekaligus”.


“Aku hanya bisa mendokan semoga di pernikahanmu yang kedua ini tidak gagal seperti yang pertama”.


“Fit tunggu penjelasanku, aku sudah sering menghindar dan menolak semua ini, bahkan saat ini aku dan Mawar tidur terpisah meski dalam rumah yang sma”. Terangnya kembali, mencoba untuk mengiba.

__ADS_1


“Apa? Jadi Mawar berduri itu sekarang tinggal di rumahmu?!, kalian sungguh benar-benar jahat sekali”. Fitri meninggalkan Randi dengan kesal.


__ADS_2