
Kerena malas untuk berdebat, Tari mengambil satu lembar lagi uang warna merah dan memberikannya pada bude, dengan sigap bude lekas meraih uang tersebut dan melenggang meninggalkan kamar Tari.
“Din, Udin ayo nak anterin ibu ke pasar beli buah”. bude memanggil sang anak sang berada di dalam rumahnya.
“Untung ya bu ibu saya punya mobil, jadi mudah kalau mau belanja-belanja begini, kalau naik motor kan susah nanti bawanya”. Ucap bude pada beberapa tetangga yang sedang membungkus kue di ruang tengah, sedang mereka tak ada yang bertanya prihal mobil.
“Iya buk Murni, hati-hati ya”.
Bude Murni melambaikan tangannya dan berangkat dengan Udin untuk membeli buah di pasar.
Seperti biasa bude membeli buah sesuai dengan keinginannya bue memilih kelengkeng, anggur, alpukat dan melon tak lupa bude juga membeli buah pisang, rambutan dan salak. Buah yang di beli cukup banyak hingga sedikit kesusahan dalam membawanya keluar dari pasar, sehingga bude harus membayar jasa orang untuk membantu.
Bude lekas memasukan semua buah yang ada di dalam bagasi mobilnya dan membawa menuju rumahnya.
Tin...Tin...TINNNN...
Suara klakson mobil Udin ketika memasuki pekarangan rumah, Udin memiliki kebiasaan baru jika masuk ke dalam rumah akan membunyikan klakson beberapa kali dengan suara yang begitu keras agar semua orang dapat melihatnya turun dari mobil.
Kini Udin dan bude turun dari mobil dengan membawa beberapa buah yang di belinya, bude mengeluarkan buah rambutan, salak dan pisang untuk di bawa ke rumah Tari, sedang untuk buah anggur, kelengkeng dan alpukat bude menyuruh Udin untuk membawanya pulang dan menyimpan di lemari pendingin.
“Ya ampun ibu-ibu capek sekali ke pasarnya, berat bawanya udah gitu becek sekali’. keluh bude dengan memijat-mijat tangannya setelah menenteng pisang dan rambutan.
“Mana bude buahnya?”, tanya Tari yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Ini”. bude menunjukan satu tundun pisang,beberapa gerombol rambutan dan salak.
“Kok buahnya begini sih bude?, tadi bilangnya mau beli semangka jeruk untuk hidangan tamu”.
“Halah sama saja itu juga buah, lagian kamu ngasih uangnya juga sedikit mana cukup untuk membeli semangka dan jeruk’. keluh bude dengan meraih es yang ada di sampingnya.
“Dikiranya aku tidak pernah beli buah kali, aku juga tahu kisaran harga buah, ini nih banyak di korupsinya dari pada belinya”, gerutu Tari dalam hati.
Lagi-lagi Tari mencoba bersabar, tak ingin merusak hari bahagianya.
__ADS_1
Menjelang asar semua makanan dan minuman serta hidangan sudah tertata dengan rapi dan siap untuk menyambut tamu yang akan datang, beberapa keluarga juga sudah bersiap tak terkecuali dengan bude, kali ini bude menggunakan gamis lowo dengan warna kuning penuh taburan kristal di dadanya, tak lupa memakai jilbab warna senada dengan bajunya, satu hal yang mencuri penampilan bude bagi yang melihatnya.
Yakni kalung rantai yang menjuntai begitu panjangnya dan dua gelang besar di kedua tangannya, tak lupa beberapa kali di setiap kesempatan bude mengibas-ngibaskan tangannya untuk menarik perhatian orang-orang agar melihat tangannya.
Beberapa menit kemudian rombongan keluarga Randi datang dan memasuki pekarangan rumah Tari. Randi datang dengan membawa tiga mobil satu mobil khusus untuk seserahan dan dua mobil yang di isi oleh keluarga.
Rombongan tamu yang datang lekas di sambut hangat keluarga Tari dan di persilahkan untuk masuk.
Sedang Tari masih enggan untuk menampakkan dirinya.
Tari begitu gugup.
“Mana calon menantu saya?”, sapa bunda Randi pada sang calon besan.
“Sebentar bu saya panggilan”.
Ibu lekas segera masuk dan memanggil Tari untuk menemui calon mertuanya.
“Masyaallah cantik sekali kamu nak”. Puji bunda Randi.
Sedang Randi hanya tersenyum melihat sang calon istri.
Randi dan Tari memang saling mengenal cukup lama, dan mereka sudah sama-sama dewasa tapi mereka berdua masih sama-sama malu.
Bunda Randi memasangkan cincin di salah satu jemari tangan Tari, sebagai pertanda ikatan di antara kedua pasangan yang akan menuju halal tersebut.
Setelah cincin terpasang dengan sempurna, Randi meraih ponselnya dan memotret sang bunda dengan calon istrinya.
Acara lamaran yang sukup sederhana untuk orang seperti keluarga Randi, maklum dadakan. Hasil musyawarah yang telah di sepakati acara pernikahan kan dilakukan bulan depan tepatnya hari sabtu. Untuk akad nikah di lakukan di rumah Tari sedang untuk acara resepsi dilakukan di rumah Randi.
Acara dilajutkan dengan ramah tamah, dua keluarga saling ngobrol santai satu sama lainnya dengan menikmati hidangan yang ada. Kali ini bude duduk di sebelah bu Srining calon ibu mertua Tari. Bude berbicara banyak hal tentang Tari pada calon mertuanya tersebut, entah apa yang sedang di katakan bude tentang Tari pada calon mertuanya.
Tiga jam kemudian, keluarga Randi beserta rombongan lekas undur diri untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Meskipun acara lamaran ini terbilang dadakan tapi untuk seserahan yang di berikan ke Tari sangat lengkap dan bahkan memiliki harga yang fantastis.
Semua barang seserahan di masukan ke dalam kamar Tari.
Saat semua tamu sudah beranjak meninggalkan rumah Tari, bude lekas memasuki kamar Tari dan melihat satu persatu seserahan yang di terima oleh keponakannya tersebut. Matanya terbelalak kala melihat satu set perhiasan berlian dalam satu kotak warna merah tersebut.
“Bude ngapain di sini?”, tanya Tari yang begitu terkejut kala mendapati sang bude ada di kamarnya.
“Bude cuma mau lihat-lihat saja seserahan kamu”.
“Oh”, jawab Tari datar.
Bude memegang satu persatu barang-barang yang ada di kamar Tari tersebut.
“Halah Tar, ini barang-barang murah semuanya. Lihat saja tasnya gini? Kalau di pakai bentar saja sudah pasti mengelupas kulitnya”.
“Ini sendalnya juga ringan sekali, pasti di pakai bentar jahitannya juga akan ambrol”.
Bude mengomentari satu persatu seserahan yang ada di kamar Tari tersebut.
“Biarlah bude, aku menerima semua apa adanya, lagian aku juga tidak meminta, yang terpenting aku tidak merampas hak milik orang lain”.
“Dih, maksud kamu apa ngomong seperti itu?”, bude mengerutkan keningnya.
“Tak ada maksud apa-apa bude, bude Tari mau istirahat dulu, bolehkan untuk sementara bude keluar dari kamar Tari”.
Bude lekas meninggalkan kamar Tari begitu saja, sedang Tari dengan sigap merapikan beberapa barang berharga dalam ruangan tersebut.
Merasa terusir dari kamar Tari, kini bude beranjak ke kamar belakang mbah yang kebetulan saat itu di gunakan untuk menyimpan kue-kue yang di bawa oleh keluarga Randi tadi.
Melihat deretan kue berjajar dengan begitu rapinya di atas kasur, dengan sigap bude lekas membuka tasnya dan memasukan beberapa kue yang menarik menurutnya.
***
__ADS_1