Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Menuju Sah


__ADS_3

Beberapa menit kemudian.


Berdering


Rama.....


Panggilan ponselnya terus bergetar. Tari menatap layar ponselnya dengan awas. Jemarinya lekas menekan warna hiaju yang ada di papan layar monitor ponselnya. Lantas ia segera mengarahkan benda pipih tersebut pada telinganya. Sejurus kemudian ponselnya kembali mati ketika kata “Hello” baru saja di layangkan. Tari semakin resah menatap ponselnya keningnya saling berkerut.


Ting.


Suara ponsel kembali bergetar rupaya. Satu pesan masuk telah ia terima di sana.


Saat ini kita memang sedang berjarak. Tapi entah mengapa aku merasa, justru aku satu langkah lebih maju untuk bisa mengikis jarak padamu.


Rama


Tari yang membaca pesan tersebut tak kuasa untuk tidak menahan senyumnya. Sudut bibirnya tertaik ke atas membentuk lengkung. Ia lekas membawa ponselnya dalam gengaman dan meletakkan di dada yang berdetak jauh lebih kencang dari sebelumnya.


Aku tahu, sekarang kamu sedang tersenyum dan berharap resah. Tidurlah aku tidak sabar untuk menghalalkan esok.


Rama


Pria itu kembali mengirimkan pesan yang membua hati Tari ingin keluar seketika dari


tepatnya malam itu.


“Mbak ada apa? Apa semua baik-baik saja?” tanya Ipul yang mendapati Tari senyum-senyum sendiri dengan menatap layar ponselnya.


“Aku tidak papa Pul, rasanya benar apa yang kau katakan. Aku harus segara tidur agar esok bisa lebih fresh”


Tari melenggang begitu saja meninggalkan Ipul dan saudara-saudara lainnya yang masih duduk di ruang tamu untuk mendekor rumahnya. Ia hendak menuju kamar untuk beristirahat.


****


Pagi yang cerah, secerah sinar matahari yang di balut awan putih. Guratan senyum dan aura kebahagian mulai terlihat di wajah Rama. Sejak subuh tadi pria itu sudah terbangun. Ia tak dapat memejamkan matanya kembali. Segalanya terasa campur aduk anatara bahagian dan juga haru. Setelah beberapa tahun hidup dalam kesendirian dan kesepian kini ia akan kembali merajut indahnya mahligai pernikahan.


Ia lekas bersiap membersihkan diri dan memakai baju yang telah di tentukan untuk acara akad nikah nantinya. Rama yang di bantu beberapa MUA khusus pilihan Bu Rahma sedang bersiap di kamarnya. Acara akad nikah akan di selenggarakan pukul sembilan pagi. Pukul delapan nanti mereka sekeluarga akan bertolak ke rumah Tari.


“Apa kamu sudah siap nak? Tanya Bu Rahma dan Pak Alan yang sudah memakai baju adatnya. Bu Rahma memakai kebaya warna nude dengan balutan jarik parang warna coklat sementara Pak Alan memakai baskep warna senada dengan istrinya. Tak lupa ia melengkapi penampilannya dengan menggunakan belangkon.


“Sudah Bu” Jawab Rama dengan tersenyum, ia masih berada di dalam kamar. Menatap pantulan wajahnya dari cermin yang ada di depannya. Sebuah kalung melati segar telah melingkar di lehernya pagi itu.


“Kau terlihat sangat gagah nak”

__ADS_1


Pak Alan membimbing anaknya untuk berdiri. Ia menepuk-nepuk pundak Rama dengan pelan. matanya tak bisa berpaling dari wajah anaknya yang terlihat berbeda. Sungguh aura kesatria nya muncul sempurna pada pria itu hari ini.


“Kamu terlihat sangat berkharisma nak”


“Jangan gugup, tenanglah semua akan baik-baik saja”


Kini Bu Rahma mulai menggenggam telapak tangan anaknya. Ia mencoba untuk memberikan


dukungan pada Rama. Meskipun ini bukan pernikahan yang pertama tapi baginya ini


jauh lebih mendebarkan dari pada sebelumnya. Mungkin karena usianya yang jauh lebih matang dari pada beberapa tahun yang lalu.


Ketiganya mulai berjalan beriringan keluar dari kamar, menuju ruang tengah bertemu pada


kakek dan nenek Rama yang sudah menunggu di sana. Ia akan meminta maaf sekaligus memohon doa akan kelancaran acara nantinya.


Kediaman Rumah Tari.


Di kediaman rumah Tari, juga tidak kalah sibuknya. Bahkan sebelum azan subuh berkumandang hampir semua sudah terbangun. Beberapa orang tetangga sibuk untuk memasak menyiapkan makanan untuk acara akad nanti. Tak lama selepas sholat subuh, MUA pun sudah datang untuk merias. Mereka datang pagi-pagi sekali mengingat banyaknya orang yang akan di hias pagi ini.


“Tar Risma masih tidur lagi setelah subuh tadi” ucap Ibu ketika melihat anaknya mulai di rias oleh MUA.


“Biarlah Bu kasihan, dia pasti masih ngantuk sekali”


“Baik Mbak”


MUA kembali bekerja, ia memoles wajah Tari dengan pelan. mengaplikasikan beberapa


bedak dan alat-alat make up lainnya. Dengan pelan ia memasang setiap detail aksesoris


yang akan di pakai pengantin pagi ini.


Satu jam berlalu, Bu Marni kembali menuju kamar Tari untuk melihat persiapan yang di lakukan di sana. Terlihat Tari yang sudah memakai kebaya warna putih dengan balutan hijab modern. Sebuah melati panjang menjuntai di bagian sisi kanan hijabnya dan tiara kecil sederhana namun elegan terletak di bagian atas kepalanya. Baju pengantin yang di beli secara dadakan saat menjelang hari H acara. Nyatanya justru membuat penampilan Tari terlihat sangat berbeda. Ia benar-benar cantik, auranya keluar semuanya.


“Masyaallah anak Ibu cantik sekali. Lihat nak kamu benar-benar cantik semuanya terlihat


begitu pas dan sempurna” ia menatap anaknya dari pantulan cermin, sejurus kemudian ia melangkah untuk semakin mendekat pada anaknya.


“Cantik, benar-benar cantik sekali” lagi-lagi Bu Marni memuji anaknya yang terlihat berbeda hari ini. Maklum Tari jarang sekali untuk berhias. Di hari-hari biasah wanita itu hanya memakai bedak tipis dan sentuhan lipstik untuk menghilangkan


kesan kusam di wajahnya.


“Bunda?”

__ADS_1


“Ini Bunda?” Risma yang baru bangu dari tidurnya lekas melesat menuju kamar Tari. Ia mendapati Bundanya dalam sosok yang berbeda hari ini.


“Bunda cantik sekali. Aku mau seperti Bunda” Ia merengek dan menari-narik paksa kebaya yang di kenakan Tari.


“Risma, Risma sayang jangan begitu nak, nanti bajunya bunda jadi rusak. Kamu mau dandan


kayak Bunda?” Tanya Bu Marni dengan menenangkan Risma pagi itu.


Ia tak memberikan jawaban hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Sekarang Risma mandi dulu ya nak, biar di bantu sama nenek. Setelah mandi kamu ke sini. Nanti biar tante-tante ini yang merias kamu supaya tambah cantik. Risma nanti boleh pakai baju yang di belikan nenek kemarin”


Tari menangkup wajah anaknya dan memberikan pengertian agar gadis kecil itu bertindak koperatif hari ini. Dalam hati ia berharap jika anaknya tidak rewel dan mengikuti setiap arahan prosesi dengan baik nantinya.


“Siap Bunda, aku mau mandi dulu”


“Cepatlah mandi sebentar lagi Ayah akan ke sini berama keluarga yang lainnya”


Tanpa pikir panjang Risma lekas beranjak meninggalkan kamar Tari. Ia melesat dengan


riang menuju kamar mandi yang di bantu oleh Bu Marni.


“Mbak rileks ya, saya mau mengambil beberapa foto untuk dokumentasi”


“Baik”


Tari mulai melakukan sesi foto untuk koleksi MUA Pribadi, sebagai pembanding sebelum dan sesudah di make up.


.


.


.


Seluruh rombongan keluarga Nugroho mulai bertolak meninggalkan kediaman rumah mereka.


Mereka terdiri dari lima belas mobil pengiring, dengan mobil pertama yang di naiki Rama. Mobil Rama di buat berbeda dengan yang lainnya. Beberapa bunga di letakkan di bagian depan dan sisi mobil sebagai penanda jika ini adalah kendaraan pengantin.


Mobil melaju dengan kecepatan pelan membelah jalanan yang lenggang. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Rama melafalkan doa-doa akan kelancaran untuk hari ini. Bu Rahma dan Pak Alan begitu siaga berada di sisi anaknya untuk memberikan dukungan.


Hampir empat puluh menit berlalu. Rombongan keluarga Rama telah sampai di kediaman rumah Tari. Suara sound system khas hajatan orang desa mulai terdengar di sana. Lantunan nyanyian gamelan jawa mulai menggema menyambut kehadiran mereka. Sepucuk tenda dan pelaminan juga mulai terlihat di sana. Rama yang di antarkan


rombongan mulai melangkah ke rumah Tari dengan pelan dan yakin akan kebahagian yang sudah di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2