Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Ikan Cupang


__ADS_3

“Ma, apa yang di lakukan mbak Tari, hingga membuat ia begitu di cintai banyak orang?”.


Bu Srining terdiam untuk beberapa saat, ia melirik album yang ada dalam pangkuan Mawar. Album bersampul biru dengan cover bentuk dua hati yang menyatu.


Terdengar helaan nafas yang dalam keluar dari mulut Bu Srining. Ia terdiam beberapa saat, lalu duduk di sebelah Mawar, pandangannya menatap kosong.


“Ma, bisakah Mama menceritakan sedikit tentang Mbak Tari”. Tangis Mawar mulai berdera-derai sesenggukan, entah apa rencananya saat ini, ingin membuat Bu srining bersalah atau merasa menjadi korban dalam kisah ini.


“Mawar sudahlah, kalian berdua dua orang yang berbeda, kamu tidak mungkin bisa menjadi Tari, begitu juga sebaliknya Tari tidak mungkin menjadi kamu”. Jawabnya dengan lembut.


“Ma, enak ya jadi mbak Tari, pernikahannya di gelar mewah, ia di cintai Mas Randi di terima semua orang”. Rintihnya kembali dengan memelas.


“Ma, seandainya saja acara pernikahanku dengan Mas Randi di adakan seperti acara pernikahannya dengan Mbak Tari”. Ia menangis dengan mengelus lembut perutnya.


Bu Srining masih terdiam, ia bingung harus menjawab apa.


“Ma, ayolah tolong bujuk Mas Randi, untuk menggelar acara pernikahan kami kembali, aku ingin mengadakan pesta, di perkenalkan dengan seluruh kelurga dan teman-teman yang lain”. suatu kalimat yang keluar begitu saja dari mulut Mawar.


Bu Srining menatap dengan merotasi matanya.


“Ma ayolah”.


“Mawar, tolong mengerti keadaan Randi saat ini, dia sedang tidak baik-baik saja. Batinnya terguncang hebat dengan perpisahan yang menimpanya. Sidang putusan terakhir perpisahannya dengan Tari juga belum selesai, apa kata orang nanti jika kalian menggelar pesta besar-besaran”. Seru Bu Srining, mencoba memberikan peringatan pada menantu kesayangannya.


Mawar menghembuskan nafas kasar, lagi-lagi ia merasa tak ada yang menyayangi dan mencintainya.


Sementara Bu Srining mengelus lembut perutnya, mencoba berkomunikasi dengan calon cucunya.


“Ma, bagaimana kalau mengadakan acara syukuran tujuh bulanan saja untuk anakku ini. Bukankah bulan depan usia kandunganku sudah masuk tujuh bulan, rasanya aku kasihan sekali dengan anak ini, ia sama sekali tak di anggap dalam keluarga ini”. Desisnya dengan lirih menundukkan kepala tak berani menatap ibu mertuanya.


Bu Srining terbelalak mendengar ucapan Mawar,”bagaimana bisa kamu berfikir semacam itu Mawar, sedang semua anggota keluarga di sini begitu menginginkan kehadiran bayi ini”.


“Lantas bagaimana Ma? Selama aku di sini Mas Randi tidak pernah memperlakukan selayaknya istri dan ibu anaknya, aku di diamkan aku serasa hamil serang diri”.


“Nanti coba Mama bicarakan dengan Randi”. Bu Srining berlalu meninggalkan Mawar hendak menuju dapur.


.


.


.

__ADS_1


.


Desa Suka Maju.


“Kenapa Bunda tidak dapat ikannya?”, huhuhu Risma kembali menangis.


“Sayang tenanglah, nanti Bunda cari lagi ya jangan menangis, ayo kita makan dulu. Risma belum makan sema sekali sejak tadi pagi”.


“Tidak mau, aku tidak mau makan sebelum Bunda dapat ikan cupangnya, aku mau seperti teman-teman main ikan laga-laga. Bunda ayah kemana? Kenapa ayah tidak pulang-pulang? Risma mau ketemu ayah, aku mau minta ikan laga sama ayah”. ia merintih dan berontak mencari keberadaan Randi.


“Sayang tenang ya, untuk sementara waktu bagaimana kalau Risma dan Bunda menggambar ikan laga-laga saja yang banyak, kita bisa memberi warna-warna sesuai dengan keinginan kamu”. bujuk Tari memelas, ketika anaknya menolak makan dan terus menangis sejak tadi pagi.


“Tidak mau, aku mau ikan laga-laga”. huhuhu.


.


.


.


Tok..tok...


Suara ketukan pintu rumah mulai terdengar.


“Bu tolong temani Risma dulu”. Bu Marni yang sedang sibuk di dapur pun datang untuk menenangkan Risma, ia memeluk cucunya mengusap punggungnya dengan lembut.


“Sudah dong nak, jangan nangis terus, kasihan Bunda mu”.


Tari membuka pintu rumahnya, ia melihat sekantong ikan ****** yang ia cari sejak tadi, kini tatapannya beralih pada sosok yang membawa bungkusan plastik putih tersebut.


“Kamu?, kamu tahu saya tinggal di sini?”. Tunjuk Tari yang masih di buat heran dengan kedatangan Rama ke rumahnya.


“Bukan perkara yang sulit bagiku untuk bisa mengetahui tempat tinggalmu, kamu sedang mencari ini kan?”, ia menunjuk kantong plastik putih transparan yang berisi ikan ****** berenang di dalamnya.


“Iya, tapi tidak perlu repot-repot”. Jawan Tari dengan pelan.


“Boleh aku duduk di sini?”.


Tari masih diam, ia ragu harus menjawab apa dengan pertanyaan Rama.


“Ah lama”, desisnya segera dan duduk begitu saja di kursi depan rumah Tari.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong kamu mencari ikan itu untuk apa?”. satu alisnya naik ke atas bertanya apa perempuan di depannya.


“Bunda.....”. Suara teriakan Risma dengan tangisan keluar dari dalam rumah, ia memeluk tubuh Tari dengan erat, hingga membuat Tari gelagapan.


“Bunda?”, satu kata terucap dari mulut Rama.


“Dia anakku, Risma namnya, ia yang menginginkan ikan ******, sejak semalam Risma tak berhenti untuk menangis”. Tutur Tari, dengan membelai lembut rambut putrinya.


Risma masih menangis sesenggukan dalam dekapan Tari.


“Hay gadis cantik lihat ini, om bawa hadiah untukmu”. Tangannya terulur menyerahkan satu kantung plastik berisi ikan ****** warna pink yang sedang berenang.


Risma sontak menoleh dan meraih kantong plastik tersebut.


“Wah ikan laga-laga”, matanya berbinar, wajahnya berubah dari sendu seketika menjadi ceria. Rama pun tersenyum menatap gadis kecil tersebut.


“Kamu suka?”.


“Ya, aku sangat suka. Akhirnya aku punya ikan laga-laga seperti teman-teman yang lain. Trimakasih Om”. Tangan Risma terulur mencium tangan Rama sebagai ungkapan rasa terimakasih.


Rama mengelus lembut rambut Risma.


“Ah kamu begitu lucu dan mengemaskan, berapa usiamu nak?”.


“Umurku lima tahun Om”. Risma berlari masuk ke dalam rumah dengan membawa ikan ****** di tangannya.


Rama menatap dengan perasaan entahlah pada Risma, wajah gadis kecil itu dan usianya mengingatkan pada sosok yang ada di hatinya. Ia tertegun untuk beberapa saat. Matanya menatap kosong, pikirannya berkelana.


“Terimakasih ya atas segala kebaikan yang kamu lakukan untuk anakku”. Suara Tari yang lembut membuyarkan lamunan Rama.


“Ah iya sama-sama tidak masalah, jika kamu membutuhkan sesuatu boleh lah berbicara denganku. Aku tinggal di sebelah sana, rumah warna putih yang ada di ujung gang ini”. Tangannya menunjuk ke arah rumahnya.


Tari mengangguk-anggukan kepalanya.


“Oh iya siapa namamu? Sepertinya kamu orang baru di desa ini”.


“Aku Tari, kebetulan baru beberapa minggu yang lalu pindah ke sini”.


“Baiklah aku permisi dulu”. Rama merasa tak enak berbicara dengan Tari, mengingat ia sudah memiliki serang anak yang otomatis memiliki suami.


“Trimakasih”, ujar Tari untuk ke sekian kalinya.

__ADS_1


“Ah sama-sama”. Rama pergi meninggalkan rumah Tari.


__ADS_2