
Deg....
Cit........
Gesekan aspal dan rem mobil saling beradu saat itu juga. Rama kaget dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut manis Risma. Hingga membuatnya ia tak fokus pada keadaan sekitar.
“Maaf sayang, kamu pasti takut ya?” tanyanya kemudian setelah mengerem secara mendadak.
Risma menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Tidak, aku tidak takut. Maaf ya Om, aku membuat Om tidak fokus berkendara. Jangan bilang Bunda ya Om, aku takut Bunda marah karena sudah menggangu Om berkendara”
Rama menepikan mobilnya sejenak di bawah salah satu pohon beringin besar yang ada di bagian sisi kiri jalanan.
“Sayang Om tidak marah. Maaf ya, sudah membuatmu kaget. Risma boleh kok menganggap Om adalah keluarga Risma. Sesama manusia yang tinggal di bumi Allah, maka kita semua saudara” Rama memilih untuk mengelus kepala Risma sore itu.
“Oh begitu ya” gadis kecil itu mengangguk-angguk patuh, seakan, mengerti apa yang di sampaikan Rama.
Jujur dalam hati yang terdalam Risma, ingin sekali memanggil Rama dengan sebutan Ayah. Tapi entah mengapa sejak kejadian baru saja yang menimpa mereka, ia urungkan niat tersebut. Mendadak lidahnya terasa kelu tak dapat berbicara. Ia tak ingin membuat Rama tak nyaman berada di sisinya. Hal yang sama juga di rasakan Rama. Ingin sekali pria dewasa itu menyuruh Risma memanggilnya Ayah, namun ia tak kuasa untuk berucap. Takut jika Tari akan tersinggung dan membagi jarak di antara mereka.
“Hari ini Om, sedang tidak sibuk lo. Kira-kira Risma mau jalan-jalan ke mana? Om siap menemani”
“Sungguh Om, tapi kemana? Aku tidak pernah jalan-jalan”
Hati Rama kembali merasakan nyeri, harusnya anak seusia Risma sering di ajak jalan-jalan walau hanya sekedar di sekeliling rumah. Menurut penelitian, anak yang sering di ajak jalan-jalan dan mengenal alam sekitar akan cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Selain itu hubungan keakraban antara anak dan orang tua, akan terekam sepanjang masa. Namun lagi-lagi semua karena keadaan. Rama tidak bisa menyalahkan Tari. Biar bagaimana pun menjadi orang tua tunggal pastilah tidak mudah. Terlebih harus merawat sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.
“Risma suka lihat senja tidak?”
“Senja itu apa Om?”
“Jadi kamu belum pernah lihat senja?. Baiklah Om akan mengajak Risma melihat senja di bukit Teletubbies yang ada di sebelah sana. Tuan putri sudah siap?”
“Risma belum ijin bunda Om” lagi-lagi Risma berucap seperti itu. Ia adalah anak yang penurut, setiap kata atau wejangan Tari begitu menancap di hati, tak ingin untuk melanggar dan membuat bundanya kecewa.
“Kata bunda kalau mau pergi-pergi harus izin dulu, biar bunda tidak bingung mencari nanti”
“Ok, kita izin Bunda dulu ya”
Rama mengambil ponsel yang ada di saku kemejanya. Ia mencari daftar nama Tari di sana. Sejurus kemudian ia mulai menekan tombol hijau dan mencoba untuk menghubungkan dengan Tari.
Calling Tari....
“Bunda, aku mau jalan-jalan sama Om Rama boleh?”
“Jalan-jalan?”
__ADS_1
“Iya, aku mau lihat senja sekalian main sama Om Rama. Boleh ya Bun. Besok kan hari minggu” rengek Risma kemudian, ketika suaranya sudah terhubung dengan sang bunda.
“Hem. Baiklah tapi Risma janji ya jangan nakal. Jangan membuat Om Rama kerepotan”
“Iya janji”
“Kalau begitu tolong kasih ponselnya ke Om Rama”
Risma lekas menjulurkan tangannya, menyerahkan benda pipih itu kepada pemiliknya.
“Assalamualaikum Mas Rama” suara wanita yang merdu, pelan dan mendayu-dayu terdengar di sebrang sana.
Deg...
Hati Rama kembali menghangat. Tiba-tiba ia seakan sedang merasakan serangan dadakan yang mampu menghentikan jantungnya, Ia merasa begitu familiar dan dekat dengan suara itu. Seorang Dokter senior terbaik di salah rumah sakit di kota tersebut, tiba-tiba mendadak blank tidak mempu menjawab. Lidahnya terasa kelu tiada terkira.
“Halo, mas Rama masih di sana?” Tari kembali mengucapkan sebuah kalimat.
“Ah, iya ada apa? Oh iya waalaikumsalam” Jawab Rama dengan grogi, ia terhenyak kaget saat itu, beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepala teringat akan kebodohan yang baru saja tercipta.
“Mas, maaf ya merepotkan. Pasti Risma yang minta di ajakin jalan-jalan” ucap Tari, dari sebrang sana. Ia merasa tidak enak sudah merepotkan. Ibarat kata sudah di kasih hati malah minta ampela. Sudah di bantu jemput sekolah sekarang malah minta jalan-jalan.
“Tidak-tidak. Ini bukan Risma yang minta. Aku yang mengajaknya untuk jalan-jalan. Boleh ya aku pinjam anak cantik ini buat nemenin malam minggu ku. Akan aku pastian ia kembali dengan selamat” Terang Rama, yang berada di sebrang sana.
"Kemana?"
“Bagaimana, apakah Bunda mau ikut?” Reflek, Rama turut memanggil Tari dengan sebutan Bunda seperti Risma.
Deg...
Hening...
Suasana mendadak kaku saat itu juga, Rama yang menyadari perbuatanya lekas membekap mulutnya. Ia sedikit memukul-mukul mulutnya karena telah lancang berbicara. Semenata Tari, ia juga terdiam dan terkejut. Hatinya sedikit bergejolak. Sebuah panggilan keramat yang sudah lama tidak pernah ia dengar dari sosok pria. Sore itu kembali terdengar.
Keduanya saling terdiam untuk beberapa detik.
“Om Rama, kenapa mulutnya di pukul-pukul?” ucap Risma, yang tentu saja terdengar oleh Tari, lewat suara udara.
“Tidak-tidak sayang, ini gatal di gigit nyamuk” jawab Rama. Tari yang mendengar jawaban Rama. Hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum.
“Ya sudah, aku bawa Risma jalan-jalan dulu ya. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” sambungan telfon terputus. Rama kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan. Ia sengaja mengendarai dalam laju pelan, agar saat di bukit Teletubbies senja telah muncul.
__ADS_1
.
..
Bukit Senja Teletubbies.
Sore itu, senja sedang menunjukan pesonanya. Tampilan degradasi warna jingga saling bersemburat, membentang luas di cakrawala. Pesonanya yang indah, memancarkan kedamaian bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Saat itu, Rama menggandeng tangan mungil Risma. Mereka saling berjalan dengan pelan. Menikmati hamparan rerumputan yang bertabur bunga di salah suatu bukit. Keduanya berjalan dalam diam, seolah sedang menyelami rasa masing-masing. Ada sepenggal hati yang merasa menemukan tempat untuk bernaung. Ada sepenggal hati yang merasa terisi. Selayaknya ikatan batin antara seorang Ayah dan anak.
Masih dalam diam. Keduanya berjalan saling beriringan.Tangan yang saling bertaut tak rela untuk terlepas saat itu. Bukit Teletubbies, suatu tempat perbukitan kecil, yang ada di depan salah satu perumahan elit di kota S. Tempat ini begitu indah, udaranya masih sejuk meskipun terletak di tengah kota. Hamparan rerumputan yang luas dan beberapa bunga di bagian sisinya, membuat ia memiliki pesona tersendiri bagi penikmat senja.
Banyak pengunjung yang datang walau hanya sekedar untuk melepas lelah selepas bekerja, sebelum kembali melajukan langkah untuk berkumpul saudara. Ada pula yang dengan sengaja mengelar karpet kecil dan membawa beberapa makanan di sana, membawa serta anak dan keluarganya hanya untuk sekedar melihat senja. Tak jarang kalangan muda-mudi, yang saling duduk melingkar bersama. Entah itu dengan teman atau orang terkasih. Semua seakan sedang berlomba mencari kenikmatan dengan datangnya senja.
“Om Rama suka dengan senja?” tanya gadis kecil itu, ketika ia duduk di hamparan rerumputan. Matanya mendongak menatap lawan bicaranya. Sementara jarinya saling berpegangan dengan duduk bersila.
“Hum” laki-laki dewasa itu hanya menganggukkan kepala dan memberikan senyum sekilas.
“Aku juga suka melihat warna jingga ini Om”
“Oh ya?, apa yang membuat Risma suka dengan senja?” tanya Rama, ia pun turut menatap Risma dengan senyum. Ia juga membawakan beberapa camilan beserta minuman meletakan di hadapan sang anak.
“Indah Om, warnanya aku suka, Bagus sekali dan terasa tenang” jawab anak usia tujuh tahun. Mungkin ia sedang ingin merangkai kata untuk menggambarkan senja yang indah, namun ia ta mampu. Keterbatasan kosa kata membuatnya hanaya bisa mengatakan bahwa senja itu indah.
“Om suka menikmati senja?”
Rama mengangguk, ia memang kerap kali menghabiskan sore dengan menikmati senja di bukit Teletubbies. Ia akan berangkat sendiri duduk termenung di tengah keramaian pengunjung yang ada.
“Kenapa Om suka?”
Diam....
Senja, senja mengajarkanku banyak hal. Aku belajar dari senja untuk menerima semua dengan ikhlas. Selayaknya senja yang menerima langit apa adanya. Dari senja aku juga belajar jika mengagumi tidak selamanya untuk memiliki. Senja juga mengajarkanku bagaimana cara berpamitan dengan cara yang berkesan. Senja pula yang mengajarkan padaku, bahwa tak kehidupan tak selalu berjalan dengan cemerlang.
Senja...
Aku merindukanmu.
Rama terdiam, hatinya sibuk berbicara. Mengingat sepenggal kisah yang telah lama usai, telah lama pergi dan tak mungkin kembali.
Senja, aku menanti janjimu.
Suatu kalimat terakhir yang terucap saat itu “Senja mengatakan bahwa, keindahan tak harus datang lebih awal”
__ADS_1
“Om, Om Rama kenapa kok diam saja?” Risma menggoyang-goyangkan tubuh Rama dengan pelan. Sejurus kemudian tangan mungil itu membelai wajah Rama dengan pelan. Mengusap butiran bening yang luruh.
“Om kenapa menangis?”