Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
SAH


__ADS_3

Seluruh Rombongan keluarga besar Randi sudah mulai memasuk tenda pernikahan. Mereka lekas


di sambut hangat oleh pihak keluarga Tari. Pakde Dar menjadi orang terdepan menjabat para undangan yang datang pagi itu. Ia yang sudah memakai seragam batik lekas tersenyum


menyalami rombongan tamunya untuk mempersilahkan masuk. Hal yang sama juga di


lakukan Bude Murni. Ia yang sudah di rias sejak subuh tadi lekas melenggang ke depan menyambut tamu agungnya.


“Silahkan masuk. Silahkan di cicipi hidangan yang telah kami sediakan. Mohon maaf hanya


seadanya” bosa-basi yang di ucapkan Bude ketika menyapa tamunya.


“Terima Kasih Bu”


“Wah jadi ini calon ponakanku yang berapa menit lagi akan menjadi suami Tari? Kamu keren juga ternyata” ucap Bude menggoda Rama.


“Saya ini Budenya Tari dan ini Pakdenya kami berasal dari kota X di jawa Timur. Monggo kapan-kapan main ke sana”


“Iya Bude, kapan-kapan saya pasti akan ke sana”


Beberapa saat kemudian Ipul datang menghampiri Bude, mengatakan jika acara akad nikah telah siap untuk di lakukan. Rama sudah memasuki tempat acara yang telah di tentukan. Matanya tak berhenti menatap sekitar tempat acara. Ia tersenyum melihat semua yang ada pagi ini. Sungguh hatinya menghangat di penuhi hiasan bunga layaknya pelaminan yang ada di depan matanya.


“Ayah” teriak Risma yang berlari menuju sang Ayah. Ia memakai gaun putih senada dengan


Tari dan juga Rama. Risma juga memakai hiasan tiara kecil di bagian kepalanya.


“Anak Ayah cantik sekali sayang hari ini” Rama tak kuasa melihat putrinya yang tampak cantik dan mengemaskan. Ia lekas memeluk anaknya dan memberikan beberapa kecupan di kedua pipi dan keningnya.


“Tapi Bunda jauh lebih cantik Ayah, baju Bunda bagus sekali. Aku mau baju kayak Bunda. Nanti Ayah belikan ya”


“Tentu saja sayang nanti akan Ayah belikan”


“Risma, sini dulu nak, kamu sama nenek dulu ya sayang” Bu Rahma mengambil alih cucunya.


Ia membawa Risma dalam pangkuannya agar gadis kecil itu tidak menggangu jalannya acara.


“Bagaimana  apakah semuanya sudah siap?” tanya penghulu yang kini sedang berada di hadapan Rama.


“Siap” jawab kompak beberapa orang yang duduk di sebelah Rama. Saat ini posisi Tari masih berada di dalam rumah. Ia akan di pertemukan dengan Rama selepas acara akad nantinya.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu” pak penghulu mulai menjabat tangan Rama. Tak dapat di pungkiri


hati Rama begitu gugup kala itu. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan saudari Bethari Ambarwati binti Muhamad dengan mas


kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian di bayar tunai”


“Saya terima nikah dan kawinnya Bethari Ambarwati Binti Muhamad dengan mas kain


seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian di bayar tunai”


Dengan satu tarikan nafas Rama berhasil mengakad Tari pagi itu. Di mana selepas akad


telah berubah status mereka menjadi pasangan suami dan istri yang sah. Baik di mata agama maupun hukum negara.


“Bagaiman para saksi sah?”


Kompak seluruh orang yang ada dalam tenda pelaminan berucap “Sah”


“Alhamdulilah” satu kalimat yang terucap dari mulut Rama, ia begitu bahagia sekali hari ini.


Senyum di bibirnya lekas terbit saat itu juga segala rasa resah dan gemetar telah sirna sudah bergantikan rasa bahagia.


pengantin mulai menangkupkan tangannya di dada. Memohon pada ang pencipta akan


keberkahan an keharmonisan keluarga baru ini.


Tari yang berada di dalam rumah tak kuasa menahan harunya. Sudut matanya kembali


berair ketika seorang laki-laki kembali mengikatnya dalam sebuah pernikahan.


“Ibu, aku sudah menikah lagi. Aku bukan janda lagi. Aku telah menjadi istri orang” ucapnya dengan pelan dan memeluk Ibunya ketika Rama baru saja selesai melafalkan ikrar akad nikah.


“Selamat ya nak, semoga kebahagian dan keberkahan menyelimuti hidupmu” Bu Marni pun tak kuasa menahan rasa harunya, ia turut menangis dan memeluk sang anak.


“Mbak Tari mari saya antarkan ke depan untuk bertemu Mas Rama” beberapa sepupu dari


pihak Rama telah datang untuk menjemput Tari dan akan membawanya kepada sang suami.

__ADS_1


Bu Marni menganggukkan kepala sebagai isyarat pada Tari untuk lekas meninggakkan ruang tamu dan menuju suaminya. Dengan pelan Tari mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia menunduk ketika berjalan menuju ke arah Rama. Ia tak bisa


menyembunyikan rasa gugup yang ada.


“Pangantin putrinya sudah datang. Cantik sekali istri Rama” ucap beberapa saudara yang turut hadir dalam acara pernikahan Tari dan Rama hari ini.


“Iya cantik sekali. Lihat saja mereka begitu serasi” jawab orang yang ada di sebelahnya.


Rama dan Tari telah di pertemukan untuk pertama kali sebagai pasnagan suami istri


yang sah. Mereka saat ini sedang berdiri saling berhadapan hanya saja Tari masih tertunduk tak berani menatap suaminya.


“Silahkan di cium tangan suaminya mbak Tari” instruksi dari penghulu yang menikahkan mereka.


“Sayang” ucap Rama dengan pelan pada wanita yang telah sah bergelar menjadi istrinya pagi itu.


Deg


Satu panggilan keramat baru yang di terima Tari membuat jantungnya tidak baik-baik saja. Tangannya begitu gemetaran ketika hendak menjabat tangan Rama untuk pertama kalinya.


“Mbak Tari silahkan di lihat suaminya dan jangan lupa di cium tangannya” instruksi penghulu kembali.


Rama tersenyum, ia sudah menyodorkan tangannya tepat di hadapan wajah Tari. Dengan


tangan yang gemetaran Tari meraih tangan suaminya menciumnya dengan penuh takzim. Hati keduanya saling berlomba untuk lompat dari tempatnya saat itu juga. Perlakuan Tari lantas di balas oleh Rama. Beberapa saat kemudian Rama


lekas memegang kening Tari dan melantunkan do’a. Sejurus kemudian Pria itu mencium kening Tari dengan lembut di hadapan para undangan yang ada. Ia mencium kening Tari dengan cukup lama. Tak lupa tukang foto mulai mengabadikan moment sakral yang tercipta.


Bu Marni, Bude Murni, Pakde Dar, Ipul dan seluruh keluarga besar menatap haru pada


pasangan pengantin yang baru sah menjadi sepasang suami istri. Setelah perjalanan panjang yang mereka lalui. Pada akhirnya Allah menjodohkan wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Begitu juga sebaliknya.


Di tengah-tengah moment sakral yang tercipta Risma lekas melesat dari pangkuan Bu Rahma. Ia berlari menuju orang tuanya dan turut bergabung di sana.


“Ayah Bunda. Aku juga mau di foto kayak kalian” ucapnya dengan lantang yang langsung mengudang gelak tawa undangan yang ada.


Rama dan Tari terkekeh geli melihat tingkah anaknya. Nyatanya pernikahannya kali ini


bukan hanya tentang dia dan Rama tapi juga tentang Risma putri kecil mereka sebagai pelengkap dalam mengarungi bahtera rumah tangga menuju sakinah, mawadah dan berujung warohmah.

__ADS_1


Sesi foto keluarga telah di mulai. Risma ada di setiap moment pengambilan gambar tersebut. Ia tak mau kehilangan satu moment pun kebersamaan orang tuanya.


“Aku harap dia tidak mengganggu waktu kita malam nanti” bisik Rama di telinga Tari.


__ADS_2