Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Tentang Strudel


__ADS_3

.


.


.


.


.


☘️☘️☘️☘️


Happy reading teman-teman.


Beberapa menit berlalu bude beserta keluarga masih enggan untuk meninggalkan teras rumahnya, bude dengan sengaja meletakkan semua makanan yang di bawa dari Malang tepat di depan ia duduk. Agar tetangga yang lewat dapat melihat kemewahannya.


Ya bude duduk dengan bersila memangku sekotak strudel berukuran cukup besar dan beberapa makanan serta minuman lainnya yang mengelilinginya. Tak lupa bude memakai daster motif bunga-bunga besar warna merah sebagai baju kebesarannya. Maklum tubuhnya yang gemuk membuatnya tak leluasa berpakaian kecuali dengan daster yang longgar. Di tambah lagi kalung emas yang melingkar di lehernya menjuntai dengan begitu panjangnya menjadikan bude semakin tampak percaya diri.


Senyumnya mengembang sempurna.


Rambut di cepol ke atas dengan lipstik warna merah merona.


Kalian tanya gelangnya?


Ya bude memakai gelang, yang konon di belikan mas Udin hasil kerja kerasnya selama bekerja beberapa tahun terakhir ini, ada di tangan sebelah kanan dan kirinya dengan ukuran di atas normal.


Sementara itu di ujung halaman rumah, terlihat Ipul baru saja pulang dari kegiatan latihan bola yang rutin di lakukan sepekan sekali dalam sekolahnya, Ipul pulang dengan berjalan kaki dengan membawa sepatu di tangan kanan dan kirinya.


Matanya terusik menatap rumah saudaranya yang sedang berkumpul bersama di teras, karena ini memang hal yang jarang terjadi. Keluarga pakde dan budenya biasanya lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah saja dan meminimalisir interaksi dengan tetangga sekitar kecuali ada sesuatu yang menguntungkan bagi mereka.


Perlahan Ipul mendekat dan menyapa mereka.


“Assalamu'alaikum pakde, bude mas Udin”, hay Ipul dengan tersenyum melambaikan tangannya pada mereka.


“Wassalamualaikum, baru pulang le?”. Tanya pakde bosa-basi.


“Ngeh pakde bar pulang ini”, Ipul ikut duduk di teras tersebut.


Matanya kembali terusik kala melihat rentetan makanan dan minuman yang banyak di teras tersebut.


“Kalau sekolah jangan main saja, sekolah macam apa jam segini baru pulang”. Bude mengatakan hal tersebut tanpa melihat Ipul dan sibuk mengunyah strudel yang ada di pangkuannya.


“Lihat tuh mas Udin, dulu kalau sekolah ya sekolah mana ada main-main atau pulang terlambat”.

__ADS_1


“Anaknya rajin pinter pula, coba lihat sekarang sudah jadi orang sukses bisa nyenengin keluarganya, bisa belikan makanan banyak seperti ini”. Ucap bude dengan menunjuk semua makanan yang ada didepannya.


Tak ingin berdebat Ipul hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Kalau pulang sekolah langsung mandi sana, mana bau lagi baju udah kayak gombal serbet saja (lap kotor)”. Ucap bude dengan mendengus kesal melihat Ipul yang lusuh setelah main bola.


Tak tahan dengan sederet ceramah yang di lontarkan budenya, Ipul lekas beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan keluarga tersebut tanpa bosa-basi.


“Dasar anak gak tau sopan-santun pergi nyelonong saja gak pamit”. ucap bude yang masih sangat jelas terdengar di telinga Ipul.


Sementara itu sepanjang jalan menuju rumahnya yang hanya beberapa langkah saja, Ipul mendengus dengan kesal mengumpat dengan banyak kata.


“Dasar pelit tukang pamer, kalau mau pamer itu harusnya sdah siap untuk membagi dengan yang lain atau seenggaknya nawari gitu. Hem dah pamer tapi diam-diam saja gak ada basa-basi nya untuk sekedar nawarin. Ya Allah punya saudara dekat satu, ajaib banget tingkahnya”. Gerutu Ipul dengan muka yang sudah di tekuk sampai bengkok.


“Ada apa sih Pul?, pulang-plang udah ngomel-ngomel gak jelas”. Sapa ibu yang sedang menyapu ruang tengah rumah kami.


“Bude sekeluarga itu lo bu, lagi makan Strudel dan jajanan yang lain di teras, ada Ipul baru saja pulang mana ada di bagi sekedar di tawari aja tidak”.


“Halah sudahlah, mungkin bude cuma beli sedikit lagian makan gitu aja kok nanti beli sendiri minta di belikan mbakmu”.


“Bukan masalah nanti bisa beli sendiri atau tidak bu, tapi setidaknya sesama sadara kan harus saling berbagi. Seperti yang ibu katakan beberapa hari yang lalu jika apa yang ibu makan harusnya pakde jga ikut merasakan”.


Hening.


Hatinya yang kesal membuat Ipul melengos begitu saja dan lekas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Malam harinya kekesalan Ipul tadi sore tak kunjung mereda juga, kali ini dia berdiam diri di kamar menatap langit-langit kamarnya yang berasal dari jajaran bambu tanpa plafon.


“Kenapa ya harus punya rumah berdekatan dengan pakde?”.


“Kenapa pula Allah mentakdirkan aku bersaudara dengan mahkluk aneh seperti mereka”.


Dalam lamunannya yang sudah menjalar kemana-mana, tiba-tiba ada panggilan masuk dari sang mbak.


Dengan sigap tangannya terulur untuk meraih ponselnya yang ada di bawah bantal.


“Assalamualaikum mbak”.


“Wassalamualaikum Pul, gimana kabarnya?”. Tanya Tari begitu semangat karena sdah hampir satu minggu ini tidak sempat menghubungi sang adik secara langsung.


“Kabarnya kurang baik mbak”. Jawabnya dengan sendu.

__ADS_1


“Ada apa lagi pul?”. Bethari yang berada di sebrang sana mengelus dadanya.


Ya Allah apa lagi ini.


“Mbak Tari pernah makan strudel?”.


“Pernah,kenapa dek?”.


Seperti itulah seorang kakak kadang memanggil nama sang adik secara langsung, kadang jika ingat akan statusnya akan memanggil dengan sebutan adik.


“Gimana mbak rasanya?”.


“Enak”. jawabnya singkat dan datar.


“Enak sekali kah mbak?”. dengan menelan ludah Ipul membayangkan kue berbentuk panjang dan lumer tersebut dengan balutan keju yang ada di dalamnya.


“Ya enak aja dek, gak pake sekali namanya saja makanan ya enak-enak saja”.


“Beberapa hari yang lalu, keluarga bude sedang liburan sekeluarga ke Malang dan baru pulang tadi pagi”.


“Trus?”. tanya Tari dengan penasaran.


“Ya bude bawa oleh-oleh banyak sekali”. Ipul menceritakan sema kejadian yang di alaminya sore tadi.


Mendengar penuturan sang adik hatinya sakit sekali, jemarinya dengan tegas meremas ujung BebyDoll yang sedang dia gunakan.


“Kurang ajar ni orang, kala aku yang punya sesuatu saja langsung di bawa pulang tanpa permisi dan tanpa sukan, giliran punya sesuatu pelitnya nauzubillah”. Bati Tari dalam hati mencoba tenang.


“Apakah bude tak membagi strudel itu dengan ibu dek?”.


“Tak ada sama sekali mbak, ibu tak menerima sedikitpn oleh-oleh dari mereka”.


Wah benar-benar nih orang gerutu Tari.


“Ya sudah jangan di pikirkan, mbak kan sering Tugas di Malang sekarang, nanti kalau pergi kesana mbak belikan buat kamu yang banyak biar sekalian bisa di bagi-bagi dengan tetangga”.


“Beneran mbak?”. Ipul menjawab dengan nada yang tersenyum.


“Iya beneran, nanti ingatkan lagi kala mbak lagi di Malang biar gak lupa”.


“Siap mbak”.


“Kamu jangan lupa belajar yang pinter ya titip ibu selama mbak gak ada di rumah”.

__ADS_1


“Siap mbak”.


__ADS_2