Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
POV Bethari


__ADS_3

POV Bethari.


Sebagai seorang wanita biasa, aku memimpikan memiliki pasangan hidup yang terbaik. Sholeh, dermawan, tegas dan lembut dalam bertutur kata, satu yang paling penting bagiku aku berharap pasangan hidupku orang yang setia seperti sahabat nabi Ali Bin Abi Thalib,yang hanya mencintai satu wanita sepanjang hidupnya.


Terlalu sempurna?.


Untuk seorang Bethari Ambarwati, seorang wanita yang biasa-biasa saja, berkasta rendah serta memiliki usia yang lewat untuk ukuran menikah bagi kaum hawa.


Tak ada nama khusus yang ku tuliskan dalam hatiku, tak ada satu namapun yang ku sebut di setiap bait-bait alunan do’a yang kupanjatkan pada yang maha kuasa di setiap malamnya.


Aku terlanjur pasrah akan ketetapannya.


Satu hal yang slalu ku yakini dalam hatiku akan janji Allah, jika wanita yang baik akan bersanding dengan laki-laki yang baik pula, dan sebaliknya demikian. Begitulah nasihat yang slalu ku pegang teguh sebagai pelipur lara saat gelisah mendera.


Ketika usia memasuki tiga puluh tahun lebih, aku tak lagi meminta akan berjodoh dengan siapa diri ini, aku hanya memohon dikuatkan dalam segala hal, dan jika Allah berkehendak untuk mempertemukan jodohku pasti tidaklah sulit untuk itu.


Aku bersabar dalam penantian.


Aku berdoa tanpa menyebut nama.


Aku berpasrah pada yang maha menjodohkan.


Hingga siang itu, sesuatu kabar yang tak pernah terduga dalam hidupku. Pak Randi melamarku. Aku mengenalnya sebagai laki-laki yang baik, dingin, taat pada agama dan begitu menjaga jarak dengan wanita, tapi pagi itu dengan begitu tiba-tiba pak Randi melamarku secara langsung pada ibu.


Aku terkejut.


Aku bimbang.


Aku juga bahagia, karena ada laki-laki yang memangku untuk menjadikan istrinya di saat usiaku yang tak lagi muda.


Kalian tanya bagaimana hatiku?.


Aku tak tahu, akan ku tanyakan pada sang maha pencipta untuk menemukan jawabannya. Aku percaya cinta akan datang seiring berjalannya waktu yang penting saling berusaha satu sama lain. Bukankah aku dan pak Randi sudah sama-sama dewasa untuk sebuah menjalani mahligai pernikahan.


***


Rumah Ibu.


Sambungan vidio call masih berjalan. Aku masih terdiam dalam keterkejutanku tentang ucapan ibu tadi.

__ADS_1


“Nak, kamu dengarkan ibu tadi bilang apa?, nak Randi melamarmu, bukankah kalian sudah saling mengenal?”. Ibu tampak kebingungan dengan sikapku yang hanaya diam saja dengan ekspresi terkejut tiada tara.


“Iya bu Tari dengar, pak Randi adalah atasan Tari di tempat kerja”.


“Syukurlah jika kalian sudah saling mengenal satu sama lain, ibu lega dengan itu, untuk urusan kamu bersedia atau tidak menerima lamaran nak Randi, sepenuhnya ibu pasrahkan padamu nak”.


“Baik bu, izinkan Tari untuk berfikir sejenak sebelum mengambil keputusan untuk melangkah ke depan”.


Satu hal yang masih meragu dalam hati Tari tentang Randi adalah, bisakah Randi sepenuhnya menerima keadaan kelurganya yang sepenuhnya bergantung pada Tari.


“Bu, bolehkan ibu menyerahkan ponselnya pada pak Randi sebentar”.


Ibu menyerahkan ponsel tersebut pada Randi, yang kebetulan sedang duduk bersebelahan dengannya.


“Maafkan aku yang dengan tiba-tiba datang ke rumahmu tanpa meminta izin”.


“Maafkan aku yang membuatmu terkejut dengan semua ini, maafkan aku atas kelancanganku melamarmu tanpa meminta persetujuan darimu terlebih dahulu”.


“Aku terlalu pengecut untuk mengatakan secara langsung padamu”.


“Betahri Ambarwati, izinkan aku dengan segala perasaan yang Allah titipkan ini membuat pengakuan padamu. Sudah lama diriku menyimpan rasa suka dan kagum padamu, hanaya saja aku tak pernah berani untuk mengutarakannya bukan tidak ingin memilikimu, aku hanya ingin menjagamu hingga halal untukku menyentuhmu”.


“Dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, jadilah istriku pendamping di kala suka maupun duka bersamaku Bethari Ambarwati”.


Dengan wajah yang berkeringat dan tangan bergetar Randi mengatakan hal itu pada Tari.


Sementara Tari yang berada di sebrang sana sedang menitikkan air mata bahagia. Mungkin ini adalah jawaban dari alunan bait-bait do’a yang dia panjatkan setiap harinya.


Tari meraup wajahnya, menyeka dengan lembut butiran bening yang singgah di wajahnya.


“Trimakasih pak, atas segala niat baik yang bapak ungkapkan pada saya, saya begitu terharu dengan itu”.


“Lantas bagaimana jawabanmu?”.


Tari hanya tersenyum.


“Izinkan saya untuk berfikir dan memohon petunjuk pada sang m


Maha membolak-balikkan hati pak, saya akan lekas memberikan jawaban jika hati saya sudah menemukan kemantapan untuk menjawab”.

__ADS_1


“Baik, aku mengerti mungkin ini terlalu tiba-tiba untukmu dan keluarga”.


“Aku menunggu jawaban darimu, ku harap kabar bahagia yang akan aku dengar nanti”.


“Assalamualaikum”.


“Waalaikumsalam”. Panggilan vidio terputus.


Nak Randi ada yang ingin ibu sampaikan padamu. Tari adalah anak ibu satu-satunya. Tari menjadi anak yatim saat usianya masih sembilan tahun. Ipul adalah anak angkat ibu dari kakak almarhum bapak Tari (sepupu Tari dari keluarga bapak). Sejak masih kecil Tari hidup dalam keterbatasan dan serba kekurangan.


Tari menjadi tulang punggung keluarga sejak dia lulus kuliah, meski saat kuliah pun Tari sudah membantu kehidupan kami. Tari anak yang baik tak pernah merepotkan keluarganya. Justru ibu dan Ipul yang bergantung sepenuhnya pada Tari untuk bertahan hidup.


Ibu memejamkan matanya, menahan air mata yang mulai hampir tumpah di pelupuk matanya.


Bukan hanya ibu dan Ipul, terkadang saudara-saudara yang lain juga berbuat demikian pada Tari, hanya saja ibu tak mampu membelanya.


Kali ini air mata ibu jatuh begitu saja, kala mengingat perlakuan pakde pada keluarganya.


“Bu, jika Tari bersedia menikah dengan saya, saya tidak akan menghalangi Tari untuk terus berbakti pada ibu”.


Ibu hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Maafkan wanita tua yang hanya bisa merepotkan kalian saja”.


“Nak Randi jangan khawatir, Tari anak yang baik dan penurut dia jga penyayang keluarga”.


“Apakah orang tua nak Randi mengetahui tentang hal ini?”.


“Orang tua saya mengetahui bu, dan mereka setuju jika saya memilih Tari sebagai pendamping hidup saya”.


“Bu, sepertinya saya harus lekas permisi dan kembali ke Surabaya ada hal yang harus saya kerjakan, saya mohon undur diri terlebih dahulu”.


“Randi mohon pada ibu, untuk tetap tinggal di sini selama yang ibu mau, ini rumah ibu dan akan menjadi rumah ibu selamanya”.


Randi berpamitan pada bu Marni, tak lupa dengan mencium tangannya.


“Trimakasih ya nak, hati-hati di jalan. Ibu titip Tari”.


“Pasti bu dengan senang hati, aku akan menjaganya”.

__ADS_1


Ibu mengantarkan Randi ke depan rumah, kini Randi sudah memasuki mobilnya, tak lupa lambangan tangganya pada bu Marni. Sedang bu Marni masih enggan untuk masuk hingga melihat mobil itu benar-benar menghilang dari pandangannya.


__ADS_2