
Apakah ibu mengizinkan saya membawa keduanya?”
Bu Marni tersenyum hangat, ia kembali melirik sekilas anak dan tamunya pagi itu.
“Bawalah nak, hati-hati di jalan. Tolong jaga anak dan cucu ibu. Ibu percaya sama kamu”
Dalam hati Rama, tersenyum girang. Tangannya di bagian bawah mengepal, ingin rasanya bisa meloncat-loncat saat itu juga.
“Tapi aku malu Mas”
“Kenapa harus malu? Kamu tidak mencuri ataupun menculik anakku selama ini, justru kamu
merawatnya dengan sepenuh hati. Kenapa harus malu, seharusnya kamu harus berbangga untuk itu. Hanya saja kamu sudah berhasil menculik hatiku” jawab Rama dengan santai.
Uhuk...
Tari tersedak ketika mendengar ucapan Rama yang baru saja terlontar dari mulutnya.
“Ayah, bagaimana bisa Bunda mencuri hati Ayah? Bukannya hati terletak di sini? Apakah Bunda
membongkar dada Ayah?” tangan Risma terulur menyentuh dada Ayahnya yang sedang bergemuruh hebat dan kebingungan untuk mencari jawabannya.
Menyadari apa yang terjadi, Bu Marni lekas memanggil cucunya.
“Risma sini dulu nak, biar nenek bantu bersiap pake jilbabnya”
“Aku siap-siap dulu mas kalau begitu” Tari tersenyum lembut dan mulai beranjak dari
duduknya.
Rama menghela nafas dengan sangat panjang, ia lekas menyandarkan tubuhnya pada kursi. Berkali-kali ia memegang dadanya yang berdetak lebih kuat dari biasanya.
Ya Allah, beginikah rasanya jatuh cinta kembali.
Tak berselang lama. Tari keluar dari kamar. Ia memakai dress panjang sederhana dengan warna biru muda, warna yang senada dengan baju yang di gunakan Rama pagi itu. Ia memakai pasmina yang di lilitkan di kepala serta sedikit sentuhan bros bunga kecil yang terletak di bagian sisi kanan jilbabnya. Saat ia keluar dari kamar. Rama memandangnya tanpa berkedip sedikitpun. Pria itu melongo layaknya sedang bertemu dengan bidadari.
“Ku pikir cerita tentang bidadari hanya ada di buku dongeng. Ternyata aku salah, kini aku bisa melihat dengan nyata kehadiran bidadari itu di sini” celoteh Rama ketika Tari datang mendekat ke arahnya.
Sontak ucapan Rama membuat wajah Tari memerah seketika seperti kepiting rebus.
“Masyaallah Budaya Risma cantik sekali” ia tak lagi segan-segan untuk memuja wanita yang
di depannya.
“Ah apa’an sih mas” jawab Tari dengan malu.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Rama masih dengan tatapan yang enggan untuk berkedip.
“Boleh”
Keduanya mulai melangkah meninggalkan ruang makan dengan berjalan beriringan dan saling
melempar senyum satu sama lain.
“Hem, jadi mau di tinggal apa gimana anaknya ini?” celoteh ibu dengan menggandeng
Risma yang sudah ada di ruang tamu. Mereka berdua melewati begitu saja Ibu dan Risma kerana terlalu fokus pada pandangan di sebelahnya.
“Eh maaf, maaf Bu. Sini princes Ayah yang cantik” Rama mengendong anaknya menuju ke dalam mobil.
“Kami berangkat dulu ya bu” pamit ketiganya.
Bu Marni menatap dengan senyum dan keridhoan kepergian anak dan cucunya.
.
.
__ADS_1
.
Empat puluh menit perjalanan, sampailah mereka di kediaman Ibu Rama. Tari tampak gugup ketika akan memasuki rumah besar di depannya. Bayang-bayang perlakuan mertua di masa lalu kembali terlintas di ingatannya.
“Kenapa berhenti, ayo kita masuk Ibu dan Ayah sudah menunggu di dalam sana” ucap Rama
yang menggendong Risma ketika menyadari Tari berhenti melangkah dari sebelahnya.
“Aku takut Mas, aku gugup”
Tak banyak bicara Rama lekas menurunkan Risma dari gendongannya, ia mengandeng dua
wanita di sisi kanan dan kirinya.
“Aku bisa berjalan sendiri Mas”
“Eh iya maaf. Reflek” jawab Rama dengan menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Ayo masuk”
“Assalamualaikum”
Jantung Tari, berdenyut lebih keras dari biasanya. Sekuat tenaga ia melawan rasa canggung yanga ada di dalam dada. Berkali-kali ia menghela nafas dan menghembuskan kembali.
“Waalaikumsalam” jawab Kompak orang yang ada di dalam sana.
“Cucuku”
Suara wanita paruh baya yang menyambut kehadiran ketiga tamu tersebut. Ia merentangkan tangan saat pintu telah terbuka. Memandang wajah gadis kecil yang berada di gandengan anaknya.
“Cucuku”
“Kamu cucuku nak”
“Mutiara”
kecupan di wajahnya. Air matanya meluruh, moment yang telah lama ia nantikan. Akhirnya
bisa melihat kembali cucunya yang telah hilang, cucu yang telah di kabarkan sudah meninggal waktu itu.
Jadi begini rasanya memeluk cucu.
Jadi seperti ini wajah anak Rama. Masyaallah dia cantik sekali. Sebagian dari wajahnya mirip sekali dengan Senja.
Ia menelusuri setiap lengkuk wajah Risma memandang lekat dengan penuh cinta. Hal yang
sama juga di lakukan kakeknya. Pria itu lekas mendekat dan memeluk cucunya.
“Aku kakekmu nak. Panggil aku kakek”
“Ayo coba panggil kami nenek dan kakek”
Dua orang paruh baya tersebut duduk bersujud di hadapan Risma agar bisa mensejajarkan dengan tinggi anak itu.
“Nenek?”
“Kakek?”
Risma mendongak menatap Bundanya.
“Iya sayang. Ini Ibu dan Ayahnya, ayah Rama” terang Tari dengan tersenyum lembut.
“Assalamualaikum nenek”
“Assalamualaikum kakek”
Sapa Risma dengan mencium tangan kedua orang tua Rama penuh takzim.
__ADS_1
“Kamu manis sekali, pasti kamu tumbuh dan besar dengan orang yang tepat”
Hal yang sama juga di lalukan Tari, wanita itu turut menyalami orang tua Rama mencium tangan mereka dengan penuh takzim. Ibu Rama mempersilahkan duduk Tari. Wanita itu memilih untuk duduk di sebelah Mama Rama.
“Pantas saja Rama sering bercerita tentang kamu nak. Ternyata selain baik kamu juga sangat cantik sekali”
“Rama sudah bercerita banyak tentang kamu nak. Ibu atas nama keluarga berterima kasih
yang sebesar-besarnya ya karena telah menjaga dan mendidik Mutiara hingga dia sebesar ini”
“Tapi namaku Risma”
Gadis kecil itu melayangkan aksi protesnya, sontak membuat gelak tawa yang lainnya.
“Oh iya namanya Risma ya. Baik mulai sekarang Nenek akan memanggil kamu Risma”
Bu Rahma, ibu dari Rama menangkup pipi cucunya mencium dengan gemas wajah gadis
kecil itu.
“Ayo sekarang kita main nak”
“Aku tidak mau main nek, aku ingin bikin kue. Kata Ayah tadi kita akan belajar membuat kue di sini”
“Oh Risma ingin belajar membuat kue. Baiklah ayo kita belajar. Ajak Bunda juga ya sayang”
“Bundanya Risma ini pintar sekali lo Bu, kalau membuat kue. Dia ini juga memiliki toko kue yang besar di sana” terang Rama kembali memuji wanita yang ada di depannya.
“Oh ya, wah kamu hebat sekali. Harusnya ibu ini yang minta di ajari”
Tanpa banyak bicara ketiganya lekas menuju ke dapur untuk membuat kue bersama. Rama
yang melihat keakraban ketiganya begitu lega sekali. Senyumnya tak henti-henti menguar dari sudut bibirnya.
“Ibu sudah banyak mendengar cerita tentang kamu sebelumnya. Kamu wanita yang hebat”
ucap Bu Rahma di sela-sela aktivitas membuat kuenya.
Tari tak memberikan jawaban lebih, ia hanya tersenyum sekilas.
“Ibu juga hebat”
Satu jam berlalu, aktivitas membuat kue telah selesai di lakukan. Bu Rahma dan Pak Alan membawa Risma pergi ke kamar untuk bermain di sana. Rupanya mereka sudah menyiapkan kamar khusus untuk Risma. Terdapat banyak boneka dan mainan yang sudah terpajang rapi di sana. Sementara Rama dan Tari sedang duduk di tepi kolam. Mereka berdua sedang menikmati kue brownies coklat yang baru saja di buatnya.
“Kamu tahu tidak Tar, bedanya kamu dan brownies ini?” tanya Rama ketika hendak
memasukan sepotong brownies dalam mulutnya.
“Apa Mas?” Tari malas untuk berfikir, ia memilih untuk melempar pertanyaan tersebut pada Rama.
“Jika brownies manisnya hanya sesaat ketika di dalam mulut, namun tidak dengan kamu.
Kamu manisnya abadi”
Blus...
Pipi Tari kembali bersemu memerah tiada terkira. Keduanya terlibat dalam aksi kontak mata untuk sesaat. Saling memandang dalam diam. Mengangumi satu sama lainnya.
“Dokter Rama pasti dulu jago ya bahasa indonesianya?”
“Kenapa memangnya?”
“Jago banget sih ngarangnya sekarang” jawab Tari dengan senyum. Senyum yang slalu membuat Rama enggan untuk berpaling karena keteduhannya.
“Jadi apa aku sekarang aku bisa mendapatkan
jawabannya Tar?”
__ADS_1