Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Tes DNA?


__ADS_3

“Tar, ada hal yang ingin aku tanyakan” ucapnya dengan gugup.


“Apa mas?” wajah Tari, lekas menatap lawan bicaranya. Ia menghentikan sesat laju kakinya.


“Duduklah sebentar” Rama membimbing Tari,


untuk membawanya duduk di salah satu kursi panjang yang ada di sudut rumah sakit. Mereka masih berjalan berdampingan. Dari berbagai sisi manapun, jika di lihat keduanya tampak sangat serasi menjadi pasangan. Sepanjang perjalanan


mengitari lorong rumah sakit, tak ada obrolan yang berarti. Rama sibuk untuk merangkai kata yang akan di ucapkan. Sementara Tari, sibuk menerka apa yang akan di sampaikan lawan bicaranya.


“Silahkan, duduklah dulu” Rama turut duduk di sebelah Tari, keduanya memberi sedikit jarak di


antara kursi tersebut.


“Ada apa Mas? Nampaknya ini hal yang penting” wajah Tari, memiringkan ke kepalanya, ia menatap lekat Rama untuk yang pertama kalinya.


Rama masih sibuk meremas jemarinya. Menetralkan segala rasa yang ada di dada. Ia sedang mencoba untuk mengumpulkan keberanian yang ada.


“Tar, aku ingin meminta izin sesuatu”


“Iya” lagi-lagi, Tari memiringkan kepalanya agar ia dapat menatap Rama dengan jelas.


“Aku mohon maaf atas kelancangan kalimat yang akan keluar setelah ini. Kamu boleh menerima atau menolaknya”


“Iya, ada apa mas? Jangan membuatku semakin penasaran”


“Tar jika kamu berkenan, aku ingin melakukan tes DNA untuk Risma”


“Hah!” hanya itu reaksi yang di berikan Tari, saat mendengar apa yang baru saja di katakan Rama.


“Untuk apa Mas?”


Hari memang masih pagi, namun langit sudah menumpahkan derasnya tangis kala itu. Guntur pun turut bersahutan membelah cakrawala seakan menemani sekeping hati yang sedang terluka. Semesta turut sedang berduka atas berpulangnya penghuni bumi yang sangat di


cintai banyak orang.


Pagi itu selepas aku mengantarkan kepergian mendiang istriku untuk beristirahat dengan tenang. Aku kembali ke rumah sakit untuk mengambil bayi kami.


Bayi kami perempuan. Kami bahkan belum sempat untuk memberinya nama, mengingat saat itu kami sedang fokus pada keadaan Ibunya yang berangsur memburuk pasca melahirkan. Pernikahan kami tidak di restui oleh pihak istriku. Orang tua Senja menginginkan putrinya


menikah dengan pria pilihan mereka. Namun cinta Laras padaku melebihi segalanya. Ia bahkan rela menentang orang tuanya saat itu.


“Senja?”


“Senja, dia adalah istriku. Ibu dari anakku. Segala macam cara ibu mertuaku lakukan untuk


memisahkan kami. Namun kekuatan cinta kami melebihi segalanya. Segala macam usaha tak dapat menggoyahkan kekuatan cinta kami berdua”


Rama terdiam untuk sesaat, matanya berair ketika mengingat segala perjuangan yang telah ia lakukan bersama mendiang sang istri untuk tetap hidup.


Tari pun terdiam. Wanita itu teringat akan masa lalu yang terjadi pada pernikahannya beberapa

__ADS_1


tahun yang lalu. Campur tangan keluarga pasangan yang mengantarkan mereka pada


sebuah perpisahan.


“Kemarahan mertuaku semakin membabi buta, bahkan tak terelakan lagi ketika mendengar kabar


kehamilan putrinya. Mereka berusaha untuk mencelakai anak kami yang masih dalam


kandungan”


“Lebih dari itu, bahkan mereka yang mengirimkan sebuah minuman dari tanaman yang bisa menyebabkan keguguran.  Aku masih teringat betul akan minuman itu. Minuman yang berasal dari tanaman black cohost, di mana minuman


ini, jika di minum oleh ibu hamil akan menyebabkan kontraksi yang berujung pada


kelahiran paksa sang janin” mata Rama berair, bahakan akan sudah meleleh di


beberapa sudutnya.


Tari terdiam tak memberikan reaksi. Kali ini, ia memilih berperan untuk menjadi pendengar yang


baik.


“Anak kami terlahir dengan selamat, namun tidak dengan Senja, ia mengalami pendarahan hebat pasca melahirkan, ia tak dapat bertahan saat itu, segala macam cara telah kami usahakan. Namun sang maha kuasa lebih menyayanginya. Senja berpulang sehari setelah melahirkan”


Kali ini Rama tidak lagi bisa menahan tangisnya. Ia kembali menangis sesenggukan mengingat


kepiluan yang terjadi beberapa waktu silam. Tangan Tari, terulur memberikan tisu untuk menyeka lelehan bening tersebut.


“Kabar kematian Senja lekas mengudara, terdengar pihak keluarganya. Mereka menganggap kematian Senja akibat dari bayi kami yang membawa sial. Oleh sebab itu, mereka mengatas namakan saudara, mengambil anak kami dari rumah sakit tanpa sepengetahuanku.


“Aku bahkan baru sekali bertemu dan memeluk anakku saat melafalkan suara azan di telinganya. Hingga saat ini kami masih terpisahkan”


Tari tak bisa lagi menahan air matanya. Di balik sikap Rama yang tegar dan terlihat bahagia. Pria


dewasa ini menyimpan rasa sakit yang mendalam.


“Berkali-kali aku datang ke rumah ibu mertuaku, berharap pihak keluarga akan berbelas kasih untuk memberi tahu keberadaan anak kami. Namun sayang, hasilnya nihil. Mereka diam


tak bergeming bahkan tak peduli. Salah satu asisten rumah tangga yang ada di sana, diam-diam memberi tahuku. Jika majikan mereka telah membuang anakku di salah satu panti di Surabaya. Tapi sayangnya, ia sendiri tidak tahu persis tempatnya, mengingat waktu itu malam dan gelap. Sementara beliau berusia sangat


sepuh. Beliau tidak mengerti jalanan dan kondisi luar rumah”


“Bertahun-tahun aku mencari keberadaan anakku. Namun  sayang aku tak kunjung bisa menemukannya”


“Tar, izinkan aku untuk melakukan tes DNA atas Risma. Apapun hasilnya aku akan tetap menyayanginya. Aku sudah menganggap dia seperti anak kandungku sendiri”


Wajah Rama memelas penuh harap pada lawan bicaranya. Air mata di pelupuknya menggenang tak terbendung lagi.


Tari masih terdiam, ia sedang mencoba untuk menerima rangkaian kalimat yang di ucapkan Rama.


“Ada rasa yang tidak

__ADS_1


bisa di jelaskan ketika aku bersama Risma. Semua yang ada pada Risma seakan


membawaku pergi ke masa lalu mengingat akan mendiang Laras”


Tari terdiam bibirnya terkunci rapat. Namun jemarinya sudah bergetar hebat. Ia takut membayangkan sesuatu hal yang aka terjadi.


“Tolong Tar, beri kesempatan padaku untuk melakukan tes DNA padanya”


“Lantas jika Mas Rama, menemukan jawabannya apakah Mas Rama akan mengambil Risma dariku?”


Tanya Tari dengan tatapan nanar. Tak bisa di pungkiri ia takut akan kenyataan jika nanti Rama


akan mengambil Risma, jika memang apa yang menjadi dugaannya benar adanya.


Rama terdiam tak bisa memberikan jawaban. Pandangannya menunduk ke bawah. Tak dapat


di pungkiri ia juga menginginkan sang anak jika memang apa yang menjadi dugaannya benar.


“Mas?” Tari kembali memperjelas pertanyaannya.


Diam.


“Mari kita asuh bersama Risma. Benar atau tidak dia anakku, aku sudah terlanjur menyayanginya seperti anakku sendiri” Jawab Rama dengan tenang. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum satu kalimat itu keluar dari mulutnya.


“Bersediakah kamu untuk itu Tar?” tanyanya kembali memastikan.


Wajah Tari, lekas terangkat ke atas. Ia menatap wajah Rama, menatap mata Rama yang


memang memancarkan rasa ketulusan. Tari tidak dapat menemukan kebohongan dan juga permainan di sana. Pria itu mengatakan tulus dari hatinya.


“Aku juga sudah lama menyimpan ini semuanya Tar. Apakah kamu berkenan untuk melanjutkan hidupmu bersamaku. Menemani dalam suka maupun duka”


Rama kembali menatap dalam wanita yang ada di hadapannya saat ini. Mata keduanya saling berkaca-kaca.


“Mungkin bagimu ini terlalu buru-buru, tapi sudah tak dapat lagi untuk menahan tak mengatakannya”


Tari masih terdiam tak memberikan jawaban apa pun. Ia benar-benar syok dengan apa yang baru saja ia dengar. Tes DNA untuk Risma, ungkapan rasa dari Rama. Rasanya semua terjadi begitu tiba-tiba.


“Jangan pernah berfikir aku mengatakan semua ini dengan tiba-tiba Tar, aku sudah cukup


lama sekali mengumpulkan keberanian untuk mengatakan ini semuanya”


Hah, bagaimana bisa dia bisa membaca isi kepalaku.


“Kau tak harus menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap”


Rama melembutkan suaranya.


“Maaf aku tidak romantis, justru ini terkesan dramatis karena turut melibatkan cerita


masa laluku. Tapi asaku untuk melanjutkan hidup yang baru bersamamu memang

__ADS_1


benar adanya”


“Apakah ini ungkapan sebuah rasa?”


__ADS_2