
“Semua sudah terjadi Pul, biarlah mbak yang menyelesaikan masalah ini sendiri, mbak minta tolong jangan bicarakan hal ini pada Ibu. Ibu belum waktunya tahu tentang semua yang sedang terjadi”. Mohon Tari dengan memelas pada Ipul.
“Tidak mbak, aku tidak akan mengatakan ini pada Ibu, tapi maaf aku akan tetap memberi pelajaran pada pria bodoh itu!’, Geram Ipul dengan mengepalkan kedua tangannya, matanya memerah sempurna, bibirnya berkedut seakan sedang menahan sesak di dada, tangannya ingin lekas menghantam orang yang telah menyakiti bidadari dalam keluarganya.
Kini Ipul berlalu tanpa pamit, ia meninggalkan Tari begitu saja dan hendak menuju rumah Randi.
.
.
.
Pagi itu matahari masih malu-malu kala menampakan sinarnya, namun Ipul sudah datang untuk bertamu. Ia datang ke rumah Randi sendiri tanpa Tari juga tanpa Risma. Ia dengan percaya diri lekas melangkah memasuki halaman pekarangan rumah Randi yang sangat luas. Satpam yang mengenal Ipul mempersilahkannya untuk masuk dengan mudahnya.
Randi baru saja keluar dari ruang tamu hendak menuju garasi, ia berniat mencari keberadaan Tari pagi itu juga. Namun saat akan membuka pintu mobilnya ia melihat kehadiran Ipul.
Ia begitu bahagia, akhirnya Ipul membawa Tari pulang ke rumahnya, tangan Randi terulur menyambut kedatangan Ipul. Matanya celingak-celinguk mencari keberadaan Tari.
“Tari di mana?”. Tanyanya dengan pelang pada Ipul.
Ipul tak menjawab pertanyaan Randi, ia justru semakin mendekati Randi dan melayangkan satu pukulan keras tepat di wajah kakak iparnya. “Ini adalah hadiah karena kamu sudah menyakiti mbak Tari”.
Randi tersungkur ke tanah.
Beberapa detik kemudian Randi bangun dan menatap Ipul, Ipul kembali memberikan pukulan keras tepat di pipi kiri Randi.
“Beraninya kamu menyakiti bidadari keluarga kami, sialan! Apa salah mbak Tari?!”. Teriak Ipul dengan emosi yang sudah memuncak, tangan Ipul begitu gatal ingin rasanya membunuh Randi saat itu juga, jika ia tidak teringat akan dosa membunuh seseorang.
Randi sama sekali tak membalas pukulan yang di berikan Ipul.
“Pukul aku Pul, aku memang salah, pukul aku jika itu bisa membuat hatimu tenang, aku memang salah. Aku pria bodoh yang sudah menyakiti orang sebaik mbakmu”. Randi menangis, menangis bukan karena rasa sakit akibat pukulan yang di berikan Ipul, tapi ia menangisi kesalahannya yang telah menyakiti hati Tari.
“Aku tidak akan pernah memaafkan mu Mas Randi, aku benci kamu. Akan aku pastikan hidupmu menderita atas semua yang telah kamu lakukan pada Mbak Tari”.
Bug
Bug
__ADS_1
Ipul terus memukul wajah Randi hingga ia babak belur, hati Ipul sama sekali tak tersentuh kala melihat wajah Randi yang sudah berdarah-darah akibat ulahnya. Ia begitu di kuasai amarah yang berkobar.
Hatinya tersayat, tak kuasa melihat orang yang ia sayang’i harus terluka.
“Aku berjanji Mas, akan mengambil mbak tari kembali dari keluarga busuk seperti kalian. Mbak Tari tidak pantas berada di sini, ia terlalu berharga”.
Bug.
Bug.
Ipul kembali memeberikan satu pukulan keras, kali ini tepat di perut Randi. Kini Randi terjatuh tak berdaya di atas tanah sedang Ipul meninggalkannya begitu saja. Randi merintih kesakitan, namun ia tak marah bahkan tak dendam dengan apa yang di lakukan Ipul. Ia sungguh sadar ini adalah resiko dari perbuatannya.
.
.
.
Pak Nario keluar dari rumahnya hendak ke laundry, langkahnya terhenti kala melihat Randi terkapar tepat di depan pintu rumahnya, ia lekas berteriak meminta tolong untuk memapah Randi, membawanya masuk kedalam.
“Ini sama sekali tidak sakit Pa, jauh lebih sakit dari hati Tari yang telah ku hancurkan”, Jawabnya dengan lirih dan memegang wajahnya yang sudah babak belur.
“Randi apa yang terjadi padamu nak, mengapa jadi seperti ini?”, Bu Srining yang baru saja keluar hendak ke rumah Mawar, langkahnya harus terhenti kala melihat anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Diam.
Randi enggan untuk menjawab pertanyaan Ibunya.
“Ini pasti ulah Ipul!, harusnya Ipul tidak melakukan hal ini padamu, kenapa Ipul jadi kasar sekali seperti ini, lihat Pak anak kita jadi babak belur seperti ini”, cicit Bu Srining dengan memegang wajah Randi.
Randi tersenyum kecut mendengar penuturan sang Mama.
“Dengar ya Ma, kalau misalkan aku punya kakak perempuan, dan kakakku di sakiti, mungkin aku tidak akan memukul laki-laki itu seperti ini, tapi aku akan membunuhnya saat itu juga pria yang sudah menyakiti kakak”. Jawab Randi dengan dingin yang membuat bulu kuduk Bu Srining merinding mendengar penuturan putranya.
“Ngapain juga Ipul pagi-pagi ke sini? Apa ia mencari mbaknya? Apa Tari tidak pulang?’. Bu Srining mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, ia mengompres luka-luka lebam yang ada di wajah anaknya.
“Mama pikir setelah apa yang kita lakukan pada Tari, ia masih mau pulang kembali ke sini?”. Satu pertanyaan Randi yang membuat Bu Srining gelagapan mejawabnya.
__ADS_1
“Ma kita sudah dengan sengaja mengusir Tari dengan memberinya luka yang sangat menyakitkan seperti ini. Apa sebelumnya Tari pernah melukai hati Mama, hingga membuat Mama terpikirkan merencanakan semua ini?”.
“Bukan hanya Tari yang sakit Ma, aku juga sakit terluka kehilangan dia!”. Tukasnya dengan pergi kembali ke kamarnya tanpa menoleh ke arah sang Mama.
Bu Srining dan Pak Nario saling berpandangan.
“Sudah ku katakan sejak awal jika cintamu pada Randi itu egois!, kamu menginginkan kebahagian yang tidak di inginkan anakmu!”. Tukas Pak Nario dan melenggang meninggalkan Bu srining sendirian.
Arkkk teriak Bu Srining, kala semua orang seolah sedang menyalahkannya atas keputusan yang tela di ambil saat ini.
.
.
.
Toko Tari
Sepulang dari rumah Randi, Ipul kembali lagi ke Tko Tari, tak ingin membuat mbaknya cemas dengan keadaan yang ada.
“Apa yang terjadi Pul? Apa kamu melakukan sesuatu?”. Tanyanya dengan penuh selidik kala mendapati baju Ipul yangs sedikit berantakan.
“Aku hanay melakukan tugasku sebagai saudara laki-laki mbak, tenanglah semua baik-baik saja”.
“Jadi apa rencana Mbak Tari setelah ini?”.
Tari terdiam dalam duduknya, tatapannya kosong, ia meremas jari-jarinya dengan lembut. Hatinya bimbang tak tau harus berbuat apa.
“Aku belum tahu Pul, yang jelas aku tak mau di madu”. Jelasnya dengan singkat.
“Sebaiknya mbak Tari pikirkan dulu semuanya dengan kepala dingin, tapi jika Ipul boleh memberikan saran, sebaiknya Mbak Tari pisah saja dengan laki-laki macam itu. Aku tak rela mbak Tari di sakiti seperti ini”.
“Aku juga berfikir seperti itu Pul, hanya saja mbak sedang mencoba mencari cara bagaimana menyampaikannya nanti pada Ibu”.
“Tenanglah Mbak, Ibu pasti akan mengerti dengan keadaan yang ada”.
“Untuk saat ini mbak minta, tolong jangan beri tahu Ibu dulu tentang semu yang sedang terjadi”.
__ADS_1