
“Mama lagi main ke rumah temannya mungkin sayang"
“Begitu ya mas, tapi aku rasa sekarang hampir tiap hari Mama pulang malam. Mama juga sering masak pagi-pagi sekali sebelum orang rumah bangun, tapi anehnya aku tak pernah menemukan masakan Mama terhidang di meja makan”. Tari melanjutkan aktivitasnya menyimpan makanan untuk Mama mertuanya dan berniat memanaskan jika Mama sudah pulang.
Randi memejamkan mata mendengar penuturan istrinya, ia tahu jika sang Mama setiap hari masak untuk menuruti permintaan Mawar yang mengatasnamakan ngidam. Ia mencoba tersenyum getir, menutupi sebuah fakta itu, tak ingin membuat istrinya sedih bahkan akan murka jika mengetahui bahwa ia sudah menikah lagi di belakangnya.
“Mas udah ah, sana dulu. Aku mau bersih-bersih ini, cuciannya piringnya banyak sekali”.
“Biar mas bantu sayang”. Tangan Randi terulur untuk mengambil beberapa piring yang ada di meja makan.
“Mas Randi yang simpan di rak saja, biar aku yang cuci piringnya”.
Randi tersenyum menatap sang istri.
Kedua pasangan romantis ini kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan piring dan dapur, sedang Risma dan Papa masih asik belajar menggambar.
Beberapa saat kemudian terdengar alunan suara salam yang menggema memasuki ruangan.
“Assalamualaikum’, rasa lelah menghiasi wajah Mama, ia berjalan begitu saja menuju kamarnya tanpa berniat untuk singgah di ruang tengah maupun di dapur.
“Waalaikumsalam Ma, Mama mau makan sekarang? Biar Tari siapkan makanannya?”, sapa Tari dengan begitu ramah dan santunnya pada Mama mertuanya tak lupa ia juga mencium punggung tangannya.
“Ah tidak usah, Mama sudah makan baru saja. Mama langsung ke kamar ya capek sekali hari ini”. Kakinya melangkah dengan pelan menuju kamarnya, sekilas mata Mama menatap Randi dengan tatapan yang menusuk seakan ingin menghukum anak itu.
“Baik Ma selamat istirahat”. Tari tersenyum pada Mama.
***
Hari ini pertama kali Tari mengantarkan Risma untuk bersekolah, ia sengaja menunda keberangkatannya untuk ke toko roti demi bisa mengantarkan Risma sekolah di hari pertamanya. Tari memilih sekolah yang sama dengan Arsy anak Fitri sahabatnya.
Pagi itu dengan iringan suara kicauan burung yang saling bersahutan satu sama lain, Tari melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri. Satu tangan menggandeng tangan putri cantiknya dan satu tangan lagi memegang tas kecil warna coklat muda.
Keduanya terlihat begitu sangat bersemangat untuk memulai hari, berkali-kali Tari memperbaiki jilbab gadis kecil itu agar terlihat semakin cantik dan rapi.
__ADS_1
“Wah anak Bunda, cantik sekali”. Ia kembali merapikan baju yang di kenakan Risma memastikan anaknya benar-benar rapi dan sedap di pandang mata.
“Sayang jangan takut ya, nanti di dalam banyak teman-temannya. Risma bisa bermain dan bernyanyi bersama dengan teman-teman. Ada Arsy juga di sana”. Instruksi Tari dengan menepuk-nepuk pundak sang putri.
Mereka berdua kembali melangkahkan kaki menuju ruang kelas, dalam perjalanan menuju kelas ia bertemu dengan Fitri. Kedua sahabat ini saling menyapa dan mengantarkan anak mereka menuju kelas bersama. Sesekali tangan Tari terulur untuk memegang pipi Arsa anak Fitri yang baru genap tiga bulan. Pipinya terlihat begitu bulat layaknya donat yang empuk.
“Sayang kenalin ini Risma anak Tante”.
Arsy diam saja tak menangapi ucapan Tari, ia lebih memilih untuk memalingkan muka dan enggan menatap Tari maupun Risma.
“Arsy kenalan dulu nak, itu sama anak tante Tari”. Kini Fitri menyenggol lengan anaknya agar mau berkenalan dengan teman barunya.
Sementara Risma sudah mengulurkan tangannya sejak tadi hendak berjabat tangan dengan Arsy.
“Aku gak mau kenalan sama kamu!”. Kini Arsy melayangkan protes dengan wajah yang begitu kesal dan berlari menuju kelasnya.
Tari menatap anak sahabatnya dengan sedih karena anak gadis itu enggan untuk berkenalan dengan Risma anaknya. Tari sudah terlanjur berharap Risma dan Arsy akan bisa menjadi sahabat baik seperti ia dan Fitri.
Sementara Fitri berlari mengejar Arsy dengan menggendong anak bayinya.
Sedang Tari juga turut serta menghampiri mereka dengan menggandeng Risma.
“Aku gak suka tante Tari punya anak, nanti tante Tari gak sayang lagi sama aku”. Kini gadis kecil itu menangis.
“Arsy tidak boleh seperti itu, Risma itu teman kamu”. Suara Fitri terdengar sedikit mengeras pada Arsy.
“Eh tidak-tidak, siapa bilang tante tidak sayang sama Arsy? Justru karena ada Risma nanti tante jadi lebih sering bermain di rumah kamu sama Risma”. Kini Tari meraih tangan Arsy dan memeluknya.
“Nanti Tante lebih sayang Risma dari pada Arsy!”.
“Tante sayang kalian berdua, juga adik Arsya”. Tangan Tari terulur memeluk Risma begitu juga dengan Arsy secara bersamaan.
“Ya sudah aku mau kenalan sama kamu”.
__ADS_1
Arsy mengulurkan tangannya pada Risma, yang kemudian membuat Risma turut tersenyum menerima uluran tangan Arsy. Keduanya saling bersalaman dan bergandengan tangan, beberapa detik kemudian mereka berdua saling tersenyum dan menyapa.
“Nak gitu dong baru anak-anak baik, sini Tante foto dulu kalian berdua, senyum ya yang cantik”.
Satu
Dua
Tiga
Cis.
Risma dan Arsy saling mengangkat tangannya dan tersenyum pada kamera.
“Kita masuk dulu ya Tante”.
Kedua gadis kecil itu melenggang bersama menuju kelas dengan saling bergandengan tangan, mereka saling bercerita entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat Risma bisa tertawa sepanjang perjalanan menuju kelas.
Tari dan Fitri saling berpandangan, mereka mengingat persahabatan mereka yang terbina sejak masih duduk di bangku TK.
“Semoga mereka bisa menjadi sahabat seperti kita ya, yang siap mendengar setiap keluh kesah. Baik dalam suka maupun duka”.
Ngomong-ngomong soal duka, Fitri jadi teringat dengan kejadian beberapa hari lalu di laundry kala ia mengetahui fakta bahwa Randi telah menikah lagi dan istrinya sedang mengandung.
Hati Fitri mencoles serasa sedang mengkhianati sahabatnya sendiri karena ia menutupi sebuah fakta yang ada. Tapi Fitri juga tak punya kuasa untuk memberi tahu Tari, ia takut akan resiko yang terjadi ke depannya.
“Semoga Allah memberimu kekuatan Tar, kala nanti mengetahui sebuah fakta yang menyakitkan”. Mata Fitri berkaca-kaca memandang Tari tapi bibirnya tekatup enggan untuk membuka suara.
“Eh kamu kok mau nangis sih kenapa?”, todongnya dengan meraih Arsya dan memindahkan ke pangkuannya.
“Ah tidak papa, aku hanya teringat masa kecil kita dulu”.
“Tetaplah menjadi sahabatku apapun yang terjadi, ceritalah jika kamu sedang membutuhkan teman untuk bercerita, aku siap mendengarkan setiap keluh kesahmu”. Ucap Fitri pada sahabat baiknya.
__ADS_1
Tari tersenyum dan mereka kembali berpelukan seakan lama sekali tak berjumpa.