Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Menutupi Sebuah Luka


__ADS_3

Sementara di rumah sakit, Mawar sedang menunggu kehadiran Randi begitu juga dengan Bu Srining yang sudah mulai resah menanti kehadiran sang anak yang tak kunjung memberikan kabar padanya.


Sejak melihat Randi menangis dan begitu rapuh kala mencari keberadaan istrinya, hati Bu Srining tidak tenang, rasa bersalah hinggap di hati dan pikirannya. Ia tak pernah melihat Randi terluka dan hancur seperti itu sebelumnya.


Bu Srining menatap sang menantu yang tampak masih berusaha untuk menghubungi Randi.


“Ya Allah apakah aku sudah membuat kesalahan dengan memaksa Randi menikah’i Mawar. Aku melakukan semua ini demi untuk kebahagian Randi nanti. Apakah keputusanku salah Ya Rab?”. Rintih Bu Srining dalam hati yang mulai resah dengan keputusannya sendiri.


“Ma, coba hubungi Mas Randi, barangkali jika Mama yang menghubungi dia mau menerima telfonnya”. Rengek Mawar dengan manja pada mertuanya.


“Sudahlah nak, biarkan saja dulu seperti ini. Biakan Randi menyelesaikan masalahnya dengan Tari terlebih dahulu, berilah ruang yang lebih pada mereka untuk saling menerima keadaan yang ada. Mama mohn pengertianmu”. Desis Bu Srining dengan tatapan memohon pada Mawar. Memohon agar sang menantu tak menuntut lebih kehadiran suaminya di saat-saat seperti ini.


Mawar diam saja tak bergeming, tak bisa di pungkiri hatinya kecewa. Ia kecewa dengan segala yang ada karena slalu di nomor duakan oleh semua orang. Ia memalingkan wajahnya menatap tembok, membelakangi Mama Mertuanya.


***


Ruma Tari.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibunya, Tari meminta pada Risma untuk tidak bercerita pada nenek jika ia menangis sejak tadi. Ia mengelus lembut rambut sang putri, memohon kerjasamanya.


Risma, menganggukkan kepalanya. Gadis kecil itu seolah tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus ia lakukan agar tidak membuat bundanya semakin bersedih.


Dua jam berlalu, keduanya sudah sampai di pelataran rumah Bu Marni, kedatangan Tari dan Risma di sambut hujan rintik-rintik. Mobil Ayla warna putih terparkir rapi tepat di bawah pohon mangga. Tari mulai keluar dari mobilnya dengan membawa satu payung besar di tangannya. Sementara Risma masih diam didalam mobil menanti sang Bunda membukakan pintu untuknya.


Kini keduanya sudah keluar dari mobil, Tari menggandeng Risma dan salah satu tangannya lagi membawa payung.

__ADS_1


“Assalamu'alaikum”, salamnya dari balik pintu rumah.


Bu Marni, melihat dari balik kaca jendelanya untuk mengetahui siapa yang datang, saat hujan-hujan seperti ini.


Deg....


Bu Marni begitu kaget dengan kehadiran Tari yang tiba-tiba. Dengan cekatan ia lekas membukakan pintu untuk Tari dan juga Risma menyambut kehadiran anak dan cucunya.


“Wassalamualaikum”.


“Loh tumben ke sini tidak kasih kabar dulu?”, kini Bu Marni menatap wajah Tari, seolah sedang mencari sesuatu tapi ia sendiri tak tahu apa.


“Ah iya Bu, Tari kangen sama Ibu, ingin kasih kejutan”.


“Loh nak Randi mana?’. Ibu kembali keluar rumah untuk mencari keberadaan menantunya.


Ibu mengangguk-anggukan kepandaian dan kembali masuk ke dalam rumah, mencoba untuk percaya dengan semua yang dikatakan Tari.


“Risma sudah makan nak? Tadi nenek masak pepes lele, Risma makan dulu yuk”. Bu Marni menggandeng lembut tangan mungil Risma dan membawanya ke dapur. Sementara Tari menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


“Bu Tari kangen banget dengan suasana di sini, bolehkan untuk beberapa hari ke depan Tari menginap di sinu?”, ucapnya dengan duduk di sebelah Bu Srining yang sedang menyuapi Risma.


Untuk saat ini Tari sedang berasa di rumah Ibunya, ia memutuskan untuk menginap beberapa hari di sana sampai hatinya benar-benar siap. Rasanya ia tak sanggup jika harus kembali ke rumah Randi dengan keadaan seperti ini.


“Ada apa nak? Kamu pasti sedang ada masalah bukan?”. Jawab Bu Srining dengan menjeda tangannya uluran tangannya yang sedang menyuapi Risma.

__ADS_1


“Ah tidak ada Bu, aku hanya kangen saja dengan suasana di sini. Sdah lama sejak menikah aku tak pernah menginap lama di sini”. Tukasnya dengan memegang lembut tangan sang Ibu, mencoba untuk meyakinkan jika sedang tidak terjadi apa-apa.


Bu Marni berusaha untuk tersenyum, tapi tidak bisa di pungkiri jika ia tidak percaya dnegan ucapan sang anak. Tari adalah istri yang Sholeh ia tidak pernah pergi tanpa ijin dari suaminya, sedang saat ini ia dengan tiba-tiba meminta izin untuk tinggal beberapa saat di rumah ibunya.


Bu Marni gelisah, ia merasa jika rumah tangga anaknya sedang tidak baik-baik saja. Hingga membuat Tari samapi pergi dari rumah dan memilih untuk menginap di sini.


Kini Tari beranjak dari duduknya menuju pekarangan samping rumah, di sana ia melihat banyak sekali aneka bunga dan juga tanaman yang memiliki warna indah. Namun sayang keindahan sang bunga tak mampu menyembunyikan wajah sedihnya.


“Aku hanya ingin menginap di sini Bu”. Tari masih memberikan jawaban sang sama, kala Bu Marni kembali datang mendekat dan menuntut jawaban darinya.


Tari kembali menghindar dari Ibunya, ia hendak melangkahkan kakinya menuju rumah Pakde Dar dan Bude Murni.


“Kamu slalu saja seperti itu, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu pada Ibu. Kamu tidak bisa berbohong pada Ibu nak, mesipun kamu sudah mengelak”. Tukas Bu Marni penuh penekanan.


“Apakah Randi melakukan sesuatu padamu?”.


“Ah tidak Bu, Mas Randi dan keluarganya begitu baik denganku dan juga Risma, hanya saja aku sedang kangen sama Ibu”. Kini tangan Tari terulur untuk memeluk punggung Ibunya, berharap menemukan ketengan di sana.


Sekuat tenaga Tari, menahan rasa sesak yang ada. Menahan genangan air yang ada di matanya hampir luruh. Pertahanan mulai menipis, sesegera mungkin ia lekas mengusap lembut dengan ujung jilbabnya.


“Bu Tari pengen ke belakang”. Izinnya dengan berlaga menahan buang air kecil. Ia lekas melerai pelukan dengan Ibunya dan menuju kamar mandi.


“Kamu slalu saja seperti itu Tar, Ibu tahu jika kamu sedang menahan tangis, kamu bisa berbohong dengan semua orang tapi tidak dengan Ibu. Dadamu naik turun seakan sedang menahan rasa sesak di dada”. Ucap Ibu dalam hati dengan menatap nanar punggung sang anak yang beranjak menuju kamar mandi.


Sementara di kamar mandi Tari, kembali menangis sesenggukan. Ia membekap mulutnya dengan jemari agar tak terdengar suara isak tangisnya. Sepertinya sebuah keputusan yang salah telah ia ambil dengan pulang ke rumah Ibunya.

__ADS_1


“Ya Allah kuatkan aku, aku tak ingin ibu turut merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini”. Rintihnya dalam hati dengan sesenggukan. Ia berkali-kali membasuh wajahnya dengan air untuk meluruhkan butiran bening yang tak di undang.


“Assalamualaikum”. Suara salam dari luar rumah terdengar begitu keras.


__ADS_2