
Berdering....
Getaran vibrasi ponsel yang ada di atas meja membuyarkan lamunan Randi. Ia terbangun dari tenggelamnya kenangan, sejenak tangannya meraih benda pipih itu. Dahinya mengkerut kala mendapati nomor asing yang masuk. Lalu ia meletakkan kembali ponselnya.
Randi mengabaikan panggilan itu. Dan kembali menikmati tenggelam dalam lautan kenangan masa lalu. Kepalanya tersandar di atas pigura, pikirannya berkelana membayangkan kala bersandar di pundak istrinya.
Berdering....
Randi kembali melirik sekilas, nomor yang sama. “Ah kenapa sales asuransi harus menawarkan produk malam-malam begini”.
Ia melanjutkan lamunannya, sesekali menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam, menikmati setiap rasa yang bergetar perih di sana.
Berdering...
Randi mulai kesal, kala lamunannya terusik dengan nomor panggilan asing yang sama. Ia meraih ponselnya dan menggeser lambang hijau yang terpampang di atas layar ponselnya.
“Assalamualaikum, suara seorang laki-laki yang menyapanya dengan cukup ramah di sebrang sana”.
“Waalaikumsalam”. Jawabnya ragu, apa ini sales asuransi tapi kenapa suaranya tak enak desisnya dalam hati.
“Ran, jangan di matikan dulu ini Pakde Dar”.
Randi terlonjak kaget, ia bangkit dari tempat duduknya sejenak, berharap Pakdenya akan membawa kebaikan dan sedikit pencerahan untuk hubungannya dengan Tari, meski ia tahu itu sangat sulit.
“Iya Pakde, maaf baru sempat menerima panggilannya. Ada apa Pakde? Apa Pakde tahu dimana Bethari”.
Diam sejenak, hanya terdengar suara hewan malam khas Desa yang saling bersautan. Pakde menjeda ucapannya, ada keraguan dalam hatinya ketika akan turut campur urusan rumah tangga keponakannya.
“Ah tentu saja Bude tahu Ran, kami kan saudaranya”. Bude mengambil paksa ponsel suaminya, ia geram karena Pakde Dar tak kunjung membuka suaranya.
“Benarkah?”, raut wajah Randi berubah seketika, dari yang terlihat kecut, menjadi tersenyum hangat.
“Iya Ran”.
“Apa Bude bisa memberi tahu saya, dimana Bethari tinggal saat ini?”, tanyanya dengan semangat.
“Tapi untuk saat ini Bude belum bisa kasih tahu Ran, di mana tempat tinggalnya, untuk sementara waktu biarlah Tari, menata kembali kepingan hatinya yang sudah hancur”. Hiks Bude seakan sedang menangis.
__ADS_1
“Tapi Bude, aku ingin bertemu dengannya sebelum sidang terakhir keputusan pengadilan. Aku berharap bisa memperbaiki itu semuanya”. Randi memelas, ia berharap Budenya akan iba.
“Sepertinya itu tidak akan merubah keputusan Tari, untuk saat ini Ran, biarlah dia tanang terlebih dahulu. Nanti jika Mawar sudah melahirkan, kamu bisa menceraikannya, dan yakinkan kembali Tari, untuk bisa hidup denganmu”. Benar saja Bude Murni tak rela jika kehilangan Randi, sebagai keponakan menantunya.
Terdengar suara helaan nafas yang berat di ujung panggilan sana.
“Lantas Bude aku harus bagaimana?”.
“Ran sebenarnya, kehidupan Tari saat ini sangat memprihatikan, ia hidup dalam kekurangan, bahkan untuk makan saja susah. Kamu juga tahu sendiri jika Tari, tidak bekerja lagi setelah kalian menikah dulu. Untuk itu...”. Bude menjeda ucapannya sejenak.
Randi menarik nafas dalam, hatinya teriris kala mendengar kesulitan wanita yang ia sayang’i selama ini.
“Lantas Bude”.
“Sebaiknya kamu kirimkan uang untuk biaya kehidupannya dengan Risma Ran, kasihan sekali hidupnya. Kamu bisa menitipkan uang itu pada Bude dulu. Tari akan menolak jika kamu memberinya secara langsung, namun jika bude yang memberikan, kemungkinan ia akan menerimanya”. Tuturnya dengan sangat lancar, sudut bibirnya terangkat ke atas, ia yakin seyakin yakinnya jika Randi akan memberinya uang.
“Baik Bude, Aku minta tolong berikan uang pada Tari istriku, aku tak rela jika ia harus hidup dalam kesengsaraan. Bude minta tolong lekas kirim nomor rekeningnya. Aku akan segera mengirim uangnya”. Terang Randi dengan yakin.
Sementara itu di sebrang sana, Bude murni sedang menahan tama, salah satu tangannya memegang perutnya dengan erat. “Ah ternyata segampang ini mencari uang, tinggal jual nama keponakan saja. Desisnya dalam hati dengan pancaran kebahagian di wajahnya.
Sementara Pakde Dar, ia mulai ragu dengan keputusan yang di ambilnya, ia takut suatu saat ini semua akan menjadi bumerang untuk kehidupan mereka.
“Ran udah dulu ya, buruan kirim uangnya”. Titahnya dengan sangat jelas.
Tut..tut...tut...panggilan berakhir tanpa salam.
Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar. Satu pesan masuk dari Bude Murni mengirim nomor rekening, ia lekas membalas dan mentransfer sejumlah uang untuk Bude Murni.
Saat ini Mawar sedang berada didepan pintu kamar suaminya, ia mondar-mandir berkali-kali. Hatinya ragu ingin mengetuk pintu itu. Tapi ia juga menginginkan seperti layaknya wanita hamil pada umumnya.
Tangannya terangkat dengan tubuh yang sudah menghadap ke arah pintu, hendak mengetuk pintu itu. Namun ia urungkan kembali.
Mawar memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam, ia sedang berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya.
“Mawar ada nak? Kenapa kamu dari tadi mondar-mandir di situ?”, sapa Bu Srining ketika melihat menantunya berdiri di kamar anaknya.
“Ma, hari ini aku ada jadwal pemeriksaan USG, aku ingin sekali Mas Randi menemani. Aku ingin merasakan seperti wanita pada umumnya. Aku ingin Mas Randi melihat anaknya”. Wajahnya memelas, berharap belas kasi dari mertuanya.
__ADS_1
Bu Srining memejamkan mata sejenak. Reflek tangannya terulur untuk mengetuk pintu itu.
“Ran, keluar ada sebentar nak”.
“Ran.....”.
Ceklek pintu terbuka, Randi keluar dengan waja yang terlihat cera tak seperti biasah.
“Ran, Mama minta tolong, antarkan Mawar memeriksakan kandungannya. Apa kamu tidak ingin melihat anak kamu”. Titahnya pada sanga anak.
Randi terdiam untuk beberapa saat, lalu ia memandang perut Mawar yang tampak membuncit di balik daster pink yang ia kenakan.
Mendadak suasana menjadi tegang, takut menunggu jawaban yang keluar dari mulut Randi.
Tiga menit...
Empat menit...
Lima menit...
Tak ada pergerakan dan jawaban sama sekali, semuanya terdiam di depan pintu dengan pikiran masing-masing.
“Ran? Jadi bagaimana kamu bisa antar tidak? Kebetulan Mama hari ini sedang ada acara di luar. Anggap saja ini bagian dari tanggung jawabmu menjadi seorang BAPAK!. tukas Bu Srining penuh penekanan dan meninggalkan pasangan suami istri tersebut.
“Baiklah”. Jawabnya singkat.
Jawaban singkat namun dapat membuat hati Maar Mawangi berdesir tersenyum bahagia.
Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, tak ada obrolan sepanjang perjalanan. Mereka terdiam enggan untuk saling berbicara.
Desa Suka Maju.
Sepulang dari mengantarkan donat ke rumah Bu RT. Tari berjalan dengan gontai, ia terngiang ucapan salah satu tetangganya yang menduga jika dia hamil. Hatinya menepis itu semua, tapi tak bisa di pungkiri ada rasa berharap di sana.
Ia mengelus lembut perut ratanya sambil berjalan “Mana mungkin aku hamil, bukankah aku sudah di katakan mandul?”, desisnya dalam hati.
“Tapi bagaimana jika memang aku hamil? Apa yang harus aku lakukan?”. Tari kembali mengingat-ingat kapan terakhir ia mendapatkan mens nya.
__ADS_1