Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Tragedi Siang


__ADS_3

“Risma awas!” Tari berteriak sangat kencang, ia juga berlari sekuat tenaga.


“Risma...”


Bug....


Tabrak lari tidak dapat di hindarkan. Seluruh perhatian orang-orang yang ada di sekitar sekolah sontak tertuju pada Risma. Gadis kecil yang sedang berbahagia hari ini. Ia bak seorang putri yang memakai gaun princess dengan sentuhan tiara di kepalanya. Ia ingin menunjukan pada sang Bunda jika hari ini mendapat juara. Juara pertama untuk lomba hari Ayah di sekolahnya. Maklum sejak kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Kehidupannya terasa lengkap hanya beberapa bulan saat bersama Randi dulu. Namun beberapa bulan kemudian, semuanya menjadi pincang, hanya merasakan kasih sayang sepihak dari seorang Ibu tunggal.


Namun hari ini, hari ini ia telah menemukan sosok malaikat baru yang membuat hidupnya kembali utuh seperti anak pada umumnya. Kehadiran Rama, yang membuatnya bisa pulang untuk membawa sebuah mahakarya, bahkan mendapat juara satu dalam lomba itu.


Tari, yang menyadari anaknya telah jatuh terkapar di halaman sekolah lekas berlari dengan kecepatan penuh. Ia berhambur begitu saja untuk melihat kondisi anaknya. Plastik yang berisi aneka makanan di tangannya telah meluruh begitu saja. Ia pun tak peduli dengan itu, saat ini yang paling penting adalah kondisi anaknya.


Ia kembali berlari, dengan deraian air mata yang membadai di pelupuk matanya. Suaranya bergetar memanggil nama sang anak. Mata mereka saling bertemu walau keduanya masih berjarak.


“Risma, sayang. Risma nak” Tari merengkuh anaknya dalam dekapan. Gamis putih yang membalut tubuhnya berceceran warna merah, seakan sebagai saksi bisu apa yang baru saja terjadi pada sang anak.


“Bunda...


“Bunda aku menang lomba” jawabnya dengan lemah, bahkan cenderung tak terdengar. Tangannya masih memegang lembaran kertas hasil mewarnai, sementara tangan sebelahnya membawa sebuah piala. Sejurus kemudian semua yang di bawanya jatuh begitu saja ke tanah. Ia kehilangan kekuatannya.


“Iya nak, iya kamu hebat. Risma bertahan ya, kamu kuat” isakan Tari, semakin meluruh ketika mendengar ucapan sang anak, benar saja Risma hanya ingin membagi kisahnya pada sang Ibu. Ia ingin mengatakan betapa bahagia hari ini. Sebagian orang pergi ke dalam mencari keberadaan Rama yang masih ada di dalam kamar mandi. Sebagian lagi menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit.


“Bunda gelap” rintih gadis kecil itu, di tengah-tengah rasa sakitnya, pandangannya terasa buram. Perlahan suara riuh dari orang yang ada di sekitarnya menghilang bahkan tak terdengar sama sekali. Pengelihatannya semakin samar, bahkan cenderung gelap. Perlahan Risma menutup matanya. Ia terkulai lemas tak berdaya dengan banyaknya luka yang ada di tubuhnya. Cairan merah mengalir di kening dan juga kakinya.


“Apa yang terjadi pada Risma?” tanya Rama, yang baru saja keluar. Ia berlari dengan sangat kencang. Berjongkok di sebelah Risma. Matanya mengedar, menatap sekeliling area yang tampak panik.

__ADS_1


“Tabrak lari” jawab beberapa orang yang mengelilingi Risma saat itu.


Rama lekas mengambil alih posisi, ia memeriksa beberapa alat vital yang ada pada Risma. Dengan segera ia melakukan pertolongan yang dapat di lakukan.


“Melemah” ucapnya dengan lirih ketika memeriksa denyut nadi Risma, kontan ucapan Rama membuat Tari menoleh dan semakin takut. Tangannya bergetar hebat, bahkan kakinya turut melemas ketika melihat sang anak terkapar seperti ini.


Niu...niu...ambulance datang.


Dengan segera petugas medis lekas membawa Risma masuk dalam ambulance. Rama pun demikian, ia turut membantu jalannya evakuasi yang ada. Rama memang panik dan takut. Tapi ia masih bisa menguasai keadaan, mengingat ia adalah seorang Dokter yang sudah terbiasa dalam posisi seperti ini.


“Risma” rintih Tari dalam tangisnya. Wanita itu masih duduk bersimpuh di tempat kejadian. Kakinya tak memiliki kekuatan untuk berdiri, tulangnya terasa melunak dan tubuh bergetar. Rama dengan siaga, lekas memapah Tari mengantarkannya ke Ambulance untuk menemani Risma di sana. Tak hanya Tari, Rama pun turut masuk dalam kendaraan yang sama.


.


.


Sepuluh menit berlalu, sampailah mereka di rumah sakit tempat Rama bekerja. Mobil Ambulance melangkah dengan kekuatan super. Membelah jalanan yang cukup padat siang itu. Ia menerobos segala yang menghalangi jalannya. Demi untuk menyelamatkan sebuah nyawa yang ada di dalamnya.


“Tolong, tolong selamatkan anak saja” ucap Tari di sela tangisnya, ketika Risma baru saja memasuki IGD dalam rumah sakit itu. Ia masih memaksa untuk ikut masuk ke dalam ruangan, untuk melihat tindakan yang sedang di lakukan para medis di sana.


“Mohon maaf, Ibu tidak boleh masuk. Silahkan tunggu di luar. Dan selesaikan administrasinya, biar kami yang menanganinya” ucap salah satu perawat yang berdiri di depan pintu, ia sedang menghadang laju Tari yang ingin turut masuk ke dalam sana.


“Lakukan yang terbaik, mereka adalah saudara saya” terang Rama pada petugas medis. Tentu saja mereka mengenalnya karena Rama adalah salah satu Dokter terbaik di rumah sakit itu. Rama lekas meraih tubuh Tari, membawanya duduk di koridor rumah sakit, ia mencoba menenangkan keadaan Tari.


“Maafkan aku” ucapnya dengan tenang ketika, isakan tangis Tari mulai mereda. Ia berbicara dengan pelan dan suara yang bergetar hampir tercekat di tenggorokan.

__ADS_1


“Maafkan aku Tar, aku telah lalai menjaga Risma” Rama menoleh ke arah Tari, ketika wanita itu tidak memberikan respon apa-apa.


“Kamu boleh marah dan benci denganku. Sungguh semua yang terjadi hari ini di luar kuasaku. Aku sudah berusaha untuk menjaganya, hanya saja aku tadi tak dapat menahan hajatku untuk ke kamar mandi. Maaf” Tangis Rama pun meluruh, ini kali pertama ia kembali menangis setelah kepergian sang istri beberapa tahun lalu. Ada rasa takut yang tidak dapat di jelaskan saat itu. Ia sangat takut, takut untuk kehilangan kembali dalam hidupnya. Takut separuh jiwanya yang baru terisi akan kembali di renggut paksa oleh sang pemilik kehidupan.


“Ini bukan salahmu Mas, ini musibah untuk keluargaku” jawab Tari dengan suara yang parau, ia masih mencoba untuk tegar walau sesungguhnya hatinya sedang ambyar tiada terkira.


“Sebaiknya kita sama-sama berdoa untuk kebaikan Risma, tanpa harus saling menyalahkan dan merasa bersalah. Semua sudah mejadi garis darinya” Tari kembali bersuara.


Diam.


Suasana menjadi diam dan sepi. Tari dan Rama sama-sama tenggelam dalam rasa bersalahnya pada Risma. Mereka duduk dengan saling terpisah memberikan jarak di salah satu kursi penunggu pasien yang ada di lorong koridor rumah sakit.


Tari menunduk, bibirnya tak berhenti berucap. Merapalkan serangkaian bait-bait doa untuk memuja sang kuasa. Berharap akan pertolongan serta belas kasihnya untuk keselamatan sang anak.


Ya Allah, Ya Rab. Ku titipkan seseorang yang sangat ku sayangi dalam hidupku di tanganmu. Rengkuh dia dalam kebaikan dan pertolonganmu. Bantu dia untuk bisa melewati ini semua. Ya Allah Ya Rab, wahai sang penyembuh atas segala apapun rasa sakit yang hadir dalam setiap hambamu. Hamba mohon pertolongan dan uluran tanganmu untuk keselamatan anak hamba.


Hal yang sama juga di lakukan Rama. Pria itu duduk dengan bersandar di salah satu kursi stainless. Ia menempelkan kepalanya di sana. Menatap langit-langit rumah sakit dengan nanar. Benar, saja Rama sedang merayu Tuhannya.


Ya Allah, Ya Rab. Selamatkan dia, gadis kecil yang baru saja hadir menghiasi hidupku. Bantu dia untuk melewati masa sulit ini. Tiada pertolongan kecuali datangnya dari Engkau. Tiada kesembuhan kecuali atas izin dari Mu. Hamba mohon pertolongan dan kebaikan untuknya.


Ceklek pintu IGD terbuka, salah satu perawat keluar dari sana. Tari dan Rama lekas berlari


menuju ke sana.


“Bagaimana kondisi anak saya?” tanya Tari dengan panik

__ADS_1


__ADS_2