
“Apakah ini ungkapan sebuah rasa?” tanya Tari
dengan pelan, ia masih ragu untuk menatap wajah Rama saat itu.
“Aku tak akan memaksamu untuk itu, kau boleh tak menjawabnya sekarang. Bahkan kau
boleh menjawab kapan saja ketika kamu sudah menemukan jawabannya” Mendadak
suasana menjadi canggung di antara keduanya.
“Berjanjilah satu hal padaku Mas”
“Apa?” jawab Rama dengan lembut.
“Dengan atau tidak bersamaku hubungan kita akan tetap terjalin dengan baik”
Rama tersenyum pada Tari “tentu saja, aku tidak akan memaksamu, tapi bolehkan jika
aku juga berharap lebih padamu?”
Diam
Lagi-lagi kecanggungan kembali tercipta di antara mereka berdua. Keduanya salah tingkah,
bingung untuk memposisikan dirinya.
Lima menit kemudian.
“Teruntuk tes DNA Risma, aku mohon Tar, beri kesempatan padaku untuk membuktikan apa
yang telah lama menjadi denganku. Tolong jangan biarkan aku hidup dalam rasa
penasaran dan rasa bersalah pada anakku”
“Seperti apa yang ku katakan tadi apapun hasilnya aku akan tetap menyayangi Risma seperti anak kandungku sendiri”
Tari nampak menimbang-nimbang ucapan Rama. Ia tak ingin menjadi seorang yang egois
dengan menjadi penghalang anatar Risma dan Rama. Kalaupun mereka berdua adalah
sepasang orang tua dan anak, tentu itu akan baik sekali untuk kehidupan Risma di masa mendatang. Gadis kecil itu tidak akan merasakan kasih sayang yang pincang. Akan ada rasa berdosa jika ia tak memberikan izin untuk itu.
Ia menjeda ucapannya. Matanya terpejam untuk sesaat dan bersiap mengambil nafas
yang dalam.
“Baik Mas, untuk tes DNA Risma aku memberikan izin untuk itu. Tapi tepati lah satu
janjimu itu. Jangan pernah ambil Risma dari ku dan tetap sayangi dia apapun hasilnya nanti”
Rama tersenyum, air mata kembali jatuh di anatar keduanya. Rasanya ingin merengkuh wanita yang ada di hadapannya itu, namun status mereka membuatnya ragu dan tak berani untuk melakukan itu.
“Jangan menangis, aku tida bisa melihatmu menangis” Rama mengembalikan tisu yang di
berikan Tari.
“Kamu juga jangan menangis, ngomong-ngomong itu kan tisu beas kamu mas?” celetuk Tari
di sela-sela ia menyeka air matanya.
Astaga gagal romantis.
Dalam beberapa waktu, mereka saling menguasai diri untuk menangkan hati
masing-masing. Rama menepuk dadanya dengan pelan. Suatu kebanggaan ketika ia
dapat mengungkapkan segala rasa yang ada di dadanya.
Lega, begitulah rasanya. Beban berat itu telah sirna. Tinggal menunggu hasil tes DNA
dan juga jawaban dari Tari nantinya. Satu yang ia pegang teguh, mempersiapkan
hati untuk patas hati.
“Aku kembali ke kamar Risma dulu ya. Pasti dia sudah menungguku” pamit Tari, ia
lekas beranjak mengangkat bokongnya dari kursi tersebut.
“Aku juga mau ke sana. Aku akan mengambil sampel sekarang juga”
Keduanya saling tersenyum dan kembali melangkah bersama menuju ruangan Risma. Masih dalam diam, namun suasana hati mereka mulai berubah dari yang tegang menjadi
__ADS_1
sedikit lebih santai, setelah apa yang menjadi ganjalan dalam hati mereka telah saling di bicarakan.
Ceklek pintu terbuka.
“Bunda dan Ayah dari mana saja? Kok lama ga ke sini?” Risma melayangkan protes, ia
memeluk salah satu boneka yang di baa Bu Marni. Wajahnya menunduk melayangkan
aksi protes pada dua orang dewasa yang ada di hadapannya.
“Bunda tadi sedang ada perlu sebentar nak. Risma sudah makannya?”
“Sudah, aku makan sama nenek. Habisnya Bunda lama sekali tak ke sini-sini”
“Ayah juga gitu, lama gak tengok aku. Padahal aku masih sakit lo. Katanya akan slalu ada untukku!”
“Maaf ya sayang, tadi Ayah ke sini, tapi Rismanya masih bobok. Sekarang Risma mau apa
biar Ayah temenin”
“Aku mau Ayah menyisir rambutku dan menguncirnya”
“Baik princes siap laksanakan”
“Dari tadi mau di sisir Ibu tidak mau nak Rama. Maaf ya merepotkan”
“Tidak masalah bu, biar saya yang membantu Risma menguncir rambutnya”
Tari menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, semenjak kemarin ia belum sempat
mengganti pakaiannya. Bu Marni juga membawakan beberapa barang pribadi Tari. Ia
menata di laci kamar Risma.
Tangan Rama mulai mengambil sisir. Menyisir dengan pelan rambut panjang Risma.
“Mau di ikat atau di urai?”
“Terserah Ayah saja” Risma asyik bermain boneka dalam pangkuannya. Rama masih sibuk
untuk mengurai rambut Risma menyisir dengan pelan agar tak merasakan rasa sakit. Ia menikmati setiap moment demi moment saat rambut tersebut tergerai didepan mata.
hadapan Risma, memandang wajah yang begitu simetris tersebut dengan dalam. Sejurus kemudian ia tersenyum.
“Princes mau di gerai ataupun di ikat tetap saja kelihatan cantik. Tapi untuk saat ini
rambutnya di ikat saja ya, biar kamu tidak merasa gerah”
“Baik Ayah”
Tangan Rama kembali sibuk untuk menyisir rambut Risma, ia memperhatikan setiap apa
yang ada di kepala Risma. Tahi lalat di sebelah telinga. Ada tahi lalat di bagian belakang telinga Risma, tahi lalat yang nyaris tak terlihat oleh orang lain. Hanya orang-orang yang memiliki tingkat ketelitian tinggi yang bisa
menemukan itu.
“Allah, ini tahi lalat sama dengan yang di miliki putriku!”
Deg.
Rama menghentikan sejenak aktivitas menyisirnya. Ia kemudian mengambil beberapa
helai rambut Risma dan menyimpannya di dalam saku kemeja yang di gunakannya.
Berkali-kali tangan itu mulai mengumpulkan menjadi satu Rambut Risma, banun sayang ia
mengalami kesusahan. Rambut risma lurus dan cenderung tidak bisa di bentu karena terllau lurus dan bagusnya. Jika di ikat ia akan kembali ke dalam bentuk semula.
“Ais, belum rapi” Rama kembali membuka ikatan rambut tersebut, merapikan beberapa
anak rambut yang tidak turut terikat.
“Kita ikat tidak terlalu kuat ya price?” Risma mengangguk saja, ia menyerahkan sepenuhnya pada Rama.
“Hah, masih belum rapi juga” Rama kembali membuka ikatan rambut tersebut, ketika
melihat masih ada beberapa anak rambut yang berantakan.
Semua yang di lakukan Rama, tidak luput dari perhatian Bu Marni dan juga Tari. Kedua
wanita yang tengah duduk di sofa tersebut mengamati dengan tersenyum. Tari turut
__ADS_1
bahagia ketika Risma bisa kembali tersenyum.
“Sini biar ku bantu” Tari hendak bangkit dari tempat duduknya.
“No, aku maunya rambut ini di ikat sama Ayah!” ucap Risma.
“Hah baiklah, jangan terlalu tinggi Mas, biar semua bagian rambutnya dapat terikat
dengan rapi” sela Tari kemudian, ketika ia tidak di perkenankan Risma untuk membantu.
“Baiklah biar aku coba dulu” Rama kembali melakukan tugasnya, kali ini ia menjalankan
sesuai dengan masukan yang Tari berikan. Pria itu tersenyum ketika hasilnya sesuai dengan apa yang di harapkan. Meskipun tidak serapi di saat Tari yang melakukannya.
“Ternyata menyisir dan mengepang rambut jauh lebih susah, jika di bandingkan harus
menjahit luka pasien” terang Rama yang di sambut gelak tawa penghuni kamar
semuanya.
“Ayah jadi kapan aku boleh pulan? Aku bosan di sini”
“Kamu bosan ya di sini. Mau jalan-jalan lagi sama Ayah? Kita keliling rumah sakit sini”
“Mau” jawab Risma dengan suka cita.
“Jalan-jalan kok terus sih nak, kasian Ayahnya Risma kan harus kerja juga di sini”
“Biarlah Tari, biar aku yang baa Risma main keluar. Kamu di sini saja istirahat”
Rama lekas bersiap untuk membawa Risma jalan-jalan ke luara kamar inapnya. Ia
berniat untuk menunjukan pada gadis kecil itu jika di rumah sakit ini masih banyak orang yang jauh lebih sakit darinya. Agar gadis kecil itu merasa terhibur dan memiliki banyak teman.
Rama mendorong dengan pelan kursi rodanya, menerangkan setiap sudut rumah sakit pada
putri angkatnya. Ia melakukan dengan antusias begitu juga Risma, ia sangat senang sekali ketika bisa melihat area rumah sakit, meski sebagian besar isinya adalah orang-orang yang sedang terbaring merasakan sakit.
Setelah berjalan cukup lama, berhentilah mereka di salah satu sudut rumah sakit yang
ada kolam ikannya. Di sana terdapat kolam ikan yang berukuran kecil. Kolam tersebut menampung beberapa koleksi ikan berwarna orange dan juga putih, serta ada beberapa ikan yang memiliki kombinasi warna hitam dan putih. Keduanya sedang terlibat dalam obrolan santai dan saling melempar makanan untuk ikan yang
telah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
.
.
.
Di bagian sisi yang sama, seseorang sedang termenung dan baru saja mematikan putung
rokoknya. Ia baru saja hendak berpamitan untuk kembali ke Surabaya sejenak mengurus beberapa laundry di sana, dan meninggalkan orang tuanya di sini.
Ternyata tidak punya saudara itu tidak enak, aku melakukan semua ini sendiri tanpa ada
yang bisa di ajak untuk diskusi. Rasanya tak tega ketika harus meninggalkan Papa dan Mama sendirian di sini. Terlebih usia mereka sudah sama-sama tua. Aku yakin Papa pasti akan banyak mendapat kesulitan ketika harus mengangkat dan memindahkan Mama.
Jika Mama dan Papa yang memiliki satu anak saja kesusahan seperti ini di hari tuanya.
Apa kabar aku nantinya?
Ia duduk termenung, entah mengapa hari itu pikirannya membayangkan hal yang jauh
dari jangkauannya saat ini. Matanya menatap sekeliling melihat beberapa pasien yang sedang di bersama sanak dan saudaranya.
Huft...
Helaan nafas berat keluar dari mulutnya.
Matanya kembali mengedar menatap sekeliling.
“Risma, itu seperti Risma” Randi bangkit dari tempat duduknya ingin memastikan jika
seorang anak yang duduk di kursi roda itu adalah Risma.
“Iya aku tidak salah itu adalah Risma” ia mengucek-ngucek matanya kembali untuk
memastikan.
Ya Allah terimakasih kau telah mendengar jerit hatiku, aku baru saja mengeluh akan hidupku nantinya. Tapi kau lantas kembali mempertemukan aku dengan anakku.
__ADS_1