Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Empat Puluh Hari Mbah


__ADS_3

Ibu menatap kepergian saudaranya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Bu, kenapa ibu membiarkan uangnya di bawa pakde begitu saja?”, ucap Ipul dengan memegang tangan ibunya.


Sedang ibu hanya diam saja tak mampu memberikan jawaban.


“Bu, jangan diam saja, lekas ambil kembali uang itu, uang itu bisa di gunakan untuk tambahan konsumsi tahlilan mbah”. Ipul kembali mengguncangkan bahu ibunya dengan lembut.


“Diam kamu Pul, cepat pergi belikan nasi padang untuk sarapan pakde dan lekas antar ke rumahnya. Ibu meninggalkan Ipul dan masuk ke dalam kamarnya.


Sedang Ipul menatap kepergian sang ibu dengan nanar, ingin rasanya protes pada sang maha pencipta kenapa harus di ciptakan dalam keluarga seperti ini.


Ipul lekas menyeka air matanya dan berangkat membelikan sarapan untuk sang bude, sebenarnya bukan perkara jumlah uangnya ada berapa yang di bawa oleh pakde dan budenya di kotak amal, hanya saja rasa peduli dan kasih sayang keluarga bude pada ibunya rasanya tak ada. Mereka hanya akan datang saat membutuhkan dan akan berbuat semuanya sendri.


Setengah jam berlalu, Ipul datang dengan membawa bungkusan nasi padang untuk keluarga budenya. Ipul lekas menyerahkan ke rumah para penjajah tersebut.


“Bude ini nasinya”. Ipul meletakan di atas meja begitu saja nasi tersebut.


Ipul lekas pergi meninggalkan rumah itu, sebelum yang punya rumah sempat mengatakan sepatah katapun.


“Hay dasar, anak gak tau sopan santun masuk rumah orang gak pake salam dulu, langsung kabur saja”. Teriak bude dengan memaki-maki Ipul.


“Buat apa aku menunggu di sana?, menunggu di tawari nasi padang? Ah rasanya juga mustahil”. ucap Ipul dalam hati tak menghiraukan ucapan budenya.


***


Rumah Ibu.


Empat puluh hari kemudian sejak kepergian mbah, tepatnya hari minggu ibu mengadakan tahlil bersama di rumah untuk kirim doa pada mendiang mbah. Ibu memilih hari minggu dengan maksud agar semua keluarga dapat hadir dalam acara tersebut.


Ibu mengadakan khataman Al-Quran, oleh grup pengajian yang ada di desa, karena memang ibu aktif dalam jamaah ini. Tari memutuskan untuk pulang dalam acara ini, karena tak tega jika membayangkan sang ibu menyiapkan semuanya sendiri.


Urusan biaya jangan di tanya, pasti semua jelas ditanggung Tari.


Acara dilakukan cukup meriah, ibu membuat seratus bingkisan nasi kotak beserta dengan aneka macam kue dan minumannya, belum lagi hidangan yang di sajikan untuk tamu yang datang. Maklum di tempat tinggal Tari ketika ada acara empat puluh hari, maka tetangga sekitar rumah akan datang, dan tuan rumah umumnya akan memberikan bingkisan.

__ADS_1


“Banyak sekali ini bingkisannya Mar? Apa ngak kebanyakan nanti? Yang datang juga tidak akan sebanyak itu!”. ucap bude seperti biasa dengan tangan yang berada di pinggangnya.


“Lihat saja ini ada banyak sekali’. bude menunjuk bingkisan yang ada di meja ruang tengah, dapur dan kamar.


“Gak papa mbak, memang di lebihkan sedikit, kiranya nanti ada yang datang tidak sampai kekurangan”. jawab ibu dengan sibuk memasukan nasi kedalam kotaknya.


“Nanti yang tidak datang ngaji ke sini, gak usah di beri bingkisannya, enak saja udah gak datang ngaji masak mau makan enak”. Bude duduk dengan mencomot sambal goreng ati ampela dalam ember.


“Biarlah mbak, di niatkan shodaqoh saja, atas nama mbah”.


Selain bude, bulek yang dari Surabaya juga turut serta hadir dalam acara empat puluh hari mbah ini.


Beberapa saat kemudian.


“Assalamualaikum. Sapa Bethari yang baru datang dari Surabaya dengan membawa banyak sekali buah.


“Waalaikumsalam”. kompak seluruh orang dalam ruangan tersebut menjawab salam Tari.


Tari langsung mencium tangan semua orang yang ada dalam ruangan tersebut. Tari meletakkan barang bawaannya di atas meja. Kali ini dia membawa semangka yang sangat besar sebanyak tiga buah, jeruk dan jga melon. Tari sengaja membawa banyak untuk suguhan tamu yang datang.


“Sini biar bude aja yang bawa ini”. bude membawanya ke belakang.


Sedang Tari menyerahkan pada bude dan kembali ngobrol dengan beberapa sadara yang datang.


Beberapa menit kemudian bude tak kunjung keluar dari dapur, Tari pikir bude akan memotong melon dan menyajikan untuk semua orang yang ada dalam ruangan tersebut.


Ternyata.....


Salah!!!


Bude membawa pulang dua buah melon dan satu buah semangka tersebut ke rumahnya, lewat pintu belakang.


Tak terima dengan ulah sang bude, Tari lekas memanggilnya.


“Bude tadi melon dan semangkanya di bawa ke mana?”.

__ADS_1


“Masih ada tuh di dapur”, ucap bude dengan menunjuk beberapa buah semangka dan melon.


“Yang lainnya bude, bukan yang ini saja”. Tari sedikit meninggikan suaranya, rasanya teramat lelah sudah menghadapi saudara ajaibnya ini.


“Halah, bude cuma minta satu doang, masak gak boleh, kasian Udin nanti gak kebagian, diakan sedang tidak di rumah”.


“Ya suruh beli sendri dong bude, kan katanya banyak duit, ini Tari beli buat acara ngaji mbah”. ucap Tari dengan sedikit kesal.


Baru juga pulang nih, baru saja sudah di bikin mendidih saja nih otak.


“Sudah-sdah Tar, biarin saja mas Udin nanti pulang malam kasian kalau tidak dapat oleh-oleh sama sekali”. Ibu menepuk pundak Tari untuk menenangkan.


“Ya jangan gitu dong bu, ini kan Tari beli untuk ngajinya mbah, kiranya biar tidak sampai kekurangan, kalau kurang kan nanti kita sendiri yang repot mau cari kemana pas tamu datang”.


“Mangkanya kalau beli yang banyak”. Ucap bude tanpa rasa bersalah dan meninggalkan kami.


Benar saja bude merajuk, tapi Tari tak peduli hal itu.


Semua kembali mempersiapkan untuk acara ngaji tahlil yang akan di lakukan selepas magrib.


Beberapa saat kemudian, paklek Wanto datang ke rumah pak Dar untuk menjemput mereka karena acara tahlil lekas dimulai.


“Ayo kita ke sana mas, mbak, biar kelihatan rukun saja, gak enak di lihat tetangga kalau tidak kesana rumah kalian kan berdekatan”. paklek Wanto membujuk sadara ajaibnya.


Akhirnya dengan bujuk rayu paklek Wanto, bude dan pakde turut serta untuk mengikuti acara tahlil untuk mendoakan mbah.


Namun sayangnya kehadiran bude, hanya menimbulkan masalah baru saja. Ibu Tari menerima banyak gula dan minyak goreng yang di bawa oleh tetangga sekitar dan dari kerabat mereka yang jauh .


“Biar aku saja yang bawa ini”. bude lekas mengemasi semua barang-barang yang di bawa oleh tetangga dan membawanya pulang.


“Masmu kan anak pertama dari mbah, jadi dia lebih berhak atas ini semuanya”.


Ibu tak berani membantah, karena ibu memang orangnya tak enakan apalagi dengan saudara sendiri. Ibu lebih memilih diam.


“Lagian yang di buat acara ngaji tahlil ini juga pakai uang mbah kan?”.

__ADS_1


__ADS_2