Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Apa Ini Surga?


__ADS_3

Satu jam kemudian, perlahan mata Tari mulai mencoba untuk membuka. Keningnya berkerut saat ia merasakan cahaya yang masuk melewati celah pupilnya. Pandangan yang semula buram berangsur jelas. Ia berkedip untuk kesekian kalinya menatap langit-langit kamar tempatnya berbaring.


“Apa ini surga? Tapi kenapa rasanya aku pernah berada di sini sebelumnya?”


Sosok pria yang ada di sebelahnya mencoba untuk menahan tawa, ia membekap mulutnya dengan satu tangan. Ia duduk di kursi sebelah ranjang Tari, namun sayangnya Tari, tak menyadari kehadirannya. Tari lebih berhalusinasi seakan sedang berada di surga.


Lambat-lambat Tari berkedip kembali. Kini pandangannya tertuju pada sosok laki-laki di sebelahnya yang sedang duduk manis menahan tawa melihat tingkahnya.


“Apa kamu malaikat?” Masih dengan wajah polosnya ia bertanya demikian.


Laki-laki itu masih tak menunjukan suaranya. Alih-alih menunjukan suaranya ia lebih memilih untuk memberikan senyum damai.


Tari menelan ludahnya dengan kasar, ketika melihat sosok itu, “ternyata malaikat ganteng juga ya?”. Cicitnya kembali bersuara lirih.


Tok..tok...


Suara ketukan pintu terdengar.


“Alhamdulilah kamu sudah sadar nak”. Ucap Ibu, yang datang membawa segelas teh panas dan lekas memeluk putrinya.


Tari masih menatap bingung, ia tak membalas pelukan ibunya dan lebih memilih untuk melihat laki-laki yang sempat ia duga malaikat.


Diam.


Ia masih terdiam tak memberikan jawaban.


“Kamu berharap berada di surga?”, Rama, mulai membuka suaranya dan memberikan segelas teh panas padanya.


Tari masih bingung, ia memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing “Jadi aku masih hidup? Ini bukan surga?”. pertanyaan itu kembali mengudara di dalam ruangan.


“Haduh nduk alhamdulilah, kamu masih hidup nak. Kamu tadi pingsan di kebun belakang. Untungnya tadi nak Rama, menemukanmu setelah ibu mencari-cari”. Tutur ibu menjelaskan kejadian yang terjadi.


Tari membekap mulutnya malu, ia sempat mengatakan Rama adalah malaikat. Lebih parahnya lagi ia mengatakan ganteng.


“Permisi ya, biar aku periksa dulu keadaan kamu”. Rama mulai memakai stetoskopnya dan mengeluarkan beberapa peralatan medis dari tasnya.


Tari masih menatap tak percaya dengan semua kondisi yang baru saja ia alami.


“Kamu baik-baik saja, semuanya normal, tekanan darah juga normal. Kamu hanya syok saja jatuh dalam kegelapan. Ini hanya sementara sebentar lagi juga akan pulih kembali”


“Syukurlah kalau begitu”. Ucap ibu menganggukkan kepalanya.


Benar memang aku telah  jatuh dari kegelapan kisah cinta, yang teramat sangat gelap desis Tari, dalam hatinya.


“Untuk sementara sebaiknya kamu istirahat dulu, kurangi aktivitas yang terlalu berat dan satu lagi yang paling utama kurangi stres dan jangan banyak pikirannya”.

__ADS_1


“Kamu bisa berjalan-jalan di sekitar sini kalau pagi, di sini udaranya sangat sejuk pemandangannya pun indah. Warna hijaunya dapat memanjakan matamu. Sehingga membuat aliran darah dapat berjalan semakin lancar”. Tutur Dokter Rama.


Rama adalah Dokter baru di Desa Suka Maju, ia baru saja satu tahun di pindah tugas di sana. Sebelumnya Rama, bertugas di Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya.


Tari menganggukkan kepalanya saja, sebagai respon atas segala ucapan yang di berikan Rama.


“Apakah ada keluhan lain?”.


“Iya Dokter ada, sepertinya hati anak saya masih sakit”. Keluh ibu dengan tersenyum menggoda pada keduanya.


Tari dan Rama secara bersamaan menatap Bu Marni.


“Ah maaf, saya henya bercanda”. kelah Ibu kemudian dengan tertawa.


“Saya permisi dulu bu, Tari, semoga lekas sembuh. Jika ada apa-apa jangan sukan-sukan untuk menghubungi saya”. Rama menyerahkan satu kartu nama pada Tari.


“Trimakasih dokter”. ucap Tari dan Ibu secara bersamaan.


.


.


.


“Tar Dokter Rama baik ya, ganteng pula. Denger-denger dari ibu-ibu di sini Dokter Rama duda loh. Istrinya meningal lima tahun yang lalu setelah melahirkan”. Tutur ibu menggoda anaknya.


“Ya gak papa Tar, biasanya kalau janda ketemu duda itu jodoh”. godanya kembali pada sang anak.


“Belum kering bu luka yang kemarin”. Tari menutup wajahnya dengan bantal.


“Halah tadi saja bilangnya malaikat ganteng, di kira ibu gak dengar apa”. Wajah Tari memerah.


“Ibu....”. Ia merengek dan menutup wajahnya dengan satu guling yang berada dalam pelukannya.


Hahaha Bu Marni tersenyum renyah kala melihat anaknya tersenyum kembali.


******


Surabaya.


“Sialan sialan sialan”. Maki Mawar kecewa.


Randi pergi begitu saja keluar dari kamarnya, sementara Mawar ia masih terbaring di atas kasur karena dorongan yang di berikan Randi pada tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia berusaha untuk bangkit dari pembaringannya. Perutnya yang besar membuatnya kesulitan untuk kembali duduk.


“Ahhhh”. Rintihnya dengan memegang perutnya yang terasa kencang seperti sedang kram.

__ADS_1


“Ahhhh kenapa sakit sekali”. Desisnya kembali, ia masih mencoba untuk bangkit dari tempatnya berbaring.


Satu tangannya memegang perut dan satu tanga memegang punggung, perlahan dengan menahan rasa sakit yang mendera ia mencoba untuk duduk.


“Aduh...”, ini benar-benar sakit, ia memejamkan matanya sejenak untuk mengurai ketegangan dalam perutnya. Satu tangannya terulur mengelus lembut.


“Aduh tolong....”. Ia tak tahan kerena rasa kencang kram pada perutnya tiba-tiba menjadi sakit yang luar biasah. Mawar memejamkan matanya menahan rasa sakit itu.


“Mas Randi tolong....”. Rintihnya di tengah-tengah sakit yang mendera.


“Mama tolong....”.


Tak ada jawaban, ia masih dalam keadaan berbaring dengan memakai lingerie warna mera marun.


“Mas Randi....tolong...tolong aku”. Sekuat tenaga ia merintih.


Sementara Randi yang berada di belakang pintu kamar memilih acuh tak peduli, ia berjalan turun ke dapur mengambil segelas air minum dingin di sana, berharap dengan minum emosinya dapat sedikit menurun.


Randi duduk di meja makan sembari menikmati segelas sari jeruk di dalam gelasnya. Tangannya memijat-mijat pelipisnya yang sempat mendidih beberapa waktu lalu.


Ia tak habis pikir dengan kelakukan Mawar, yang berani-beraninya memakai baju Tari. Lingerie itu adalah hadiah untuk Tari yang belum sempat ia berikan beberapa waktu yang lalu.


Ia masih terdiam menikmati sebatang rokok dan segelas sari jeruk, berharap Mawar, akan lekas keluar dari kamarnya.


“Mas Randi...” Rintih Mawar di sisa-sisa tenaganya yang mulai lemah.


.


.


.


Setengah jam kemudian, Randi memutuskan untuk kembai ke kamarnya, dalam benaknya berharap Mawar, sudah pergi setelah penolakan yang di berikannya tadi.


Kaki itu perlahan mulai menaiki anak tangga. Samar-samar ia masih mendengar suara Mawar di dalam kamarnya, tapi sedikit melemah. Randi malas melanjutkan langkahnya, ia sempat berfikir untuk berputar arah saja.


“Mas Randi tolong....”. Suara itu kembali terdengar.


“Hah wanita sialan, di kira aku tak tahu apa tipu dayamu”. Ia melanjutkan langkahnya dengan malas.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka, ia masih mendapati Mawar yang berbaring di sana.


“Mas tolong”. suaranya benar-benar melemah.

__ADS_1


Randi mencoba untuk mendekat meskipun malas. Matanya melebar kala melihat kondisi Mawar saat itu. Tetesan darah di sela-sela kakinya. Wajahnya mulai memucat.


 "Mawar!".


__ADS_2