Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Ibu dan Rama


__ADS_3

Ibu tak menghiraukan Tari, ia pergi begitu saja meninggalkan anak dan masakannya yang belum siap tersaji. Benar saja, Bu Marni adalah salah satu orang yang paling menginginkan anaknya bahagia. Sudah cukup rasanya Tari, menderita selama perjalanan hidupnya. Mulai dari menjadi tulang punggung keluarga, yang slalu di gerogoti oleh anggota keluarga yang lain. Di khianati pasangan yang turut serta di dukung oleh mertua.


Sudah saatnya kamu bahagia nak. Ibu akan melakukan segala cara untuk kebahagiaanmu. Tapi tenang saja, ibu tidak akan merampas kebahagian orang lain demi kebahagiaanmu. Untuk kali ini tolong pasrahkan semuanya pada Ibu.


Bu Marni masih berjalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Tatapannya lurus ke depan dengan senyum yang merekah di bibirnya. Jika sebagian orang tua akan bersedih ketika anaknya sakit, namun tidak dengan Bu Marni. Ia justru bahagia


sekali ketika Tari, sedang sakit. Bukan tanpa alasan, ini bisa di jadikan media oleh Bu Marni untuk mendekatkan Tari dengan Rama.


Tok..tok...


“Assalamualaikum”


“Nak Rama, masih di rumah?” ucap ibu dengan santun, ia berkali-kali mengetuk pintu rumah Rama. Matanya melirik ke dalam kaca mencari kehidupan di dalam sana.


“Harusnya sih masih ada. Mobilnya juga masih terparkir di sini” desis Bu Marni, ketika berkali-kali mengetuk pintu tapi tak kunjung di bukakan.


“Assalamu'alaikum, nak Rama apakah masih ada di rumah atau sudah berangkat?” ia kembali mengulangi panggilannya. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi berharap Rama mendengarnya


dan lekas keluar.


“Waalaikumsalam, iya sebentar” Jawab Rama, terdengar cukup pelan. Sepertinya ia berada di


belakang rumah.


Saat itu Rama, baru saja selesai mandi. Ia lekas buru-buru mengganti pakaiannya dan menuju ke depan untuk menemui tamunya. Rama yang serang tenaga kesehatan di tuntut untuk gesit dalam segala hal. Seperti saat ini, dalam hatinya sudah menduga kalau pasti ada yang sedang sakit dan sedang membutuhkan


pertolongannya. Sementara Ibu Marni, ia masih setia menunggu Rama. Beliau duduk


di kursi jati yang ada di depan rumah.


“Maaf ya Bu lama, saya baru selesai mandi” ucap Rama, merasa tidak enak karena telah membuat Bu Marni menunggu.


“Tidak papa nak”


“Ada apa Bu?”


“Nak Rama, Tari sakit. Bisa minta tolong di periksa? Tubuhnya panas sekali. Sejak tadi pagi ia mengeluh kepalanya pusing. Ibu kasihan sekali melihatnya, wajahnya juga pucat” Sungguh Bu Marni sedang melebih-lebihkan kondisi putrinya


dalam hati ia merintih,


Ampun Ya Allah, saya Cuma ingin anak saya dapat jodoh. Tolong ridho'i kebohongan saya ini.

__ADS_1


“Baik Bu, saya akan bersiap untuk ke sana setalah ini. Saya ambil tas dulu”


“Terimakasih ya nak, ibu pulang dulu kalau begitu” pamitnya kemudian dengan berbalik badan.


“Tunggu Bu sebentar, sekalian saja bareng sama saya”


“Apa tidak merepotkan Bu?”


“Tentu saja tidak Bu”


Yes satu langkah sudah berhasil. Semoga mereka berjodoh Ya Allah. Bukankah do’a seorang Ibu begitu manjur, untuk itu hamba mohon Ya Allah jodohkan mereka jika memang itu baik untuk keduanya.


Keduanya berangkat bersama menuju rumah Tari. Mereka menggunakan mobil, ibu duduk


bersebelahan dengan Rama.


“Oh ya ngomong-ngomong nak Rama tinggal sendiri kah di sini? Kok selama Ibu tinggal di sini tidak pernah melihat ada orang lain” tanyanya ketika mereka dalam perjalanan.


“Iya Bu, saya tinggal di sini. Sudah hampir lima tahun saya di pindah tugaskan di sini. Saya dari kota sebelah Bu”


“Oh begitu. Maaf kalau boleh tau nak Rama ini sudah berkeluarga atau bagaimana?” tanyanya kembali. Bu Marni benar-benar ingin memastikan sendiri, ia tak ingin merusak kebahagian orang lain sebelum terlalu jauh untuk melangkah.


“Wah, maaf ya nak. Ibu tida bermaksud untuk mengingatkan”


“Tidak masalah Bu, itu sudah lama sekali. Biar bagaimana pun sebagai serang hamba kita harus iklhas akan segala ketetapan dan takdir yang tertulis untuk kita. Bukankah setiap yang bernyawa juga pasti akan berpulang Bu”


“Nak Rama benar, tapi ngomong-ngomong kenapa sampai saat ini nak Rama belum juga


menikah lagi. Apa tidak kesepian hidup sendiri terus menerus? Kan masih muda nak”


“Hehehe belum ada yang mau bu” jawab Rama dengan asal.


“Ah mana mungkin, orang nak Rama genteng seperti ini kok” elak Bu Marni dalam hati ia bersorak, berarti peluang untuk menjodohkannya dengan Tari terbuka lebar.


“Iya Bu, belum ada yang mau”


“Biasanya sih nak kalau duda itu dapat jodohnya janda eh” Bu Marni menutup mulutnya menahan tawa, ia memang sengaja menggoda Rama saat itu.


“Bagi saya tidak maslaah Bu, mau janda ataukah lajang. Semuanya sama saja yang penting hati dan akhlaknya. Bukankah saya juga seorang duda”


Sepuluh menit berlalu, mobil Rama mulai memasuki pekarangan rumah Tari. Bu Marni berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu dan mempersilahkan masuk tamunya.

__ADS_1


“Silahkanduduk dulu nak” Bu Marni masu ke dalam rumah ingin melihat Tari, dalam hati kembali berdoa semoga anak itu belum berangkat bekerja.


“Haduh ngapain ini kok malah di dapur, bukannya sedang sakit ya? Ayo-ayo sana ke kemar dulu istirahat” Bu Marni menggandeng Tari, membawanya masuk ke dalam kamar. Beliau merebahkan Tari di atas ranjang dan menyelimutinya hingga bagian dada.


“Bu kenapa sih? Aku kan Cuma pusing sedikit. Kenapa harus seperti ini? Yang ada aku


malah gerah” rengek Tari, ia membuka kembali selimut yang di kenakan.


“Halah sudahlah, tinggal nurut saja apa susahnya sih” Bu Marni kembali menyelimuti anaknya. Ia juga memegang dahinya Tari sejenak untuk memastikan jika suhu tubuhnya masih panas atau tidak.


Wah benar panas, ada untungnya juga anak ini tadi berdiri di depan kompor dan masak soto, setidaknya kuah yang ada dalam kuali dapat memberikan sedikit bantuan panas ke tubuhnya.


“Tunggu sebentar, tetap diam saja seperti itu. Bila perlu pejamkan matamu” Bu Marni keluar dari kamar Tari, ia memanggil Rama untuk lekas memeriksa anaknya.


“Ini nak Rama. Badanya Tari panas dari kemarin sore, dia juga tidak mau makan. Kepalanya juga pusing katanya. Kira-kira sakit apa ya Dok? Apa ini gejala kurang kasih sayang begitu? Seperti mala rindu?” tanya Bu Marni, sontak perkataan Ibu membuat  Rama dan Tari menyorot secara bersamaan. Keduanya kompak menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika Tari menunjukan wajah malu yang tiada terkira maka tidak dengan Rama. Pria itu hanya tersenyum simpul menangapi ucapan Bu Marni.


“Permisi ya Tar, saya periksa dulu” Rama mulai melakukan pemeriksaan pada Tari.Sementara tari, ia diam saja mengikuti semua arahan Dokter Rama.


“Bagaimana nak Rama? Apakah Tari baik-baik saja?”


“Tekanan darahnya normal Bu, suhu tubuhnya juga normal hanya saja Tari sedang kecapekan,


saya sarankan untuk beristirahat beberapa hari ke depan ya. Saya akan meresepkan vitamin dan juga obat untuk menghilangkan rasa capek pada sendi dan tulang”


“Sekalian obat kesepian Dok, sepertinya dia juga butuh asupan itu” lagi-lagi Bu Marni menggoda janda dan duda itu. Entah mengapa hari ini beliau berbuat yang tidak seperti biasanya.


“Ibu, apa’an sih” Tari melirik ibunya dengan malas.


“Sebaiknya kamu istirahat saja hari ini Tar, biar aku nanti yang jemput Risma. Akan aku pastikan jika dia selamat sampai tujuan. Kira-kira untuk hari ini, dia pulang jam berapa?” Tanya Rama dengan mengambil beberapa obat yang ada di tasnya.


“Tidak usah Mas, saya sudah banyak merepotkan mas Rama”


“Saya sama sekali tidak merasa di repot kan, justru saya semakin senang jika bisamenjemput Risma. Kebetulan hari ini dan besok jadwal saja tidak terlalu padat”


“Biarlah Tar, nak Rama hanya ingin membantu. Lagian Risma juga pasti senang sekali kalau


di jemput nak Rama. Risma nanti pulang jam empat nak” Jawab Ibu kemudian.


“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu ya Bu, Tar, semoga cepat sembuh, jagan jangan banyak aktivitas dulu. Istirahatlah. Biar nanti saya yang jemput Risma”


Rama mulai beranjak meningalkan kamar Tari di susul Bu Marni yang mengikutinya daribelakang. Ia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Rama saat itu.

__ADS_1


__ADS_2