
Matanya terpejam untuk beberapa saat, ia menahan nafas dengan begitu dalam. Tak lupa ia merapalkan do’a-do’a dalam hatinya dengan sangat kencang. Ia akan terima apapun hasilnya, toh itu adalah takdir terbaik Tuhan yang telah digariskan padanya. Tangannya mulai memasukan kelima benda pipih tersebut ke dalam tabung kecil yang telah ia siapkan secara bersamaan.
Lima detik
Sepuluh detik
Lima belas detik
Tari masih memejamkan matanya, ia kembali menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk menghirup udara sebanyak yang ia bisa, kemudian merilekskan hatinya. Tak dapat di pungkiri hatinya bergemuruh, tangannya gemetaran. Setelah di rasa cukup kuat, Tari memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan.
.
.
.
.
Satu garis terpampang jelas di sana.
Tubuhnya kembali bergetar, antara bersyukur dan juga kecewa. Bersyukur lantaran jika dia hamil, bagaimana dengan hubungannya dengan Randi yang sudah hampir berkahir dalam hitungan beberapa hari lagi. Ia tak ingin anaknya lahir tanpa seorang bapak, namun untuk bersama lagi dengan Randi dan menerima Mawar, itu sangat tidak mungkin.
Kecewa, Tari juga kecewa kala mendapati hasil tes kehamilan itu negatif. Itu berarti tes kesehatan yang menyatakan jika ia memang mandul adalah benar adanya. Ia meraih empat benda pipih lainnya, kembali mencoba melihat hasilnya di sana. Tak dapat di pungkiri ia masih berharap akan keajaiban.
Tangannya kembali membolak-balikkan deretan testpack yang ada di tangannya.
“Negatif semuanya”. Tari kembali menangis, ia merasa telah gagal menjadi seorang wanita yang sesungguhnya. Ia tak sempurna tak dapat memberikan seorang anak pada suaminya.
Menangis.
Ia kembali menangis, membekap erat mulutnya agar tak terdengar suara dari balik pintu kamar mandi. Ia menyalakan aliran air untuk menyamarkan suara isak tangisnya.
“Bodoh, kenapa harus berharap lebih? bukankah dokter sudah mengatakan jika aku mandul!”. Ucapnya dengan lirih di sela-sela tangisnya. Ia juga memeluk erat perut ratanya.
“Apa lagi yang kamu harapkan Tar?, kehadiran anak dari Randi, sedang perceraian sudah di depan mata?”.
__ADS_1
“Bethari, ingat itu adalah garis takdir yang terbaik yang Allah, beri untukmu. Bukankah jika kau mengandung proses perceraian mu dengannya akan semakin lama!”. Tari bermonolog dengan dirinya sendiri, ia menepuk-nepuk dadanya dengan tangan, mencoba mencari kekuatan.
Hiks...hiks...
Tangisnya kembali pecah, sesenggukan di dalam kamar mandi, tubuhnya meluruh di atas dinginnya lantai keramik kamar mandi. Ia tak menghiraukan aliran air yang terus memenuhi bak mandinya. Tari hanya menangis dan menangis. Tubuhnya basah, tenggelam dalam aliran air yang ia nyalakan sejak tadi.
“Tar, kamu tidak papa nak?”, suara ketukan terdengar dari balik kamar pintu kamar mandinya.
Diam tak ada jawaban, hanya terdengar suara air yang terus mengalir.
“Tar, keluar nak? Apa kamu sakit?”. Ibu kembali mengetuk pintu itu, kala mendapati aliran air yang hampir naik hingga ke dapur.
“Tar? Ada apa? Cepat buka pintunya!”. Ibu mulai menaikan sedikit nada bicaranya kala tak ada jawaban dari anaknya.
Hatinya semakin cemas, ketika Ibu menuju belakang kamar mandi. Di sana aliran air sudah membasai hampir setengah kebun mereka. Itu berarti Tari menyalakan air cukup lama sekali.
“Tar ayo buka buka pintunya”. Ibu mendorong paksa pintu kamar mandi.
Bruk...
Matanya terbelalak sempurna.
Bu Marni kaget, ketika melihat anaknya sudah dalam kondisi pucat menggigil kedinginan dengan tubuh yang basah kuyup teredam aliran air kamar mandi yang penuh.
“Ya Allah Tar, kamu kenapa nak?”, ia mencoba untuk membangunkan Tari, memapahnya keluar dari kamar mandi. Cukup sulit dilakukan, mengingat Bu Marni sudah tidak lagi muda dan ruang geraknya sedikit terbatas.
Tari masih diam saja dengan tatapan yang kosong.
Bu Marni memapahnya untuk duduk di kursi dapur, kakinya lekas berlari mencari handuk kering. Ia membawa beberapa handuk kering dan juga jarik untuk mengeringkan tubuh putrinya. Dengan cukup lembut Bu Marni menepuk-nepuk badan anaknya.
“Kamu kenapa nak?”. Kini tangan Bu Marni, terulur melepas jilbab Tari, mengeringkan rambut panjangnya yang basah.
“Ibu”. Tari kembali menangis dan memeluk ibunya dengan cukup erat.
Bu Marni tidak bertanya lagi, ia ingin memberikan ruang pada anaknya untuk menenangkan diri beberapa saat.
__ADS_1
“Ibu”. ucapnya kembali dengan lirih.
“Iya nak, katakan”.
“Ibu kenapa aku mandul? Kenapa aku tidak sempurna? Kenapa aku tidak bisa mempunyai anak? Kenapa aku tidak seperti wanita pada umumnya?”.
Hiks...hiks...hiks....
Ia kembali menangis meraung sesenggukan.
“Nak, tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang lahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak bisa mengandung bukan berati tidak bisa menjadi Ibu. Kamu punya Risma, dia anak yang baik dan juga cantik. Risma butuh kasih sayang seorang Ibu, begitu juga kamu yang membutuhkan seorang anak”.
“Nak kesempurnaan manusia tidak di lihat dari kehadiran anak dalam rahimnya, ia tetap bisa menjadi Ibu untuk anak-anak asuhnya. Nak percayalah takdir Allah adalah ketetapan yang terbaik, yang Ia gariskan pada setiap hambanya”.
“Nak ingat pesan ibu, ketika kamu merasakan kehilangan harapan dalam hidup ini, ingatlah bahwa Allah punya rencana yang lebih besar dari mimpimu. Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuk hambanya meskipun kadang tak sesuai dengan harapan dan keinginanmu. Tapi percayalah di balik itu Allah sedang menyiapkan takdir yang lebih indah”.
“Jangan bersedih, bukankah itu hanya prediksi Dokter saja, Dokter juga manusia bisa saja ia salah dalam mendiagnosa pasiennya”. Tukas Ibu dengan tangan yang masih mengeringkan tubuh anaknya.
“Tapi Bu, aku sudah tidak mendapati tamu bulananku selama dua bulan, aku juga sudah melakukan tas kehamilan mandiri tapi hasilnya masih sama aku mandul, aku tak bisa punya anak”.
Hiks...hiks...hiks... Terangnya dengan menyerahkan kelima testpack dengan satu garis di sana pada Ibunya.
“Sabar nak, Allah hanya tidak ingin menghadirkan seorang anak dalam kondisimu yang seperti ini. Tetaplah berprasangka baik pada sang maha pencipta”. Tuturnya kembali.
“Bunda”. suara gadis kecil dengan rambut yang masih acak-acakan datang menghampirinya.
Tari menoleh ia tersenyum tapi matanya menangis melihat Risma.
“Bunda kenapa kok bajunya basah semua?”. Tanya Risma kala ingin memeluk Tari, namun ia urungkan mengingat tubuh Bundanya basah semua.
“Bunda habis kehujanan”. Sela Bu Marni, yang datang dengan membawa segelas teh hangat.
“Bunda, jangan main hujan-hujanan, nanti kalau sakit gimana? Mau!? Nanti kalau ngompol gimana?”. Ucap Risma dengan polosnya. Gadis kecil itu akan mengingat setiap ucapan, baik itu perintah maupun larangan yang di berikan oleh Bundanya.
“Iya sayang Bunda tidak akan main hujan-hujan lagi”.
__ADS_1
“Makanya jangan main hujan-hujan, tuh kan jadi basah semua bajunya. Cepat ganti baju sana!”. Perintahnya dengan tangan yang bersendekap dan wajah mencolos.