
“Risma!”
Rama dan Tari kompak melirik Risma, yang sedang terbarig di atas ranjang. Ia lantas terenyum tanpa dosa menatap dua orang dewasa yang ada di depannya.
“Maaf Bun. Aku hanya pengen di gendong Om Rama” jawabnya dengan senyum, sejurus kemudian ia menenggelamkan wajahnya di bawah selimut tebal berwarna pink dengan motih hello kity.
Tari mengeleng-gelengkan kepalanya, tangannya bersebdekap di dada dan berjalan pelan mendekat e ranjang Risma.
“Kok gitu sih, kan kasihan Om Rama jadi capek-capek harus gendong kamu ke dalam kamar. Padahal kamu masih bisa jalan sendir”
“Aku cuma pengen di gendong Om Rama Bun” Ia menunduk merasa bersalah setelah itu.
“Tidak papa. Om juga suka kok gendong Rimsa”
“Tuh kan Om Rama aja suka, kok jadi Bunda yang repot” Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya pada Tari, seolah sedang mengejek Bundanya. Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari ranjangnya dan turun dengan cepat kilat. Tangan mungil Risma menggandeng Rama, membawanya untuk keluar dari kamar menuju ruang makan di rumah itu. Keduanya berlari kecil denga tertawa geli. Sementaar Tari mematung di kamar.
Bu Marni yang melihat tingkah mereka juga ikut tertawa. Sudah lama sekali rasanya tak mendengar tawa seperti ini di rumah. Semenjak perpisahan Randi dan Tari keadaan rumah lebih diam, tak banyak canda tawa yang terdengar hingga seperti malam ini.
“Bu saya tadi bawa makanan. Sebentar ya, saya ambil dulu di mobil”
“Tidak usah repot-repot nak”
“Tidak Bu, tadi kami sudah beli oleh-oleh untuk Ibu dan Bundanya Risma, hanya saja tadi saya mengendong Risma saat masuk, jadi tida bisa membawanya” Rama berlalu meningalkan Bu Marni dan Risma yang masih berada di meja makan. Sementara Tari ia masih di kamar Risma, membereskan beberapa tas dan barang bawaan Risma tadi.
“Bu ini adalah gethuk pisang makan khas kediri. Konon kata penjualnya tadi, ini di buat langsung dari kediri dan setiap hari di bikin baru, jadi masih fresh tanpa pengawet”
Rama meletakkan beberapa gethuk kediri yang di bungkus dengan balutan daun pisang. Di kemas dengan sangat baik dan rapi. Bentuknya kecil-kecil menyerupai lontong.
“Ini juga ada martabak manis Bu. Kata Risma Bundanya paling suka makan martabak manis yang ada di depan alun-alun sana” Rama meletakan dua kotak martabak manis di atas meja makan. Satu rasa coklat dan satu lagi rasa keju.
“Waduh, banyak sekali nak Rama, jadi merepotkan begini. Sudah ngajakin anak Tari jalan-jalan pulangnya masih di kasih oleh-oleh sebanyak ini” Bu Marni tersenyum dengan sedikit mengeser deretan makanan tersebut tepat di hadapanya. Ia sedikit membuka kerdusnya dan menunjukan raut wajah bahagianya. Sebagai bentuk rasa terimakasih dan menghargai.
“Kapan-kapan boleh loh nak Rama kalau mau ajakin Risma sealigus Bundanya jalan-jalan. Kasihan sepertinya sudah lama sekali dia tidak jalan-jalan. Tiap hari sibuk terus bekerja” terang Bu Marni. Dengan mata sekilas melirik anak dan tamunya malam itu.
“Oh iya Bu baik. Saya sih mau. Tapi Bundanya Risma bagaimana?” Rama memilih untuk melihat sekilas ke arah Tari.
__ADS_1
“Pasti mau kok tenang saja. Bentul begitu kan Tar” Bu Marni menyengol-nyenggol kaki Tari yang berada di bawah meja.
“Ah iya iya” jawab Tari dengan gelagapan yang tentu saja di sambut senyuman sumringah di wajah Rama.
“Baik kapan-kapan kita agendakan piknik bersama”
Bu Marni dan Risma lekas tersenyum bahagia bahkan Risma kembali melompat-lompat saat itu juga.
“Saya pamit dulu ya Bu, sudah malam”
******
Rumah Rama
Tak sampai sepuluh menit, duda keren yang menjadi primadona di Desa Suka Maju telah sampai di rumahnya Seperti biasa ia akan masuk di sambut dengan kesunyian dan kehampaan yang mendera. Helaan nafas panjang kembali terdengar ketika membuka pintu rumah, masih dalam ke adaan gelap gulita tanpa penerang yang menyalakan. Maklum Rama tinggal sendiri di rumah itu
Ah andai saja ada anak atau istri.
Ia memilih untuk merebahkan diri di atas ranjangnya. Menghempaskan begitu saja beban berat dalam tubuhnya. Jemarinya sedang sibuk. Menggeser deretan foto yang ada di album memory ponselnya. Ia kembali tersenyum, ketika melihat deretan pose lucu Risma yang ada di dalam sana.
Lihat senyumnya, aduh manis sekali. Wajahnya benar-benar tak asing. Coba saja tadi Bundanya ikut pasti makin seru.
Lama sekali Rama terbenam dalam angannya, hingga ia tak menyadari waktu sudah beranjak bahkan berganti hari. Tangannya mulai lelah menggeser deretan gambar di sana. Ponselnya mulai jatuh di atas ranjangnya, ia pun tak sadar telah terlelap. Membawa harapan dan asanya dalam rengkuhan mimpi yang indah.
*****
Hari berganti hari, seperti biasah matahari akan menunjukan kuasanya ketika pagi. Ia akan muncul dengan berjuta kekuatannya untuk menyinari bumi, tanpa lelah dan tanpa jeda. Pagi itu, Tari berangkat lebih siang dari biasanya. Ia kembali lagi ke rumah setelah mengantarkan Risma sekolah. Tari berniat untuk beristirahat sejenak. meluruskan punggung dan sendi-sendi yang mulai terasa lelah setelah beberapa hari bekerja tanpa jeda.
"Kamu tidak ke toko Tar?" tanya ibu Marni, saat itu beliau sedang menyiapkan makan siang untuk keluarga. Hari ini Risma meminta untuk dibuatkan soto daging.
"Aku capek Bu, sepertinya aku butuh istirahat. Aku akan ke toko nanti setelah menjemput Risma pulang sekolah" jawabnya dengan duduk di meja makan, ia meletakkan kepalanya di atas meja sebagai tumpuan
"Ibu rasa selain kurang istirahat, kamu juga kurang kasih sayang"
"Ibu...."
__ADS_1
Rengek Tari dengan manja, ia sedikit mengangkat kepalanya mendongak mencari keberadaan sang Ibu.
"Iya kok beneran. Kamu itu kurang kasih sayang. Mau sampai kapan Jandi janda terus Hem?" goda Ibu kembali dengan sedikit menyenggol lengan anaknya.
"Apaan sih Bu" Tari menjawab dengan malas, raut wajahnya masih malas sekali.
"Mau sampai kapan jadi janda? Hem. Masih muda lo, cantik pula"
"Ya cantik lah kan anaknya Ibu"
"Hem iya cantik, tapi sayang gak mau cari pasangan padahal banyak yang naksir. Buruan gih buka hatinya mau sampai kapan seperti ini terus? Risma itu butuh bapak lo"
"Oh ya berbicara soal Bapak, Rama baik ya? sepertinya dia penyayang dan baik hati. Risma saja bisa cepet akrab seperti itu. Ibu harap sih Bundanya juga demikian, bisa dapat hidayah. Ehh" Ibu mulai mencuci daging yang akan di gunakan untuk memasak. Sementara Tari diam saja tak menanggapi ucapan Ibunya. Ia lebih memilih untuk meletakan kembali kepalanya di atas meja.
"Hidayah apa Bu?"
"Hidayah untuk kembali membuka hatinya, menerima orang baru dalam hidupmu"
"Kamu masih pusing? coba Ibu lihat" Bu Marni memilih untuk meletakan bahan makannya di atas meja, beliau mendekat pada Tari. Menyentuh lembut kening anaknya.
"Ah ini sih panas, sepertinya kamu sakit"
"Ibu panggilkan Dokter dulu ya?"
"Jangan Bu tidak usah, aku tidak papa. Aku hanya butuh istirahat saja" elak Tari dengan menapis tangan Ibunya pelan.
"Ibu tahu yang terbaik untuk anak Ibu. Tenang saja ibu akan carikan obat yang bisa sekaligus menyembuhkan segala luka yang ada"
Bu Marni tersenyum dalam benaknya sedang mengudara serangkaian rencana.
"Segala luka yang ada? maksudnya?"
"Aduh anak Ibu cantik sih, tapi kadang-kadang ngeselin ya" hubungan Bu Marni dan Tari memanglah sangat dekat, terkadang mereka seperti sahabat, terkadang mereka selayaknya Ibu dan anak. Semenjak tinggal di sini, Bu Marni adalah support sistem terbesarnya untuk tetap bertahan hingga saat ini.
"Ibu mau ngapain?" tanya Tari, ketika menyadari sang Ibu melangkah meninggalkan Tari di ruang makan.
__ADS_1
"Mencarikan obat untukmu"
"Hah, obat apa?"