Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Hari Ayah


__ADS_3

“Telpon tidak ya” ucapnya dengan ragu.


Dalam bentangan langit malam yang sama, keduanya kompak saling mengangkat benda pipih


yang ada di sebelah mereka. Masing-masing menekan nomor dan menggeser tombol hijau di sana.


Jaringan sibuk.


Jaringan sibuk.


Gerutu keduanya dalam hati.


“Ah iya, pasti Mas Rama sedang telponan sama saudara atau bahkan kekasihnya” Tari memilih untuk meletakkan kembali ponselnya. Ia duduk menatap cermin rias di depannya.


“Mungkin dia sedang menerima panggilan dari yang istimewa, ini kan tengah malam. Siapa lagi coba orang yang hendak menghubunginya jika bukan orang yang spesial” Rama meletakan ponselnya. Ia melipat satu kakinya dan menatap langit di luar kamar.


Diam.


Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat. Pikirannya saling sibuk menerka-nerka berjuta kemungkinan yang ada.


“Coba lagi kali ya” Rama kembali mengambil ponselnya, sejurus kemudian meletakan kembali di atas meja. Ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Tari.


“Tapi kalau tidak di hubungi bagaimana? Nanti kalau salah kostum bagaimana? Yang ada aku hanya bikin malu Risma saja”


“Ah sudahlah hubungi saja, demi Risma” Rama memberanikan diri untuk menekan kontak Tari, menekannya dengan pelan dan mengarahkan pada telinganya. Satu tangannya sibuk meremas kaos yang di gunakan. Mendadak ia merasakan serangan seperti layaknya anak SMA.


Tut..tut...tut...


Terhubung.


.


.


.


Berdering


Dokter Rama.


Menyadari jika panggilan yang masuk berasal dari Dokter Rama, Tari dengan sigap lekas menggeser tombol hijau di sana.


“Assalamualaikum” kompak keduanya saling berucap.


Diam dan hening kembali menyapa. Hanya suara angin malam dan beberapa binatang yang terdengar saling bersahutan.


“Eh maaf” ucap Rama.


“Iya”


“Itu” lagi-lagi keduanya berbicara dalam waktu yang bersaman.


“Kamu saja dulu” ucap Rama.


“Tidak Mas Rama saja dulu”


“Ladies first”


“Hah baiklah, itu mas mau kasih tahu untuk bajunya besok di acara sekolah Risma pakai baju warna biru muda. Mas Rama adakah? Jika tidak ada biar aku yang mencocokan bajunya nanti”


“Hem ada kok. Aku baru saja ingin tanya hal ini padamu”


Hening kembali, entah mengapa percakapan mereka beberapa waktu ini menjadi sedikit kikuk seakan sedang ada pembatas yang tidak bisa di jelaskan.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu, selamat malam, selamat beristirahat” pamit Rama.


“Selamat malam juga” jawab Tari.


Rama lekas menutup sambungan telfonnya. Ia melemparkan ponselnya di atas ranjang.


 tanpa ia sadari ia meloncat-loncat kegirangan, Rama sendri tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi padanya. Hanya saja saat dekat dengan Tari jantungnya bekerja lebih keras dari biasanya. Dan jika berdekatan dengan Risma separuh dari jiwanya terasa kembali.


Malam itu Rama tidak langsung tertidur. Ia lebih memilih membuka isi lemarinya, mencari kemeja warna biru sesuai yang di minta Tari. Ada tujuh kemeja dengan warna yang sama. Rama mencoba satu persatu kemeja tersenut. Hanya ingin terlihat sempurna di hadapan Risma, agar gadis kecil itu tidak kecewa.


“Yang ini aja mungkin” ia mengangkat satu kemeja dan mencobanya.


“Tapi ini warnanya sudah memudar, yang ini saja lah” ia berganti mencoba yang lainnya.


“Tapi kalau ini lengannya sedikit pendek, yang ini saja kalau begitu” seperti itulah yang di lakukan Rama sebelum tidur. Ia kebingungan mencari baju yang cocok.


“Ah andai saja punya istri, pasti aku tidak perlu repot-repot seperti ini” Ia terdiam untuk sesaat kembali membayangkan sesuatu yang indah di benaknya.


.


.


.


Pagi telah tiba, kicauan burung mulai menyapa indahnya dunia. Seorang gadis kecil telah bersiap sejak pagi tadi. Ia di hebohkan dengan riasan yang akan di pakainya. Tak ada sentuhan MUA profesional, semuanya di lakukan sendiri oleh Bundanya. Pagi itu Risma terlihat sangat cantik, ia memakai gaun warna biru muda, dengan panjang yang menjuntai menutupi kakinya. Rambutnya di gelung ke belakang dengan sedikit sentuhan tiara di kepalanya.


Derap langkah kaki mulai terdengar, ia sedikit berlari mengingat waktu yang sudah beranjak siang. Berkali-kali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Assalamualaikum” sapanya ketika mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam” kompak seluruh penghuni rumah itu menjawabnya. Mereka lekas membukakan pintu


untuk Rama. Risma setengah berlari menuju ke arah Rama.


“Maaf ya sedikit telat”


“Tidak Mas, ini masih pagi kok. Maaf ya sudah merindukanmu” ucap Tari merasa tidak enak.


“Aku antarkan Risma dulu ya”


Risma lekas menggandeng tangan Rama, membawanya ke dalam mobil. Tangan kecilnya


melambai-lambai ke arah Tari dan Bu Marni.


.


.


.


Sekolah Risma.


Ini kali pertama Risma datang ke sekolah untuk memperingati hari Ayah bersama dengan seorang pria. Gadis kecil itu begitu percaya diri mengandeng tangan Rama untuk masuk ke dalam kelas. Seakan ingin menunjukan pada semesta jika ia juga mempunyai Ayah selayaknya anak pada umunya.


Kedatangan Rama cukup menyita banyak perhatian wali murid yang ada. Pertama karena ia


menggandeng tangan Risma. Biasanya Risma hanya di dampingi Tari saja setiap acara di sekolah. Namun pagi ini ia datang bersama dengan seorang pria dewasa. Kedua kerena kegantengan yang di milii Rama terbilang di atas rata-rata layaknya hot daddy benget.


Rama mulai mengantarkan Risma hingga ke dalam kelasnya.


“Hay Dimas! Kenalin ini adalah Ayahku!” teriak Risma pada seorang anak pria yang memiliki badan gendut dan berkulit cenderung hitam.


“Kamu lihat kan aku sudah punya Ayah, jadi stop jangan menggangguku” teriaknya khas anak kecil yang sedang sebel pada temannya. Kontan teriakan Risma menyita perhatian yang lainnya.

__ADS_1


“Lihat Ayah, dia itu sering sekali gangguin aku kalau di sekolah”


Dimas menatap Rama dengan takut.


“Mulai sekarang kalian harus saling berteman ya, jangan saling mengejek” ucap Rama


dengan mengelus dua bocah kecil tersebut secara bergantian.


Mohon perhatian, untuk seluruh ayah dari murid kelas satu sampai kelas tiga bisa langsung memasuki ruangan kelas, dan duduk berdampingan dengan putra-putrinya.


Pengumuman dari pengeras suara mulai terdengar, riuh seluruh wali murid lekas berhamburan mencari kelas anak mereka masing-masing.


“Kita mau ngapain sayang” bisik Rama pada Risma saat mereka sudah berada dalam kelas dan duduk berdampingan.


“Kita akan mewarnai nanti setelah hasil mewarnainya sudah selesai. Kita presentasikan di depan kelas”


Mohon perhatiannya hari ini adalah hari Ayah. Semua peserta di mohn untuk mewarnai bersama ayah masing-masing. Lakukan yang terbaik dan jangan lupa selipkan nama kalian beserta ayah di bagian belakang kertas gambarnya.


Seluruh anak-anak sudah bersiap dengan kertas gambar dan pensil warna yang ada dihadapan mereka. Semuanya mulai mewarnai sesuai dengan tema gambar yang telah di tentukan. Risma dan Rama pun demikian, keduanya terlihat sangat antusias dalam acara ini. Sesekali Rama mengelap keringat yang hadir di kening Risma. Hari ini semua anak di perkenankan memakai kostum bebas dan Risma memilih untuk menjadi princes.


Setelah acara mewarnai selesai, di lanjutkan dengan sesi persentasi. Kali ini Risma menggambar sebuah keluarga. Ia menggambar dalam jumlah yang lengkap ada ayah, ibu anak dan juga nenek.


“Risma silahkan nak, apa maksud gambar ini?” tanya seorang guru padanya. Ia menunjukan dalam gambar tersebut mereka saling bergandengan tangan satu sama lain. Dalan gambar tersebut seluruh angkara memakai warna baju pink cenderung putih yang melambangkan sebuah cinta dan kasih sayang serta warna putih yang berarti ketulusan.


“Ini adalah gambar keluargaku. Keluarga adalah awal cerita di mulai dan cinta tiada akhir”


Riuh suara sorakan tepuk tangan menggema di dalam kelas. Mereka yang hadir turut terharu dengan ucapan Risma, ta terkecuali Rama. Ia lekas berdiri dan mengendong Risma yang sedang berdiri di depan sana.


“Ini adalah Ayahku, namanya Dokter Rama” Risma tersenyum dengan begitu bangganya dapat mengenalkan Rama di tengah keramaian.


Suasana kembali riuh, semua saling bersorak. Bisik-bisik mulai terdengar di anatar ali murid yang hadir.


“Pantes saja ya cantik sekali Risma, ternyata Ayahnya seganteng itu, bibit unggul ya”


“Oh ternyata Ayah Risma seorang Dokter ya? Pantes saja tidak perna terlihat sebelumnya. Pasti sibuk sekali Ayahnya”


“Aku kira dulu Risma tak punya Ayah lo” rentetan perbincangan wali murid mulai mengudara di telinga, maklum Tari begitu membatasi interaksi dengan mereka. Ia terlampau sibuk untuk mencari uang.


Juara tiga lomba mewarnai adalah Nimas Sabrina dari kelas 1-B. Juara dua adalah Alvin Sanjaya dari kelas 1-A. Dan juara satu adalah Kharisma Nur Laila dari kelas 1-C. Silahkan nama-nama yang di panggil bergegas untuk maju ke depan menerima hadiah yang telah kami siapkan.


Tiga murid yang di panggil naman ya sudah berlari ke depan, mereka berbaris dengan sangat rapi sesuai dengan arahan gurunya. Ibu kepala sekolah mulai bersiap memberikan hadian piala pada masing-masing pemenang. Setelah pembagian hadian dan acara foto bersama, Risma lekas berhamburan menuju ke arah Rama. Di sambut dengan Rama yang merentangkan kedua tangan tersenyum pada sang anak.


“Ayah terimakasih yam sudah bantuin aku mewarnai hari ini. Setelah ini apa aku masih boleh memanggul Ayah?” tanya Risma, ia menunjukan piala tersebut pada Rama.


“Tentu saja boleh. Kamu bisa panggil aku Ayah selamanya. Sekarang kita foto duku ya” Rama mengambil ponsel dari saku celananya, membidik beberapa gambar dirinya dan Risma pagi itu.


.


.


.


“Bunda, aku menang. Bunda aku juara” teriak Risma dari halaman depan sekolahnya ketika menyadari jika Tari juga turut hadir di sana. Tari sengaja tidak berangkat bersama tadi, mengingat harus mengantarkan beberapa pesanan terlebih dahulu.


Risma yang begitu antusias denan kemenangan dan kehadiran Bundanya tidak melihat sekitar. Ia berlari begitu saja dengan membawa piala dan hadiahnya ya di tangan. Sementara Rama, pria itu sedang ijin untuk ke kamar mandi sebentar.


“Risma jangan lari nak, tunggu di situ. Biar Bunda yang ke sana” teriak Tari dari kejauhan.


Risma tak menghiraukan, ia masih berlari dengan begitu kencangnya.


“Risma awas!” Tari berteriak sangat kencang, ia juga berlari sekuat tenaga.


“Risma...”

__ADS_1


Bug....


__ADS_2