
Rumah Sakit.
Masih dalam belahan bumi yang sama, seorang wanita dengan balutan daster sederhana warna merah, rambut tergerai panjang harus kembali meringkuk tubuhnya dalam keheningan. Ia benar-benar merasakan sepi dalam hidupnya. Seakan tak ada yang peduli dengan kondisinya saat ini.
Menangis.
Ia kembali menangis meratapi nasib.
“Harus dengan apa lagi aku harus meluluhkan hatimu Mas?, aku sudah melakukan segala macam cara untuk merebut hatimu"
Tangannya kembali terulur, meraih benda pipih yang ada di sebelah ranjangnya, ia kembali mencoba untuk menghubungi sang suami, namun sayangnya masih sama, Randi enggan menjawab panggilannya.
Kini ia duduk bersandar di ranjang rumah sakit, matanya menatap ke arah luar jendela. Melihat langit yang membentang sempurna dengan segala keindahan yang ada, namun entah mengapa tak mampu membuatnya mengukir sedikit senyum kala melihat kebesaran sang Pencipta.
Tok...tok...
Suara ketukan pintu kamar berbunyi, ia menatap ke arah pintu tersebut. Berharap besar jika Randilah yang datang untuk menjenguknya. Sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas membentuk lengkung. Tangannya reflek membenarkan rambut, menyelipkan anak rambut di balik telinga, sengaja ingin memberikan kesan terbaik untuk suaminya.
“Permisi Bu Mawar, dokter akan melakukan USG kembali dalam waktu sepuluh menit, di mohon Bu Mawar untuk bersiap-siap”, Satu perawat perempuan masuk ke dalam kamar dan membenarkan infus yang terpasang di tangan Mawar.
Ia hanya menganggukkan kepalnya saja, tak bisa di pungkiri ia kecewa karena yang datang bukan suaminya, perlahan senyum itu redup seketika.
Sepuluh menit kemudian, perawat kembali datang dan membawa Mawar ke ruang pemeriksaan untuk melakukan USG.
“Bu Mawar bagaimana keadaannya? Apakan ada keluhan?”, sapa ramah seorang Dokter muda yang begitu cantik dengan lemah lembut.
“Tidak Dokter”.
“Baik, saya akan melakukan USG untuk melihat kondisi baby saat ini, silahkan Bu Mawar untuk terlentang terlebih dahulu, saya akan mengoleskan jelnya”.
__ADS_1
Mawar yang di bantu oleh perawat lekas naik ke atas ranjang pasien dan mengikuti semua arahan yang di anjurkan oleh Dokter.
“Suaminya mana Bu?”, suatu kalimat pertanyaan yang menyayat hati bagi Mawar, mengingat statusnya sebagai istri yang tak di anggap, bisa pula di katakan hanya sebagai mesin pencetak anak.
“Suami saya sedang tugas di luar Kota Dokter”, jawabnya dengan menggigit satu bibir bawahnya. Ia ingin marah rasanya kala sama sekali tak mendapat perhatian dari suaminya.
“Kondisi bayinya baik-baik saja Bu Mawar, ini sehat perkembangannya juga sangat baik. Berat badan dan usia kehamilan juga seimbang. Saran dari saya sebaiknya Bu Mawar jangan terlalu stres dan jangan lupa makan yang cukup bergizi, satu lagi sebaiknya Bu Mawar perbanyak minum air putih”. Tukas Dokter tersebut lantas mematikan layar monitor USGnya.
Mawar tak mengucapkan satu katapun, ia hanya menganggukkan kepalnya saja. Perawat mengantarkan ia kembali ke kamar inapnya, membantunya untuk berbaring dan menyelimutinya.
Kini Mawar kembali meraih ponselnya, ia mengirim hasil USG tersebut pada Randi, berharap hati Randi akan sedikit terketuk untuk menjenguknya. Ia mengirim cukup banyak sekali hasil print out USG. Namun sayang alih-alih mendapat perhatian Randi, membaca pesannya saja tidak.
Kini Mawar meremas kasar hasil foto USG ananya dan membuang ke segala arah. “Nyatanya hamil anakmu juga tak bisa meluluhkan hatimu Mas. Segala pengorbananku juga hanya sia-sia di matamu!”. Ia kembali menangis dan memukul-mukul lembut perutnya.
“Mawar ada apa ini nak?”, Bu Srining yang baru saja datang dengan membawa banyak sekali buah harus melihat adegan yang sama sekali tidak ia inginkan.
“Ada apa Mawar, tolong jangan sakiti cucu Mama seperti ini, berhenti menyakiti anakmu!”, Bu Srining memeluk menantu keduanya mencoba untuk menenangkan.
“Mas Randi kemana Ma? Kenapa dia tak pernah lagi datang menjenguk ku?, aku juga berhak atas perhatian dan kasih sayangnya Ma?”, dengan suara yang serak Mawar mengutarakan isi hatinya.
“Nak, mohon bersabarlah. Saat ini Randi dalam posisi yang sulit, ia sedang terluka dengan keadaan yang ada. Mama mohon berilah waktu pada Randi untuk menyelesaikan dulu segala permasalahannya dengan Tari”.
“Ma bagaimana kalau Mas Randi lebih memilih mbak Tari dan menceraikanku”.
“Tidak, itu semua tidak mungkin. Aku tidak akan pernah mengizinkan semua itu terjadi. Kamu punya ini sebagai pengikat antara Randi dan juga kamu, jadi Mama mohon jaga dia baik-baik jika kamu memang menginginkan bisa hidup bersama Randi selamanya”. Satu tangan Bu Srining terulur lembut membelai perut Mawar yang mulai berisi.
Kini tangan Mawar pun membeli perutnya, “Iya benar, anak ini adalah salah satu pengingat aku dan mas Randi, aku harus menjaga dan melahirkannya, dengan begitu mas Randi akan selamanya berada dalam genggamanku”. ucapnya dalam hati dengan tersenyum penuh kemenangan sekaan ia akan dapat memiliki Randi seutuhnya.
“Tapi Ma, tolong beri tahu Mas Randi, jika aku dan anaknya sangat merindukannya. Terutama anak ini dia rindu dengan belaian lembut ayahnya”.
__ADS_1
Bu Srining kembali menganggukkan kepalanya, “sudah sebaiknya sekarang kamu makan yang banyak demi kesehatan anak kamu”.
Kini Bu Srining mengupaskan jeruk untuk Mawar, menurut Bu Srining rang hamil biasanya suka makanan yang sedikit masam.
***
Rumah Ibu.
Semenjak kepergian Tari tadi pagi, tak dapat di pungkiri Ibu begitu gelisah memikirkan keadaan anaknya, ia sungguh sangat takut sesuatu yang buruk sedang terjadi pada anaknya. Berkali-kali Ibu keluar masuk rumahnya menanti kehadiran sang anak.
Benar adanya jika Tari berpamitan hendak liburan dengan suaminya, tapi Ibu juga mengetahui jika itu semua hanya bualan semata untuk menutupi masalah yang ada.
“Nek, Bunda dan ayah kapan pulangnya?”, suara Risma membuyarkan lamunan Bu Marni yang berada di teras depan rumahnya.
“Sabar ya sayang, kita tunggu dulu, Risma nenek boleh tanya sesuatu?”.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalnya.
“Tapi Risma harus jujur sama nenek, kalau tidak jujur itu namanya dosa, kalau dosa nanti Allah marah, janjinya!”, ucap Bu marni dengan lembut ingin mencoba menggali informasi dari Risma.
“Iya Risma janji tidak akan bohong nek”, gadis kecil itu menunjukan jari kelingkingnya dan mengikatnya pada Bu Marni.
“Apa Risma pernah melihat Bunda menangis?”, Bu Srining menatap lembut mata Risma, ia mencoba mencari kebenaran yang ada.
Mata Risma mulai berkaca-kaca ingin menangis.
“Lho kenapa menangis? Jangan takut nenek tidak marah, nenek janji tidak akan bilang sama Bunda”. Bu Srining membelai lembut rambut Risma, memberikan kenyamanan di sana.
“Iya nek, kemari di rumah sakit Bunda dan Ayah menangis terus, Bunda juga teriak-teriak sama Ayah”, Tukasnya lirih dan takut.
__ADS_1
DEG