Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Randi dan Rama?


__ADS_3

Seperti halnya Risma, sudah seminggu lebih Bu Srining di izinkan pulang oleh Dokter Rama.


Ia hanya menjalankan terapi seminggu dua kali ke rumah sakit untuk memperlancar jalannya. Tangan dingin Rama memang memberi banyak kemajuan perkembangan Bu Srining. Selain cara berjalannya yang sudah mulai membaik, cara berbicaranya juga sudah semakin jelas. Randi memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang tak jauh dari kediaman Tari.


Ia sengaja melakukan itu semua untuk memudahkan Bu Srining berobat serta agar


dapat memantau semua kegiatan yang di lakukan Tari berikut Risma di sana. Setiap pagi ia slalu mengitari rumah Tari, berharap wanita itu akan keluar rumahnya, walau Randi hanya ingin sekedar melihat wajah mantan istrinya. Sayang


semua itu sia-sia. Randi tak pernah mendapatkan moment saat Tari sedang keluar dari rumahnya.


Namun pagi itu, rezeki sedang berpihak pada Randi, pria tersebut berseliweran di depan rumah Tari. Matanya memindai sekitar pekarangan rumah, masih dengan harapan yang sama untuk bisa melihat anak dan istrinya. Randi menepikan sepeda motornya dan duduk di motor tersebut.


“Hah itu mereka!” pekiknya ketika melihat Tari dan Risma yang baru saja keluar dari rumah. Keduanya hendak berangkat ke sekolah. Tanpa pikir panjang Randi lekas melajukan motornya menuju pekarangan rumah Tari.


Tin..tin..tin...


Tak berselang lama, Rama pun turut masuk ke dalam halaman rumah Tari. Seperti biasah pria itu lekas memarkirkan mobilnya di sisi kanan halaman.


“Kamu” ucap keduanya secara bersamaan ketika berada di halaman rumah Tari.


“Ngapain ke sini?” masih dalam kekompakan keduanya bertanya.


“Mau jemput anakku berangkat sekolah lah” jawab Randi


“Kamu ngapain juga ke sini?” ketika berada di luar area rumah sakit, Randi tidak berkenan untuk memanggil Rama dengan sebutan Dokter.


“Mau jemput Risma juga, dia memang kalau berangkat sama saya”


“Harusnya sama saya, saya kan Ayahnya” ucap Randi tak terima.


“Tapi saya juga Ayahnya” Rama pun tak mau kalah akan hal itu.


“Saya yang lebih dulu berangkat ke sini”


“Tapi sayang yang lebih berhak atas anakku. Lagian sekalian saya ke rumah sakit” pekik Rama masih tak terima.


Tari dan Risma masih diam di depan pintu ruang tamu, ia menatap Bundanya seakan ingin mengetahui jawaban harus berangkat dengan siapa malam itu.


“Sini nak biar Ayah yang bawa tasnya” ucap Rama meraih tas yang ada di punggung Risma.


“Jangan nak, biar Ayah saja yang mengantarkan, Risma suka kan naik motor? Biar kira bisa lihat jalanan dan menghirup udara segar” tangan Randi terulur untuk menarik ringan lengan Risma.


Pagi yang ricuh keduanya terlibat dalam aksi saling memaksa untuk mengantarkan


Risma berangkat ke sekolah. Tari tampak menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan


Risma tidak terluka dengan adegan yang ada.


“Cukup!” pekiknya dengan keras, sontak membuat Rama dan Randi mengehentikan tingkah mereka.


“Kita akan berangkat sendiri. Ayo nak kita berangkat, kita naik taxi on line saja”


Tari lekas menggandeng tangan anaknya dan berjalan menuju gang depan untuk menunggu


taxi on line.


“Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh anak dan istriku!” ucap Randi

__ADS_1


ketika Tari sudah berlalu meninggalkan mereka.


“Mantan!” jawab Rama tak terima. Beberapa saat kemudian keduanya memutuskan untuk kembali


ke tujuan masing-masing. Rama menuju rumah sakit dan Randi membelikan sarapan untuk bu Srining.


****


Sewaktu di rumah sakit Rama telah berjanji pada Risma untuk membawanya jalan-jalan ketika luka di tangannya sudah membaik. Malam itu bertepatan dengan malam minggu Rama menepati janjinya. Selepas sholat magrib ia lekas berangkat ke rumah Tari untuk menjemput dua wanita yang sudah singgah di hatinya.


“Kita mau ke mana Mas?” tanya Tari memastikan ketika keduanya sudah berjalan lebih dari lima belas menit dalam mobil.


“Aku mau ke sana Ayah” belum sempat Rama memberikan jawaban Risma sudah menunjuk


sebuah pasar rakyat yang letaknya tak jauh dari tempat mereka saat ini.


“Kamu mau ke sana sayang?”


Risma dengan sigap menganggukkan kepalanya. “kalau Bundanya bagaimana?”


“Aku terserah saja Mas”


“Baiklah kita ke sana”


Tari memang tak memberikan jarak antara Rama dan Risma, ia tak pernah membatasi


pertemuan mereka. Bagaimanapun juga Rama paling berhak atas anaknya, ia bahkan


berkali-kali mengucap rasa syukur ketika pria itu tak meminta hak asuh atas putri kandungnya dan memberi kesempatan padanya untuk bisa merawat.


Rama mulai mengikuti arahan tukang parkir untuk mencari lahan kosong sebagai media


Terdapat banyak muda-mudi dan pasangan orang tua muda yang menghabiskan malam minggu di sana. Ada yang sekedar jalan-jalan ada yang senagaja ingin menikmati street food ataupun menikmati mainan anak-anak di sana.


“Kok aku baru tahu kalau ada acara seperti ini di sini?” ucap Tari, dengan memandang sekitar area yang tampak ramai sekali, gemerlap lampu warna-warni mendominasi kegelapan.


“Ini kan acara tahunan Tar, tahun lalu kita makan nasi pecel di sana bersama ibu juga. Kami ingat tidak?”


“Ah iya mas, aku lupa” jawab Tari dengan tersenyum kuda, rupanya Rama masih mengingat moment setahun yang lalu, saat ibu dengan senagaja meninggalkan mereka hanya berdua untuk makan malam.


Rama lekas menarik tangan Risma dan menggandengnya, ketiganya berjalan dengan pelan dan saling beriringan.


“Bunda gandeng juga dong tanganku yang sebelah sini”


“Oh baiklah nak”


Jalanan di area pasar rakyat terbilang sangat padat malam itu, walau waktu masih terkesan sore tapi pengunjung sudah berdatangan dan semakin bertambah seiring waktu berganti malam.


Ketika sudah memasuki area bazar terdapat banyak sekali makanan, pakaian, pernak-pernik


Suvenir yang di buat oleh UMKM.


“Risma mau beli apa sayang?”


“Aku mau ice cream”


“Bundanya mau apa?” tanya Rama dengan menatap sekilas ke arah Tari.

__ADS_1


“Apa saja mas, terserah kamu”


Risma mulai menuju salah satu stand makanan yang menjual beraneka seafood dan juga


kue-kue ringan. Ia memilih semua yang terlihat menarik malam itu.


“Sayang jangan banyak-banyak nanti tidak habis” desis Tari berbisik pelan pada anaknya.


“Biarlah Tar, aku belum pernah untuk menyenangkan seperti ini. Biarlah aku menebus waktu dan kasih sayangku padanya” Rama berbicara dengan pelan. Sungguh Tari, merasa


tidak enak karena Rama sana sekali tidak memperkenankan Tari untuk mengeluarkan


uang sedikit pun atas biaya Risma.


Setelah membeli banyak sekali makanan dan minuman, ketiganya melanjutkan langkah untuk


mengitari bazar. Tangan kanan dan kiri Rama maupun Tari sudah penuh dengan kantong plastik bersisi jajanan dan mainan Risma.


“Risma”


Seseorang memanggil Risma, sontak membuat gadis kecil itu menoleh ke sumber suara.


Ada Randi yang berdiri tak jauh dari sana, ia sedang berdiri dengan beberapa teman laki-laki lainnya. Randi lekas menghampiri Risma dan Tari, seketika membuat mood Rama langsung memburuk.


“Wah anak ayah sedang di sini juga rupanya? Jalan-jalan ya?” tanya pada Risma dengan


sedikit menundukan badannya.


“Jalan-jalan sekalian nemenin Ayah Bunda kencan” jawab Rama dengan cepat saat itu juga.


Risma mendongak menatap ke arah Rama. Gadis kecil itu sekaan sedang ingin bertanya apa maksud dari kata kencan.


“Maaf tapi saya sedang berbicara dengan anak saya” ucap Randi dengan ketus.


“Anakku! Kau hanya memperalat anakku untuk mendekati Tari bukan?” bisik Rama di telinga


Randi.


“Risma sini nak biar ayah yang gandeng”


“Jangan biar sama ayah saja yan nak”


“Hah, biar kami berjalan sendiri saja” Tari geram dengan keadaan yang ada, slalu sajabegini jika keduanya terlibat dalam satu tempat yang sama.


“Risma mau beli jajan nak? Atau mau beli mainan?” tanya Randi yang masih berjalan


membungkuk guna mengambil hati anaknya.


“Kamu tidak lihat ini semua makanan dan mainan Risma” pekik Rama yang tak terima.


Kini Rama dan Randi mengikuti Tari dan Risma dari belakang. Sesekali mereka saling mendorong satu sama lain dengan bahu mereka.


Tari mulai kesal dengan tingkah keduanya.


“Mas Randi cukup ya. Maaf, tapi hari ini Risma lebih dulu sudah ada janji dengan mas


Rama. Kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari bahkan sebelum Risma keluar drai rumah sakit. Aku harap mas Randi bisa mengerti”

__ADS_1


“Tapi Tar”


__ADS_2