
“CERAIKAN AKU”, ia kembali mengulang satu kata keramat yang pantang di sebut sebelumnya. Berat sekali bagi Tari untuk mengucapkan kata cerai, namu mengingat penghianatan yang di lakukan suaminya, Tari tak sanggup, ia tak kan sanggup menerimanya.
“Sayang”, Desis Randi dengan kepilauan yang mendera.
“Aku tidak mau untuk berbagi, kamu tahu itu!, apa hanya karena aku belum bisa memberimu anak Mas?, mengapa? Mengapa harus Mawar orang yang aku kenal dengan baik?, mengapa? Mengapa kalian semua tega"
“Sayang tidak seperti itu, semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan”. Randi mencoba merengkuh istrinya membawa dalam dekapan hangatnya.
Namun sayang, tangan Tari, dengan sigap menepis uluran tangan Randi dan semakin menjauh dari tubuh suaminya.
“Apa salah jika aku belum bisa memberimu seorang anak? Itu semua di luar kuasaku!, aku sudah berusaha kamu tahu itu!”.
Hiks...hiks...hiks....
Tari kembali menangis sesenggukan, kini ia melepas semua rasa yang ada, tak peduli dengan pandangan orang sekitar yang melihatnya. Yang ia rasakan hanya satu kecewa dan sakit hati yang tiada tara.
“Sakit, sakit sekali rasanya”. Air matanya kembali meluruh, dadanya benar-benar terasa penuh ia seakan kehilangan tumpuan untuk berpijak, dadanya benar-benar sudah goyah dan ingin meledak.
“Sayang berhentilah, tolong jangan seperti ini maafkan aku Tari”. Randi kembali bersimpuh di hadapan istrinya, mereka berdua sama-sama sedang menangis.
“Aku terpaksa sayang, Mama terus mendesak ku untuk menikah’i Mawar, sungguh semua ini bukan inginku”.
“Jangan membawa-bawa Mama, dalam kesalahan yang telah kamu buat sendiri Mas”.
“Aku terpaksa sayang, jika Mama tidak memaksaku sepanjang waktu aku juga tidak akan melakukan ini. Aku tidak akan pernah menikahi Mawar maupun wanita lainnya. Dengan keadaanmu yang mampu memberikan aku anak atau tidak, aku tidak peduli. Tapi karena kamu mandul, Mama menyuruhku untuk....”. Randi menjeda ucapannya, ia baru tersadar dengan apa yang telah di ucapkannya beberapa detik yang lalu.
Tari begitu terkejut mendengar penuturan suaminya, matanya terbuka dengan sempurna, kala mendengar satu kalimat yang sangat menyakitkan itu.
“Apa kamu bilang?”,
Randi tak sanggup untuk menjawab, ia hanya mampu menatap istrinya dengan air mata yang berlinang.
“Katakan sekali lagi, apa yang kamu ucapkan tadi Mas!”, kini tangan Tari menarik paksa baju Randi.
__ADS_1
“Aku apa?”, suara Tari melemah namun air matanya masih setia hadir membasahi pipinya.
Tari mengambil nafas panjang, menunggu jawaban dari Randi. Sementara Randi kini juga menangis, ia kembali menarik Tari dan memeluknya dengan erat, Randi kembali mengucapkan kata-kata maaf untuk istinya.
“Maafkan aku sayang”. Lirih, suaranya benar-benar lirih dan nyaris tak terdengar.
“Maafkan aku sayang, aku menyembunyikan fakta ini. Aku tak ingin membuatmu sedih dengan keadaan yang ada”.
“Tapi kamu sekarang membunuhku’’. Desis Tari dengan rintihan yang semakin membuat Randi tak berdaya dengan keadaan.
“Kamu sudah menipuku, kamu menyusun semuanya dengan begitu rapi. Kamu jahat, benar-benar jahat. Kamu adalah orang paling jahat yang pernah aku temui selama hidupku”.
“Aku membencimu Randi, aku sangat membencimu”. Teriak Tari dengan begitu kerasnya tepat berada di depan wajah Randi. Ini adalah pertama kalinya Tari memanggil suaminya dengan sebuah nama.
Randi tak mampu memberikan jawaban apapun, ia menyadari jika ia bersalah dan telah salah langkah.
“Aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk memilih, karena aku yang akan mundur dalam cerita ini!”. Tukasnya dengan berlari meninggalkan Randi.
Tari berlari ke segala arah tanpa tujuan, ia menangis sesenggukan setelah mengetahui fakta yang ada tentang dirinya. Wajahnya mendongak menatap langit seolah sedang bercerita pada sang Pencipta jika hatinya sedang kecewa dan terluka.
Ia berhenti di tengah-tengah hamparan rerumputan hijau sebelah waduk, tiba-tiba ia merasakan kakinya hilang keseimbangan, kepalanya berputar dengan sangat kencang. Warna langit berubah menjadi hitam pekat. Beberapa detik kemudian....
Bruk...
Tari terjatuh, tubuhnya terkapar lemas di atas tanah dengan dress yang mengembang sempurna menutup tubuhnya.
“Sayang”. Teriak Randi kala melihat istrinya sudah tidak sadarkan diri, ia berlari sangat kencang mendekat istrinya. Keringat bercucuran di kening dan juga bajunya.
“Sayang....”, ucapnya lirih dengan menepuk-nepuk pipi istrinya.
Sayu dan pucat tergambar sempurna dalam guratan wajah Bethari Ambarwati.
Menyadari kondisi istrinya yang tak lekas membuka mata, membuat Randi panik dengan keadaan yanga ada. Ia lekas menggendong istrinya, membawa dalam dekapannya menuju mobil.
__ADS_1
Randi menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh membelah padatnya jalanan, ia akan membawa Tari pulang ke rumahnya, karena tidak ingin membuat Ibu mertuanya khawatir dengan keadaan yang ada.
Sepanjang perjalanan Randi begitu cemas, ia berkali-kali melirik keadaan istrinya yang terkulai lemas dan tak berdaya. Randi semakin panik kala mendapati tangan Tari yang begitu dingin dan wajah yang semakin pucat.
Segala do’a ia baca memohon keselamatan dan kesehatan untuk istri tercinta.
Randi kembali menjalankan mobilnya dengan cepat, ia membunyikan klakson berkali-kali kala sampai di depan pagar rumahnya, dengan sigap satpam rumah lekas membukakan pintu.
Dengan rasa cemas yang tiada tara, Randi menggendong istrinya dan membawanya ke kamar, ia membaringkan dengan cukup pelan tubuh Tari di atas kasur. Mengoleskan minyak angin hampir di seluruh tubuh Tari. Ia menggenggam lembut jari-jari mungil istrinya.
“Sayang bangunlah, aku mohon. Katakan bagian tubuhmu mana yang terasa sakit?”, Hiks...hiks....hiks...suara Randi melemah ia turut menangis melihat kondisi istrinya yang tak kunjung membuka mata.
***
Rumah Randi.
Bu Srining menatap dari balik pintu kamar Randi keadaan Tari, ia tak berani untuk mendekat karena Randi dengan tegas melarangnya untuk mendekat pada istrinya. Bu Srining menatap anak dan menantunya dengan perasaan yang tercabik-cabik, ia seolah ikut merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Tari dan juga Randi.
Menyesal.
Akan suatu tindakan yang ia paksakan untuk membuat puranya bahagia.. Nyatanya Randi tidak bahagia ia bahkan semakin menderita dengan keadaan yang ada.
Menangis.
Benar, Bu Srining turut menangisi cerita mereka, ini adalah satu keputusan yang salah yang telah ia ambil.
Hancur.
Jangan di tanya, hati seorang Ibu mana yang tak hancur kala melihat anaknya sedang terluka dan bersedih, terlebih luka itu ia sendiri yang ciptakan. Sudut mata Bu Srining kembali berair, ia mengusap lembut denan ujung jarinya.
“Randi, Tari maafkan Mama yang sudah membuat kalian harus seperti ini”, desisnya lirih.
Sepasang kaki yang tak lagi muda itu mulai memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar anaknya, meski Randi sudah memperingatkan dengan keras. Ia datang dengan membawa satu gelas teh angat untuk menantunya yang masih tak kunjung sadarkan diri.
__ADS_1
“Aku sudah katakan, jangan mendekat’i istriku”. Ucap Randi dengan begitu dingin tanpa melihat wajahnya.