Duri Dalam Keluarga

Duri Dalam Keluarga
Tentang Senja


__ADS_3

Mas....


Mas ini sudah pagi, sudah saatnya aku kembali. Tuhan sudah menungguku di sana. Aku lelah untuk berjuang, tolong lepaskan aku dalam rengkuhan mu.


Mas...


Pagi sudah kembali, ijinkan senja untuk pulang. Aku janji akan datang kembali suatu saat nanti. Jika aku tak kembali dalam wujud lamaku, mungkin aku akan kembali dengan bagian dalam hidupku yang lainnya.


Mas....


Lepaskan aku, ku mohon. Lepaskan semua alat yang menempel di tubuhku ini. Aku ta sanggup lagi untuk bertahan. Aku merindu sang pencipta.


Mas....


Rengkuh aku dalam segenap do’a yang terhela dalam nafasmu. Ku titipkan bidadari kecil ini padamu sebagai pelipur lara dan teman menghabiskan harimu tanpamu.


Mas bangun...


Aku pamit.


“Om kenapa menangis?” lagi-lagi Risma, menggoyangkan tubuh Rama dengan pelan. Mereka masih dalam posisi yang sama. Duduk saling berdampingan dan sedikit mencondongkan tubuh untuk saling berhadapan.


“Om lagi sedih ya?” Risma mengusap genangan bening, yang hampir tumpah dari pelupuk mata pria dewasa itu.


“Oh, tidak-tidak. Maafkan Om. Om tadi hanya sedang mengingat seseorang saja”


“Seseorang? Siapa Om?”


“Istri Om dulu”


“Yah jadi Om, sudah punya istri ya” mendadak Risma menundukan kepalanya. Gadis kecil itu menunjukan guratan wajah yang sedih. Asanya untuk bisa memiliki Rama sebagai Ayah telah kandas. Ia tak mungkin meminta seseorang yang sudah beristri untuk menjadi pendamping Bundanya.


“Kamu kenapa?”


Risma tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala dengan manyun.


“Istri Om Rama tinggal di mana? Aku tidak pernah tahu. Pasti dia cantik sekali ya Om” Risma menerka-nerka, ia sedang membandingkan kecantikan sang bunda dengan istri Om Rama.


“Aku boleh lihat fotonya” Ia mendongak dengan tatapan memohon.


Tanpa pikir panjang Rama, lekas meraih dompet yang ada di saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kertas berukuran sangat kecil. Terselip di bagian paling depan dompetnya. Seorang wanita yang berjilbab putih dengan balutan abaya warna putih.


“Cantik sekali Om” Puji Risma dengan jujur saat itu.


“Iya cantik, seperti kamu” Rama kembali menatap wajah Risma dengan dalam.


“Tapi aku tidak pernah melihat tante ini di sini Om. Tante tinggal di mana?”


“Surga” jawabannya dengan tersenyum, namun pelupuk matanya tergenang air dan nyaris tumpah kembali.


Rama dan Risma terdiam. Entah mengapa gadis kecil itu mendadak berubah menjadi dewasa, Rama selayaknya sedang berbincang dengan seseorang yang mampu mengerti isi hatinya.


Terdiam.


Suasana kembali hening. Keduanya saling menatap indahnya senja yang ada di depan mata, tanpa kata dan tanpa suara.

__ADS_1


Diam.


Hanya diam saja. Hingga helaan nafas masing-masing dapat saling terdengar. Risma pun merasa sedih. Untuk pertama kalinya ia merasakan sedih ketika melihat foto orang yang tak di kenalnya, terlebih orang itu sudah tidak ada.


“Hay, Om ngajak Risma jalan-jalan bukan untuk bersedih, jadi sekarang mari kita bersenang-senang” terang Rama. Ia bangkit dari tempat duduknya. Mulai menggelitik dengan pelan punggung Risma, ia juga mengambil bandana yang tersimpan di atas hijabnya.


“Hayo ambil kalau bisa”


Keduanya saling tertawa dan mengejar saat itu, seakan perbincangan yang baru saja terucap tidak ada.


“Kamu mau gak Om buatin bandana?”


“Emang bisa?”


“Bisa dong”


Rama mengambil salah satu jenis tanaman yang memiliki tangkai panjang sekali. Ia menata satu persatu tangkai dan bunga tersebut dengan pelan dan rapi hingga menghasilkan sebuah bandana yang sangat cantik.


“Kamu suka?”


“Suka sekali Om. Warnanya bagus, bunganya juga cantik”


“Iya cantik, kalau yang pakai kamu. Kalau yang pakai Om nanti jadi cowok tak bertulang” Rama mencoba untuk memperagakan diri selayaknya wanita jadi-jadian.


Lembayung senja mulai memudar, ia pergi bersama dengan sang waktu. Tenggelam dalam gelapnya malam. Sejurus kemudian gemerlap bintang mulai saling menampakan sinarnya. Sayup-sayup suara azan mulai menggema dari segala penjuru yang ada. Risma dan Rama tenggelam menikmati senja yang indah saling bercengkrama dan bertukar cerita. Membagi beberapa kisah lucu yang ada di hidup mereka.


“Kita sholat dulu ya. Setelah sholat kita cari makan. Kamu pasti sudah lapar” instruksi Rama dengan mengandeng tangan Risma. Keduanya sedang berjalan menuju salah satu masjid besar yang ada di bagian depan perumahan.


“Biar Om, yang bawakan tasnya. Risma bisa sholat sendiri?”


Gadis kecil itu mengangguk sebagai tanda jawaban dari pertanyaan Rama.


“Bunda sudah mengajari aku sholat sejak kecil Om” Jawabnya kemudian dengan yakin.


Lagi-lagi Rama, di buat kagum dengan Tari. Sebagai orang tua tunggal, ia begitu pandai dalam mendidik anak. Tidak hanya dalam bidang akademis. Tari juga menjunjung tinggi nilai agama dan tata krama dalam membimbing anaknya. Keduanya terpisah dalam bilik yang berbeda, untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah.


“Makan dulu yuk, Risma mau makan apa?”


“Hem apa ya?”


“Terserah Om Rama saja”


“Kalau kita makan ayam krispi bagaimana?”


“Ok siap”


Malam itu, Rama sedang menikmati harinya bersama Risma. Ia sekaan merasakan terjun langsung menjadi seorang ayah. Berkali-kali hatinya berdebar ketika tangan mereka saling bergandengan dan sesekali Rama menggendongnya. Rama juga menyempatkan diri untuk bisa menyuapi anak kecil itu.


“Om aku mau naik itu” tunjuk Risma ketika melihat bombomcar yang ada di time zone.


“Siap Tuan putri” tak perlu menunggu lama. Rama lekas menuruti semua yang di minta Risma. Rama mengambil kendali untuk menentukan arah permainan mereka. Riuh suarakan antara senang dan takut berkolaborasi menjadi satu.


Aaaaaa


“Pegangan Risma” ucap Rama ketika motor mereka saling bertabrakan satu sama lain dengan pengunjung yang lainnya.

__ADS_1


Huh..huh...huh...


Nafas Risma terengah-engah setelah berkali berteriak-teriak dengan keras. Keringatnya bercucuran membasahi hijab kecilnya. Sementara tangannya masih berpegang erat pada lengan Rama.


“Sudah selesai” Rama menepuk-nepuk punggung Risma yang bersembunyi di balik lengannya.


“Cepek ya? Kita beli minum lagi ya?” Rama memilih untuk menggendong Risma, membawanya ke ford card untuk mencari minuman dan beberapa cemilan kecil lainnya.


Srup...srup...


“Silahkan tuan putri ice cream nya” Rama meletakan satu cap besar ice cream tepat di hadapan Risma.


“Terima kasih Om. Hari ini aku senang sekali bisa makan banyak jajanan”


“Sungguh?”


Risma menganggukkan kepala, tanpa melihat Rama. Ia sedang sibuk menikmati ice cream yang ada di hadapannya.


“Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya Om. Tapi aku mau ajak Bunda. Bolehkan?”


“Tentu saja boleh. Risma kapan saja mau jalan-jalan. Om Rama siap menemani selama tidak bersamaan dengan waktu praktek di rumah sakit”


*****


Langit sudah berubah menjadi gelap, deretan bintang saling bertaburan di atas gelapnya malam. Bethari duduk teras rumahnya, tangannya memegang benda pipih menunggu kabar kepulangan sang putri. Waktu sudah menunjukan lebih dari pukul delapan malam. Namun Risma ta kunjung untuk pulang.


Tak dapat di pungkiri hatinya cemas. Semburat wajah khawatir melekat erat di raut wajah cantiknya. Ia berkali-kali berdiri dari tempat duduknya, mendongak menatap jalanan malam. Berharap anaknya muncul dari kegelapan. Sekalipun sudah meminta izin, tapi ini adalah kali pertama Risma pergi dalam waktu yang lama tanpa dia.


“Sudahlah, masuk saja dulu Tar. Aku yakin Risma baik-baik saja. Bukankah dia pergi sama Rama. Ibu yakin Rama pasti menjaga baik-baik anakmu”


“Tapi Bu, ini sudah malam sekali”


“Baru jam delapan, sebentar lagi pasti pulang” celoteh ibu dengan mengandeng Tari. Membawanya masuk ke dalam rumah mereka.


Tin...tin...tin...


Tak berselang lama, deru suara mobil mulai terdengar memasuki pekarangan rumah Bu Marni. Rama lekas membukakan mobil dan berusaha untuk membangunkan Risma. Ia menepuk-nepuk dengan pelan pipi gadis kecil itu namun sayang ia tak kunjung membuka matanya. Karena tak tega Rama memilih untuk mengangkat Risma dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Assalamu'alaikum” ucapnya kemudian ketika berada di ambang pintu. Tari dan Bu Marni lekas segera berlari menuju sumber suara untuk melihat siapa yang datang.


“Wassalamualaikum. Astaga Risma ketiduran?” tanya Tari ketika melihat anaknya sedang menutup mata.


“Dimana kamarnya?”


“Di sana” Tari menunjukan sebuah kamar kecil yang bernuansa pink di samping kamar tidurnya.


“Mari mas, saya antar” Rama lekas mengikuti arah jalan Tari. Ia merebahkan tubuh Risma degan pelan di atas ranjang. Lalu menyelimutinya.


“Maaf ya mas, jadi merepotkan seperti ini” ucap Tari merasa tidak enak.


“Tidak papa. Risma anak yang manis dia sama sekali tida rewel. Aku senang sekali bisa menikmati hari dengan dia. Kapan-kapan bolehlah ya aku pinjem lagi anaknya untuk jalan-jalan” izin Rama kemudian. Mereka masih berdiri di sisi ranjang Risma.


“Iya boleh”


“Sekalian bawa Bundanya juga boleh nak Rama” ucap Ibu, yang tidak sengaja mendengar obralan anaknya.

__ADS_1


“Yeye jalan-jalan sama bunda dan Om Rama” teriak Risma dengan membuka matanya. Ia menggerak-gerakkan tangannya ke atas saat itu juga. Sontak membuat Tari dan Rama menatap secara bersamaan padanya.


“Risma!”


__ADS_2