
Satu bulan kemudian.
“Bu, aku takut" desisnya dengan lirih matanya menatap pada Bu Marni mengharap sebuah kekuatan di sana.
“Tenanglah nak, semua akan baik-baik saja. Percayakan pada yang maha kuasa"
"Lihatlah Bu, bahkan degup jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Apakah memang seperti ini perasaan orang yang akan menikah?"
“Kenapa nak? kamu takut atau kamu ragu dengan pilihanmu sendiri? ibu harap pernikahan ini membawa kebahagian untuk hidup kalian nantinya"
“Aku hanya gugup bu. Aku sepenuhnya yakin akan mas Randi"
“Tenanglah nak, semua akan baik-baik saja. Randi pria yang baik. ia begitu mencintai keluarga terutama orang tuanya, sejauh yang ibu lihat ia begitu taat dan berbakti pada kedua orang tuanya"
"Aku takut kisah lama seperti kehidupan Mbah kembali terulang Bu"
"Tenanglah nak, tidak semua lelaki memiliki sikap seperti Mbah mu. Ibu pun berharap Randi adalah pria yang setia"
Benar saja, syarat mutlak yang harus ada dalam kriteria suami Bethari adalah setia. Tari begitu trauma dengan perselingkuhan yang dilakukan sang mbah dulu ketika masih muda, yang berakibat pada runyamnya kehidupan keluarga dan kacaunya keuangan mereka hingga saat ini, sehingga Tari harus menanggung semuanya.
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan sekaligus istimewa untuk keluarga Tari dan Randi. Dimana hari ini adalah hari penyatuan dua insan dalam satu ikatan yang sakral dan suci bagi mereka berdua.
Tari begitu bersyukur berjodoh dengan Randi, meskipun mereka saling mengenal tidak terlalu lama, namun semua perilaku Randi menunjukan hal yang baik dan memiliki ketertarikan tersendiri bagi Tari. Tari juga begitu mengagumi sosok Randi bahkan jauh sebelum Randi melamarnya, hanya saja kekaguman Tari pada Randi tersimpan manis di dalam dada tak mungkin berani untuk mengungkapkannya selain mengadu pada sang penciptanya.
Benar saja tak sulit bagi Bethari Ambarwati untuk mengagumi dan membuka hatinya untuk laki-laki sesempurna Randi Yulidar. Terlebih usianya yang juga sudah matang membuat Tari semakin yakin akan pilihannya saat ini.
Selain bekerja di perusahaan yang sama dengan Tari, Randi juga mendirikan usaha laundry yang di kelola leh orang tuanya. Usaha tersebut sudah berjalan beberapa tahun yang lalu bahkan sudah memiliki cabang hampir di seluruh Surabaya.
Mapan dan berkecukupan.
Begitulah sosok yang tergambar dari sosok Rabdi, secara materi Randi memiliki kemampuan kebebasan finansial yang matang sehingga Tari tidak perlu khawatir sampai kekurangan. Bahkan Randi juga berjanji untuk memenuhi kebutuhan keluarga Tari saat sudah menjadi suami istri kelak.
__ADS_1
Tentu saja kebutuhan Ibu dan Adiknya Ipul, bukan termasuk keluarga penjajah yang ada di sekitarnya.
Tari pun mengerti itu, memang sudah seharusnya demikian jalannya.
Tari juga menyetujui tawaran Randi untuk resign setelah menikah karena memang dalam perusahaan mereka bekerja, pasangan suami istri tidak boleh bekerja di satu perusahaan yang sama meskipun beda bagian.
Tari memutuskan untuk resign dan berencana untuk membuka usaha sendiri, tentu saja dengan support dari sang suami nantinya. Tari ingin tetap berkarya meskipun tidak di kantor agar tetap dapat memperoleh penghasilan sendiri dan lebih produktif. Bukan tak percaya dengan janji Randi yang akan menanggung biaya hidupnya dan keluarganya.
Hanya saja keberadaan keluarga yang layaknya penjajah mengharuskan Tari untuk berpenghasilan sendiri agar tak terlalu menyusahkan Randi di kemudian hari nanti.
“Bu, aku takut sekali, tanganku sampai dingin seperti ini”. Berkali-kali Tari meremas tangannya yang terasa begitu dingin pagi itu.
“Tenanglah semua akan baik-baik saja. Perbanyak sholawat untuk mengurangi rasa takutmu" Bu Marni memegang tangan Tari dan mengelus lembut tangan putrinya. Ia mencoba untuk memberikan kehangatan di sana
Bethari mulai menghirup udara sebanyak yang dia bisa dalam kamar tersebut, dan beberapa kali mengeluarkannya dengan pelan untuk mengurangi rasa gugup pada dirinya.
Tari melakukan beberapa kali, hingga di rasa tubuhnya mulai rileks.
Mua dalam kamar itu masih duduk menyaksikan obrolan anak dan ibu tersebut, dan mempersiapkan segala pernak-pernik untuk merias.
“Baik bu”. Jawabnya dengan memberikan senyuman pada customer mereka, sedang ibu berlalu meninggalkan kamar Tari untuk melihat detail yang ada di luar sana.
Beberapa menit kemudian Mua tersebut mulai memoles sedikit demi sedikit wajah ayu Tari.
Sepanjang perjalanan proses Merisa Tari tak kuasa untuk menahan dadanya yang bergemuruh hebat antara takut dan bagia saling berlomba saat itu.
Tari memilih menggunakan kebaya warna putih panjang dengan hiasan Swarovski di setiap sisinya dengan balutan bawahan jarik yang menghiasi tubuhnya dengan begitu sempurna pagi itu. Tidak lupa untaian melati putih nan panjang menambah kesan anggun penampilannya.
Tari memilih kebaya putih dengan harapan cinta dan kasih sayangnya Tari dan Randi akan seputih warna baju yang mereka gunakan tidak ada noda di antara mereka kelak dan akan terus suci sepanjang menjalani mahligai pernikahan.
Sedangkan melati di pilih Tari dengan harapan akan menambah kesan anggun dan memancarkan aura tersendiri bagi setiap wanita yang menggunakannya.
__ADS_1
***
Masih di belahan bumi yang sama, hanya saja terpisah oleh sekat tembok yang ada dalam rumah tersebut. Randi tak bisa menyembunyikan perasaan yang tak kalah gugupnya dengan Tari.
Berkali-kali Randi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Tak lupa berkali-kali pula Randi meneguk air putih yang tersaji di sampingnya untuk mengurangi rasa gugup dan kecemasan yang ada.
Meskipun Randi memiliki usia yang cukup matang untuk menikah, hanya saja kegagalan waktu lalu saat menjelang akad nikah membuatnya bertindak seperti ini. Lantunan do’a berkali-kali ia panjatkan agar acara berjalan lancar dan tak terulang kisah masa lampau.
Ya sedikit banyak Randi trauma dengan kehilangan calon istrinya menuju akad nikah.
“Apa kamu sudah siap nak?”, tanya sang Mama yang mencondongkan tubuhnya begitu mendekat pada sang anak.
“Sudah Ma, tapi sedikit takut”. Jawabnya dengan singkat.
“Tenanglah semua akan berjalan baik-baik saja. Aku percaya dengan wanita pilihanmu kali ini" Bu Srining mencoba untuk menenangkan anaknya.
Beberapa menit kemudian acara akad nikah lekas dimulai.
“Saya terima nikah dan kawinnya Bethari Ambarwati dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas satu gram dan uang satu juta seratus ribu satu rupiah di bayar tunai”. Dengan cukup lantang dan tanpa jeda Randi mengucapkan ikrar ijab qabul tersebut.
Tari memiliki permintaan khusus prihal mas kawinnya ini, yakni semua serba satu. Bukan karena Randi tidak mempu memberinya lebih dari ini. Namun angka satu dalam mas kawin ini sebagai simbol bahwa hanya akan ada satu ratu sepanjang mereka menjalani mahligai pernikahan ini nanti.
“Bagaimana para saksi?”.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kira-kira sah gak ya? 🤭