
Keesokan harinya di kediaman Ratih, perempuan yang sudah tidak lagi muda terlihat sangat bahagia ketika seorang pria datang dengan membawa anak dan istrinya. Iya yakin bahwa orang tersebut adalah anaknya yang ia titipan di panti asuhan 23 tahun yang lalu.
Penantian yang sangat panjang kini berakhir sudah, bahkan Ratih tidak pernah berfikir bahwa ada orang jahat yang ingin menguasai harta yang di miliki nya dengan berpura-pura menjadi anak nya yang terpisah.
Ratih sudah mempersiapkan kamar spesial untuk Marwan di rumah yang sangat mewah, bahkan saat Mayang mengatakan bahwa jangan percaya begitu cepat dengan apa yang terjadi pada saat ini. Mayang hanya ingin melakukan tes DNA antara sang Mama dengan Marwan, jika hasilnya positif maka Mayang pun tidak akan pernah melarang sang Mama untuk memperlakukan Marwan dengan baik, ia juga sangat bahagia jika bisa bertemu dengan sang kakak. Akan tetapi ini semua belum jelas, mengapa begitu mudahnya ia percaya dengan ini.
"Yuk, Mama tunjukkan kamar kalian! " ajak Ratih terhadap Marwan yang baru sampai di rumah ini.
"Nanti dulu lah Ma... kan baru juga sampai di rumah masa harus secepat ini pergi ke kamar, kan aku juga masih ingin bersama Mama di sini" kata Marwan sambil menatap wajah Ratih dengan lekat.
Perasaan Ratih seketika menghangat, rasa rindu yang di pendam selama ini telah menjadi nyata.
"Istirahat saja dulu! nanti ngobrol nya kalau sudah istirahat, kan masih banyak waktu. Pasti kamu juga capek kan setelah perjalanan jauh? " tanya Ratih terhadap Alfi yang duduk di samping Marwan.
Kali ini Alfi bertingkah seperti seorang menantu yang baik di hadapan Ratih dan ternyata ini semua hanya tipuan semata.
Ia merencanakan sesuatu untuk satu tujuan yang ingin segera di capai nya, ia akan melakukan apapun. Termasuk berpura-pura menjadi orang yang baik dan lemah lembut di hadapan Ratih.
"Nggak ko, Ma... aku juga masih ingin ngobrol bersama di sini, lagian masih ingin mengenal lebih ibu mertua ku. Selama aku menikah dengan Marwan belum pernah tahu Mama mertua jadi ingin mengenal mu lebih banyak hal lagi" kata Alfi sambil tersenyum manis menatap wajah Ratih.
"Kalian memang anak dan menantu yang sangat baik, semoga kita tetap seperti ini. Jangan ada lagi perpisahan, selama ini Mama cukup menderita jauh dari kamu. Selama itu juga hidup Mama nggak pernah tenang dan selalu merasa bersalah terhadap mu" kata Ratih sambil menggenggam tangan Marwan, tanpa terasa cairan bening sudah memenuhi pelupuk mata Ratih.
__ADS_1
"Ma... jangan sedih seperti itu, sekarang aku sudah ada di sini kumpul lagi bersama kalian. Sekarang kita nikmati sisa hidup kita berbahagia bersama, tanpa ada lagi perpisahan" kata Marwan sambil menggusap cairan bening di ujung mata Ratih.
"Mama nggak sedih, ini air mata bahagia tidak pernah menyangka akan berkumpul seperti ini lagi bersama anak laki-laki yang terpisah sejak puluhan tahun, hampir putus asa mencari keberadaan mu. Fatimah juga hilang kontak dengan orang yang mengadopsi mu pada saat itu, di saat Mama sudah tidak berharap lagi untuk bertemu dengan mu. Ada seorang teman lama yang menghubungi bahwa dia telah menemukan keberadaan mu di kota B, setelah mendapatkan kabar itu, Mama langsung pergi ke sana untuk memastikan bahwa itu kamu atau bukan, dan ternyata memang benar kamu itu yang Mama cari selama ini" kata Ratih.
"Iya, Ma... setelah ini aku akan terus berada di samping mu, tidak akan pergi ke manapun dan menemani masa tua mu" jawab Marwan.
"Iya, Ma... jangan sedih seperti itu, sekarang kita sudah berkumpul saat nya bahagia bersama" Alfi Menimpali ucapan suami nya.
"Terimakasih banyak, kalian berdua sudah menerima Mama dan melupakan apa yang terjadi di masa lalu, jujur pada saat itu Mama menitipkan mu di panti asuhan demi keselamatan mu. Saat papamu masih hidup banyak pesaing bisnis ingin menghancurkan perusahaan yang Papamu miliki salah satunya yaitu mengancam nyawamu, Mama pada saat itu yang baru mempunyai anak satu tidak bisa berfikir dengan baik yang penting nyawamu selamat, yaitu hanya dengan satu cara menitipkan mu ke panti asuhan. Setelah kamu di titipan, kami merasa aman tanpa ada teror apapun lagi. Setelah lima tahun berlalu dan pada saat itu tanggal kelahiran mu, kami ingin pergi ke panti asuhan di mana Mama menitipkan mu. Akan tetapi tanpa di duga Papamu ada yang menembaknya saat perjalanan menuju panti pada saat itu usia Mayang baru dua tahun" Ratih menceritakan apa yang terjadi di masa lalu.
Sungguh penderitaan nya sangat luar biasa, banyak saingan bisnis yang ingin menghancurkan nya .
"Apa Mama tahu siapa yang melakukan itu terhadap keluarga kita? " tanya Marwan, ia ingin tahu lebih jelas dengan apa yang terjadi di masa lalunya.
"Apakah Mama tahu orang nya, siapa tahu aku bisa membuka kembali kasus nya. Aku tidak rela pembunuh Papa bebas berkeliaran begitu saja" Marwan meyakinkan Ratih bahwa ia benar-benar anak nya yang dulu.
"Nggak perlu, orang itu sudah meninggal. Menurut kabar yang Mama dapatkan dia bunuh diri setelah kematian anak laki-laki nya karena ulahnya sendiri, dia mendapatkan karmanya yaitu anaknya meninggal di tangannya sendiri" kata Ratih.
"Hahh, butuh diri. Apakah ini ada kaitannya dengan keluarga Malik Wijaya yang mempunyai banyak kekuasaan dan menganggap nyawa orang tidak berharga. Pertunjukan semakin menarik, aku bisa mendapatkan informasi lebih banyak dari perempuan ini. Untuk menghancurkan Adnan" batin Marwan sambil tersenyum.
"Apakah itu Pak Malik pengusaha yang sangat terkenal dan selalu membunuh orang tanpa memikirkan akibatnya dan kepolisian juga selalu melindungi nya" Alfi menimpali nya.
__ADS_1
"Mama tidak tahu siapa mereka, tapi yang jelas waktu itu Papamu telah bertemu dengan pengusaha yang sangat terkenal di kota itu dan meminta Papamu menyerahkan proyek yang di pegangnya pada saat itu. Dan setelah papa mu meninggal juga setiap hari ada orang yang datang dan meminta Mama untuk menjual perusahaan itu, dengan ancaman yang sama. Karena takut akhirnya Mama menjual perusahaan itu dan memulai bisnis yang baru yaitu perusahaan yang sekarang, setelah itu baru merasa tenang dan hidup kembali normal tanpa di bayang-bayang ketakutan"
"Mereka jahat sekali terhadap keluarga kita, aku janji akan menuntut balas terhadap mereka semua. Pasti aku akan menemukan mereka yang telah membuat aku kehilangan Papa" kata Marwan sambil mengepalkan tangan nya.
"Nggak perlu balas dendam, toh itu sudah berlalu. Mungkin itu sudah takdir Tuhan jalan nya harus seperti itu. Kita sebagai manusia tidak perlu membalas perbuatan orang lain, sebab semua perbuatan yang di lakukan akan ada balasan nya dari Tuhan"
"Tapi aku tidak terima dengan apa yang telah mereka lakukan, sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan keturunan dari orang tersebut tenang dan bahagia setelah memberikan banyak derita kepada perempuan yang sudah mengandung dan melahirkan ku. Enak saja mereka hidup tenang dan bebas dari hukuman" kata Marwan.
"Sudahlah, Mama hanya menceritakan bukan meminta mu untuk dendam. Nggak perlu melakukan itu semua, sekarang tanggung jawab kamu banyak lebih baik fokus terhadap perusahaan dan itu semua akan menjadi tanggungjawab mu. Sekarang Mama sudah tua dan nggak mungkin terus mengurus perusahaan jadi sudah saatnya kamu yang mengurus nya dan kepemimpinan akan Mama serahkan terhadap kamu, mungkin pengacara akan segera mengurus semuanya untuk pengalihan " kata Ratih.
"Jika Mama tidak ingin aku membalas perbuatan mereka maka aku akan nurut, tapi untuk perusahaan aku juga belum bisa menerima nya secepat ini. Dan aku juga butuh belajar banyak hal dari Mama agar bisa menjalankan perusahaan dengan baik" jawab Marwan.
"Mama sudah mempersiapkan semuanya sejak lama, sekarang sudah saat nya perusahaan itu jatuh ke tangan mu. Sebab yang paling berhak yaitu kamu, hanya saja kamu juga akan memberikan hak nya Mayang yang ada di perusahaan itu" kata Ratih.
"Itu sudah pasti, Ma... karena dia juga berhak atas perusahaan itu. Aku bukan orang yang serakah juga, jadi Mama nggak perlu khawatir" jawab Marwan.
Pembicaraan mereka pun sudah semakin jauh dan panjang, tanpa terasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam.
Akhirnya Ratih pun mempersilahkan Marwan dan Alfi untuk segera mengistirahatkan tubuh nya di dalam kamar yang sudah di sediakan oleh nya.
Marwan dan Alfi sudah berada di dalam kamar, sepasang suami istri sedang tertawa bersama merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Karena mereka berfikir bahwa tinggal menghitung hari akan menjadi orang kaya, sekarang ia akan menunjukkan pada keluarga Farwa bahwa ia juga sekarang sudah menjadi orang kaya. Bukan lagi Marwan yang dulu, ia juga akan mencari cara untuk menjatuhkan Adnan dengan membuka kasus lama soal kematian ayahnya Mayang. Mungkin rencana ini akan membuat Adnan dalam kehancuran, seperti yang di rasakan Marwan saat Farwa di ambil paksa darinya dan ia kehilangan gadis yang di cintai nya. Sekarang saatnya Marwan menuntut balas terhadap semuanya, meskipun ia belum mengetahui Adnan ada di mana. Ia akan mencari nya setelah mendapatkan apa yang dia mau, yang pasti akan mudah menemukan keberadaan Adnan jika sudah memiliki banyak uang. Dengan rencana seperti ini, ia akan mendapatkan apa yang di ingin kannya.
__ADS_1
"Tunggu saja kehancuran mu, saat nya aku menuntut balas terhadap kamu. Kamu pasti merasakan lebih sakit kehilangan orang yang sangat kamu cintai, pembalasan ku akan lebih sakit dari apa yang aku rasakan selama ini" batin Marwan.