
Starla dan Bara masih berada di pusat perbelanjaan, mereka terlihat sedang berantem. Padahal anak mereka sudah menangis histeris, akan tetapi tidak di hiraukan oleh Starla.
"Kamu itu nyari gara-gara sih. Untuk apa juga menghampiri mereka! " kata Bara sambil menatap tajam Starla.
"Jadi kamu menyalahkan ku, siapa juga yang mau bertemu dengan pelakor itu. Dasar perempuan tidak tahu malu, sudah salah tidak mau di salahkan" ucap Starla dengan nada bicara penuh kebencian.
"Seharusnya kamu mikir sebelum berbicara, bukan kah kamu yang membuat kesalahan sehingga Adnan menceraikan mu. Dan ini semua tidak ada hubungan dengan Mayang dan pada saat itu kamu dan aku bertemu di sebuah bar dan pada saat itu kita sama-sama tidak sadarkan diri, sehingga aku dan kamu melakukan hal yang tidak di inginkan. Sehingga aku terpaksa harus menikahi mu karena hamil, dan aku juga tidak tahu itu anak siapa. Yang jelas itu bukan anak nya Adnan, dan keluarga mu memaksa ku untuk menikahi mu. Dan harus meninggalkan mayang karena kesalahan satu malam dengan mu" kata Bara, ia mengingatkan kembali tetang kesalahan yang pernah mereka lakukan di waktu dulu.
"Owhh, jadi kamu masih mencintai perempuan tadi. Lalu kenapa kamu tidak merebutnya dari laki-laki tadi, bukan kah kalau mencintai sesuatu harus kita dapatkan! " Starla berkata dengan nada bicara yang tinggi, ia tidak terima jika Bara masih mencintai Mayang, bagi Starla Mayang hanyalah perempuan biasa yang tidak memiliki harta dan kekuasaan yang cukup untuk bersaing dengan nya. Dan mengapa juga selama ia bersama Bara, tetap saja tidak mendapatkan cinta laki-laki itu.
"Jujur aku masih sangat mencintai nya, kalau saja bukan karena kesalahan waktu itu maka aku tidak akan pernah mau menikah dengan mu. Dan aku sangat menyesal telah menciptakan luka dan trauma untuk nya, andaikan waktu bisa di ulang kembali maka aku tidak akan pernah sadang ke tempat terkutuk itu" kata Bara dengan nada bicara penuh penekanan.
"Sekarang kamu sudah menjadi suami ku jadi lupakan dia, dan balaskan dendam ku untuk mereka! sekarang kamu berada di bawah ku kalau tidak! maka, kamu tahu sendiri akibatnya bukan? " Starla yang tidak pernah merasakan ketenangan jika melihat orang lain bahagia.
"Aku bertahan dengan mu, karena dia bukan yang lain. Kalau bukan aku yang mengurus nya mungkin dia sudah mati padahal darah daging mu sendiri, perempuan macam apa kamu ini" kata Bara sambil menggendong anak kecil yang terus menangis karena ketakutan, melihat dua orang dewasa bertengkar di hadapan nya.
Setelah berbicara seperti itu, Bara pergi keluar dari tempat tersebut untuk segera menuju tempat parkir. Ingin segera pergi dari tempat ini dan segera kembali ke hotel di mana mereka menginap.
Setelah beberapa saat, akhirnya Starla pun mengikuti nya dan mereka sudah berada di dalam kendaraan untuk segera kembali ke hotel. Hari ini benar-benar sudah merusak mood nya, ia datang ke kota ini juga karena permintaan Alfi dan meminta untuk membebaskan Marwan dari penjara, kebetulan Bara seorang pengacara. Mungkin tujuan Starla membawa suaminya datang ke kota ini dengan maksud tertentu, sulit bagi Bara untuk menolak nya. Sekarang ia hanya pasrah dan mengikuti apa yang di mau Starla, bukan ia tidak bisa berontak akan tetapi ada anak kecil yang nantinya akan menjadi korban dari perceraian mereka.
Di tempat lain.
Adnan pun sudah mengantarkan keponakan nya itu ke rumah, akan tetapi Radit dan Farwa. Akhirnya Argani kecil pun di titip di neneknya, sedangkan Adnan akan mengantarkan Mayang pulang terlebih dahulu. Karena hari juga sudah semakin sore jam kerja kantor pun sudah selesai.
"Aku minta maaf dengan apa yang terjadi tadi" kata Adnan dengan nada bicara penuh permohonan.
"Untuk apa kamu yang minta maaf, toh itu bukan salah mu" jawab Mayang tanpa melihat ke arah Adnan.
Ia tidak marah terhadap laki-laki yang bersama nya pada saat ini, hanya saja ia kesal dengan keadaan. Mengapa hari ini di pertemukan dengan manusia seperti Starla dan Bara, padahal ia selalu berdoa agar tidak di pertemukan dengan orang.
"Tapi kenapa kamu cemberut terus, aku jadinya merasa bersalah telah mengajak mu ke tempat itu. Andaikan tidak mengajak mu, mungkin hal seperti tadi tidak akan terjadi" kata Adnan, sungguh ia merasa tidak enak hati terhadap Mayang. Tadinya perempuan itu ceria akan tetapi berubah menjadi murung setelah bertemu dengan Starla dan Bara.
"Aku nggak apa-apa, hanya lelah saja"
"Yakin hanya itu, atau mau pergi ke suatu tempat yang akan membuatmu lebih tenang" kata Adnan, dengan nada bicara yang lembut. Ia tahu betul hati Mayang pada saat ini sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Terserah" jawab Mayang dengan nada bicara yang datar.
Akhirnya Adnan pun tidak bertanya lagi terhadap Mayang, ia melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi. Kebetulan jalan juga sangat lancar sehingga tidak ada hambatan selama di perjalanan, tanpa membutuhkan waktu yang lama. Akhirnya kendaraan sudah berhasil parkir dengan sempurna di sebuah tempat, di mana tempat itu sangat indah. Sebuah bukit yang menyajikan pemandangan laut, dan tempat tersebut sangat sejuk. Seketika Mayang lupa dengan apa yang terjadi pada hari ini, meskipun ia sudah lama tinggal di kota ini. Akan tetapi datang ke sini baru pertama kali, dan ternyata sangat indah.
"Ternyata tempat nya lumayan bagus yah" kata Mayang sambil berjalan dan menikmati udara sore di bukit yang menciptakan suasana kedamaian.
"Apalagi kalau datang ke sini saat malam hari, dari sini juga kita bisa menikmati indah nya kota yang ada di bawah sana. Selain lampu dari kapal nelayan yang ada di laut kita juga bisa menikmati indah nya kota saat malam hari" kata Adnan sambil berdiri sambil menyilang kan tangan di atas dada.
"Iyakah, aku baru tahu sekarang loh. Padahal tinggal di kota ini sejak kecil tapi nggak banyak tahu tempat yang bagus, sering datang ke tempat ini? sama siapa? " tanya Mayang sambil melirik laki-laki yang sudah tidak lagi muda akan tetapi masih terlihat sangat ganteng, bagi perempuan yang mencintai nya. Termasuk Mayang juga sudah mulai memberikan tempat khusus untuk orang tersebut.
"Pernah sekali, pada saat itu datang bersama orang yang paling berharga dalam hidupku yaitu--" Adnan menghentikan perkataan nya sambil menatap wajah Mayang.
"Sudah jangan di lanjutkan, aku sudah tahu datang nya bersama siapa" jawab Mayang sambil melangkah kan kakinya untuk pergi ke arah lain.
"Memang nya siapa yang kamu tahu, dan aku datang ke tempat ini baru kali ini dan orang spesial itu kamu" kata Adnan sambil berteriak.
Seketika Mayang menghentikan langkah nya, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelum nya.
"Aku tidak ada waktu untuk datang ke tempat ini bersama orang yang tidak penting, karena bagiku kamu adalah orang yang sangat penting maka. Aku mengajak mu datang ke tempat ini dan menikmati indahnya pemandangan sore hari di sini"
Seketika hati Mayang menghangat, mood yang sempat rusak. Seketika kembali pulih dan ia membalikkan tubuhnya sehingga posisi mereka saling berhadapan.
"Ada salah satu teman ku yang bilang, bahwa tempat ini sangat bagus. Bahkan ia melakukan malam pertama bersama istrinya di tempat ini, dan tempat inilah saksi cinta mereka" jawab Adnan sambil tersenyum tipis.
"Jadi seperti itu ya, aku pikir sering datang ke tempat ini bersama nya" kata Mayang sambil mengerucutkan bibir nya.
"Memangnya kenapa kalau aku datang ke tempat ini bersama perempuan lain? " tanya Adnan sambil menatap lekat wajah Mayang.
"Ya nggak apa-apa toh aku bukan siapa-siapa mu, dan aku juga tidak ada hak untuk melarang mu " jawab Mayang.
"Kalau kamu menganggap aku bukan siapa-siapa mu dan mulai saat ini aku tegaskan, bahwa kamu itu calon istri ku dan calon ibu dari anak-anak ku! " kata Adnan dengan nada bicara yang lembut akan tetapi penuh dengan penekanan.
Akhirnya Mayang pun terdiam tanpa bicara sepatah kata pun, mereka duduk di sebuah bangku yang menghadap ke bawah sehingga terlihat dengan jelas kota dan luasnya laut dari atas bukit. Memang tempat ini sangat luar biasa, indah untuk di nikmati apalagi bersama sang pujaan hati, hingga beberapa saat mereka saling diam tanpa ada yang bicara sedikit pun
Mereka sibuk dengan pikiran nya masing-masing.
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Senja pun sudah mulai menghilang dan tergantikan oleh gelapnya malam, Adnan pun mengajak Mayang untuk segera pulang. Ia juga tidak mau membawa pergi anak orang sampai malam, karena ini juga tidak baik.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk segera pulang, dan Adnan akan mengantarkan Mayang pulang ke rumah nya. Padahal tadi pagi Mayang membawa kendaraan sendiri saat pergi ke kantor, akan tetapi Adnan sudah memerintah orang agar mengantarkan kendaraan milik Mayang ke rumah nya. Kebetulan kunci kendaraan nya di simpan di meja kerjanya, sehingga memudahkan mereka untuk melakukan pekerjaan.
Waktu terlalu singkat jika di gunakan untuk hal yang tidak penting.
Akhirnya Adnan pun sudah berhasil menghentikan kendaraan nya, di depan rumah mewah dan itu adalah tempat tinggal Mayang bersama sang Mama. Karena mereka hanya tinggal berdua di rumah ini, kemarin ada Alfi dan si penipu Marwan.
Mayang sudah keluar dari kendaraan yang mengantarkan nya pulang " Terimakasih banyak untuk hari ini, hati-hati di jalan! jangan ngebut " pesan Mayang terhadap Adnan.
"Baik lah, pulang sekarang" jawab Adnan sambil memarkirkan kendaraan nya lalu menginjak gas desa perlahan.
Mayang masih berdiri di halaman, sambil menatap kendaraan Adnan yang sudah mulai menjauh. Setelah tidak terlihat lagi kendaraan itu, lalu ia melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Betapa terkejut nya Mayang melihat orang yang sedang duduk di ruang tamu, dan sang Mama juga ada di sana.
"Untuk apa kamu datang lagi ke rumah ini? bukankah sudah jelas bahwa kamu itu bukan bagian dari keluarga kami, dan perbuatan kalian sungguh tidak memiliki hati nurani, kalian rela melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang kalian mau. Apakah kamu tidak memiliki rasa malu untuk bertemu dengan kami" kata Mayang dengan nada bicara penuh penekanan. Sungguh ia sangat kecewa sekali terhadap Alfi dan Marwan, mengapa begitu tega mereka melakukan itu. Padahal Mayang dan Ratih tidak memiliki kesalahan apapun terhadap mereka, bahkan sebelum nya pun tidak pernah kenal.
"Aku mohon untuk kali ini saja, biarkan aku menginap di sini. Karena aku tidak memiliki uang untuk tinggal di hotel" kata Alfi dengan nada bicara penuh permohonan.
"Enak saja, memangnya rumah ini tempat penampungan. Nggak, akan pernah ada tempat lagi di rumah ini untuk kamu, jadi mau punya uang atau tidak itu bukan urusan ku. Sekarang angkat kaki dari rumah ini" Mayang mengusir Alfi.
"Maafkan aku, atas semua kesalahan yang telah di lakukan tapi ijinkan aku untuk malam ini saja. Aku janji besok pagi langsung pergi dari rumah ini, " Alfi memohon agar di ijinkan tinggal di rumah ini.
"Ini uang untuk mu, dan sekarang kemasi semua barang mu dan pergi dari sini. Saya sudah terlalu kecewa dengan apa yang telah kalian perbuat, pergilah dan jangan pernah datang untuk menemui ku lagi" kata Ratih sambil menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.
Hingga pada akhirnya, Alfi pun pergi dari rumah itu dan mengambil uang yang di berikan Ratih. Setelah kepergian Alfi, Mayang pun memberikan pengertian terhadap sang Mama agar lebih hati-hati. Orang seperti Alfi pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan yang ia mau, jadi kita sebagai orang yang waras yang seharusnya berhati-hati.
"Istirahatlah, ini sudah malam. Jangan mudah percaya terhadap orang baru, ingat jangan banyak pikiran. Aku nggak mau Mama sakit karena masalah ini" kata Mayang dengan nada bicara yang lembut.
"Iya, Mama pergi ke kamar. Kamu juga istirahat"
Akhirnya mereka berdua pergi ke kamar masing-masing, untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian berada di luar rumah.
Mayang sudah berada di dalam kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan posisi terbentang. Ia menatap langit-langit kamar dan memikirkan sesuatu yang telah terjadi, dan ia juga sesekali tersenyum ketika ingat saat ia bersama Adnan.
__ADS_1
"Dia itu ternyata tidak seburuk yang aku kira, ku pikir dia laki-laki yang brengsek seperti laki-laki pada umumnya. Ternyata dia tidak seperti itu, semoga apa yang di katakan benar, sudah saatnya juga aku melangkah ke depan dan melupakan apa yang terjadi di masa lalu, tidak ada gunanya juga terus berada di masa itu karena kita hidup di masa kini dan masa depan" batin Mayang.
Akhirnya ia pun bangkit lalu pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.