
"Papa... " teriak Adnan sambil lari ke arah sang Papa, dan menggoyang kan tubuh sang Papa yang sudah tergeletak di lantai.
Dengan senjata api di tangan nya.
"Apa yang terjadi dengan Papa, ayok cepat bawa ke rumah sakit! " teriak Starla yang melihat suaminya seperti orang linglung.
Dengan tangan gemetaran Adnan menggendong sang Papa.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah berada di luar rumah dan kendaraan sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Kenapa Papa melakukan ini, bertahan lah demi aku. Bisa lebih cepat tidak!" kata Adnan sambil terus menggenggam tangan sang Papa.
"Ini sudah menggunakan kecepatan tinggi Bos, " jawab sang sopir.
Kendaraan pun melaju dengan kecepatan tinggi, setelah cukup lama akhirnya sampai lah di rumah sakit.
Dengan gerakan cepat Adnan langsung turun dan menggendong sang Ayah untuk segera di bawa masuk ke ruang unit gawat darurat, sekarang tubuh Malik sudah tidak seperti dulu lagi ia sekarang terlihat sangat kurus. Hari-hari nya di habiskan untuk melamun dan menyesali apa yang telah terjadi kepada keluarga nya.
Bahkan perkataan Argani terus terngiang di kepala nya, makan nya ia memberikan sebagian hartanya untuk Farwa itu semua ia lakukan agar Farwa bisa memafkan nta. Akan tetapi pagi ini Malik di kejutkan dengan informasi yang di dapat dari pengacara nya, bahwa Farwa menolak itu semua.
Penolakan Farwa sudah berhasil membuat Malik semakin merasa bersalah dengan semua yang di lakukan nya terhadap Farwa dan Argani. Bagi Malik sudah tidak ada gunanya lagi hidup di dunia, jika sudah tidak ada lagi orang-orang yang sangat di cintai nya.
Malik memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol di kepala nya sendiri.
Malik sudah berada di ruang unit gawat darurat ia sedang di priksa oleh beberapa tenaga medis, mereka belum berkata apapun hanya alat yang coba di tempelkan di tubuh Malik.
Hingga beberapa saat seorang dokter yang berada di sana berbicara terhadap Adnan.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nya. Mungkin beliau menghembuskan nafas terakhirnya pas di jalan, soal saat kami periksa di sinj sudah tidak ada lagi detak jantung nya"
Seketika Adnan seperti kehilangan keseimbangan, sehingga ia hampir terjatuh untung tangan nya langsung berpegangan kuat terhadap brankar yang ada di hadapan nya pada saat ini.
Sekarang ia sudah tidak memiliki siapa pun, satu persatu orang yang sangat penting di dalam hidupnya perlahan pergi. Bahkan sang Papa pergi dengan cara merenggut nyawanya sendiri, ternyata Malik yang terkenal dengan angkuh tidak kuat menerima kenyataan bahwa keluarga nya secara perlahan pergi satu demi satu menghadap sang Pencipta itu semua atas keegoisan nya. Sekarang ia sendiri yang mengakhiri hidup nya karena tidak siap menerima kenyataan, bahwa ia lah yang telah menghilangkan nyawa anaknya sendiri.
Bahkan sang menantu tidak menerima permintaan maaf darinya, bahkan Farwa sempat bicara dengan Malik agar jangan pernah mengusik kehidupan Farwa dan anaknya.
Adnan masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk.
__ADS_1
"Coba periksa kembali, dok. Mungkin ada kesalahan! " kata Adnan dengan raut wajah yang sedih, sungguh perasaan nya sekarang sudah tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata.
Hancur, yah... mungkin kata yang tepat untuk keadaan Adnan pada saat ini.
"Ini Tuan hasil pemeriksaan nya, dan detak jantung nya sudah tidak ada " kata dokter sambil menyerahkan selembar kertas dan Adnan mengambil kertas tersebut, meskipun ia tidak mengerti apa isinya di tataplah kertas tersebut dengan perasaan yang hancur, air matanya mengalir begitu saja.
Waktu bergulir begitu cepat, jenazah Malik pun akan di bawa pulang ke rumah mereka.
Adnan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan sang Papa, mengapa terlalu cepat ia pergi meninggalkan nya.
Starla yang tadinya ingin pergi meninggalkan Adnan akhirnya ia tidak tega dengan keadaan sang suami.
"Ayok kita pulang, jenazah Papa akan segera di bawa pulang! " ajak Starla terhadap Adnan yang terus menundukkan pandangan nya, sambil duduk di kursi yang ada di ruang tunggu.
Untuk mengurus semuanya Adnan sudah menyerahkan semuanya terhadap orang kepercayaan keluarga Malik.
Setelah beberapa saat Adnan masih tertunduk, Stelah memegang bahu sang suami.
"Ayok, jangan seperti ini. Kamu ini laki-laki harus siap menerima kenyataan apapun yang terjadi ke dalam hidup kita, mungkin ini teguran untuk kita semua agar lebih menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita, jangan sampai menyesal setelah kepergian nya untuk selamanya" Starla menasehati sang suami, padahal ia sendiri yang tidak pernah menghargai dan bersyukur dengan apa yang ada pada saat ini.
Akhirnya Adnan pun ikut pulang bersama Starla, kabar meninggalnya Malik sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri apalagi di kalangan pebisnis.
Adnan dan Starla sudah tiba di rumah, mereka akan menunggu untuk pemakaman beberapa jam ke depan.
Rencana pemakaman akan di lakukan sore hari yaitu tempat nya berdekatan dengan Ambar dan juga Argani, meskipun semasa hidupnya tidak pernah aku tapi Adnan ingin mendekatkan nya. Agar ia bisa mengunjungi nya dengan waktu yang bersamaan.
Adnan langsung turun dari kendaraan nya, karena jenazah sudah tiba lebih dulu di rumah ini.
...****************...
Di tempat lain.
Seperti biasa keluarga Farwa sedang berkumpul di ruang keluarga, mereka sedang menikmati acara televisi.
Beberapa bulan terakhir ini mereka selalu menyempatkan waktu untuk selalu duduk bersama dan mengobrol receh yang penting Farwa tidak merasakan kesepian.
Dewi juga ada di sini, sebab esok hari keponakan nya akan menikah meskipun tidak ada pesta seperti yang di rencana kan sebelum nya.
__ADS_1
"Kenapa kalian melakukan ini, jangan pernah lakukan ini untuk ku. Kalian berhak bahagia dan lakukan apa yang sudah kalian rencana kan" kata Farwa sambil menatap Faklan dan Daisy secara bergantian.
"Kami tidak melakukan ini demi kakak, dan ini sudah menjadi keputusan bersama dan meskipun nikah sederhana itu semua tidak akan mengurangi rasa bahagia kami" jawab Faklan sambil tersenyum menatap Farwa.
Di saat mereka sedang serius berbicara, tiba-tiba ponsel Faklan berdering pertanda ada panggilan masuk.
Faklan langsung merogoh ponsel yang ada di saku kemejanya lalu menjawab panggilan tersebut.
Betapa terkejut nya saat mendengar kabar bahwa Malik telah meninggal karena bunuh diri.
"Ada apa? kenapa kaget seperti itu? " tanya Daisy terhadap calon suaminya.
"Papanya Argani meninggal karena bunuh diri" jawab Argani.
"Apa, Bunuh diri" jawab mereka serempak.
Mereka semua tidak menyangka bahwa Malik akan meninggal dengan cara seperti ini.
"Kalau begitu aku permisi dulu, mau ke tempat Tuan Malik. Walau bagaimana pun Kak Adnan selalu berbuat baik pada kita, meskipun Papa nya seperti itu tapi dia nggak" kata Faklan.
Dan keluarga Farwa pun dengan senang hati mengijinkan untuk pergi ke sana.
"Pergilah, kami juga akan menyusul tapi menunggu Ayah nya Farwa kembali" jawab Zulaikha.
Akhirnya Faklan pun pergi dari rumah calon istrinya.
Setelah kepergian Faklan, tinggal lah mereka yang masih saling diam hingga pada akhirnya Farwa berbicara.
"Yakin Ibu mau pergi ke sana? " tanya Farwa sambil menatap tajam wajah sang ibu, ia tidak suka mendengar perkataan sang ibu.
"Bukan hanya ibu, tapi kita semua akan pergi ke sana" jawab Zulaikha.
"Tapi aku nggak mau pergi ke sana! dia yang sudah membunuh bapak dari calon anak ku, aku tidak bisa! " jawab Farwa.
"Sekarang ibu tanya sama kamu, apakah jika kamu tidak datang ke sana atau tidak memaafkan nya bisa membuat Argani kembali atau membuat hatimu bahagia? nyatanya tidak! jadi harus berapa kali Ibu ingatkan, belajar lah menerima kenyataan. Mungkin itu akan lebih menyenangkan" kata Zulaikha dengan nada bicara yang lembut tapi sudah berhasil menusuk ke hati Farwa yang paling dalam.
Mereka semua saling diam, tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di halaman rumah. Mungkin itu Mahad yang baru saja datang, Daisy bangkit dari duduknya untuk segera membuka pintu dan ingin menyambut kedatangan sang Ayah.
__ADS_1
Daisy sudah berdiri di depan pintu, akan tetapi ia sangat terkejut dengan orang yang datang dan ternyata itu bukan sang Ayah.
Hal ini membuat Daisy merasa kecewa dengan apa yang di lakukan nya.