
Dokter dan malik sudah berada di ruangan Ambar di rawat, dokter pun panik dengan apa yang terjadi dengan Ambar.
Ia mencoba untuk melakukan sesuatu untuk Ambar akan tetapi hasilnya tetap sama bahwa jantung Ambar sudah berhenti berdetak.
Dokter terus melakukan nya berulang-ulang sebab ia belum yakin dengan hasil nya, akan tetapi hasilnya pun tetap sama.
"Dok bagaimana keadaan istri saya? " tanya Malik terhadap dokter yang masih terlihat tegang.
"Kami sedang berusaha Tuan" jawab dokter tanpa melihat ke arah Malik.
Setelah cukup lama tidak ada respon sama sekali dan berbagai usaha sudah di lakukan.
Dengan berat hati dokter pun mengatakan yang sesungguhnya.
"Maaf Tuan, kami sudah melakukan sesuai dengan kemampuan kami, akan tetapi Tuhan berkehendak lain" kata dokter dengan raut wajah yang sedih.
"Maksudnya? " tanya Malik ia belum bisa mencerna apa yang di ucapkan oleh dokter.
"Nyonya Ambar sudah menghembuskan nafas terakhir nya, yang sabar Tuan. Mungkin Tuhan lebih menyayangi nya, sekarang dia sudah tidak merasakan sakit lagi" jawab dokter.
Seketika jiwa Malik seperti melayang ikut bersama Ambar, bahkan kakinya terasa lemas sehingga tidak bisa menopang bobot tubuhnya.
Ia tidak menyaka bahwa sang istri akan pergi secepat ini, ia sudah tidak mampu lagi meskipun hanya untuk berdiri.
Malik menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di samping Ambar, sambil di tatap raga yang sudah tidak bernyawa.
Begitu banyak kenangan indah yang mereka lalui.
"Kenapa kamu begitu tega meninggalkan ku secepat ini, kita masih banyak tanggung jawab yang harus kita pikul bersama. Bagaimana bisa aku menanggung semua itu tanpa kehadiran dirimu, aku harap ini cuma mimpi. Bagi ku ini kenyataan yang sulit di terima" batin Malik sambil terus menatap wajah Ambar.
Malik membayangkan kenangan mereka saat masih bersama, ia pun sudah tidak mampu lagi untuk menahan airmata nya.
Begitu juga Adnan ia berusaha untuk tidak terjatuh dengan berpegangan erst di sisi ranjang yang di tempati sang Mama, sebab sudah tidak kuasa lagi kaki untuk menopang tubuh nya.
Ia mendekat ke arah wajah sang Mama.
"Ma...kenapa harus tinggalin aku secepat ini, bagaimana bisa aku tanpa mu. Selama ini aku belum bisa memenuhi semua yang Mana minta, bangun lah Ma... aku janji akan membawa Argani pulang ke rumah. Ayolah Ma... jangan bercanda" Adnan berkata sambil memeluk raga yang sudah tidak bernyawa, airmata sudah tidak bisa lagi di tahan.
Ini pertama kali Adnan mengeluarkan air mata, selama ini ia tidak pernah menangis.
__ADS_1
Permintaan terakhir sang mama terngiang jelas di telinga Adnan, bahkan sang Mama terus merengek agar Argani di bawa pulang ke rumah. Akan tetapi Adnan belum bisa memenuhi apa yang di minta sang Mama.
Setelah cukup lama mereka berada di ruangan itu, dan jenazah Ambar pun sudah siap untuk di bawa pulang ke rumah.
Malik ke luar dari ruangan itu di gandeng oleh Adnan dan Starla, sebab laki-laki yang sudah tidak lagi muda masih belum sanggup untuk berdiri tanpa bantuan dari orang lain.
Alfi yang menyaksikan keadaan itu, ia pun merasakan kesedihan yang sama.
Bagi mereka kepergian Ambar terlalu cepat sehingga mereka rasanya tidak percaya bahwa Ambar akan pergi secepat ini.
Setelah kepergian Argani dari rumah, Ambar selalu melamun dan tidak pernah tidur ataupun makan.
Perempuan itu sangat terpuruk dengan keadaan, ia belum bisa menerima kenyataan. Bahwa Malik telah mengeluarkan Argani dari anggota keluarga nya, Ambar pikir apa yang di katakan Malik itu hanya sebuah ancam. Dan ternyata itu memang benar adanya, bahkan Malik sampai membuat pengumuman untuk masyarakat luas bahwa Argani bukan lah anggota keluarga nya lagi.
Hal itu yang membuat Ambar syok dan jatuh pingsan, bahkan Malik tidak mengabulkan permintaan terakhir sang istri untuk bertemu dengan Argani.
Itulah yang menyebabkan Ambar mendapatkan serangan jantung, ibu mana yang bisa di pisahkan dengan anaknya.
Seburuk apapun seorang anak tetap akan menjadi yang terbaik di mata seorang ibu yang ada di pikiran seorang ibu seperti Ambar.
Akan tetapi beda lagi dengan Malik, ia tidak akan menerima siapa pun yang sudah keluar dari rumah di bawa kembali.
Andaikan Malik menurunkan egonya untuk membawa kembali Argani pulang mungkin hal ini tidak akan terjadi kepada Ambar.
Setelah cukup lama mereka menunggu, dan akhirnya Jenazah Ambar akan segera di bawa pulang.
Starla ingin sekali memberi tahu Argani dengan apa yang terjadi pada sang Mama, akan tetapi ia tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk melawan Malik pada saat ini.
Ia hanya bingung harus melakukan apa.
"Ad... apa sebaiknya kita memberi tahu Argani, walau bagaimana pun Argani juga tetap anaknya" Starla berbicara dengan nada lembut.
"Aku tidak mau membuat Papa semakin murka terhadap nya, keadaan ini saja sudah cukup membuat Papa menyalakan Argani. Bagaimana bisa dia menerima kehadiran nya" jawab Adnan.
"Tapi, kan"
"Sudahlah, ayok kita kita siap untuk segera membawa jenazah Mama untuk pulang, biarkan aku yang bersama Mama. Kamu pulang bawa mobil sendiri" kata Adnan sambil melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke dalam mobil Jenazah di mana Malik sudah berada di dalam.
Akhirnya Starla pun diam dan segera pulang ke rumah sebab pemakaman akan di lakukan sore hari.
__ADS_1
...****************...
Di tempat lain.
Dari pagi Argani tidak fokus saat bekerja, entah mengapa pikiran nya selalu tertuju terhadap sang Mama.
Dari siang ia sudah menghubungi nya beberapa kali, akan tetapi tidak ada jawaban.
Bahkan pesan singkat yang di kirim pun tidak di jawab, banyak pertanyaan yang muncul di kepala Argani.
Akan tetapi ia juga harus bisa tetap berada di tempat bekerja, tidak bisa seenaknya untuk pulang.
Padahal hatinya sudah gelisah, saat bekerja juga ia beberapa kali di tegur oleh rekan kerja nya agar lebih fokus akan tetapi ia mengulangi nya lagi.
Argani benar-benar tidak bisa fokus, pikiran nya hanya tertuju terhadap keadaan sang Mama.
"Kamu kenapa sih? dari pagi banyak bengong. Kalau bekerja itu harus fokus, bagaimana kalau kamu salah saat menjumlah belanjaan orang atau salah ketik angka itu bisa merugikan orang lain" kata rekan kerjanya berusaha untuk mengingat kan Argani agar lebih fokus saat bekerja.
"Iya aku minta maaf" jawab Argani sambil melanjutkan kembali pekerjaan nya.
Akhirnya mereka pun saling diam dan melanjutkan kembali pekerjaan nya, Argani merasa kenapa hari ini rasanya panjang sekali.
Ia berniat untuk mengunjungi sang Mama saat pulang bekerja, akan tetapi mengapa hari ini seperti satu tahun lamanya.
Di saat orang yang terakhir untuk membayar belanjaan nya, dan ternyata orang tersebut adalah Marwan.
"Ternyata kamu sekarang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan kerasnya dunia, bahkan sekarang saja kamu bekerja hanya sebagai seorang kasir. Apakah Farwa tahu kamu bekerja di swalayan ini, bahkan gajinya saja tidak seberapa" Marwa meledek Argani, akan tetapi Argani berusaha untuk tidak terpancing dengan apa yang di ucapkan Marwa pada saat ini, ia terus memasukkan belanjaan Marwa ke jantung plastik.
Setelah selesai Argani menyerahkan belanjaan sambil berkata " Jumlah keseluruhan Dua ratus empat puluh lima ribu"
"Ini bayarnya, dan sisanya ambil saja. Mungkin saat ini kamu lebih membutuhkan uang tersebut" Marean menyerah kan uang tiga lembar dengan pecahan seratus ribu.
Akan tetapi saat Argani hendak mengambilnya, maka uang tersebut di jatuhkan oleh Marwa.
"Ufss, jatuh deh uang nya" kata Marwan sambil tertawa.
Argani tetap diam tidak menunjukkan reaksi apapun, melainkan ia mengambil uang tersebut yang berada di lantai.
Bagi Argani sekarang sudah tidak penting lagi harga diri dan kekuasaan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Marwan telah pergi meninggalkan mereka.
Tinggal lah Argani beserta rekan kerja nya yang lain.