Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 8


__ADS_3

Setelah beberapa saat mereka hanya saling diam, akhirnya Faklan berbicara ia mempunyai ide bagaimana cara untuk menemukan Farwa.


"Kamu masih ingatan laki-laki yang bersama Farwa waktu itu,? apakah sudah bertanya kepada orang tersebut? " tanya Faklan terhadap Argani yang dari tadi masih terdiam tanpa Kata.


Akhirnya Argani bangun sambil menatap lekat wajah sahabatnya itu, memang benar adanya mengapa ia tidak terpikirkan ke arah sana.


Siapa tahu lagi itu adalah mengetahui keberadaan Farwa dan keluarganya, Argani mengajak Faklan untuk menemui laki-laki itu.


Akan tetapi ia juga tidak tahu di mana rumahnya laki-laki itu, dengan penuh keyakinan dan semangat yang membara di dalam hatinya untuk segera menemukan wanita pujaan hatinya.


Pencarian pertama adalah ke tempat pertama ia bertemu dengan laki-laki itu bersama Farwa, begitu juga dengan Faklan ia harus mengikuti sahabatnya yang sedang dimabuk cinta dan sudah tidak waras itu.


Ia takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya, sudah pasti jika ada seseorang yang membuat dirinya marah. Pasti akan langsung ditembak mati di tempat, setidaknya jika ia ikut bisa menghalanginya dan walaupun tidak semua yang dilakukan oleh Argani ia mampu menghalanginya.


Dengan langkah cepat Argani langsung keluar dari kamar, mereka berdua sudah berada di dalam kendaraan.


Argani sudah siap melajukan kendaraannya tanpa basa-basi lagi Ia langsung menyalakan kendaraannya dan menginjak gas dengan kasat.


Kendaraan yang mereka tumpangi pun melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan pengendara lainnya yang ada di jalan, Argani menganggap jalan raya adalah sirkuit yang bisa di gunakan untuk balap.


Waktu bergulir begitu cepat perjalanan yang mereka lalui sangat singkat, Akhirnya mereka sudah sampai di tempat di mana mereka pertama kali bertemu.


Argani beratanya kedapa setiap orang yang keluar dari gedung tersebut, tapi belum ada yang kenal dengan Marwan.


Seletelah cukup lama dan keluar lah seorang perencanaan yang terlihat sangat rapi, tapi sudah tidak lagi muda. Perempuan itu menatap Argani dari atas hingga bawah, memang laki-laki ini sangat tampan, hidung mancung dengan warna mata yang coklat sehingga menambah pesona nya. Akan tetapi di balik wajah nya tersimpan sifat yang tidak di sukai oleh Farwa. Andaikan Argani tidak memaksakan kehendak nya, dan mendekati Farwa secara perlahan mungkin semua ini tidak akan terjadi.


"Nyonya apakah mengenal Farwa?" tanya Argani.


"Iya, saya mengenalnya...dia Dosen muda di universitas ini, ada yang bisa di bantu? " tanya perempuan yang sedang berdiri di hadapan nya.

__ADS_1


"Apakah anda mengenal Marwan teman nya Farwa? "


"Marwan itu tunangan nya Farwa, mereka sebentar lagi akan menikah. Tapi untuk itu saya tidak tahu" jawab perempuan itu, ia tidak bisa untuk mengatakan alamat orang lain tanpa ijin terlebih dahulu.


Argani yang mendengar pernyataan perempuan itu, menyebutkan bahwa Marwan tunangan Farwa. Seketika hawa panas menjalar ke sekujur tubuhnya, amarah sudah menguasai nya.


Hingga pada akhirnya Argani mengeluarkan senjata api lalu di todongkan terhadap perencanaan buang sudah tidak lagi muda, sontak saja gemetar melihat senjata.


"Jangan pernah katakan bahwa, kodok itu tunangan Farwa karena Farwa akan menikah dengan ku! " kata Argani dengan nada bicara penuh penekanan.


Perempuan itu merasa takut dan langsung memberi tahu alamat Marwan.


Setelah mendapatkan alamat itu, mereka berdua pun langsung pergi ke rumah Marwan untuk segera menanyakan mereka di mana keberadaan Farwa pada saat ini.


Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah menghentikan kendaraannya di salah satu rumah sederhana di daerah ini.


Betapa terkejutnya perempuan itu ketika melihat Argani ,yang datang. Sebab mereka sangat takut dengan kehadiran orang ini.


"Maaf Tuan apakah ada yang bisa saya bantu? " tanya ibu dari Marwan itu.


Argani tidak berkata apapun, melainkan ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi.


" Di manakah anak laki-laki? bolehkah aku bertemu dengannya" kata Argani terhadap perempuan yang sedang berada di hadapannya.


Faklan yang ikut bersama Argani Ia hanya diam dan mengawasi spa yang dilakukan sahabatnya itu.


" Marwan belum pulang dari tempat bekerja, mungkin sekitar 1 jam lagi dia akan datang " jawab perempuan itu sambil merasa ketakutan,


" Baiklah jika dia masih lama untuk pulang ke rumah aku akan menunggunya di sini sampai bertemu dengannya " kata Argani sambil duduk di sofa lalau menyilangkan kakinya, dan meletakkan senjata api di atas meja.

__ADS_1


Ibu dari Marwan merasa ketakutan saat melihat senja, untuk pertama kalinya ia melihat itu.


Faklan pun mengikuti Argani lalu duduk di samping sahabatnya, hawa ruangan ini sangat panas. Secara tidak ada alat pendingin ruangan.


"Apakah di rumah ini selalu panas seperti ini, bagaimana kalian bisa hidup dalam keadaan seperti ini" kata Argani sambil mengibaskan tangan untuk mendapatkan sedikit angin dari gerakan itu.


"Mengapa kamu masih duduk di situ jika merasa panas, lebih baik pulang dan duduk di rumah mu yang terasa dingin dan nyaman! " kata perempuan itu dengan nada bicara yang judes.


Seketika Argani membulatkan matangnya lalu, menatap perempuan itu dengan tatapan yang sangat membunuh.


"Hai tante, apakah anda mengusir saya. Jadi sekarang sudah tidak takut dengan benda ini! " kata Argani sambil mengambil senjata api, lalu di eluslah benda itu.


"B-bukan mengusir, mana berani aku mengatakan itu. Maaf jika salah bicara! " kata ibu dari Marwan sambil menundukkan kepala, ia tidak berani lagi untuk menatap pria yang sekarang berada di hadapan nya.


Perempuan itu merasa ketakutan tubuhnya gemetaran wajahnya pun sudah terlihat sangat pucat.


Mau melawan atau mengusir orang itu ia tidak ada kekuatan untuk melakukannya terlalu sayang terhadap nyawa. Bisa saja ini adalah hari terakhir dia berada di dunia ini.


Setelah cukup lama mereka menunggu di rumah ini, meskipun rasa jenuh menunggu terlalu lama. Ia rela melakukan ini asal bisa bertemu dengan Marwan dan bertanya keberadaan soal Farwa di mana pada saat ini.


Ibu dari Marwan pun tidak boleh bergerak bahkan hanya untuk pergi ke toilet saja Argani tidak mengijinkan, ia takut perempuan itu akan membohonginya.


Mungkin saja ia mengambil ponsel lalu menghubungi Marwan untuk tidak segera pulang, karena ada seseorang yang menunggunya di rumah.


Lebih baik Argani jaga-jaga daripada nanti kecolongan.


Kejam memang itulah Argani pada saat ini ia akan melakukan cara apapun, untuk menemukan Farwa sang pujaan hatinya.


Argani memang sudah kehilangan akal sehatnya.

__ADS_1


__ADS_2