
Farwa hanya menatap nanar sang suami yang sedang di periksa oleh tenaga kesehatan dengan harapan bahwa tidak ada yang terjadi dengan suaminya.
Hingga beberapa saat salah satu di antara mereka berkata.
"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik tapi Tuhan berkehendak lain" kata dokter sambil menatap lekat wajah Farwa.
Seketika Farwa langsung menyandarkan tubuhnya, rasanya tidak percaya akan semua ini. Bagaikan di sambar petir di siang hari, hatinya hancur berkeping-keping dalam sekejap saat mendengar perkataan dokter.
Separuh jiwa Farwa pun ikut melayang, pandangan hanya tertuju kepada raga yang sudah tidak bernyawa.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku, mas... sekarang aku sendiri. Setelah ini yang akan menjaga ku siapa, aku nggak punya kekuatan untuk melawan mereka. Kenapa kamu nggak membiarkan aku saja yang tertembak, dan itu semua akan mengembalikan hidup mu yang dulu" batin Farwa dengan air mata yang terus mengalir.
Farwa berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk, yang sebentar lagi akan berlalu.
Sekarang ia hanya mampu mengenang tanpa bisa menggenggam, ia ingat kata-kata Argani pada saat itu.
Tidak ada lagi yang akan memeluk nya saat tidur yang selalu menggandeng tangan nya, sekarang hanya tinggal kenangan.
Sekarang Farwa hanya mempunyai kenangan yang akan membuat nya rindu akan sosok seorang lelaki yang sangat mencintai nya.
"Aku akan mengubah rasa benci kau miliki menjadi cinta, akan tetapi mungkin saat kamu mencintai ku. Aku sudah tidak bersama mu lagi"
Kata itu yang terus terngiang di telinga Farwa, begitu singkat rasa bahagia yang di miliki bersama Argani.
Air mata sudah tidak mampu lagi untuk di tahan, di luar pun hujan sangat lebat di sertai dengan angin dan petir.
Pertanda Alam pun ikut menangis dengan kisah Farwa dan Argani, harus terpisah dengan keadaan seperti ini.
Malik masuk ke ruangan, ia berdiri di belakang Farwa sambil berpegangan terhadap dinding.
Ia sudah tidak mampu lagi untuk berdiri, lutut nya terasa lemas, matanya tertuju pada raga sang putra yang telah ia renggut nyawanya.
Malik ingat betul saat Argani memperingatkan nya agar tidak mengganggu Farwa, dan sekarang omongan Argani terbukti. Bahwa dirinya yang merasakan kehilangan orang yang sangat berharga di dalam hidupnya, ia fikir uang dan kekuasaan nya bisa mengubah segalanya.
Nyatanya takdir tuhan tidak bisa di jual belikan dan di atur oleh manusia.
Malik sekarang sudah kehilangan orang-orang yang sangat penting di dalam hidup, itu semua terjadi karena keegoisan nya.
Yang selalu menganggap tahta dan kedudukan yang paling utama, sekarang tahta dan kekuasaan tidak bisa menghidupkan Argani kembali yang sudah ia renggut nyawanya.
Bahkan Malik sudah merenggut kebahagiaan sang istri dan menanti kelahiran sang buah hati mereka.
Akan tetapi semua itu pupus sudah.
Sekarang hanya ada penyesalan yang ada di dalam diri Malik, semua rasa itu tidak mampu mengembalikan nyawa Argani.
Setelah beberapa saat Malik pun keluar dari ruangan itu, sambil berpegangan ia sungguh sudah tidak punya tenaga hanya untuk menyeret kakinya.
Farwa pun di persilakan untuk keluar ruangan, dan ia langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan dengan rasa yang sulit di ucapkan dengan kata.
Farwa menginginkan Argani di makamkan dekat sang Mama walau bagaimana pun caranya, sebab selama ini mereka saking menyayangi akan tetapi di pisahkan dengan cara paksa oleh sang Papa.
"Aku sangat berharap bahwa makam Argani dekat dengan Mama, ini permintaan ku yang pertama dan terakhir! " kata Farwa sambil menatap lekat wajah Faklan yang duduk tidak jauh darinya.
"Aku akan mengabulkan apa yang menjadi keinginan mu, kalian keluarga akan Aku lakukan apapun untuk kalian" jawab Faklan.
"Tolong urus semuanya, aku belum bisa melakukan apapun untuk saat ini. Dan untuk biaya rumah sakit aku nggak ada uang, hanya ada sedikit tapi itu nggak akan cukup " kata Farwa dengan raut wajahnya yang sedih.
"Nggak perlu mikirin itu, aku akan ngurus nya" Adnan yang duduk tidak jauh dari mereka langsung menimpali.
"Maaf aku tidak ingin punya hutang budi sama kalian, lebih baik aku pinjam sama Faklan saja" jawab Farwa.
Farwa tidak mau menerima apapun dari keluarga Malik, lebih baik dia pinjam sama Faklan daripada menerima dari harta Malik.
Bahkan jika Argani hidup pun tidak akan pernah mau di kasihani oleh mereka, dan pasti akan menolak bantuan nya.
__ADS_1
"Kita adalah keluarga sudah sepantasnya saling membantu" jawab Adnan dengan raut wajah yang sedih saat Farwa berkata seperti itu.
"Hahh, keluarga... apa ini yang di namakan keluarga, kalian renggut nyawanya dan setelah itu kalian bayar biaya rumah sakit untuk nya. Agar kalian bisa di sebut pahlawan, tidak!! kalian jahat kalian yang telah merampas kebahagiaan nya, aku bersumpah bahwa anak nya pun tidak akan pernah memafkan orang yang telah membunuh Ayahnya" kata Farwa sambil menangis histeris.
Ia masih belum menerima kenyataan dengan apa yang terjadi menimpa dirinya.
"Sayang, stop! kasian Argani jangan lakukan ini, tenangkan dirimu" kata sang ibu sambil merangkul Farwa dibawa ke dalam pelukan nya.
Adnan dan Malik tidak mampu berkata apapun, sungguh mereka tidak bisa berbuat apapun.
Mereka juga sama merasakan kesedihan seperti yang di rasakan Farwa pada saat ini.
Akhirnya Faklan mengurus administrasi,
Mahad pun meminta calon menantunya sekaligus sahabat dari Argani untuk mengurus semuanya.
Karena sebentar lagi Jenazahnya akan segera di bawa pulang.
Jenazahnya Argani akan di bawa ke kediaman keluarga Farwa, karena ia nggak mau suaminya di bawa ke rumah Malik.
Waktu bergulir begitu cepat, mobil jenazah yang akan mengantarkan Argani sudah siap.
Farwa terus mendampingi sang suami, ini hari terakhir bagi Farwa bisa berasal di dekat sang suami.
Meskipun sudah tidak bernyawa, akan tetapi ia masih mampu menatap rasanya.
Malik merasakan apa yang di rasakan Argani pada saat itu, ia melarang Argani untuk melihat sang Mama untuk yang terakhir kali.
Sekarang ia rasakan hal itu, sebab Farwa tidak menginginkan Malik ada di dekat Argani karena bagi Farwa kesalahan yang di lakukan Malik tidak bisa di maafkan.
Kendaraan sudah melaju dengan kecepatan tinggi, anggota keluarga yang lain menggunakan kendaraan milik Faklan.
Farwa hanya sendiri di dalam mobil tersebut ia hanya bersama raga sang suami, ia terus menatap peti yang sudah tertutup rapi.
Rencana nya berubah jadi yang tadinya akan di bawa ke kediaman keluarga Farwa akan tetapi kali ini akan langsung di bawa ke pemakanan, sebab semuanya sudah di urus oleh pihak rumah sakit jadi suah siap untuk di bawa ke pemakaman.
Sebab setelah ini hanya bisa menggenggam rindu tanpa bisa bertemu.
Ia juga masih berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi yang akan berakhir ketika waktu pagi tiba.
Tanpa terasa ambulan yang membawanya sudah memasuki area pemakaman.
Kedatangan nya sudah di sambut oleh beberapa orang di sana, begitu juga anggota keluarga yang lain.
Termasuk bos Argani dan beberapa rekan kerjanya juga ikut hadir di acara pemakaman termasuk juga Erick sudah hadir
Seperti yang Farwa bilang terhadap Faklan dan sekarang Argani akan di makamkan berdampingan dengan sang ibu.
Setelah beberapa saat Peti jenazah itu sudah di turunkan dari mobil yang mengantarkan karena tidak bisa masuk ke dalam akhirnya di turunkan di area parkirm
Ada beberapa orang yang sudah bertugas untuk segera membawa peti itu untuk segera di masukan ke liang lahat.
Hingga akhirnya mereka semua sudah berkumpul di tempat peristirahatan terakhir Argani, semua orang yang menyaksikan ikut merasakan kesedihan apa yang di rasakan Farwa pada saat ini.
Orang-orang terdekat pun tidak menyangka bahwa Argani akan pergi secepat ini.
Akan tetapi di sisi lain ada orang yang berbahagia atas kepergian Argeni, siapa lagi kalau bukan Marwan.
Ia sekarang merasa aman bahkan dengan penuh keyakinan bahwa ia akan segera membuat Farwa melupakan Argani dengan cepat.
Marwan tersenyum di balik raut wajahnya yang berpura-pura ikut merasakan kesedihan, akan tetapi di dalam hatinya ia bersorak.
Peti itu pun perlahan di masukan ke dalam tanah, hingga beberapa saat prosesi pemakaman itu akan segera selesai.
Peti itu pun sudah tertutup oleh tanah, sekarang yang terlihat hanyalah gundukan tanah yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Farwa masih bersimpuh sambil menatap gundukan tanah yang sudah di penuhi dengan kelopak bunga.
Ia tidak henti-hentinya menangis, ia masih tidak menyangka bahwa di hari bahagia yang mereka rasakan itu menjadi hari paling menyedihkan.
Orang-orang yang datang mengucapkan bela sungkawa sudah mulai pergi.
Erick yang hadir ia tidak tega melihat keadaan Farwa yang tampilan nya sudah tidak karuan.
Ia perlahan mendekati Farwa lalu berjongkok di sisi Farwa" Turut berdukacita, atas kepergian Argani. Saya yakin kamu perempuan yang hebat pasti bisa melewati ini semua " kata Erick sambil menatap wajah Farwa yang sudah sembab akibat menangis.
"Terimakasih banyak, Pak. Sudah menyempatkan hadir di acara pemakaman suami saya. Jika dia punya salah tolong maafkan dan ikhlas ya Pak" ucap Farwa sambil terus menatap ke arah Erick yang berada di samping nya pada saat ini.
"Sama-sama, saya permisi. Yang sabar yah" kata Erick sambil mengusap bahu Farwa sekilas itu adalah bentuk dukungan dari seorang bos untuk menguatkan Farwa.
Akhirnya Erick pun pergi berlalu meninggalkan area pemakaman, seluruh para tamu pun sudah pada pergi hanya ada anggota keluarga yang masih setia menunggu Farwa.
Malik dan Adnan hanya menatap dari kejauhan tanpa bisa mendekat ke area pemakaman.
"Ternyata sesakit ini, saat kamu pergi untuk selamanya tanpa bisa menggenggam tanganmu untuk yang terakhir kali" kata Malik sambil mengusap cairan bening yang keluar dari ujung matanya.
Setelah cukup lama ia berdiri dari kejauhan, akhirnya ia mengajak sopir untuk segera pulang.
Satu jam telah berlalu, Farwa masih bersimpuh dan terus menatap gundukan tahan merah yang sudah tertutup oleh kelopak bunga.
Zulaikha dan Mahad sudah pulang, hanya ada Daisy dan Faklan yang masih setia menunggu Farwa.
"Kak, mau sampai kapan kita tetap di sini. Sekarang waktu sudah semakin gelap, mungkin sebentar lagi akan turun hujan seperti tadi siang. Kita pulang yah, kakak bisa kembali lagi besok. Kakak juga butuh istirahat, jangan siksa diri kakak seperti ini" kata Daisy dengan nada bicara yang pelan, sungguh ia juga tidak mampu menahan kesedihan.
"Kalau kalian mau pulang, pulang lah... aku akan tetap di sini menemani. Nggak mungkin aku membiarkan nya sendirian di sini, sedangkan aku enak-enakan di rumah. Aku nggak bisa melakukan itu semua"
"Kak, ingat! sekarang kak Argani dengan kita sudah beda alam jadi meskipun Kakak pulang pasti dia juga ikut bersama kita, sebab mereka akan hadir di mana kita ada karena kak Argani ada di dalam hati Kakak. Ayolah ini sudah mulai gelap, bukanlah kakak takut hujan sama gelap" bujuk Daisy terhadap sang Kakak.
Saat ini Farwa sangat membutuhkan orang-orang yang memang benar-benar mendukung nya, jika kurang dukungan dan perhatian dari keluarga terdekat.
Entah apa yang terjadi nantinya.
Akhirnya Daisy dan Faklan hanya membiarkan Farwa bersimpuh di hadapan gundukan tanah ia terus mengusap batu nisan yang bernama kan Argani.
"Sayang... bagaimana bisa aku membesarkan anak kita sendirian, kamu jahat malah pergi ninggalin aku. Kenapa kamu nggak membiarkan aku yang pergi lebih dulu agar nggak merasakan kehilangan mu seperti ini, jangan kan untuk bertahan hidup untuk bernafas pun rasanya sesak sekali" batin Farwa dengan air mata yang mengalir tanpa henti.
Daisy semakin tidak tega dengan keadaan sang kakak yang sudah tidak karuan, ia takut Farwa akan jatuh pingsan kembali dan membahayakan janin yang ada di dalam kandungan nya.
Langit sudah gelap gerimis pun sudah mulai turu, akhirnya Faklan memberanikan diri untuk mengajak Farwa untuk pulang.
"Kakak ipar boleh aku bertanya? " kata Faklan dengan nada bicara yang lembut.
"Katakan"
"Apa Kakak mencintai Argani? " tanya Faklan.
"Kalau itu nggak perlu di tanya lagi, bahkan semua rasa cintaku hanya untuknya" jawab Farwa.
"Kalau kakak ipar mencintai nya, maka sekarang kita pulang. Karena Argani akan marah jika melihat Kakak sakit, dia juga orang yang sangat menyeramkan kalau lagi marah tapi dia juga sangat mencintai kakak. Argani sudah mengorbankan nyawanya demi keselamatan mu, sekarang saat nya Kakak harus jaga kesehatan dan istirahat" kata Faklan dengan suara yang lembut.
"Ya sudah, mari kita pulang. Aku nggak mau dia marah. Sayang aku pulang dulu yah, besok aku akan datang lagi ke sini untuk mengunjungi mu"
Daisy pun membantu sang Kakak untuk berdiri, Akhirnya Farwa berjalan dengan perlahan di gandeng oleh Daisy sama Faklan.
Terlihat dengan jelas, bahwa mereka sang menyayangi Farwa dalam keadaan apapun.
Setelah beberapa saat, mereka sudah sampai di tempat parkir.
Lalu mereka masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkan pulang.
Faklan sudah siap untuk melajukan kendaraan nya, dengan perlahan ia menginjak gas.
__ADS_1
Kendaraan pun perlahan pergi meninggalkan area pemakaman, berat hati Farwa untuk meninggal sang suami.