
Tiga bulan telah berlalu.
Hari-hari Farwa di habiskan dengan mengenang sang suami, selama itu pula Farwa bertahan dengan rasa penyesalan yang ada di dalam hatinya.
Ia merasa bahwa kepergian Argani itu atas kesalahan nya, padahal itu semua bukan salah Farwa.
Usia kandungan Farwa juga sudah memasuki bulan ke empat, pernikahan Faklan dan juga Daisy akan di lakukan esok hari.
Akan tetapi mereka tidak ingin mengadakan pesta seperti yang sudah di rencana kan, Faklan dan Daisy tidak mau ada pesta di saat Farwa masih dalam keadaan seperti itu.
Hari-hari Farwa di habiskan di dalam kamar, bahkan perempuan itu hanya untuk bicara saja tidak mau.
"Aku sangat mencintaimu, bahkan melebihi apapun. Tapi sayang aku tidak bisa memiliki mu, ternyata sesakit ini yah saat mencintai orang akan tetapi sudah tidak bisa ku gapai. Aku janji akan menjaga benih cinta kita dengan baik" batin Farwa pandangan nya ke gambar Argani yang menempel di dinding, dengan tangan mengusap perut yang mulai terlihat membuncit.
Di saat Farwa masih berdiri sambil terus menatap gambar, terdengar lah suara pintu di ketuk. Lalu Farwa mempersilakan orang tersebut untuk masuk, dan ternyata orang tersebut adalah sang Ayah.
"Nak, Ayah di telepon sama pengacara nya Tuan Malik, katanya kita di minta untuk datang ke kantor nya" Adnan memberi tahu tujuan nya menemui Farwa.
"Untuk apa?" tanya Farwa sambil berbalik badan dan menatap sang Ayah.
"Ada hal penting yang ingin di bicarakan, ayok sarapan dulu nanti setelah itu kita akan pergi ke sana" kata sang Ayah dengan nada bicara lembut.
Baik Zulaikha maupun Mahad mereka selalu berbicara dengan nada yang lembut,makanya tercipta keluarga yang harmonis dan rukun.
"Baiklah,aku ganti baju dulu" jawab Farwa.
"Ayah tunggu di ruang makan!" kata sang Ayah sambil tersenyum.
Akhirnya Mahad pun keluar dari kamar Farwa.
Setelah kepergian sang Ayah ,Farwa pun kembali menatap gambar yang ada di hadapannya.
"Ayah mu meminta ku datang untuk menemui pengacara nya, semoga tidak ada sesuatu yang membuat aku semakin terluka" Farwa bicara dalam hati.
Setelah berbicara di hadapan gambar, Farwa pun bergegas untuk segera berganti pakaian dengan yang lebih rapi.
Sebab kalau di rumah,Farwa selalu menggunakan pakaian rumah.
Akhirnya ia sudah selesai, sebelum keluar dari kamar ia menyempatkan berpamitan terhadap gambar yang menempel di dinding.
Bahkan Zulaikha merasa sakit hati saat melihat sang putri selalu berbicara dengan gambar, terkadang Farwa seperti orang gila terus mengajak gambar untuk berbicara.Tubuhnya semakin hari semakin kurus, bahkan sekarang Farwa sudah berhenti bekerja dengan kondisi nya yang seperti ini tidak memungkinkan untuk bekerja .
Padahal di perusahaan itu Farwa kontrak dua tahun, Erick juga tidak ingin membuat hidup Farwa semakin susah jadi ia yang memutus kontrak.
Marwan juga sering datang ke rumah Farwa meskipun tidak pernah di temui oleh Farwa, laki-laki itu tidak pernah menyerah bahkan setiap hari selalu mengirim buah-buahan atau rujak. Bahkan Farwa tidak pernah memakan apa yang di bawa oleh Marwan, kedua orang tua Farwa sudah memperingatkan Marwan agar jangan terlalu sering datang berkunjung ke rumah mereka.
__ADS_1
Yang di khawatirkan yaitu Farwa, sebab mood nya Farwa susah sekali untuk baik. Baru juga akan lebih baik datang lah Marwan maka itu akan membuat Farwa kembali murung.
Farwa sudah berada di ruang tengah dan sudah bersiap untuk pergi, meskipun sang ibu memaksa nya untuk sarapan akan tetapi Farwa tidak ingin sarapan.
"Nanti saja, Bu, Setelah aku kembali dari sana. Mungkin nggak akan lama juga kan' kita di sana" kata Farwa sambil menatap sang Ayah yang sudah siap untuk pergi.
"Ya sudah, ayok kita berangkat mumpung masih pagi. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kita siapkan untuk pernikahan Daisy esok hari" ucap Mahad sambil menggandeng sang putri untuk segera keluar dari rumah.
Zulaikha pun mengikuti mereka sampai ke teras.
Setelah beberapa saat kedua orang yang sangat penting dalam kehidupan Zulaikha sudah berada di dalam kendaraan, mereka sudah siap untuk pergi.
Mahad menyalakan kendaraan nya lalu menginjak gas dengan perlahan, kendaraan pun perlahan pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian kota.
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan sudah memasuki area perkantoran.
Mahad memarkirkan kendaraan nya dengan sempurna, setelah beberapa saat mereka terdiam di dalam kendaraan akhirnya Mahad mengajak Farwa untuk keluar dari kendaraan yang mereka tumpangi.
Mereka berdua sudah berdiri di hadapan gedung lalu melangkahkan kakinya dengan perlahan, setelah berada di dalam langsung di sambut oleh seorang wanita lalu membawa mereka ke lantai tujuh yang ada di sana.
Mereka naik menggunakan lift khusus para petinggi yang ada di kantor ini.
Setelah beberapa saat mereka sudah berdiri di depan pintu yang di tuju, wanita yang bersama mereka sudah membuka pintu lalu mempersilakan untuk masuk ke dalam ruangan.
"Apa kabar Nyonya Farwa, terimakasih sudah berkenan hadir memenuhi undangan ku" kata seorang lelaki yang sudah tidak lagi muda, akan tetapi masih terlihat sangat gagah dan mempesona.
"Langsung saja ke inti dari undangan ini, saya tidak punya banyak waktu" kata Farwa dengan raut wajah yang datar.
"Iya, Tuan ada apa memanggil kami ke sini?"
"Jadi begini, saya akan membacakan surat wasiat dari Tuan Malik. Jadi ia menyerahkan sebagian hartanya atas nama Farwa. Yaitu 100 hektar perkebunan sawit , 50 hektar perkebunan tebu dan 5 hotel yang ada di kota A dan kota C itu semua sudah atas nama mu, silakan tanda tangan ini untuk persetujuan" kata pengacara sambil menyodorkan beberapa berkas ke hadapan Farwa.
"Coba baca sekali lagi, mungkin ada kesalahan"
"Nggak, Nyonya ini semua benar. Bahwa Tuan Malik sudah merencanakan ini semua "
"Tapi saya tidak ingin menerima ini semua, silakan kembalikan terhadap nya. Saya tidak butuh hartanya, bahkan jika semua hartanya dia serahkan pada tidak akan pernah membuat suamiku hidup kembali " Farwa menolak apa yang di berikan oleh Ayah mertua nya, bagi Farwa semua harta tidak ada gunanya.
"Tapi Nyonya, ini kan sudah menjadi hak anda. Sebaiknya pikiran dengan baik" kata pengacara dengan nada bicara penuh permohonannya, ia sangat berharap bahwa Farwa akan menerima harta warisan dari Malik.
Akan tetapi Farwa tidak sedikit pun tertarik atas semua harta yang di berikan terhadap dirinya, bagi Farwa semua harta yang di berikan oleh Malik adalah sebuah harga untuk nyawa Argani.
Bagi Farwa terlalu murah jika sebuah nyawa di hargai segitu, bahkan ketika nyawa Malik pun tidak mampu membayar nya.
__ADS_1
"Saya tidak ingin menerima itu semua, silakan kembalikan. Kalau sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi saya permisi" kata Farwa.
"Kami beri waktu satu Minggu untuk memikirkan ini semua"
"Tidak perlu, Pak, sampai kapan pun saya tidak akan menerima nya. Kembalikan saja kepada Tuan Malik" jawab Farwa.
" Saya permisi " Farwa bangkit dari duduknya.
Di ikuti oleh Mahad, lalu keduanya pergi dari ruangan tersebut meninggalkan pengacara yang sedang kecewa dengan penolakan yang di berikan oleh Farwa.
...****************...
Di tempat lain.
Sepasang suami istri sedang bertengkar, siapa lagi kalau bukan Adnan dan Starla.
Starla tidak terima jika sebagian harta yang di miliki oleh keluarga Malik di berikan terhadap Farwa.
"Kamu itu anak nya, kenapa lima puluh persen harta menjadi milik perempuan sial itu. Dia itu pembawa sial di keluarga ini tidak seharusnya mendapatkan banyak harta, seharusnya itu semua menjadi milik kamu. Bukan kah Papa yang sudah mengeluarkan Argani dari hak waris, kenapa sekarang jadi seperti ini" kata Starla dengan nada bicara penuh amarah.
Ia tidak terima jika harta keluarga Malik harus di bagi dengan Farwa.
"Terus masalah nya dengan kamu itu apa? Harta yang di berikan kepada Farwa itu hak Argani sudah sepantasnya itu di berikan terhadap istrinya, toh di antara aku dan dia sama-sama mendapatkan hak yang sama. Tidak di bedakan sedikit pun" jawab Adnan.
"Karena tidak ada perbedaan aku tidak suka, seharusnya kamu yang mendapatkan bagian lebih banyak. Selama ini kamu telah berjuang untuk kemajuan perusahaan, mengurus Papa dan yang lainnya. Tidak seharusnya mendapatkan bagian seperti itu"
"Sudah lah, aku lelah jangan ngajak ribut terus. Seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang di miliki pada saat ini, kamu itu jadi manusia tidak pernah bersyukur " kata Adnan dengan tatapan mata tajam.
"Baiklah jika kamu tidak protes terhadap Papa, maka aku akan pergi dari rumah ini dan akan menggugat cerai!" kata Starla dengan nada bicara penuh penekanan.
"Pergi sana, aku juga sudah muak hidup dengan perempuan yang tidak pernah bersyukur " jawab Adnan.
Ia sudah lelah dengan pernikahan yang seperti ini, mereka sepasang suami istri tetapi tidak pernah saling mengerti. Bahkan hanya Adnan yang di tuntut untuk melakukan apa yang di sukai Starla, beda lagi dengan Starla tidak pernah memperdulikan Adnan maunya apa.
Memang sudah tidak ada gunanya lagi untuk mempertahankan pernikahan yang seperti ini.
Starla dengan penuh amarah, ia melihat pakaian nya lalu di masukan ke dalam koper.
Ia sudah tidak mau lagi hidup dengan laki-laki seperti Adnan yang hanya menjadi babu dari orang tuanya, Starla berpikir bahwa harta yang di miliki oleh Malik akan jatuh ke tangan Adnan setelah kepergian Argani. Nyatanya Adnan tidak mampu mengendalikan sang Papa, jadi bagi Starla tidak ada gunanya bertahan dengan pernikahan ini tanpa ada hasil apapun, bahkan yang menang banyak itu Farwa.
Setelah di rasa cukup ia menarik koper nya untuk segera keluar dari rumah ini, sudah jengah Starla hidup dengan banyak aturan di rumah ini.
Akan tetapi tidak mendapatkan apapun, baginya lebih baik pergi dari rumah ini.
Di saat Starla sudah berada di ambang pintu, terdengar suara ledakan dari kamar sang Papa.
__ADS_1
Adnan langsung berlari menuju kamar sang Papa, begitu juga dengan Starla ia ikut berlari untuk melihat apa yang terjadi di kamar Mertua nya.
Setelah berada di dalam kamar sang Papa berapa terkejutnya Adnan melihat keadaannya.