
Argani sudah berada di halaman rumah, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan nya.
Dan ternyata itu Faklan, Argani menghentikan langkah nya saat hendak menaiki sepeda motor nya.
Faklan langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiri sahabat nya yang terlihat masih marah.
"Untuk apa kamu datang ke tempat ini? " tanya Argani terhadap Faklan yang sudah berdiri di hadapan nya pada saat ini.
"Menyusul mu, tadi kakak ipar menghubungi ku. Katanya kamu pergi dalam keadaan marah, baru juga aku akan merebahkan tubuhku harus pergi lagi mencari kamu. Kakak ipar sangat khawatir" Faklan menjelaskan bahwa Farwa sangat mengkhawatirkan nya.
"Dia mengkhawatirkan ku" jawab Argani dalam batin. Tanpa di ketahui olehnya, ternyata Argani memperhatikan nya.
"Kamu kenapa senyam-senyum sendiri, kesambet setan apa? " tanya Faklan terhadap Argani.
Seketika Argani merasa gugup, lalu ia menetralkan kembali perasaan nya.
"Siapa yang senyum" jawab Argani menutupi rasa malunya.
Akhirnya Argani langsung naik ke atas kendalanya lalu menyalahkan kendaraan itu, dan meninggalkan Faklan begitu saja.
"Astaga itu manusia, mengapa meninggalkan ku begitu saja. Dasar... tunggu saja nanti akan ku balas" Faklan kesal terhadap sahabatnya itu.
Ia juga langsung masuk kembali ke dalam kendaraan dan menginjak gas dengan kencang. Kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, Faklan ingin segera sampai di rumah.
Waktu bergulir begitu cepat.
Malam berlalu begitu saja, Farwa tidak mengajak Argani untuk bicara dari tadi malam.
Ia sudah bangun sejak pagi dan mempersiapkan semuanya, layak nya seorang istri pada umumnya.
Sarapan sudah siap, ia tidak ingin hari pertama masuk kerja datang terlambat.
Begitu juga dengan Argani, hari ini petama kalinya ia mulai bekerja.
"Apa kamu marah pada ku? " tanya Argani saat Farwa menyerahkan pakaian yang sudah di setrika dan akan di kenakan Argani ke kantor, lebih tepatnya tempat bekerja Argani. Sebab Argani bekerja bukan di perkantoran melainkan dia hanya seorang kasir di sebuah pusat perbelanjaan dan itu pun hanya kontrak tiga bulan dengan gaji tiga juta perbulan.
Jika dalam waktu tiga bulan Argani mampu bekerja dengan baik, maka kontrak akan di perpanjang. Argani tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh.
"Apa alasan ku untuk marah padamu, toh bagimu tidak penting. Kamu akan melakukan apa yang menurut mu benar tanpa memperdulikan orang lain, bahkan aku yang mencemaskan mu tidak kau anggap. Jadi apa gunanya aku marah padamu, toh selama ini kamu tidak pernah bertanya aku marah atau tidak" jawab Farwa dengan suara lembut tapi penuh dengan penekanan.
"Aku minta maaf" ucap Argani dengan nada bicara penuh permohonan.
"Nggak perlu, sarapan sudah siap. Ini hari pertama kita bekerja jangan sampai telat datang ke tempat kerja! " ucap Farwa sambil pergi berlalu begitu saja meninggalkan sang suami yang masih mematung dan belum mengenakan kemeja.
Setelah beberapa saat, Argani sudah rapi.
Ia berjalan perlahan untuk segera menuju ruang tengah di mana sang istri sudah menunggu untuk sarapan pagi.
Akhirnya mereka sarapan bersama tanpa ada yang bicara sepatah kata pun.
Waktu bergulir begitu cepat.
Mereka sudah selesai sarapan, Farwa sudah membawa tas kecil miliknya. Ia sudah siap untuk berangkat ke kantor, meskipun ini masih pagi.
__ADS_1
Akan tetapi Farwa sudah siap untuk berangkat.
"Ayok berangkat! " ajak Argani terhadap sang istri.
Farwa pun naik ke atas kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke tempat bekerja.
Hari masih pagi, jalanan masih sejuk. Matahari pun belum menampakkan wajahnya, Farwa begitu semangat untuk memulai harinya di tempat bekerja. Ia berharap ini awal dari perubahan hidup Farwa dan juga Argani.
Selama di perjalanan Argani selalu tersenyum, ia baru memulai kehidupan yang normal seperti orang pada umumnya.
Pagi berangkat ke tempat bekerja untuk mencukupi kehiupan sehari nya, sebelumnya ia tidak pernah tahu rasanya sulit mencari uang.
Kali ini ia merasakan hal itu, dan ternyata kehidupan seperti ini sudah membuat nya sadar.
Ternyata bahagia itu tidak hanya soal uang, bisa bersama dengan orang yang di cintai dan setiap membuka mata. Yang pertama di lihat nya orang yang sangat di sayangi.
Sekarang Argani mempunyai tujuan hidup yaitu membuat Farwa bahagia, apapun caranya Argani sudah berjanji harus bisa membuat istrinya bahagia.
Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah menghentikan kendaraan nya di depan gedung perusahaan Farwa.
Perempuan itu langsung turun dan memberikan kotak makan.
"Ini bawa, jangan lupa di makan! " kata Farwa sambil menyerahkan kotak yang berisi makan siang.
"Ini apa? " tanya Argani terhadap sang istri.
"Itu bekal makan siang, sekarang kita belum punya cukup uang untuk makan di luar. Jadi aku siapkan untuk mu" jawab Farwa sambil tersenyum menatap wajah sang suami.
Setelah berpesan seperti itu, Argani langsung pergi meninggalkan Farwa yang masih berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi.
Argani sudah tidak terlihat lagi, Farwa juga langsung masuk ke dalam gedung.
Di mana ia akan menghabiskan harinya di dalam, mengabdikan dirinya di perusahaan.
Farwa sudah berada di dalam, dan ia di bawa oleh seseorang dan menunjukkan di mana tempat ia akan memulai bekerja sebagai seorang sekretaris pribadi CEO Erick.
Farwa sudah bertemu dengan Alina dan ia sudah di kasih pengarahan apa saja yang harus di persiapkan setiap harinya.
"Jadi seperti itu bu, Pak Erick suka minum kopi jadi sebelum beliau datang ibu harus mempersiapkan nya terlebih dahulu. Kalau tidak pasti akan berteriak" ucap Alina di akhir kalimat nya.
Setelah banyak penjelasan yang di berikan terhadap Farwa.
"Baiklah Bu Alina terimakasih banyak, kalau ada yang belum di mengerti. Pasti akan tanya lagi terhadap Ibu" jawab Farwa sambil tersenyum dan menatap lekat wajah Alina.
Menurut Farwa, Alina orang yang santun.
Meskipun baru bertemu akan tetapi Alina tidak sombong.
Setelah memberi pesan dan apa saja yang harus di lakukan oleh seorang sekretaris dan Farwa juga sudah mengerti, apa saja yang harus di lakukan nya selama bekerja.
Sesuai arahan dari Alina, ia membuat kopi terlebih dahulu sebelum sang bos datang.
Bagi Farwa tidak terlalu sulit jika hanya untuk membuat kopi, sebab baginya itu bukan lah yang sulit.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Farwa sudah membawa secangkir kopi, untuk segera di simpan di meja kerja bos nya tersebut.
Farwa akan keluar dari ruangan sang bos, akan tetapi pas di depan pintu sang bos datang.
"Selamat pagi Pak" ucap Farwa sambil menuduk hormat.
"Mau ke mana kamu? " tanya Erick terhadap Farwa.
"Ke luar Pak, kan tempat saya di sana! " jawab Farwa sambil menujuk tempat yang ada di depan mereka.
"Kamu sekretaris aku kan! jadi sekarang ikut aku! " ajak Erick terhadap Farwa.
Akhirnya Farwa mengikuti Erick dari belakang, setelah berada di dalam ruangan.
Erick memberikan setumpuk document dan meminta Farwa untuk memisahkan itu sesuai dengan tanggal.
Hari pertama bekerja di hadapkan dengan hal seperti ini, padahal Alina tadi sudah memberi pengarahan dan yang di kerjakan nya saat ini bukanlah tugas sekretaris.
Seharusnya ini di kerjakan oleh Erick sendiri, mengapa ini Farwa yang harus mengerjakan nya.
Farwa mengerjakan itu semua dengan rasa bahagia, sebab baginya hari pertama bekerja harus di penuhi dengan semangat.
Setelah cukup lama, dan pekerjaan yang di perintahkan Erick sudah selesai, Farwa pun akan kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada.
"Kopi nya enak, terimakasih banyak" ucap Erick saat Farwa hendak melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
"Syukur kalau Bapak suka, sekarang saya keluar dulu kalau butuh sesuatu tinggal panggil saja! " jawab Farwa.
Setelah berbicara seperti itu, Farwa melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Setelah beberapa saat Farwa sudah berada di meja nya, ia membuka kembali catatan yang di berikan oleh Alina soal jadwal Erick beberapa hari kedepan.
Betapa terkejut nya Farwa saat melihat ada jadwal Erick bertemu dengan Malik, dan ternyata mereka menjalani kerja sama.
Seketika wajah Farwa memucat, jika sampai Malik tahu bahwa Farwa bekerja di tempat ini. Sudah pasti Malik akan meminta Erick untuk memecatnya, seperti yang di lakukan oleh beberapa perusahaan agar tidak menerima Argani.
"Bagaimana jika Tuan Malik tahu aku bekerja di tempat ini, apakah aku akan di pecat termasuk juga Paman" gumam Farwa.
Sungguh tidak bisa membayangkan jika ia harus berhenti bekerja karena ketidak sukaan Malik terhadap dirinya.
Jadi harus mencari kerja di mana lagi, Farwa terus memikirkan apa yang akan terjadi. Meskipun ia juga nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di saat ia sedang melamun tiba-tiba di kagetkan dengan suara perempuan yang bertanya terhadap dirinya.
"Apakah Erick ada di dalam? " tanya perempuan itu terhadap Farwa.
Seketika Farwa langsung bangun dan membungkuk kan tubuh nya, sambil menjawab.
"Ada Non, silakan masuk! " Farwa mempersilakan orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangan.
Betapa terkejutnyaperempuan itu saat mengetahui bahwa orang tersebut adalah Farwa.
"Sejak kapan kamu berada di sini, jangan bilang sedang merencanakan sesuatu? " tanya perempuan itu terhadap Farwa.
__ADS_1