
Waktu bergulir begitu cepat, Argani dengan penuh kebahagiaan ia pulang dengan membawa uang seratus ribu rupiah hasil kerja nya. Meskipun uang itu nilainya sedikit tapi sangat berharga sekali, untuk pertama kalinya ia menerima uang hasil jerih payahnya sendiri, ternyata untuk menghasilkan uang membutuhkan tenaga yang ekstra.
Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya is sudah sampai di rumah, ia langsung menekan bel. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, pintu gerbang sudah terbuka sebab Farwa sudah tahu bahwa yang menekan bel seperti itu pasti suaminya.
"Mengapa pulang nya larut sekali, apa yang kamu lakukan di sana? kamu sudah tahu kan kalau aku takut di tinggal sendirian di rumah,bagaimana kalau orang jahat datang " tanya Farwa terhadap Argani.
" Maaf, lain kali akan memberi kabar terlebih dahulu jika telat pulang. Sekarang sudah punya pekerjaan, jadi untuk pertama kalinya harus lembur" jawab Argani sambil pergi begitu saja, meninggalkan Fatwa yang masih mengunci pintu kembali.
Akhirnya mereka berdua sudah berada di dalam rumah, dan Farwa langsung menyiapkan teh manis untuk suami nya.
"Jangan lakukan ini terhadap ku" kata Argani sambil menatap lekat wajah Farwa yang sedang duduk di hadapan nya setelah meletakkan cangkir teh di hadapan suaminya.
"Ini tugas seorang istri, kamu jangan berfikir yang lain" jawab Farwa.
"Iya, terimakasih banyak" ucap Argani.
"Silakan bersih-bersih dulu, setelah itu nanti makan malam. Aku sudah menyiapkan nya terlebih dahulu" kata Farwa sambil bangkit dari duduknya, lalu pergi menuju dapur.
Farwa sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan malam untuk suaminya, sedangkan Argani sibuk dengan aktivitas nya di kamar mandi. Setelah seharian bekerja di luar rumah, lengket rasanya tubuh Argani.
Ritual di kamar mandi pun sudah seledau, akhirnya Argani sudah keluar dengan pakaian santainya, dan makan malam sudah di hidangkan.
Farwa mengisi piring Argani lalu mempersilakan laki-laki itu untuk segera makan.
"Mengapa makannya seperti itu, apa rasanya tidak enak? " tanya Farwa yang melihat suaminya ragu untuk makan makanan yang sudah di siapkan.
"Tidak! " jawab Argani dengan ragu.
"Owh jadi makanan nya tidak enak" jawab Farwa dengan tatapan mata tajam.
" Bu-bukan seperti itu, makanan nya enak ko. Hanya saja butuh penyesuaian, sebelum nya aku tidak pernah makan makanan seperti ini" jawab Argani dengan rasa takut, ia takut jika Farwa akan marah ketika ia salah menjawab nya.
"Terus makanan seperti apa yang kamu suka? " tanya Farwa.
"Aku suka makan apapun yang di masak Mama" jawab Argani sambil membayangkan makan yang di sediakan sang Mama yang memiliki rasa tidak bisa di kalahkan oleh masakan siapa pun.
"Aku nggak tahu apa yang di masak Mamamu, selama di sana aku nggak pernah makan" jawab Farwa.
"Pokoknya sekarang aku bersama mu, apapun yang kamu masak pasti enak. Nggak mungkin juga kamu masak racun untuk ku makan" jawab Argani sambil menghabiskan makan yang ada di hadapan nya pada saat ini.
Makan malam sudah selesai, Argani sudah kembali ke maenya.
Sedangkan Farwa merapikan peralatan yang telah di gunakan tadi, setelah selesai dengan semuanya.
Farwa pun masuk ke kamarnya, meskipun sepanjang hari ia tidak melakukan apapun. Akan tetapi Farwa bukan orang yang suka menunda tidur.
...****************...
__ADS_1
Di tempat lain.
Adnan baru saja masuk ke dalam rumah, akan tetapi sang Mama menghentikan langkah nya.
"Darimana? mengapa baru pulang? apa ada kabar dengan Argani? " tanya sang Mama terhadap sang Anak.
"Dia baik-baik saja" jawab Adnan dengan nada bicara yang lembut.
"Kalau dia baik, mengapa no ponsel nya tidak bisa di hubungi terus dia tinggal di mana? " tanya sang Mama yang mengkhawatirkan keadaan anaknya.
"Dia tinggal di rumah Faklan, mungkin ponsel nya habis batrai jadi belum bisa di hubungi"
" Bisa antar Mama ke sana? "
"Nggak perlu Ma... bagaimana kalau Papa tahu, pasti Mama yang mendapatkan masalah. Tahu sendiri kan Papa orang nya seperti apa"
"Kita pergi tanpa sepengetahuan nya, jangan sampai dia curiga kita mau pergi ke mana"
"Nggak bisa seperti itu, Ma...pasti Papa akan tahu ke mana kita pergi, lebih baik sekarang istirahat saja dulu. Mama kan baru sembuh, nanti aku cari cara agar Argani mau pulang lagi ke rumah ini. Aku nggak mau Mama sakit, begitu juga dengan Argani pasti sangat sedih kalau mendengar Mama sakit" Adnan menggandeng sang Mama untuk segera di bawa masuk ke dalam kamarnya.
Setelah beberapa saat, Ambar sudah berada di dalam kamar
Lalu Adnan pergi meninggalkan sang Mama yang sudah terbaring di atas tempat tidur.
Adnan sudah masuk ke dalam kamarnya, di sana terlihat sang istri masih menunggu kedatangan nya.
"Mengapa baru pulang setelah larut seperti ini? " tanya Starla terhadap sang suami, sambil menatap nya dengan tajam.
"Bukan soal adikmu yang pembangkang itu kan? " tanya Starla sambil bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah suaminya.
"Tadi siang habis bertemu dengan nya" jawab Adnan dengan nada bicara yang lemas, sungguh ia tidak ingin membahas tentang ini.
"Lalu dia mau pulang lagi ke rumah? "
"Untuk saat ini Argani belum ingin pulang ke rumah"
"Untuk pertama kalinya di keluarga ini ada orang seperti Argani, apa kamu bisa melakukan hal yang sama seperti dia? " tanya Starla terhadap sang suami.
"Pasti aku melakukan hal yang sama jika Papa memperlakukan mu tidak baik, tapi dia selalu berlaku baik padamu. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk menentang nya" jawab Argani.
Akhirnya Starla pun diam tanpa berkata apapun lagi, ia membiarkan suami nya untuk melakukan ritualnya di kamar mandi.
*****
Waktu bergulir begitu cepat, malam telah berlalu begitu saja.
Matahari sudah menampakkan wajahnya, ia tersenyum tanpa malu-malu.
__ADS_1
Semua orang yang ada di muka bumi menantikan kehadiran nya.
Di kediaman Argani.
Pagi ini Farwa sudah menyiapkan sarapan untuk sang suami, meskipun Argani melarang nya.
Akan tetapi Farwa menjawab yang di lakukan nya hanyalah tanggungjawab seorang istri tidak lebih dari itu.
Seperti biasa Argani selalu berolahraga pagi meskipun itu hanya jalan ringan atau gerakan yang biasa, itu sudah menjadi kewajiban di dalam hidup Argani menyempatkan diri untuk berolahraga minimal tiga puluh menit dalam seharim
Farwa juga sudah menyiapkan baju ganti yang akan di pakai suaminya bekerja.
Sarapan sudah siap.
Kedua nya sudah duduk saling berhadapan.
Tanpa di sadari oleh Argani, Farwa melihat telapak tangan Argani seperti habis bekerja keras dan menyisakan bekas merah di bagian telapak tangan nya.
"Tunggu sebentar" kata Farwa menghentikan Argani yang akan menyuapkan makanan ke mulut nya.
Seketika Argani menghentikan tangan nya.
"Apakah ada yang salah?"
"Apa yang kamu lakukan sehingga tangan mu, seperti itu. Kita ini sudah susah jangan di tambah susah dengan melakukan pekerjaan yang memang itu bukan poksi mu, carilah pekerjaan yang memang sesuai dengan kemampuan mu, kamu itu berpendidikan tinggi tidak seharusnya melakukan pekerjaan seperti itu. Aku memang tidak menyukai mu tapi bukan berarti aku suka melihat mu kesakitan seperti itu, pokoknya jangan bekerja di tempat itu lagi!" kata Farwa dengan penuh penekanan.
"Itu hanya pekerjaan sementara, sambil nunggu panggilan di tempat lain" jawab Argani sambil menatap lekat wajah Farwa.
"Kita masih ada cukup uang untuk beberapa hari ke depan, jadi nggak perlu kamu melakukan itu" kata Farwa.
"Aku punya tanggungjawab jawab pada hidup mu, bagaimana bisa aku tidak bekerja"
"Jadi menurut mu, aku beban untuk mu? " tanya Farwa.
"Bukan seperti itu, bagaimana aku jika tidak bisa memberi mu makan. Jangan kan hidup yang layak seperti orang lain, untuk makan saja susah. Bagi ku apapun pekerjaan nya yang penting ada upah yang di terima dan halal" jawab Argani dengan nada bicara yang pelan.
Semenjak pergi meninggalkan rumah orang tuanya, Argani menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan nada bicara nya saja sudah beda, sekarang ia tidak mudah terpancing dengan omongan orang.
"Apapun alasannya, aku tidak setuju kamu bekerja di tempat itu" kata Farwa, ia bukan lah orang yang jahat sehingga membiarkan Argani seperti itu.
"Iya, aku tidak bekerja seperti itu lagi. Tapi ijinkan aku untuk berpamitan terlebih dahulu, oh iya ini uang hasil kerja kemarin" kata Argani sambil menyerahkan uang pecahan seratus ribu.
"Pegang saja, lagian yang kemarin di kasih saja belum di pakai. Mungkin kamu lebih butuh uang untuk beli keperluan saat pergi mencari kerja" jawab Farwa.
Akhirnya sarapan pun sudah selesai.
Argani berpamitan terhadap sang istri untuk segera pergi ke tempat bekerja yang kemarin, bahwa ia sudah tidak bekerja lagi di tempat itu.
__ADS_1
Setelah kepergian sang suami, bel rumah terus berbunyi.
Farwa langsung membuka pintu gerbang, betapa terkejutnya saat melihat orang yang berdiri di hadapan nya pada saat ini.