
Setelah satu minggu sadarkan diri, Argani sudah bisa pulang ke rumah nya. Ia sudah terlihat sangat sehat, setelah cukup lama ia berada di rumah sakit.
Sang Mama merasakan bahagia yang sangat luar biasa.
"Nak... Papa sudah menyiapkan keberangkatan mu ke luar negeri! " kata sang Mama sambil duduk di samping Argani yang terus menatap gambar Farwa sedang tersenyum.
"Atur saja, terserah kalian mau seperti apa. Toh yang ada bersama kalian hanya sebuah raga tanpa nyawa, jiwa ku sudah mati ikut bersama nya" jawab Argani tanpa melirik sedikit pun terhadap Mamanya.
"Mungkin setelah di sana kamu bisa melupakan nya, dan bisa mendapatkan orang yang seperti Farwa tapi versi yang lain"
"Sudah lah, Ma... aku butuh istirahat, siapkan saja keberangkatan ku besok" kata Argani, tidak biasanya laki-laki ini bersikap dingin. Setelah sadar dari koma, Argani lebih banyak diam dan melamun. Bahkan ketika di ajak bicara saja seperti tidak mendengar lawan bicara nya.
"Istirahat lah, Mama akan bicara sama Papamu untuk segera mempersilahkan nya, jika mau nya besok"
Sang Mama pun langsung pergi meninggalkan Argani sendiri di kamarnya.
Di tempat lain
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu melakukan ini, sudah cukup kami kehilangan Farwa tidak ingin juga melihat kamu membusuk di dalam sini" kata Mahad terhadap Marwan, meskipun ia sangat kesal dengan Argani akan tetapi ia juga tidak setuju dengan apa yang di lakukan oleh Marwan. Menurut nya Marwan sudah menghancurkan masa depan nya hanya karena kebodohan nya.
"Aku lakukan ini semu demi Farwa"
"Apa dengan melakukan ini, Farwa bisa kembali? nggak kan! hidup kita sudah susah jangan tambah susah lagi, Saya akui niat kamu baik akan tetapi lebih baik kita tidak pernah berurusan lagi dengan keluarga itu" ucap Mahad. Ia sangat kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Marwan.
Di saat Mahad dan Marwan sedang berbicara, datang lah salah satu penjaga tahanan menghampiri mereka.
"Tuan Marwan, mulai hari ini anda di bebaskan! " kata orang tersebut.
"Tuan Malik sudah mencabut laporan nya, dan anda terbebas"
"Boleh, sebab laporan nya sudah di cabut"
Marwan dan Mahad saling tatap, mengapa Malik dengan mudah mencabut laporan nya. Bukankah selama ini tidak akan pernah ada ampun bagi orang yang sudah berurusan dengan Malik.
Di saat keduanya sedang bingung memikirkan hal ini, ada seseorang yang berbicara dari arah belakang.
__ADS_1
"Saya sangat mencintai anak dan istri saya, maka ini semua ku lakukan demi mereka. Akan tetapi jika kalian berani berurusan lagi dengan ku, maka. Tidak akan pernah mendapatkan ampun dari seorang Malik, kali ini keberuntungan sedang berpihak pada kalian" kata Malik dengan sombongnya.
Mahad tidak menjawab apapun, ia sudah malas berurusan dengan orang seperti Malik. Lebih baik diam, Malik yang melihat Mahad diam saja merasa kesal.
"Mengapa kamu seperti tidak suka dengan kehadiran ku di tempat ini? " tanya Malik terhadap Mahad.
"Lalu, aku harus seperti apa? tepuk tangan menyambut kedatangan mu, atau menggelar karpet merah" jawab Mahad.
Malik yang mendengar perkataan dari Mahad merasa kesal, ia mengepalkan tangan nya. Ia tidak mau sikap buruk nya terlihat semua orang, Memang Malik ini seperti rubah licik yang bisa bersembunyi di berbagai keadaan.
Setelah beberapa saat akhirnya, Marwan pun di bebaskan dan mereka akan segera pulang.
Malik sudah pergi meninggalkan Marwan dan Mahad.
"Ayok kita pulang? " ajak Mahad.
Di saat mereka akan melangkah kan kaki, ponsel Mahad berdering dan laki-laki itu langsung merogoh ponsel yang ada di sakunya.
__ADS_1
Terlihat dengan jelas dari no tidak di kenal, lalu ia menyimpan kembali ponsel nya tanpa menjawab panggilan itu.
Akan tetapi berdering lagi untuk kesekian kalinya, betapa terkejut nya Mahad mendengar suara yang berada di balik telepon itu.