Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 101


__ADS_3

Di malam hari, Mayang baru pulang. Sengaja ia pulang larut agar tidak bertemu dengan Marwan dan juga istrinya.


Saat Mayang pulang rumah sudah dalam keadaan sepi, dengan langkah terburu-buru ia langsung naik ke lantai atas untuk segera masuk ke dalam kamar dan mengistirahatkan tubuh nya. Akan tetapi baru saja ia akan memutar gagang pintu terdengar suara yang memanggilnya lalu ia menghentikan nya dan menatap ke arah sumber suara.


"Kenapa terburu-buru adik ku sayang? apakah kamu tidak merindukan kakakmu ini, padahal kita terpisah cukup lama. Kenapa kamu seperti tidak suka dengan kehadiran ku di rumah ini, seharusnya kamu menyambut ku seperti Mamamu, bukan menghindar seperti ini. Terlihat dengan jelas bahwa kamu itu tidak menginginkan ku ada di rumah ini, kenapa seperti itu adik ku sayang. Kita ini keluarga yang harus saling menjaga dan menyayangi" kata Marwan sambil mendekat ke arah Mayang.


"Kamu boleh menipu Mama, akan tetapi tidak dengan ku. Apa rencana yang kalian miliki untuk menghancurkan keluarga ku, asal perlu kamu tahu bahwa aku tidak selemah yang kamu pikirkan dan jangan senang dulu dengan Mama memperlakukan mu dengan cara seperti ini. Karena sebentar lagi akan kebenaran akan terungkap. Siap-siap kamu akan keluar dari rumah ini" kata Mayang dengan nada bicara penuh penekanan.


"Kenapa kamu begitu yakin adik ku sayang, apakah ada seseorang yang membantu dirimu untuk menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Akan tetapi itu semua tidak mungkin bisa terungkap, kamu hanyalah anak kecil dan sampai kapan pun tidak akan pernah bisa bersaing dengan ku" kata Marwan sambil menyeringai tipis, seolah ia meremehkan kemapuan Mayang.


Marwan belum tahu saja siapa yang berada di balik Mayang.


"Aku sangat yakin bahwa kebenaran akan selalu menang, mungkin saat ini kamu merasa menang bisa membohongi Mama ku tapi itu tidak akan lama. Karena kebenaran akan segera terungkap" kata Mayang dengan nada bicara penuh penekanan.


"Ah, adik ku sayang... kebenaran apa yang kamu maksud. Kenapa kamu tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku ini kakak mu, kita seharusnya saling menyayangi dan mengungkap kasus dulu yang menimpa keluarga kita. Sekarang kamu harus belajar menerima kenyataan bahwa kita keluarga" jawab Marwan.


"Justru karena aku menerima kenyataan, dan aku tidak mau mengungkit apa yang telah terjadi di masa lalu. Karena aku selalu berfikir bahwa hidup bukan tentang masa lalu tapi saat ini dan masa depan, karena dengan mengungkit masa lalu akan membuka luka lama yang sudah hampir sembuh. Jadi lupakan untuk mengungkap masa lalu, karena aku tidak suka akan hal itu" kata Mayang.


Sungguh ia tidak setuju dengan apa yang menjadi rencana Marwan yang akan mengungkapkan apa yang terjadi dengan keluarga nya di masa lalu meskipun itu tentang kematian sang Papa.


Bagi Mayang yang sudah berlalu tidak perlu di ingat kembali karena itu semua tidak akan pernah mengubah kenyataan.


"Aku akan melakukan apa yang aku mau, jadi setuju atau tidak aku ajan melakukan nya, sebab itu tujuan utama ku untuk membuat mereka hancur sebagai mana mereka menghancurkan ku dan mengambil paksa apa yang aku miliki pada saat itu, kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasa nya sakit saat kehilangan orang yang di cintai di ambil paksa oleh orang lain" kata Marwan dengan nada bicara penuh penekanan.


"Sudah lah, aku lelah dan ingin istirahat" kata Mayang.


Setelah berbicara seperti itu, Mayang langsung masuk ke dalam kamar dan meninggal kan Marwan begitu saja yang masih berdiri di depan pintu.


Akhirnya Marwan pun kembali ke kamarnya, ia juga harus beristirahat karena tubuh nya juga sudah lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Marwan pun sudah berada di dalam kamar, ia sudah melihat Alfi tertidur nyenyak. Ia langsung naik ke atas tempat tidur, lalu merebahkan tubuh nya di samping Alfi lalu memejamkan matanya dengan perlahan. Dengan harapan ia akan tertidur pulas, setelah beberapa saat akhirnya Marwan pun sudah mulai berada di alam mimpi.


...****************...


Di tempat lain


Fawa sama sekali belum bisa memejamkan matanya, padahal sudah larut malam.


Biasanya Farwa tidur cepat apalagi setelah capek setelah seharian bekerja, akan tetapi malam ini begitu gelisah sampai ia tidak bisa untuk memejamkan matanya. Ia akan rindu sosok Argani, ia terus menatap wajah anak kecil yang yang sudah tertidur pulas.


Dengan memandang wajah Argani kecil ia merasakan kehadiran suaminya ada di antara mereka.


"Ada apa dengan ku, ikhlas kan dia wahai hati karena dia sudah tidak mungkin untuk kembali. Semoga kamu tenang di alam sana, cukup do'akan aku untuk menjadi wanita kuat yang bisa membesarkan anak kita dengan baik. Jangan siksa aku dengan semua rasa ini, kamu pasti tahu kan apa yang aku rasakan pada saat ini" batin Farwa sambil menatap wajah sang putra.


Setelah cukup lama Farwa menatap wajah sang putra, lalu ia bangun dan dan berjalan perlahan untuk mendekat ke arah gambar besar yang menempel di dinding.


Bahkan setelah dua tahun kepergian Argani tidak sedetikpun ia melupakan sang suami, bahkan seluruh dunia nya sudah berpaling hanya tentang Argani.


Farwa terus berdiri sambil menatap dan tersenyum.


"Apa kamu tahu perasaan ku pada saat ini, dan jika aku boleh memilih ketika aku berada di kehidupan selanjutnya maka aku selalu berdoa pada Tuhan agar di pertemukan lagi dengan mu, lelaki hebat yang mencitai perempuan seperti ku dengan segenap jiwa dan ragamu. Dan sampai kehidupan ke tujuh pun tidak akan pernah menemukan orang seperti mu, karena tidak semua perempuan beruntung bisa melahirkan anak seperti kamu " batin Farwa sambil terus menatap gambar sang suami.


Akhirnya setelah cukup lama, Farwa pun berjalan perlahan untuk keluar dari kamar. Seperti biasa jika tidak bisa tertidur dan tersiksa rindu terhadap seseorang yang hanya mampu di kenang, ia pergi ke balkon dan menikmati udara malam. Ini kebiasaan Farwa agar ia merasakan ketenangan karena angin malam mampu kehapus kan rasa rindu untuk nya, Farwa rasa bahwa angin itu rasa yang di kirim Tuhan untuknya agar rasa itu menghilang walau hanya sesaat, karena rindu itu akan kembali setiap saatnya.


Farwa menarik nafas dengan perlahan sambil memejamkan matanya dan memangil nama Argani di dalam hatinya" Bukan aku tidak menerima kenyataan akan tetapi aku hanya rindu akan kehadiran nya, aku juga selalu mencoba untuk hidup tanpa nya. Tapi itu sangat sulit, untuk melupakan nya. Aku hanya rindu dan ingin memeluknya walau hanya sejenak " batin Farwa ia terus menutup matanya dan ia merasakan dingin nya angin malam menembus kulit nya.


Setelah cukup lama ia merasakan angin malam, hatinya sudah mulai tenang dan merasakan kehadiran suaminya dan hatinya sudah lega. Ia melangkah kan kakinya untuk segera masuk kembali ke dalam kamar, karena waktu sudah menunjukkan jam tiga pagi. Rasa lelah pun sudah di rasakan oleh Farwa, dengan harapan setelah ini ia akan tertidur dengan tenang.


Akhirnya Farwa sudah berada di dalam kamar lalu ia naik ke atas tempat tidur lalu memeluk sang putra dan berusaha untuk memejamkan matanya dengan perlahan.

__ADS_1


Di kediaman Hadi


Ia tidak bisa membiarkan sang adik dalam kesakitan suhu tubuh nya semakin tinggi, dengan terpaksa Hadi memanggil dokter keluarga yang ia percaya untuk menangani kesehatan Radit pada saat ini, sebab ia tidak mau mengambil resiko dengan mempertaruhkan kesehatan Radit pada saat ini.


Rasa cemas yang di rasakan Hadi bukan tanpa alasan, dokter pun sudah memeriksakan Radit dan infus sudah di pasang di tangan Radit mata nya terus terpejam namun bibir nya bergumam memanggil nama seseorang yang tidak terdengar dengan jelas.


"Bagaimana keadaan nya dok, apakah ada yang serius? " tanya Hadi terhadap dokter yang menangani Radit pada saat ini.


"Nggak juga, dia terus mengigau nama siapa yang dia panggil? kalau boleh kasih saran Mungkin dengan kehadiran orang tersebut akan membuat dia cepat sehat, kamu ingat kan riwayat dia seperti apa. Sudahlah hentikan semua ini, sudah waktunya juga. Kasian dia seperti ini, kamu juga tersiksa kan dengan keadaan ini dengan menutup jati diri kalian. Selama dua tahun aku mendampingi kalian berdua bahkan jauh sebelum itu aku sudah berada di antara kalian, sudah faham apa yang ada di pikiran mu. Jika kebenaran ini terungkap dan kekhawatiran yang kamu takutkan terjadi maka itu bukan salah siapa pun melainkan sudah takdir Tuhan yang sudah di gariskan untuk umat-Nya, sekarang pun tetap kalian tidak mendapatkan kebahagiaan bukan? "


"Aku hanya ingin melindungi nya, nggak mau hal buruk terjadi kepada mereka" jawab Hadi dengan raut wajah yang sedih.


"Hentikan dia untuk terus mengkonsumsi obat yang aku kasih, dengan perlahan dia akan mengingat semua dan rasa sakit di kepalanya juga perlahan akan sembuh seiring berjalan nya waktu dan ia akan mampu mengingat semuanya, kasian dia terus seperti ini jika terus mengkonsumsi obat tersebut dan akibatnya akan fatal bahkan akan kehilangan ingatan nya dengan permanen"


"Bagaimana kalau dia marah pada ku dan membenciku, karena aku telah menjadi orang jahat"


"Aku yang akan membantumu menjelaskan semuanya, agar dia faham maksud nya dan yang kamu lakukan itu karena ingin melindungi keluarga nya. Akan tetapi sudah saat nya semua ini berakhir" kata dokter dengan nada bicara perlahan, sambil menatap wajah Radit.


"Tapi aku bingung memulai nya dari mana untuk menjelaskan nya"


"Kamu nggak perlu menjelaskan apapun sekarang karena itu sia-sia, cukup hentikan menyuruhnya untuk terus minum obat-obatan itu nanti juga ingatan nya perlahan akan kembali. Jika dia meminta penjelasan maka aku akan membantu mu "


"Baiklah kalau begitu aku ikuti apa katamu, yang penting dia bisa sehat dan tidak merasakan kesakitan lagi" jawab Hadi.


"Pasti dia akan sembuh apalagi berada di dekat orang-orang yang sangat menyayangi nya, kalau begitu aku pamit pulang. Kamu juga istirahat jangan terlalu banyak berfikir"


"Baik lah, hati-hati di jalan"


Akhirnya dokter pun pergi meninggalkan Hadi yang masih duduk di atas tempat tidur sambil menatap lekat wajah sang adik yang terlihat sangat pucat.

__ADS_1


__ADS_2