
Radit dan Farwa sudah berada di dalam kendaraan, begitu juga dengan Argani kecil. Ia sangat antusias sekali untuk ikut bersama Ayah dan ibunya, meskipun keadaan nya belum sembuh total. Yang namanya juga anak kecil, meskipun sakit tetap tidak di rasa.
Kali ini mereka terlihat seperti keluarga bahagia, Radit melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang.
Waktu bergulir begitu cepat, Radit sudah berhasil menggantikan kendaraan nya di depan sebuah gedung yang sudah tidak asing bagi Radit akan tetapi ini sangat asing bagi Farwa.
"Ini tempat apa? kenapa juga kita harus datang ke tempat ini, bukankah kita mau bertemu dengan kakak!" tanya Farwa sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Ini kantor nya kak Adnan" jawab Radit tanpa melihat ke arah Farwa.
"Owhh"
Setelah itu, Radit langsung mengajak anak dan istrinya untuk segera masuk ke dalam gedung perkantoran, memang perusahaan yang sekarang tidak besar seperti yang ada di kota A, akan tetapi perkembangan nya sangat pesat sehingga mampu mengimbangi perusahaan induk.
Mereka bertiga melangkahkan kaki dengan perlahan, hingga pada akhirnya sudah berdiri di depan pintu ruangan. Selang beberapa saat pintu sudah terbuka dan di sambut dengan senyuman oleh Adnan dan satu orang yang sudah tidak lagi muda.
Dan mereka bertiga di persilakan untuk duduk di tempat yang tersedia di sana, sedangkan Argani kecil di ajak bermain oleh salah satu karyawan yang di perintah oleh Adnan untuk menjaga Argani kecil agar mereka lebih fokus membicarakan hal yang sangat penting.
"Apa pak Radit, sudah lama sekali tidak bertemu dengan mu" orang yang sudah tidak lagi muda tapi masih terlihat gagah.
__ADS_1
"Baik, apakah kita pernah bertemu sebelum nya? " tanya Radit lagi untuk memastikan bahwa ia mengenal orang tersebut.
"Saya Daryono, pengacara keluarga Malik. Datang ke sini untuk menyampaikan surat wasiat yang pernah tertunda beberapa tahun lalu" jawab orang tersebut sambil menatap Radit dan Farwa secara bergantian.
"Wasiat! " jawab Radit sambil mengerutkan alisnya.
"Iya, Pak Radit. Jadi begini, dua tahun lalu. Pak Malik memberikan sebagian hartanya untuk istri anda yang bernama Farwa akan tetapi pada saat itu, ibu Farwa tidak mau menerima nya karena dia berfikir bahwa Pak Malik membayar nyawa anda dengan harta nya, dan menurut ibu Farwa itu tidak akan bisa menghidupkan anda kembali dengan semua harta yang di berikan oleh Pak Malik. Dan sekarang saatnya saya mengembalikan ini terhadap orang yang lebih berhak, saya ingin menyelesaikan pekerjaan ini sebelum masa kerja saya berakhir karena saya sudah mendekati masa pensiun, saya mohon untuk pak Radit dan istri bisa di ajak kerja sama" kata Daryono, ia sangat berhadap bahwa Radit dan Farwa mau menerima semua itu.
"Sekarang saatnya kamu terima itu semua, sebab Argani juga masih ada bersama kita untuk saat ini" Adnan pun menimpali ucapan pengacara tersebut dengan harapan mereka berdua mau menerima nya.
"Kak, kenapa membiarkan ku berjualan sembako di pasar dan memulai usaha dari nol. Itu harta kekayaan selama ini aku nggak tahu " jawab Radit masih bingung karena ia juga nggak tahu harta apa yang di bicarakan.
"Tapi kalau aku tidak mau menerima itu bagaimana? lagian itu bukan hak ku, tidak pantas aku mendapatkan kekayaan sebanyak itu. Yang lebih berhak itu ya dia suamiku" jawab Farwa sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Tapi Nyonya, di surat wasit jelas tertulis nama mu jadi saya sebagai orang yang di amanat kan tidak bisa melanggar itu. Lebih baik terima saja, lagipula suami Nyonya masih ada terus bisa di alihkan kembali terhadap tuan Radit" kata pengacara tersebut sambil menatap sepasang suami-istri secara bergantian.
"Aku sih nggak masalah, semua itu atas namanya lagian dia juga berhak atas itu semua karena dia juga bagian dari keluarga Malik yaitu istri ku. Meskipun aku belum mampu mengingat nya, tapi sekarang hati saya mulai yakin bahwa dia adalah perempuan yang sering muncul dalam bayangan ku, hanya saja tidak jelas wajahnya. Karena terlihat jelas dari wajahnya cinta yang tulus untuk ku" jawab Radit sambil menatap lekat wajah Farwa dengan lekat, sekarang hatinya mulai menerima kenyataan bahwa perempuan yang selama ini berusaha ia dekati dan ternyata itu adalah istri nya.
"Tapi kalau aku nggak mau menerima nya bagaimana? " ucap Farwa.
__ADS_1
"Apa yang menjadi milik ku itu juga miliki mu, jadi tidak ada alasan bagimu untuk menolak nya. Jika kamu anggap aku ini suami mu, maka terimalah itu semua! " kata Radit dengan nada bicara penuh penekanan.
"Tapi aku tidak bisa menjalankan itu semu, lagian aku juga sudah memiliki rumah makan dan itu juga lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan tabungan pendidikan untuk Argani kecil" jawab Farwa.
"Nggak harus kamu yang mengelola itu semua, toh sudah ada orang kepercayaan yang bisa menjaga amanahnya. Kamu hanya sebagai pemilik perusahaan tersebut dan sesekali datang ke perusahaan untuk mengunjungi mereka yang telah bekerja keras untuk kemajuan perusahaan" Adnan menjelaskan itu semua terhadap Farwa, dengan harapan adik iparnya mau menerima nya.
"Tunggu apalagi, saat nya kamu mengambil keputusan yang tepat. Nanti juga kalau anak kita sudah besar dan bisa di alih kan terhadap nya, pasti dia akan menjadi pemimpin yang baik dan menjadi pengusaha yang sangat terkenal di kota ini" Radit pun meyakinkan sang istri agar mau menerima nya.
"Baiklah kalau begitu, aku terima semua ini dengan kamu dan anak kita" jawab Farwa sambil meraih beberapa map yang berada di hadapan nya, karena tinggal menunggu tandatangannya saja.
Setelah beberapa saat akhirnya selesai.
"Tunggu dalam waktu tiga hari, dan semua aset itu sudah menjadi nama Nyonya Farwa dan semua keputusan soal perusahaan itu ada di tangan mu, pasti Nyonya bisa, melakukan nya dengan baik" kata pengacara itu sambil menutup kembali berkas-berkas itu.
"Baiklah terimakasih banyak, selama dua tahun telah menjaga nya dengan baik" kata Adnan sambil menatap laki-laki yang sudah tidak lagi muda, mungkin jika sang Ayah masih hidup pasti sekarang sudah seperti orang yang berada di hadapan nya pada saat ini.
Sebab Malik dan Daryono itu sahabat baik, hanya saja mereka memiliki garis nasib yang berbeda.
"Saya permisi dulu, karena masih banyak yang harus di urus. Nanti tiga hari lagi kita akan bertemu di sini" kata pengacara tersebut, lalu mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Setelah berpamitan ia pun melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.