Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 79


__ADS_3

" Bertahan lah, Mas.. demi anak kita" ucap Farwa dengan air mata yang tidak henti mengalir.


Ambulans yang membawa Argani melaju dengan kecepatan tinggi membelah keramaian kota, semua kendaraan yang ada di jalan mereka memberi jarak agar Ambulance itu melaju tanpa ada hambatan.


Selama di perjalanan Farwa tidak henti mengeluarkan air mata, baru saja ia merasakan kebahagiaan dan sekarang harus mendapatkan kesedihan seperti ini lagi.


Bahkan ini jauh lebih sedih saat Argani memaksa nya untuk di jadikan istri, ternyata takut kehilangan di rasakan Farwa pada saat ini.


Waktu bergulir begitu cepat, Ambulance yang membawa Argani sudah berhenti tepat di depan unit gawat darurat.


Dengan gerakan cepat, para perawat langsung menyambut kedatangan pasien darurat dan langsung menyiapkan ruang operasi untuk pengangkatan peluru yang bersarang di tubuh Argani.


Bahkan saat ini Farwa bingung harus berbuat apa, ia tidak tahu arah.


Di saat melihat suami dalam keadaan seperti itu, Farwa tidak mampu berfikir.


Setelah di bawa masuk ke dalam ruangan, sedangkan Farwa di minta untuk menunggu di luar.


Ia duduk di kursi tunggu, lalu mengambil ponsel yang ada di tas nya ia ingin menghubungi kedua orang tuanya mungkin mereka bisa membuat Farwa kuat saat melihat keadaan suami seperti itu.


Farwa mengusap layar ponsel dan mencari nomor sang ibu lalu di telalu tombol panggil.


Setelah beberapa saat panggilan pun terhubung.


"I-ibu.... Argani Bu...dia sekarang ada di rumah sakit, tolongin aku bu... " kata Farwa sambil menangis sesegukan.


"A-apa... bagaimana bisa" jawab Zulaikha dengan nada bicara terkejut nya.


"Ayah sama ibu tolong datang ke sini, aku nggak tahu keadaan nya sekarang bagaimana apakah selamat atau tidak, saat di bawa masuk ke ruang unit gawat darurat Argani sudah tidak sadarkan diri" kata Farwa dengan sura terbata-bata.


"Ok tenangin diri dulu, ibu secepatnya akan segera ke sana. Berdoa semoga Argani baik-baik saja! " pesan sang ibu.

__ADS_1


"Iya"


Akhirnya panggilan telepon pun sudah berakhir. Farwa masih memeluk tubuh nya sendiri dengan pakaian yang di penuhi darah sebab Argani mengeluarkan banyak darah.


Waktu bergulir begitu cepat.


Keadaan Argani belum juga di ketahui pada saat ini, salah satu dari petugas kesehatan juga belum ada yang memberi kabar terhadap Farwa hal ini membuat Farwa sangat takut, tubuh Farwa sudah mulai gemetaran kepala nya kembali pusing pandangan nya sudah mulai kabur.


Tiba-tiba terasa gelap, tanpa di duga Faklan datang lebih cepat dari kedua orang tuanya Farwa. Ia yang melihat keadaan kakak iparnya seperti itu langsung sigap menangkap tubuh Farwa yang hendak terjatuh dari kursi.


"Kakak ipar, ada apa? ayo bangun lah... ingat Argani butuh dukungan dari mu. Kakak pasti kuat" kata Faklan dengan nada bicara yang lembut.


Sungguh ia juga merasakan kesedihan yang sama seperti Farwa, bahkan ia tidak percaya saat kedua orang tua Farwa memberi kabar bahwa Argani dalam keadaan kritis.


Baru saja ia ikut merasakan kebahagiaan nya, sekarang harus menderita seperti ini. Ternyata ujian cinta mereka begitu berat, di saat Farwa sudah menerima kehadiran Argani.


Sekarang ada musibah yang menjadikan Farwa mendapatkan kesedihan.


Setelah beberapa saat datanglah orang tua Farwa beserta Daisy.


"Aku juga nggak tahu, Bu... saat aku dadang Kakak ipar seperti hendak terjatuh dan aku langsung menangkap nya, ternyata keadaan nya sudah seperti ini" jawab Faklan.


"Farwa, sayang ini ibu, Nak... bangun! " kata Zulaikha sambil menepuk pipi sang putri.


"Ayolah Nak, ayah juga ada bersama mu... kita semua ada di sini" kata Mahad dengan nada bicara pelan.


Faklan pun menyingkir dan sekarang Farwa ada di dekapan sang ibu, mungkin saat ini Farwa sedang tidak sedekahkan diri akan tetapi pelukan sang ibu mampu membuat jiwanya tenang.


Setelah beberapa saat, Zulaikha pun sambil mengajak Farwa untuk berbicara meskipun keadaan anak nya sedang dalam keadaan tidak sadar.


Akan tetapi perkataan sang ibu mampu membawa Farwa ke dalam ketenangan dan terdengar menyejukkan perkataan itu hingga ke alam bawah sadarnya.

__ADS_1


"Sayang bangun, Argani saat ini sangat membutuhkan kamu. Saat ini ia ingin kamu sehat dan terus berada di sampingnya, bagaimana kamu bisa menjaga dan merawat nya kalau keadaan mu saja seperti ini" kata sang ibu dengan suara pelan dan sentuhan lembut di kepala sang anak.


Akhirnya suara sang ibu mampu membuat Farwa tersadar, ia membuka mata dengan perlahan sambil memegang kepala yang masih terasa berat.


"Ibu kepala ku rasanya berat sekali" kata Farwa sambil meringis.


"Iya sayang, mungkin kamu butuh ke dokter biar di kasih obat" jawab sang Ibu.


"Nggak perlu, Bu... tadi pagi aku udah ke dokter. Entah kemana obat itu, aku nggak tahu. Saat itu aku panik liat Argani seperti tadi" kata Farwa dengan air mata yang mulai keluar lagi.


"Iya sayang, sekarang kamu istrahat dan tenang kan diri mungkin pusing nya akan hilang. Yakin lah pada sang kuasa bahwa Argani akan baik-baik saja" Zulaikha berusaha untuk mengenang sang putri.


"Kalau dia nggak sembuh bagaimana, Bu... "


"Argani pasti bertahan demi kamu, dia sangat menyayangi mu... dia juga laki-laki yang kuat pasti bisa melewati nya"


"Kakak ipar harus yakin, bahwa dokter sedang berusaha untuk kesembuhan Argani" kata Faklan sambil menatap lekat wajah Farwa, matanya mulai sembab.


"Bagaimana cerita nya Argani bisa tertembak seperti itu, terus orang yang menembaknya lolos begitu saja? " tanya sang Ayah dengan suara lembutnya.


Mahad memberanikan diri untuk bertanya, sebab ia melihat sang putri sudah mulai tenang.


Farwa menceritakan dengan rinci tentang kejadian yang di alaminya saat di klinik, ia juga memberi tahu kedua orang tuanya bahwa dirinya sedang mengandung pada saat ini.


Kedua orang tuanya merasakan kebahagiaan karena sebentar lagi mereka akan mempunyai cucu, akan tetapi di sisi lain ia juga sedih dengan keadaan menantunya yang sedang berjuang melawan maut.


Mereka semua sangat sedih dan merasakan penderitaan Argani pada saat ini, dan Farwa juga mengingat kejadian yang telah lalu.


Di mana Argani sangat terpuruk ketika dirinya mengalami kecelakaan, dan sekarang ia merasakan apa yang di rasa kan Argani pada saat itu.


Ternyata sesakit ini saat melihat orang yang di cintai merasakan kesakitan seperti ini, ternyata takdir begitu kejam mempermainkan hidup Farwa dan Argani.

__ADS_1


Begitu banyak rintangan untuk hidup bahagia bersama.


Satu jam telah berlalu, belum ada kabar juga tentang perkembangan Argani pada saat ini.


__ADS_2