Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 143


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, Hari-hari mereka lalui seperti biasa.


Satu minggu telah berlalu, keluarga mereka juga, terlihat sangat kompak.


Terkadang iri bagi mereka yang tidak merasakan kasih sayang dari orang yang ada di sekitar.


Radit masih berjuang untuk sembuh, sang istri juga selalu mendampingi nya. Karena bagi Farwa dukungan yang paling utama dan semangat bagi Radit yaitu dirinya.


Seperti hari ini, mereka akan pergi ke dokter yang biasanya mengobati Radit. Sudah ada sedikit peningkatan dari sebelum nya dan ini kunjungan yang ke empat ke dokter tersebut.


"Mas... setelah pulang dari dokter, jadi kan kita untuk pergi ke sekolah untuk mendaftarkan Argani sekolah? " tanya Farwa terhadap suaminya yang masih berganti pakaian.


"Jadi, tapi aku sangat berharap setelah Arga sekolah kamu bisa menghentikan aktivitas yang lain dan fokus terhadap perkembangan nya " jawab Radit lalu menatap wajah sang istri dengan penuh cinta.


"Maksudnya? aku belum mengerti apa yang menjadi keinginan mu" Farwa memang belum faham apa yang di maksud oleh suaminya.


"Jadi begini, setelah Argani sekolah kamu harus memprioritaskan anak kita dan aku sangat berharap kamu mencari koki untuk di rumah makan nantinya, aku nggak mau kamu yang mengerjakan itu. Dan pastinya kamu akan kelelahan jika melakukan nya sendiri, lebih baik kita pikirkan dari sekarang" kata Radit sambil duduk di samping sang istri.


"Untuk hal itu, Mas...jangan khawatir aku sudah memikirkan nya dan aku hanya fokus untuk kesembuhan mu dan perkembangan anak kita. Nanti setelah kamu sembuh juga kita kan akan melakukan program hamil anak ke dua, jadi aku sudah tidak perlu mengurus hal seperti itu. Dan untuk mencari koki aku serahkan semuanya terhadap mu, ayah dah ibu juga sudah semakin tua. Nggak mungkin juga mereka mengurus hal itu, untuk mengurus diri mereka saja sekarang membutuhkan kita. Kesehatan ayah juga semakin menurun" ucap Farwa, memang ia sudah memikirkan itu semua. Jadi untuk saat ini ia hanya ingin fokus terhadap keluarga nya Karena bagi Farwa harta yang paling berharga itu adalah keluarga. Apa gunanya harta melimpah jika antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya tidak saling merasakan kedekatan. Bahkan mereka terasa asing, Farwa tidak mau hal itu terjadi pada keluarga kecil nya.


Dan ia akan memanfaatkan sisa hidup nya agar lebih dekat dengan kedua orang tuanya, dan menemani mereka di usia senja nya.


"Terimakasih kamu memang istri yang luar biasa, ternyata kamu sudah berfikir jauh sampai ke sana! maafkan aku yang selalu banyak menuntut" kata Radit.


"Itu bukan sebuah tuntutan dari mu, akan tetapi kewajiban ku sebagai seorang istri yang bertanggungjawab untuk mengurus anggota keluarga nya termasuk juga anak dan suami. Tanpa di minta pun aku akan melakukan itu, karena itu semua bentuk pengabdian seorang istri terhadap suami" Farwa berkata sambil tersenyum dan menatap lekat wajah suaminya.


Dan semua perkataan Farwa sudah berhasil membuat Radit jadi laki-laki paling bahagia, bisa memiliki istri seperti Farwa yang mementingkan kebahagiaan dan kenyamanan anggota keluarga nya.


"Terimakasih istri ku" kata Radit lalu nencium kening Farwa.


"Tidak perlu berkata seperti itu, kita bersama untuk saling melengkapi. Sudah? ayok berangkat sekarang jadwal nya jam sepuluh pagi dan sekarang jam sembilan nanti telat loh! " Farwa mengajak suaminya untuk segera berangkat.


"Iya, ini sudah siap untuk berangkat"


Akhirnya sepasang suami istri berjalan untuk keluar dari kamarnya, dan mereka akan segera pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang menangani kasus seperti Radit.


Dan sekarang ia benar-benar harus berprilaku hidup bersih dan sehat, untuk segera sembuh. Dan meninggalkan apapun itu yang tidak sehat meskipun Radit sangat menyukai itu, termasuk juga ia berhenti merokok. Karena bisa jadi itu juga salah satu pemicu akan lambat nya proses penyembuhan nya.


Sekarang ia fokus untuk sembuh, dan meninggalkan apapun yang membuat nya stres juga. Bahkan toko sembako, perusahaan yang di jalankan bersama Adnan pun sekarang ia tidak mengurus nya dan menyerahkan semuanya terhadap sang kakak.


Adnan pun menerima nya dengan baik, bagi dia juga kesembuhan Radit yang paling utama. Perusahaan biar lah yang menjadi tanggungjawab nya, meskipun Radit tidak bekerja. Itu semua tidak menjadikan nya jadi gelandang, karena harta yang di wariskan oleh Ayah Radit sudah lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan mereka.


Bahkan harta yang di miliki Farwa jauh lebih banyak daripada Adnan yang setiap hari harus pergi ke kantor dan mengurus perusahaan, karena pemilik perusahaan itu adalah Farwa. Tuan Malik telah menghibahkan sebagian besar perusahaan nya atas nama Farwa.


Mereka berdua sudah berada di lantai bawah, di sana terlihat dengan jelas kedua orang tuanya. Sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati tontonan televisi pada saat ini, sedangkan Argani kecil selalu dengan aktivitas bermain nya. Di hadapan kedua orang tua mereka, dan anak itu selalu membuat rumah berantakan.


"Ma... aku titip Argani dulu ya, mau pergi ke rumah sakit. Mungkin pulang nya agak sore karena mau cek sekolah dulu! " Farwa berkata ketika sudah duduk di samping sang Mama.

__ADS_1


Sedangkan Radit, menghampiri jagoan kecilnya yang sedang asik bermain.


"Pergi saja, jangan pikirkan anak mu. Kan ada ibu yang menjaga nya" jawab Zulaikha.


Sebetulnya di rumah ini ada juga pengasuh Argani, akan tetapi anak kecil itu lebih nyaman bermain bersama sang nenek atau orang tua nya. Hanya sesekali saja baru bersama pengasuh, jika tidur malam barulah pengasuh yang menjaga anak kecil itu.


"Maafin aku yang selalu membuat Ibu repot" kata Farwa sambil menatap wajah sang Ibu yang kulit nya semakin keriput, tubuh nya sudah tidak sekuat dulu lagi.


"Kamu itu ngomong apa sih, dia itu cucu ku sudah kewajiban ku juga menjaga dan menyayangi nya. Sudah sana cepat berangkat, nanti telat loh! " kata Zulaikha.


"Iya, Bu... ayok mas... sayang Ibu sama Ayah pergi dulu yah, jadi anak pinter. Yang nggak membuat nenek repot dengan semua permintaan mu" ucap Farwa terhadap jagoan kecil nya.


"Ayah berangkat sekarang, jagain nenek sama kakek nya" ucap Radit sambil mengelus rambut jagoan kecil nya.


"Iya Ayah, bilang sama Ibu jangan cerewet" kata anak kecil itu lalu melirik ke arah sang ibu yang tidak jauh darinya.


Setelah itu, Radit dan Farwa berjalan perlahan untuk segera pergi ke luar rumah dan menuju kendaraan yang sudah terparkir di halaman untuk segera mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


Keduanya sudah ada di dalam kendaraan, mereka duduk di kursi penumpang dan pak sopir sudah siap melakukan kendaraan nya untuk segera sampai di tujuan.


...****************...


Di tempat lain


Sepasang suami-istri sedang berdebat, siapa lagi kalau bukan Faklan dan Daisy.


"Mas... aku ingin kita pergi ke dokter bareng dan memeriksa kesehatan kita, dan kita harus melakukan apa agar segera di kasih kepercayaan untuk aku hamil. Aku juga ingin di panggil ibu, kita juga nggak mungkin untuk terus seperti ini dan kamu seperti tidak perduli untuk hal ini" kata Daisy, ia sungguh kesal terhadap suaminya. Ada saja alasan nya jika di ajak ke dokter dan mulai program hamil.


"Nanti juga kalau waktunya tiba, pasti kamu akan hamil dan kita akan menjadi orang tua" jawab Faklan santai, seolah tidak mempermasalahkan ini semua.


"Kita menikah sudah lama, tapi belum juga bisa hamil. Banyak dari mereka yang baru beberapa bulan saja menikah sudah hamil, kita ini sudah tiga tahun. Apa kamu tidak ingin di panggil Ayah" kata Daisy. Ia semakin kesal dengan jawaban suaminya yang seperti tidak merespon apa yang menjadi keinginan nya.


"Kita baru tiga tahun, banyak di luar sana yang menikah sepuluh tahun bahkan lebih dari itu akan tetapi jika belum saatnya untuk hamil tetap saja susah"


"Setidaknya ada usaha dari kita, loh jangan pasrah seperti in! "


"Mau usaha seperti apa, setiap malam aku berusaha dan bekerja keras untuk membuat mu hamil tapi jika belum waktunya ya mau bagaimana lagi. Itu semua di luar kendali ku"


"Setidaknya kita periksa ke dokter dan mengikuti saran dari mereka agar cepat hamil. Aku suka iri sama mereka yang menikah baru tapi sudah menggendong bayi" ucap Daisy dengan mata yang mulai berair.


"Nggak perlu iri terhadap hidup orang lain, kita semua sudah mempunyai jalan hidup masing-masing dan serahkan terhadap sang kuasa berdoa jangan lupa. Itu kuncinya, nggak perlu mengikuti orang lain nanti juga jika Tuhan sudah berkehendak maka semuanya akan terjadi" Faklan berkata sambil merapikan beberapa kertas yang ada di hadapan nya.


Karena ia membawa pekerjaan kantor ke rumah dan menggunakan waktu luangnya saat di rumah untuk merapikan itu semua.


"Mas...kamu itu susah sekali di ajak bicara, ya, sudah kalau begitu aku mau menginap di rumah Ibu! " Kata Daisy, lalu ia membuka lemari dan mengambil tas untuk di isi pakaian ganti ia berniat untuk menginap beberapa hari di sana.


"Harus yah kalau lagi kesal itu pergi dari rumah, mau hamil atau tidak kamu itu tetap wanita sempurna bagiku. Jadi tolong jangan pernah mempermasalahkan ini semua, jika sudah saat nya dan Tuhan percaya terhadap kita untuk menjaga amanah nya maka semua itu akan terjadi. Mungkin sekarang Tuhan memberikan kesempatan untuk kita agar menghabiskan waktu bersama, karena jika sudah punya bayi pasti kamu lebih fokus ke anak dan sudah tidak ada waktu lagi untuk ku" ucap Faklan dengan nada bicara yang lembut, lalu membawa istri nya ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Lepasin aku, biarkan aku menginap di rumah ini" Daisy berkata sambil berusaha melepaskan tangan kelar yang melingkar di pinggang nya.


"Aku nggak akan lepasin, kalau kamu pergi dalam keadaan seperti ini. Kalau mau pergi ke rumah Ibu aku akan antar tapi jangan marah seperti ini" ucap Faklan sambil terus memeluk tubuh sang istri.


"Aku nggak marah, hanya saja kecewa dengan mu. Jadi biarkan aku sendiri, jangan ikuti aku atau mencari ku! " kata Daisy dengan nada bicara yang du penuhi amarah.


"Tambah cantik deh, kalau lagi marah" Faklan terus menggoda sang istri.


"Lepaskan! kalau nggak kamu akan menyesal! " anacam Daisy terhadap suaminya.


"Iya, tapi jangan pergi ya! " kata Faklan sambil menatap wajah sang istri dengan penuh cinta.


Setelah beberapa saat ia melepaskan pelukan nya, lalu dengan gerakan cepat Daisy menyambar tas yang sudah di isi oleh pakaian miliknya dan pergi dengan cepat untuk segera keluar dari kamar.


Sungguh ia kecewa dengan sang suami, ia berfikir bahwa Faklan tidak mendukung apa yang menjadi keinginan nya.


Padahal Faklan juga punya alasan tersendiri untuk tidak melakukan itu, lebih tepat nya Faklan belum siap dengan hasil yang di dapat saat pemeriksaan kesehatan nantinya. Jadi lebih baik tidak di periksa daripada nantinya saling menyalakan, Faklan menghindari hal itu agar tidak ada perdebatan selajutnya yang di akibatkan oleh hasil pemeriksaan.


Daisy sudah keluar dari kamarnya dengan membawa tas, lalu paklan pun mengejar sang isrti. Akan tetapi Daisy tidak mau berhenti meskipun sang suami terus memanggilnya.


Ratih melihat sang menantu keluar dengan membawa tas dan tidak memperdulikan nya, merasa heran karena tidak biasanya Daisy seperti itu.


Lalu ia melihat ke arah sang putra yang mengejar istrinya dan menghentikan nya.


"Apa yang kamu lakukan, sehingga menantu Mama marah dan pergi tanpa terburu-buru seperti tadi? jika terjadi sesuatu padanya, Mama tidak akan pernah memaafkan mu! " bu Ratih berkats sambil menatap Faklan dengan ancaman.


"Astaga, Ma... bukan nya di hentikan malah di biarkan pergi! " jawab Faklan, setelah itu ia berlari ke depan untuk mengejar sang isrti. Akan tetapi Daisy sudah tidak terlihat lagi.


Faklan melihat ke sekeliling, akan tetapi istrinya sudah tidak terlihat lagi. Lalu ia terus berlari ke jalan raya, dan bertanya terhadap petugas keamanan yang berjaga. Akan tetapi mereka tidak melihat Daisy.


"Aneh... apakah dia punya ilmu tak nampak di lihat, sehingga mereka tidak ada yang melihat nya" batin Faklan, lalu ia mengacak rambutnya dengan kasar terus masuk kembali ke dalam rumah dengan wajah yang prustasi.


"Mana Daisy? " tanya sang Mama.


"Nggak ketemu" jawab Faklan dengan raut wajah penuh rasa bersalah.


"Kenapa malah masuk kembali, bukan nya langsung menyusul nya ke sana! " kata Ratih.


"Iya, Ma... mau ambil kunci mobil dulu, lagian Mama bukan nya di hentikan malah di biarkan begitu saja" Faklan menyalahkan sang Mama yang tidak menghentikan sang istri ketika keluar rumah.


"Kamu yang salah, malah nyalahin Mama. Mama saja nggak tahu kenapa dia sampai semarah itu, pasti kamu sudah melukai perasaan nya"


"Nggak, Ma... hanya salah Faham saja"


"Sudah, cepetan cari istri mu. Dan bawa pulang kembali, jangan pulang kalau tanpa istri mu! " kata Ratih dengan tatapan mata tajam terhadap Faklan.


"Iya"

__ADS_1


Setelah berbicara seperti itu, Faklan langsung pergi ke kamarnya untuk segera mengambil kunci mobil dan segera mencari keberadaan nya.


__ADS_2