
Di kantor tempat Farwa bekerja.
Farwa melangkah kan kakinya untuk segera masuk ke dalam gedung, di mana ia menghabiskan sepanjang hari di dalam ruangan.
Ia sadar bahwa hari ini telat lima menit, meskipun di dalam hati ada rasa takut.
Sebab baru beberapa hari bekerja sudah telat seperti ini, setelah beberapa saat Farwa sudah berada di depan meja di mana ia mengerjakan semua tugasnya di sana.
Baru akan melangkah tiba-tiba ada Alina yang datang menghampirinya.
"Ibu Farwa, di panggil ke ruangan Pak Erick! " kata Alina.
"Baik Bu, terimakasih saya akan segera menemuinya" jawab Farwa dengan rasa takut.
Setelah berkata seperti itu, Alina pun pergi meninggalkan Farwa.
Setelah Alina pergi, lalu Farwa juga melangkahkan kakinya dengan perlahan. Setelah berada di depan pintu, Farwa tidak langsung mengetuk pintu.
Ia tarik nafas dengan perlahan lalu memberanikan diri untuk mengetuk nya, akan tetapi belum juga tangan Farwa mengetuk pintu.
Malah pintu sudah terbuka, dan ternyata Erick yang membuka nya dengan remot kontrol. Sehingga pintu bisa terbuka dengan otomatis, sebab Erick tahu bahwa ada Farwa yang berdiri di depan pintu. Erick memperhatikan nya lewat kamera pengintai.
Farwa melangkah kan kakinya dengan perlahan lalu mendekat ke arah Erick.
"Tuan memanggil saya? " tanya Farwa sambil menunduk.
"Kamu tahu kan kenapa saya memanggil mu? tanya Erick balik terhadap Farwa.
" Saya telat lima menit datang ke kantor" jawab Farwa dengan rasa bersalah.
"Itu kamu tahu, mengapa sampai telat. Ingat kamu masuk ke perusahaan ini atas dasar rekomendasi dari karyawan terbaik di perusahaan ini dan aku juga mempertimbangkan itu semua, jadi kamu jangan pernah membuat saya kecewa telah memilih kamu menjadi bagian dari perusahaan kami" kata Erick ia tidak mempersilakan Farwa untuk duduk.
"Baik Tuan, saya janji tidak akan pernah mengulangi nya lagi" jawab Farwa.
"Baiklah, silakan kembali ke tempat kamu bekerja. Lakukan yang terbaik untuk perusahaan ini! " kata Erick.
"Saya pamit, terimakasih" jawab Farwa.
Setelah berbicara seperti itu, Farwa langsung keluar dari ruangan sang bos.
Setelah beberapa saat ia sudah duduk di kursi sambil menatap monitor yang ada di hadapan nya, ia akan memeriksa kembali jadwal Erick untuk beberapa hari ke depan. Ia takut ada jadwal yang terlewat, sebab Erick tipe bos yang lupa sesuatu dengan cepat tanpa di ingatkan kembali.
Lalu Farwa menghela nafas panjang, ia juga teringat sama Argani bagaimana keadaan nya pada saat ini.
Apakah Argani bisa fokus bekerja atau tidak dan bagaimana juga dengan bosnya, apakah bisa memaafkan nya saat datang terlambat.
Pikiran Farwa terbagi, antara pekerjaan dan sang suami.
__ADS_1
...****************...
Di tempat Argani bekerja.
Laki-laki itu baru sampai di tempat bekerja setelah telat satu jam, karena ia menemui sang Mama terkejut dahulu.
Hatinya belum merasa tenang jika belum mengunjungi nya, meskipun itu hanya menatap gundukan tanah yang ada di hadapan nya.
Bagi Argani itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindu nya terhadap sang Mama.
Saat Argani ingin melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam, ia sudah di sambut oleh sang bos di depan pintu.
Argani sudah yakin bahwa hari ini ia akan di pecat, sebab baru dua hari bekerja di tempat ini sudah datang terlambat.
Ia akan siap menerima konsekwensi nya dari apa yang telah di lakukan nya.
"Maaf Tuan saya datang terlambat! " kata Argani sambil menundukkan kepalanya.
"Itu kamu tahu kalau terlambat, sekarang ikut ke ruangan ku! " ajak sang bos terhadap Argani.
"Baiklah" jawab Argani.
Akhirnya Argani berjalan di belakang untuk mengikuti bos nya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah berada di dalam ruangan lalu sang bos mempersilakan Argani untuk duduk terlebih dahulu.
"Maaf Bos, tadinya saya hari ini tidak akan masuk kerja karena... " jawab Argani tidak melanjutkan perkataan nya.
Ia tidak mau orang lain tahu apa yang terjadi pada keluarga nya pada saat ini.
"Kenapa? ayo cerita saja apa alasan nya! "
"Hanya tidak enak badan, akan tetapi saya ingat bahwa mempunyai tanggungjawab besar di sini. Makanya memutuskan tetap datang ke sini meskipun datang terlambat, jika mau di pecat juga nggak apa-apa ini murni kesalahan saya" jawab Argani dengan nada bicara pelan.
"Lain kali jika ada masalah atau sedang tidak enak badan bisa hubungi saya bahwa akan datang telat, soalnya tadi barang datang pada nggak ada orang. Salman juga lagi off kerja istrinya mau melahirkan, tahu sendiri kan di sini tidak banyak karyawan nya" kata laki-laki yang sudah tidak lagi muda, akan tetapi masih semangat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
"Sekali lagi saya minta Maaf, janji saya akan memberi kabar jika terlambat datang ke sini" jawab Argani dengan rasa bersalah di hatinya.
"Baiklah, silakan kamu periksa stok barang yang ada di gudang. Jika sudah menipis akan di pesan lagi, agar kita nggak kekurangan barang! " perintah sang bos.
"Siap! " jawab Argani.
Setelah merasa cukup, Akhirnya sang bos mempersilakan Argani untuk pergi dan melaksanakan tugasnya.
Padahal Argani bekerja di sini hanya sebagai kasir, akan tetapi ia juga di beri kepercayaan untuk memegang kuci gudang dan bertanggungjawab dengan stock yang ada.
Setiap tutup toko iya harus cek barang terlebih dahulu agar tidak ada kekurangan esok harinya, gaji pokok jadi kasih hanya tiga juta akan tetapi ia juga ada tambahan lain yaitu bonus dari pekerjaan lainnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Argani sudah berada di dalam gudang penyimpanan barang, ia periksa satu demi satu semua stok barang yang tersusun rapi. Ia mencatatnya barang apa saja yang kurang dan barang apa saja yang baru masuk tadi pagi.
Meskipun Argani baru bekerja, bahkan tidak ada pengalaman sedikit pun dalam bekerja, akan tetapi ia langsung Faham apa yang harus di kerjakan nya saat bekerja.
Bahkan ia juga di beri kepercayaan yang lebih.
Waktu bergulir begitu cepat, Argani sudah selesai dengan tugas nya.
Hari sudah semakin sore, yang belanja juga semakin ramai.
Harusnya toko tutup di jam empat sore, kali ini sudah mepet ke waktu toko tutup akan tetapi yang belanja masih saja banyak.
Argani masih semangat melayani semua pelanggan, bos yang melihat kerja keras Argani semakin kagum dengan tekad yang di miliki laki-laki itu.
Argani tidak menyadari jika ada orang yang sedang memperhatikan nya, ia terus saja bekerja dengan penuh senyuman.
Semua orang yang berbelanja di swalayan ini merasa senang, selain ganteng ramah pula kasirnya. Sehingga menjadikan pelanggan ingin kembali lagi berbelanja di tempat ini.
Argani yang sekarang sudah jauh lebih baik, sekarang Argani lebih sabar saat menghadapi semuanya.
Setelah cukup lama akhirnya selesai sudah, para pelanggan sudah sepi waktunya Argani tutup toko.
Akhirnya bisa pulang juga meskipun sedikit terlambat, dengan gerakan cepat Argani langsung menuju di mana kendaraan nya terparkir
Ia takut istrinya pulang naik angkutan umum seperti waktu itu, Argani mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
Agar ia datang tepat waktu, setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
Akhirnya Argani sudah sampai di gedung perkantoran di mana sang istri bekerja, ia ingin menghampiri Farwa akan tetapi ia menghentikan kendaraan nya saat melihat seseorang mendekati Farwa lalu mereka berdua masuk ke dalam kendaraan roda empat.
Hal itu membuat hati Argani hancur, ia merasa bahwa memang saat ini dirinya tidak pantas untuk berada di samping Farwa
Argani langsung menarik gas kembali dan melajukan kembali kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, rasa marah di dalam harinya sudah menguasai dirinya.
Ia cemburu melihat Farwa bersama orang lain, akan tetapi ia berusaha untuk menahan emosinya agar Farwa tidak takut lagi pada nya.
Waktu bergulir begitu cepat, hari juga sudah semakin gelap.
Argani sudah sampai di rumah lebih dulu sebelum Farwa datang, ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa lalu menarik nafas kasar.
Meskipun sudah gelap ia tidak menyala kan lampu.
Setelah beberapa saat ia terdiam di dalam kegelapan, terdengar suara orang yang membuka pintu.
Argani sudah yakin bahwa yang datang itu sang istri, ia berpura-pura tidur.
Farwa sudah berada di dalam rumah lalu ia menyala kan lampu betapa terkejutnya saat melihat Argani sudah berada di rumah.
__ADS_1
"Ternyata kamu sudah di rumah mengapa tidak menjemput ku? " tanya Farwa terhadap sang suami dengan rasa kecewa yang ada di hatinya.