
Waktu bergulir begitu cepat, satu bulan telah berlalu.
Selama itu pula, Farwa selalu mendampingi suami untuk mendapatkan pengobatan. Mereka juga menempuh pengobatan tradisional yang di sarankan oleh Rahmat.
Rehab gedung yang akan di jadikan rumah makan Farwa pun sudah mulai berjalan dengan lancar, toko sembako milik Radit sudah di serahkan sepenuhnya terhadap Rahmat. Biarkan dia yang mengelola nyw, sudah tidak ada waktu lagi bagi Radit untuk melakukan hal itu.
Menurut Radit, Rahmat mampu mengelola nya dengan baik. Sekarang ia hanya fokus untuk menyembuhkan penyakit yang ada pada dirinya.
Farwa istri yang sangat setia dan luar biasa, selalu menjadi penyejuk bagi suaminya. Sebab sudah satu bulan melakukan pengobatan belum juga ada hasilnya, Radit mulai putus asa. Akan tetapi Farwa yang selalu memberi semangat untuk sembuh.
Pagi yang sangat cerah, sebagian orang sudah beraktivitas di luar ruangan tetapi tidak bagi Radit Ia masih bermalas-malasan di tempat tidur, padahal matahari sudah bersinar dengan sempurna dan sinarnya sudah memasuki kamar melalui celah jendela.
Farwa istri yang super aktif, ia sudah sibuk di dapur dan mempersiapkan untuk keperluan seluruh anggota keluarga nya. Ia heran mengapa sang suami belum juga keluar dari kamar, padahal biasanya laki-laki itu selalu rajin untuk bangun pagi.
Menu sarapan sudah siap di hidangkan, akhirnya Farwa melangkahkan kakinya untuk segera melihat ke kamar sedang apa suaminya sehingga belum keluar dari kamar. Padahal ini sudah siang.
Farwa sudah berada di sisi tempat tidur, ia menatap sang suami yang masih betah berada di atas tempat tidur.
"Mas... ini sudah siang loh, bukankah kita hari ini akan pergi ke rumah nya bu Ratih!" Farwa berkata sambil menarik selimut yang menutup tubuh sang suami, akan tetapi tidak ada respon apapun dari Radit. Hal itu membuat Farwa heran sehingga kembali mengguncangkan tubuh suaminya, sambil memanggil namanya.
Setelah cukup lama, Farwa pun semakin khawatir karena tidak ada respon apapun dari suaminya. Wajahnya Farwa sudah pucat ia takut terjadi sesuatu dengan suaminya, ia berteriak minta tolong.
__ADS_1
Akan tetapi sesuatu yang tak di duga membuat Farwa kaget, yagitu tangan kekar suaminya menarik tubuhnya sehingga berhasil jatuh dan berbaris di samping sang suami sambil di peluk erat oleh Radit.
"Kamu itu jahat, mas... aku khawatir! ternyata kamu bercanda" kata Farwa sambil memukul dada suaminya dengan tangan nya sendiri, ia berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya.
"Ini masih pagi, kamu itu terlalu rajin. Sehingga sepagi ini harus sudah bangun, mau mengerjakan apa coba. Lebih baik kita tidur lagi yuk! " Jawab Radit sambil mengeratkan tangan nya yang melingkar di pinggang ramping milik sang istri.
"Bangun itu mesti pagi, biar rizki nggak di patok ayam"
"Ahh itu mah pepatah orang tua jaman dulu, sekarang mah ayam nya juga nggak ada udah pada jadi ayam crispy, di meja makan untuk sarapan mana bisa matok Rizki" ucap Radit, ia masih tetap memejamkan mata sambil memeluk erat sang istri.
Setelah cukup lama mereka berada di atas tempat tidur, dan Radit asik sambil memeluk tubuh sang istri. Farwa pun tidak berontak, karena percuma juga ia berontak toh tenaga nya kalah kuat dari sang suami. Jadi ia lebih memilih pasrah dengan yang di lakukan suami.
Di tempat lain
Faklan sudah pindak ke kota yang sama dan tinggal bersama sang Mama, mereka pun terlihat semakin dekat karena tidak bisa di pungkiri bahwa ada aliran darah yang kuat di antara mereka.
Meskipun awalnya Faklan belum menerima kenyataan, bahwa Ratih adalah ibu kandung nya. Setelah tes DNA menyatakan bahwa mereka adalah ibu dan anak. Berkat Daisy juga yang selalu memberi pengertian terhadap Faklan agar bisa menerima kenyataan yang ada, dan mengambil hikmah dari semua yang terjadi pada diri kita. Akhirnya Faklan membuka hatinya dan berusaha untuk mendekatkan dirinya dengan keluarga yang sesungguhnya.
Bahkan untuk tinggal bersama juga Faklan tidak menolak nya, perusahaan kecil yang ia rintis pun lebih memilih di percayakan terhadap orang lain dan ia menjadi pemimpin perusahaan yang di wariskan oleh Ratih.
Seperti biasanya sebelum berangkat ke kantor, mereka selalu duduk bersama di meja makan. Karena hanya di pagi hari mereka bisa kumpul bersama dan berbagi cerita, Daisy perempuan yang belum bisa bangun pagi meskipun itu di rumah mertua. Akan tetapi Ratih perempuan yang baik, selalu membiarkan apa yang menjadi kebiasaan menantunya.
__ADS_1
Hanya saja Daisy merasa tidak enak hati, karena setiap pagi ia bangun sarapan sudah siap di hidangkan. Meskipun ada pelayan yang menyiapkan itu semua, tetap saja ia merasa tidak enak hati.
Keluarga yang baru saja bersama selama satu bulan karena terpisah dengan waktu yang cukup lama, mereka sudah duduk di ruang makan.
"Dek, apa tidak lebih baik kamu bekerja di perusahaan sendiri! apa enaknya bekerja sama orang lain, yang ada waktu kamu habis di sana nggak ada waktu untuk istirahat" Faklan berkata sambil menatap Mayang, perempuan itu sedang menikmati sarapan nya dengan lahap.
"Aku belum kepikiran untuk itu, lagian perusahaan keluarga tidak cocok untuk ku. Aku lebih nyaman bekerja di perusahaan itu. Abang aja yang urus, aku percaya pasti lebih berkembang dari sekarang" jawab Mayang, karena memang ia tidak berminat sedikit pun untuk bergabung di perusahaan keluarga nya.
"Tapi kan, di sana kamu hanya sebagai karyawan biasa yang gajinya juga tidak terlalu besar" ucap Faklan, ia berusaha untuk membujuk sang adik.
"Aku bekerja dengan hati dan kenyamanan, dengan bidang yang aku kuasai. Soal uang itu tidak bisa di ukur dari segi apapun, kalau pun aku dapat uang banyak jika mengerjakan sesuatu hanya karena uang bukan karena menguasai bidang itu, dan akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di butuhkan oleh perusahaan. Jadi lebih baik aku menghindari itu"
"Biarkan biarkan dia mengerjakan apa yang di mau, lagian nggak mungkin juga terus bekerja kalau sudah menjadi istri orang" Ratih menimpali percakapan kedua anaknya. Ia juga tahu betul anak perempuan nya itu seperti apa, tidak bisa di paksa juga. Jadi lebih baik di biarkan seperti itu, mungkin nanti Mayang akan berubah pikiran nantinya.
"Aku sih sangat berharap, Ma... Mayang bisa bekerja sama dengan ku. Dan membuat perusahaan kita, berkembang seperti perusahaan lainnya" jawab Faklan.
Sebetulnya bukan hanya soal perusahaan akan tetapi lebih ke menyayangi sang adik agar tidak terlalu capek bekerja di perusahaan orang.
Lagian mereka punya cukup uang, meskipun Mayang tidak bekerja akan tetapi mampu untuk mencukupi kebutuhan Mayang.
Setelah cukup lama, mereka berbicang sambil menikmati sarapan pagi. Tiba-tiba Mayang di panggil oleh salah satu pelayan bahwa yang menjemput nya sudah datang dan menunggu di teras.
__ADS_1