
Di tempat lain.
Seperti biasanya selalu ada drama di pagi hari, setelah Radit tinggal bersama Farwa. Jaon kecil pun sudah tidak bisa di kendalikan, ia selalu ingin jadi pemimpin dan di turutin semua orang. Seperti pagi ini, ia memaksa untuk ikut bersama Radit pergi ke toko. Radit bukan tidak mau mengajak sang putra, akan tetapi kondisi Argani kecil juga belum sehat sepenuhnya. Ia harus lebih banyak istirahat jangan terlalu capek.
Akan tetapi anak kecil itu keras kepala seperti sang Ayah, meskipun sudah di beri pengertian akan tetapi tetap saja masih merengek dan meminta sang Ayah agar mengajak nya pergi ke toko sembako milik Radit.
"Ayolah, Nak. Jangan seperti ini, di sana kamu nggak ada teman pasti jenuh. Lagian Ayah juga pulang nya pasti sore! " kata Farwa dengan nada bicara pelan, agar bisa di mengerti oleh anak kecil itu.
"Di sini juga nggak ada temen, pasti nenek sibuk di dapur kakek juga sama paling aku suruh main sendiri" jawab Argani kecil dengan raut wajah kecewa.
"Di sini kan, masih ada ibu yang akan bermain dengan mu" kata Farwa.
"Nggak, pokoknya aku mau ikut sama Ayah. Lagian selama ini aku jarang bermain dengan nya, kenapa sekarang setelah dia pulang masih juga di larang! " jawab anak kecil itu dengan nada bicara khas anak kecil dengan kedua tangan melipat di dada.
"Ya sudah, boleh ikut tapi di sana jangan nakal! " kata Radit sambil menatap lekat wajah anak kecil yang masih merajuk.
"Kenapa seperti itu, nanti dia bikin ulah di sana. Kamu tetap di sini sama ibu" kata Farwa dengan nada bicara penuh penekanan.
"Ibu jahat! " kata Argani kecil sambil melangkah kan kaki untuk segera masuk ke dalam kamar, pertanda anak kecil itu sudah mulai merajuk.
__ADS_1
"Apa perlu kita mencari pengasuh, atau membuat adik biar dia ada temennya" kata Radit dengan spontan, entah mengapa dia bisa berbicara seperti ini. Padahal tidur saja, ia belum berani satu kasur bersama Farwa ada rasa takut tersendiri yang di rasakan oleh Radit.
Seketika wajah Farwa memerah, ia memalingkan pandangan nya ke arah lain agar tidak di ketahui oleh Radit.
"Nggak perlu! kan Arga juga sering di jaga sama ibu, mungkin hari ini dia lagi ingin bersama kamu. Biasanya juga tidak pernah seperti ini" jawab Farwa dengan nada bicara pelan, akan tetapi masih mampu di dengar jelas oleh Radit.
"Serah kamu saja, yang jelas dia itu butuh teman. Tahu sendiri kan kita semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, anak kecil seperti Arga mana bisa anteng. Atau kita masukan saja ke play grup, pasti dia sangat senang di sana dia bisa mempunyai banyak teman sekaligus belajar banyak hal" kata Radit sambil menatap perempuan yang ada di hadapan nya, akan tetapi ia belum mengingat nya siapa dia yang sebenarnya.
Meskipun Farwa sudah mencoba dengan menunjukkan photo-photo saat mereka bersama, dan itu semua tidak mendapatkan hasil apapun. Radit masih samar-samar, terkadang ia mengingat sesuatu akan tetapi tempat dan kejadian nya ia sama sekali tidak mengingat nya. Kali ini Farwa harus berjuang untuk mendapatkan cinta Radit seperti dulu, sebab cinta Radit yang dulu begitu besar untuk Farwa.
"Kita pikirkan lagi soal itu, sekarang pergilah! aku akan mengurus Arga terlebih dahulu, jangan lupa nanti siang pulang makan di rumah saja, sekalian bawain untuk anak-anak yang kerja di toko! " kata Farwa.
"Nggak perlu nyiapin untuk mereka, toh mereka juga suka bawa bekal. Nanti mubadzir nggak ke makan" jawab Radit.
"Bagaimana baik nya saja, ku pamit yah" kata Radit sambil bangkit dari duduknya, ia akan segera melangkahkan kakinya untuk segera turun dan pergi ke tempat dimana dia mendapatkan pundi-pundi rupiah.
Datang lah dua orang yang tidak mereka sangka, dan hal itu membuat Radit kaget ketika melihat Faklan berada di hadapan nya, ia seperti merasa dekat dengan Faklan tapi ia juga tidak mengingat apapun.
"Hai kakak ipar! " sapa Daisy sambil tersenyum tipis menatap lekat wajah Radit yang terlihat bingung dengan kehadiran dua orang di hadapan nya pada saat ini.
__ADS_1
"I-iya, Hai juga" jawab Radit dengan ragu.
"Ini masih pagi, mengapa kalian sudah ada di sini! ada hal yang penting sehingga datang sepagi ini? " tanya Farwa sambil menatap wajah sang adik, yang terlihat lelah.
"Masih pagi di mana? ini sebentar lagi jam 11 , kakak saja yang bangun nya telat jadilah waktu rasanya masih pagi" jawab Daisy.
"Ya maklum lah, sayang. Mereka kan pengantin baru, wajar kalau bangun nya kesiangan" Faklan pun menimpali ucapan sang istri.
Farwa dan Radit hanya saling melempar tatapan, mereka tidak mengerti dengan bapa yang di katakan dua manusia yang ada di hadapan nya.
"Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu! " kata Radit, akan tetapi niatnya di gagalkan oleh Faklan dan membawa Radit untuk duduk kembali.
"Mau pergi ke mana kakak ipar, kami baru saja datang mengapa kamu pergi. Apakah tidak suka dengan kehadiran kami di sini? " tanya Faklan, ia sebetulnya sengaja melakukan ini agar terpancing emosi nya Radit, sebab akan muncul reaksi yang tidak di inginkan oleh seseorang ketika dia sedang kesal. Ini yang sedang di lakukan oleh Faklan, sebab Radit suka memanggilnya nama bintang kalau lagi marah apakah kata itu akan keluar atau tidak. Faklan hanya berusaha untuk memancingnya saja, sebab ia juga sudah tahu bahwa Radit melupakan sebagian ingatannya.
"Iya, tapi aku harus berangkat ke toko. Sudah beberapa hari aku tidak datang ke sana! " jawab Radit dengan nada bicara yang lembut.
Faklan dan sang istri hanya saking tatap, tidak menyangka bahwa Radit akan setenang ini. Kalau saja Radit yang dulu, sudah pasti akan mengamuk saat ada orang yang menghalangi niatnya.
"Ya sudah pergilah! nanti malam saja kita ngobrol nya, aku ada sesuatu yang ingin di sampai kan terhadap kamu kak. Hati-hati di perjalanan nya! " pesan Faklan, ia pun membiarkan Radit untuk pergi.
__ADS_1
Ia sangat yakin bahwa Radit kali ini bukan pura-pura, melainkan ia benar melupakan apa yang terjadi sebelum nya. Bisa di liat dari cara bicara nya saja sekarang sudah berubah, dan ternya ada berkah di balik musibah.
Akhirnya Radit pun pergi meninggalkan mereka bertiga, yang masih berada di ruang keluarga. Karena tempat yang sangat sempit, jadi ruangan nya serba guna.