Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.

Gadis Manis Penakluk Hati Tuan Kejam.
Bab 95


__ADS_3

Di kota B.


Mayang dan sang ibu baru saja sampai di kota tersebut, ia akan di jemput oleh teman sang ibu.


Orang tersebut yang memberi kabar bahwa anaknya ada di kotak itu.


Mayang duduk di samping sang ibu sambil memainkan ponsel nya, sebab ia merasa jenuh ketika harus menunggu orang tanpa ngapa-ngapain.


"Ma, lama sekali. Mengapa belum juga sampai? " tanya Mayang terhadap sang Mama.


"Sabar, mungkin terjebak macet. Di sini kotak, tidak seperti di kota tempat kita tinggal" jawab sang Mama.


Akhirnya Mayang pun tanpa terdiam tanpa berkata apapun lagi.


Setelah cukup lama, akhirnya orang yang di tunggu tiba juga.


Mereka langung masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkan nya ke tempat tujuan. Ratih ibu dari Mayang memutuskan untuk menginap di hotel, meskipun ada temannya di kota ini. Akan tetapi lebih baik menginap di hotel menurut nya, jadi sebelum berangkat ke tempat yang di tuju. Ia akan beristirahat sejenak, sebab setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh pinggang seperti mau putus saja.


Perjalanan yang mereka lalui, lumayan padat sehingga kendaraan berjalan lambat.


Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya kendaraan sudah berhenti di salah satu hotel yang terkenal di kota ini.


Mereka masuk ke dalam karena kamar sudah di pesan oleh sabat Ratih, dan semua sudah berada di dalam kamar tersebut termasuk juga sahabat Ratih.


"Apa kamu yakin ingin menemui nya saat ini? " tanya Mawar sahabat dari Ratih.


"Kalau bukan sekarang terus kapan, sudah lama aku menunggu hari ini tiba. Selama ini aku terus mencari nya, bahkan hampir setiap hari aku datang ke panti asuhan saat aku menyimpan nya di sana. Berharap dia akan datang ke sana, pasti aku mengenalinya meskipun saat aku tinggal baru beberapa bulan. Fatimah juga kehilangan kontak orang yang mengadopsi nya pada saat itu, untung saja kamu baik dan sekarang anak ku sudah di temukan"


"Ya sudah, jangan di tunda lagi. Secepatnya kita temui anak kamu, biar kerinduan mu cepat terobati" kata Mawar.


"Nanti sore kita akan pergi ke sana! sekarang aku butuh istirahat sejenak" jawab Ratih.


"Baiklah, kalau begitu aku tinggal. Nanti sopir aku yang akan mengantarkan kalian ke tempat yang di tuju! "


"Memangnya kamu nggak ikut? kalau menemui orang yang salah bagaimana? "


"Nggak akan salah, itu sudah ku pastikan berulang-ulang bahwa orang tersebut adalah yang kamu cari" jawab Mawar.


Setelah berbicara seperti itu, Mawar langsung bangkit dari duduknya.


Dan berpamitan untuk segera pulang.


Setelah kepergian Mawar, Mayang berkata terhadap sang Mama.


"Ma, apa sebaiknya kita nggak usah datang ke rumah itu. Aku seperti merasakan kejanggalan di sini, lebih baik nggak usah jadi dan kita pulang kembali! "

__ADS_1


"Kita sudah jauh-jauh datang ke tempat ini, masa iya harus pulang kembali. Apa kamu nggak mau bertemu dengan kakak? "


"Bukan seperti itu, Ma... tapi aku curiga sama teman Mama itu. Kalau dia nggak ada niat jahat, pasti menemani kita untuk datang ke rumah itu. Mengapa perempuan itu tidak mau mengantar kita! "


"Sudah lah, jangan banyak berfikir terlalu jauh. Sekarang kita istirahat terlebih dahulu, dan setelah itu kita berangkat! "


Akhirnya Mayang pergi ke toilet, meninggal kan sang Mama yang sudah berbaring.


Waktu bergulir begitu cepat.


Sore hari telah tiba, Mayang dan sang Mama sudah berada di dalam kendaraan yang akan mengantarkan mereka.


Sebelum berangkat Ratih pun membeli banyak barang untuk di bawa, ia ingin memberikan kesan yang indah terhadap anaknya yang terpisah sejak dulu.


Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang, hari sudah mulai gelap. Kendaraan sudah mulai memadati jalanan, sinar dari berbagai kendaraan sudah berhasil memperindah jalan.


Mayang sangat menikmati suasana malam seperti ini, tapi ia tidak suka dengan cara orang membawa kendaraan. Menurut Mayang membuang waktu jika berkendara dengan kecepatan seperti ini, ingin rasanya mengambil alih setir agar cepat sampai di tempat yang di tuju.


Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat yang di tuju.


"Ini, Nyonya sudah sampai" kata pak sopir.


"Nggak salah ini rumah nya? " tanya Ratih kembali memastikan bahwa yang mereka tuju memang benar ini.


"Betul bu, ini sesuai dengan alamat yang di berikan oleh bu Mawar" jawab Sopir yang mengantarkan mereka.


Setelah beberapa saat, mereka sudah berdiri di hadapan rumah sederhana tapi terlihat sepoi.


"Seperti tidak ada orang ya" kata Ratih sambil terus menatap rumah yang ada di hadapan nya pada saat ini.


"Ayok, coba ketuk saja pintunya! " kata Mayang sambil melangkah kan kalinya, untuk segera mendekat ke arah pintu.


Mayang pun mengetuk pintu, setelah beberapa saat pintu pun terbuka.


"Maaf, mencari siapa? " tanya seorang perempuan yang masih muda, sambil mengendong anak kecil.


"Saya mencari anak saya yang tinggal di rumah ini! " jawab Ratih.


"Kalau boleh tahu, siapa nama anak ibu?" tanya Alfi yang masih berdiri di depan pintu.


"Kalau nama anak saya waktu kecil itu Fadlan, sekarang saya nggak tahu tapi ada ko photo nya" kata Ratih sambil menyerahkan photo tersebut.


Alfi pun menerima uluran tangan tersebut lalu melihat, gambar yang di pegang nya pada saat ini.


"Kalau ini suami saya bu" jawab Alfi.

__ADS_1


Akan tetapi ia heran mengapa ada yang mengaku bahwa yang berada di hadapan nya adalah ibu dari Marwan.


Padahal yang ia tahu Marwan adalah anak tunggal dari pasangan Gunawan dan Gayatri, kenapa sekarang ada yang mengaku bahwa Marwan itu anaknya. Padahal selama ini tidak pernah membahas tentang anak angkat atau latar belakang Marwan.


"Benarkah? berarti kamu itu menantu saya, terus anak kecil ini? " tanya Ratih sambil menunjuk anak kecil yang di gendong Alfi.


"Ini anak saya, Bu. Oh iya sampai lupa mempersilakan untuk masuk" kata Alfi, setelah itu mempersilakan kedua perempuan yang berdiri di hadapan nya pada saat ini.


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah lalu, Alfi meninggal kan mereka untuk membuat minum.


"Apa mama yakin dia itu kakak ku? seperti ada yang nggak beres" kata Mayang, entah mengapa ia tidak percaya dengan semua ini


"Mama sangat yakin, nggak mungkin juga Mawar membohongi Mama tujuan nya untuk apa coba" jawab Ratih.


"Iya, deh terserah Mama saja. Aku hanya mengingatkan agar lebih hati-hati tidak semua yang terlihat baik itu memang baik"


Akhirnya Alfi datang dengan membawa dua cangkir teh, lalu ia meletakkan nya di atas meja yang ada di hadapan nya pada saat ini.


"Kalau boleh tahu ke mana suami mu? " tanya Ratih.


"Masih kerja, mungkin sebentar lagi akan pulang"


"Owhh"


Akhirnya Ratih pun terus bertanya terhadap Alfi, sehingga sudah menghabiskan waktu yang sangat lama.


Di saat mereka sedang asik bertukar cerita, datang lah seorang lelaki yang datang dengan wajah lelah setelah seharian bekerja.


Tanpa permisi lagi, Ratih langsung memeluk Marwan sambil menangis.


Marwan begitu terkejut dengan apa yang terjadi "Maaf apa yang sebenarnya terjadi dan ibu ini siapa? " tanya Marwan yang bingung dengan keadaan pada saat ini.


"Aku ini ibu kandung kamu, selama ini terus mencari keberadaan mu dan sekarang aku sangat bahagia bisa bertemu dengan mu lagi" kata Ratih sambil memeluk erat Marwan.


"Aku semakin tidak mengerti" kata Marwan sambil berusaha untuk melepaskan pelukan perempuan yang sudah tidak lagi muda akan tetapi terlihat masih cantik.


"Ayok duduk dulu, nanti Mama ceritakan semuanya agar kamu mengerti dan bisa menerima Mama yang telah menelantarkan mu waktu dulu, tapi tidak ada maksud lain. Itu semua Mama lakukan untuk kebaikan mu, oh iya ini Mayang adik kamu" kata Ratih sambil melirik ke arah Mayang.


Ratih pun mulai menceritakan semua yang terjadi di masa lalu, dengan mudahnya Marwan menerima kenyataan bahwa Ratih adalah ibu kandungnya dan Mayang adiknya.


Beda lagi dengan Mayang, ia belum menerima kenyataan ini. Bahkan belum percaya bahwa yang ada di hadapan nya pada saat ini adalah kakaknya.


Setelah cukup lama mereka bercerita dan Ratih menginginkan Marwan untuk ikut bersama nya, dan ia ingin bahwa anak laki-laki nya yang akan mewarisi semua perusahaan yang berada di bawah naungan nya.


Sebab Mayang tidak bisa di andalkan untuk mengelola perusahaan, malah lebih memilih bekerja di tempat lain di banding kan di perusahaan sendiri.

__ADS_1


Tanpa terasa waktu sudah mulai larut, akhirnya Ratih pun kembali ke hotel. Kali ini mereka pulang di antar oleh Marwan, karena Marwan yang menawarkan untuk mengantarkan nya padahal Ratih sudah menolak nya.


__ADS_2