
Keesokan harinya.
Argani sudah membawa Farwa untuk kembali ke rumah orang tuanya, ia akan mengenalkan kepada mereka bahwa Farwa sudah sah menjadi istrinya.
Tidak ada penolakan sedikit pun dari Farwa apa yang di lakukan Argani, berontak pun tidak ada gunanya selain pasrah.
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan yang membawa Argani dan Farwa sudah sampai di kediaman Malik.
Argani menyuruh Farwa untuk mengikuti ya dari belakang sedangkan ia masuk terlebih dahulu.
Setelah sampai di dalam, Argani di sambut hangat oleh sang Mama. Sebab dari kemarin ia menentang anaknya untuk pergi ke luar negeri, sekarang ia sudah melihat anak nya kembali. Berapa bahagia nya hati ambar saat Argani ada di hadapan nya.
"Ma, aku datang untuk mu dan membawa kabar bahagia untuk mu juga. Pa... " kata Argani sambil berhambur memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kabar bahagia apa yang kau bawa, apakah hal itu juga akan membuat kami bahagia? "
"Tentu saja kalian harus bahagia dengan kabar ini" kata Argani dengan raut wajah di penuhi kebahagiaan.
"Coba katakan apa yang membuat mu bahagia seperti ini? " sang Mama berkata sambil tersenyum menatap lekat wajah putra nya.
__ADS_1
"Coba Mama liat siapa yang aku bawa, dan mulai sekarang dia akan tinggal di rumah ini bersama kita. Sebab aku sudah menikah dengan nya " kata Argani sambil menunjuk ke arah Farwa yang masih berdiri di ambang pintu, perempuan itu tidak berani untuk melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah Argani seorang pria yang sudah memaksa nya menikah.
Betapa terkejutnya kedua orang tua Argani melihat Farwa yang berdiri di ambang pintu, apalagi Malik. Bukan kah ia sudah merencanakan semuanya, apalagi dokter berkata bahwa menemukan sample DNA yang mereka temukan di kecelakaan waktu itu. Dokter khusus yang di perintahkan oleh Malik untuk membuktikan bahwa Farwa benar-benar sudah meninggal dalam kecelakaan itu, Malik berfikir Siapakah yang berbohong di sini.
Malik tersenyum meskipun itu di paksakan agar tidak ada yang mencurigai nya, atas kejahatan yang di lakukan nya untuk Farwa.
"Jangan bercanda, ini tidak lucu" kata sang Mama yang mundur satu langkah, sungguh ia tidak percaya apa yang di lihat nya pada saat ini. Apakah ini benar Farwa atau hantu yang menyerupai, sungguh ia tidak percaya dengan apa yang di lihat nya pada saat ini.
"Ayolah, Ma... jangan kaget seperti itu. Dia benar Farwa istriku, sambutlah dengan senyuman jangan ketakutan seperti itu" kata Argani sambil menatap wajah sang Mama yang terlihat pucat dan ketakutan.
"T-tidak ini pasti hanya mimpi" kata Ambar sambil duduk di sofa yang ada di tempat itu, sungguh ia tak mampu lagi untuk berdiri. Saking terkejutnya dengan kabar yang di bawa oleh anaknya itu.
Malik tidak berkata apapun, ia hanya mengepalkan kedua tangan nya, ia merasa di khianati oleh orang-orang yang ia percaya. Mengapa Farwa saat ini berada di hadapan nya, sedangkan mereka sudah meyakinkan bahwa Farwa sudah meninggal.
"Sudah, kalian pergi ke kamar biarkan Mama tenang" kata sang Mama mempersilakan Argani untuk pergi meninggalkan nya, sungguh ia tidak percaya dengan kenyataan yang di hadapi nya untuk saat ini.
Bisa-bisanya Argani menikah tanpa restu dari kedua orang tua, apalagi dengan cara dadakan seperti ini. Sungguh Ambar merasa kaget dan belum bisa menerima kenyataan ini.
"Baiklah, aku ke kamar dulu ya... " jawab Argani sambil membawa sang istri untuk segera masuk ke dalam kamarnya
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Argani dan Farwa sudah berada di salah satu ruangan yang sangat luas. Mungkin jika di bandingkan dengan rumah Farwa yaitu kamar Argani setara dengan luas rumah keluarga Farwa.
"Mulai saat ini, kamar dan semua yang ada di sini adalah milik mu. Aku akan memenuhi semua kebutuhan mu, bahkan tidak ada satu orang pun yang hidup jika mereka berani menyakiti mu! " kata Argani sambil menatap lekat wajah Farwa yang sangat pucat karena takut, sebab mulai saat ini ia harus berada di sisi Argani.
Farwa tidak menjawab apapun, ia meneliti setiap sudut ruangan. Ada satu hal yang menarik perhatian nya, yaitu gambar dirinya yang menempel di dinding kamar yang begitu besar.
"Kamu lihat gambar itu, setiap waktu aku duduk di sini sambil menatap gambar itu dan berharap bawa semua ini hanya mimpi. Dan aku meminta pada Tuhan agar bisa membuat mu hidup kembali, dan ternyata Tuhan itu baik mengabulkan permintaan ku dengan menghadirkan kamu kembali ke dalam hidup ku. Asal kamu tahu, setiap hari aku duduk di sini tanpa memikirkan apapun selain mentap gambar itu" kata Argani sambil membawa Farwa duduk di sofa yang menghadap pada gambar Farwa yang sedang tersenyum, entah darimana Argani mendapatkan gambar itu.
Farwa sebelum nya tidak pernah berpikir seperti ini, akan menikah dengan keturunan Sultan di negara ini dengan cara yang sangat menyedihkan.
"Selamat Tuan! anda sudah berhasil mendapatkan diriku, tapi ingat satu hal kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau. Sebab saat ini kamu hanya memiliki raganya tidak dengan hatinya, karena hatinya sudah mati" kata Farwa dengan nada bicara penuh penekan.
"Aku yakin satu hal, bahwa cinta yang aku miliki akan mampu mengubah itu semua menjadi cinta" kata Argani sambil tersenyum menatap lekat wajah perempuan yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Itu tidak akan pernah terjadi! "
"Aku janji akan membuat itu terjadi, sebab cinta yang ku punya begitu besar sehingga suatu saat bisa mengubah itu semua"
Farwa tidak menjawab apapun, ia mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Sungguh ia saat ini hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi, mungkin saat ini ia masih hidup akan tetapi Argani tidak akan pernah membiarkan nya bertemu dengan keluarga nya. Saat ini ia sedang berada di penjara cinta nya Tuan kejam.
__ADS_1
"Tunggu sebentar! aku akan pergi menemui Mama dulu dan meminta untuk mempersiapkan baju ganti untuk mu sebab aku tidak mengerti kebutuhan seorang perempuan" kata Argani sambil mengusap bahu Farwa.
"Pergi saja, sekalian nggak usah kembali" jawab Farwa, namun hal itu hanya mampu di ucapkan nya di dalam batin, sebab ia belum siap untuk mendapatkan tembakan dari laki-laki itu. Sebab setiap kesalahan pasti ancaman nya yaitu peluru menembus kepala